Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Pintu ruangan itu belum lama tertutup..
saat Saga kembali melangkah.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa penjelasan. Liora yang masih berdiri kaku langsung menoleh.
“K-kita mau ke mana lagi…?” suaranya pelan.
Takut.
Saga tidak menjawab.
Ia hanya berjalan menuju satu pintu lain di sudut ruangan.
Pintu besi.
Lebih tebal.
Lebih dingin.
Tangannya membuka.
KREEEK…
Suara gesekan itu membuat bulu kuduk Liora meremang.
Tangga turun terlihat di baliknya.
Gelap.
Dalam.
“Turun,” ucap Saga singkat.
Deg.
Liora menelan ludahnya. Apa ia akan di kurung lagi?
Namun kakinya tetap melangkah pelan.
Perlahan.
Mengikuti saga di belakang.
Tanpa sadar—
tangannya kembali memeluk lengan Saga.
Lebih erat dari sebelumnya. Seolah itu satu-satunya pegangan yang ia punya.
Saga melirik sekilas.
Namun kali ini..
ia tetap membiarkannya.
***
Semakin memasuki ke bawah—
udara semakin dingin.
Dan suara…
mulai terdengar. Bukan suara biasa.
Suara yang membuat dada terasa tidak nyaman. Seperti Suara teriakan.
Liora mengernyit. Langkahnya melambat.
“S-saga…” bisiknya.
Namun belum sempat ia berkata lebih jauh—
mereka sudah sampai. Sebuah ruangan luas.
Tertutup. Hanya Diterangi lampu redup.
Dan di tengahnya—
seorang pria terikat di kursi , Dengan keadaan seluruh wajah dan tubuhnya penuh dengan luka- luka. Beberapa anak buah Saga berdiri di sekitarnya.
Wajah mereka dingin.
Serius. Tanpa belas kasihan. Liora langsung membeku.
Matanya membesar. Napasnya tercekat.
Ia belum pernah melihat… suasana seperti ini. Sangat mengerikan.
Yang sangat Gelap.
Menekan. Menakutkan.
Refleks—
ia langsung merapat lebih dekat ke Saga. Tangannya mencengkeram lengannya kuat.
Tidak mau lepas.
Saga berdiri tenang. Seolah semua itu… hal biasa.
“Saya sudah menunggu, Tuan,” ucap seseorang.
Ben.
Asisten kepercayaannya.
Ia berdiri di samping, menunduk hormat. Namun matanya sempat melirik.
Ke arah Liora.
Yang menempel pada lengan Saga. Dan itu membuatnya sedikit terdiam.
Aneh.
Sangat aneh.
Karna Selama ini. tidak ada yang berani sedekat itu.
Dan yang lebih aneh—
tuannya… membiarkannya.
“Mulai,” ucap Saga dingin.
Perintah itu langsung dijalankan.
Liora refleks langsung menutup matanya. Tak berani melihat. Saga melirik ke liora.
" Buka matamu!" Perintah saga
Tubuhnya gemetar. Ia tidak ingin melihat. Tapi....
" Jika kamu tidak menurut , Nasibmu akan sama dengannya."
Liora langsung menurut membuka matanya perlahan.
" A–aku..."
Saga mendekat. " Kalau kau menurut dengan ku , Tidak ada drama kabur , kamu akan aman bersamaku. Jika tidak–"
Saga menunjuk ke arah pria Yang di siksa anak buahnya dengan rantai. " Lebih dari itu. Kamu akan Lebih tersiksa!"
Liora menunduk " A–aku.... akan menurut."
Tangannya sudah gemetar.
Tidak ingin tahu. Namun suara-suara di ruangan itu…
cukup untuk membuatnya semakin ketakutan.
" AAARGH...." Suara teriakan itu mengguncang ruangan remang itu.
Suara rantai itu semakin keras, sementara teriakan itu berubah menjadi rintihan tertahan.
diikuti dentuman keras dan jeritan yang memecah keheningan.
KLANGG!! KLANGG!!
Suara rantai itu seperti memecah kesunyian, disusul dengan jeritan yang makin keras.
"AARGHH..... KAU TIDAK AKAN HIDUP TENANG BRENGSEK...TIDAK AKAN.....!" Teriak pria itu sambil nunjuk saga.
Saga masih berdiri tenang.
Lalu mendekat dengan dira dibelakangnya . Tepat depan pria itu.
" Ulangi."
" KAU T–.."
DOR
DOR
Dua Suara tembakan menghentikan kalimatnya. Tepat mengenai kepala pria itu.
Tanpa peringatan. Pria itu jatuh tersungkur depan saga dengan darah mengalir di kepalanya.
Liora shock langsung menutup kedua telinganya.
Melihat pria itu tewas mengenaskan. Bahkan anak buah saga tetap melanjutkan siksaan nya.
“Saga…” bisiknya pelan. Hampir memohon.
Tanpa sadar—
ia semakin mendekat menempel.Seolah bersembunyi.
Dan untuk pertama kalinya—Saga menoleh ke arahnya. Melihat wajah pucat itu.
Melihat ketakutan yang nyata.
Beberapa detik.
Hening.
Lalu—
“Berhenti.”
Satu kata.Semua langsung berhenti.Ruangan itu mendadak sunyi.
Ben sedikit terkejut.
Biasanya—
Saga tidak akan menghentikan sesuatu seperti ini.
Namun ia tidak bertanya.
“Bawa dia keluar,” lanjut Saga datar.
Perintah untuk anak buahnya. Namun tatapannya masih pada Liora.
Yang masih gemetar. Perlahan membuka mata.
“Kenapa…” bisiknya lirih.
Saga tidak menjawab.
Ia hanya berbalik. “Naik.”
Liora langsung mengangguk cepat.
Tanpa pikir panjang. Ia mengikuti. Masih memegang lengannya.Masih tidak mau lepas.
***
Ben masih berdiri diam.
Menatap punggung mereka yang menjauh. Matanya menyipit sedikit.
Berpikir.
Tuan… berubah?
Tidak.
Bukan berubah.
Lebih tepatnya… ada sesuatu yang berbeda saat gadis itu ada.
Dan itu—
bisa menjadi hal yang berbahaya.
***
Sementara itu—
Liora masih berjalan di samping Saga. Napasnya belum stabil. Ia masih mengingat jelas kejadian tadi.
Namun tangannya…
tidak lagi gemetar separah tadi.
Entah kenapa, meski pria itu menakutkan…
di saat seperti ini—
hanya di dekatnya…
ia merasa sedikit lebih aman.
Dan itu—
Adalah hal yang paling membingungkan bagi dirinya sendiri.
***
Meraka kembali ke Ruang kerja Saga kembali sunyi.
Satu menit.
Lima menit.
Dua puluh menit.
Hanya suara pelan percakapan antara Saga dan Ben yang terdengar.
Liora duduk di sofa.
Diam.
Matanya kosong menatap lantai. Ia tidak mengerti apa yang dibahas.
Tidak juga peduli.
Yang ia tahu sekarang–
Ia mulai merasa bosan.
Dan tempat ini… membuatnya semakin sesak.
Perlahan, ia berdiri. Melirik ke arah Saga sebentar
Pria itu masih sibuk. lalu memberanikan diri untuk mendekat.
" Aku...bosan"
Saga menghentikan percakapannya dengan Ben , Lalu menoleh ke arah liora.
Ben juga ikut melirik.
" Kamu ingin apa?"
" Jalan-jalan...Keluar"
Saga menatap liora sebentar. " Ben. panggil penjaga!" Perintah saga.
Ben mengangguk lalu berjalan keluar ruangan.
Liora masih berdiri menunggu.
" Kamu akan diawasi anak buahku"
Liora menghela napas , Lalu mengangguk setuju.
Tak lama Ben datang bersama dua pria dibelakangnya.
" Awasi dia Jangan sampai lecet!" Dua anak buah itu langsung mengangguk.
" Dan satu lagi.. Jangan menyentuhnya. Ingat!"
" Siap Tuan."
Kemudian Liora melangkah pelan ke arah pintu. Saga masih memperhatikan langkah Liora hingga menghilang di balik pintu.
Dua anak buah langsung bergerak mengikuti.
Menjaga jarak. Tanpa menyentuhnya.
Mengikuti aturan tak terlihat—
tidak ada yang boleh menyentuh Liora… selain Saga.
***
Lorong markas terasa panjang.
Dingin.
Sepi.
Langkah Liora terdengar kecil. Ia berjalan tanpa tujuan.
Hanya ingin… menjauh sebentar.
Namun saat ia melewati satu bagian—
ia berhenti. Pintu-pintu besi.
Berjejer.
Dan dari dalam—
terdengar suara pelan. Liora mengernyit. Mendekat sedikit.
Dan saat ia mengintip
DEG!
Matanya langsung membesar. Di dalam sel-sel sempit itu—
beberapa perempuan. Wajah mereka pucat.Tubuh mereka lemah. Terdiam di balik jeruji.
Beberapa menatap kosong. Beberapa menunduk.
Suasana itu…
menyesakkan. Sangat Menakutkan. Liora mundur cepat. Napasnya memburu.
“Enggak…” bisiknya.
Ia langsung berbalik.
Pergi menjauh dari area menyeramkan itu.
Takut.
Sangat takut.
***
Langkahnya semakin cepat. Hingga akhirnya ia keluar ke area samping markas.
Udara terbuka. Lebih lega.
Di sana—
lapangan rumput luas terbentang. Dengan pohon berjejer rapi di pinggir lapangan.
Beberapa pria sedang latihan menembak. Suara tembakan terdengar berulang.
Dan di sisi lain—
sebuah danau.
Tenang.Berbeda dari suasana di dalam.
Liora berjalan mendekat menuju danau. Mencoba menenangkan diri.
Namun pikirannya masih dipenuhi bayangan tadi.
Perempuan-perempuan itu…
Terjebak.
Seperti dirinya. Apa dia akan bernasib sama dengan mereka. Dikurung seperti hewan.
Langkahnya melambat ketika tiba depan danau.
Matanya kosong. Dan tanpa sadar—
kakinya menginjak tanah yang licin.
“Ah—!”
Tubuhnya terpeleset.
Dan..
BYUR!
Air danau terciprat.
Liora jatuh. Tubuhnya tenggelam sebagian.
Air danau terasa Dingin di tubuhnya.
Mengejutkan. Anak buah yang mengawalnya langsung bergerak cepat.
“Nona!”
Salah satu dari mereka menarik Liora keluar. Tubuh gadis itu langsung basah kuyup.
Napasnya terengah. Namun ia masih sadar.
Tidak pingsan.
“Bawa ke Tuan,” ucap salah satu dari mereka.
***
Pintu ruang kerja kembali terbuka.
Saga menoleh. Dan langsung terdiam.
Liora berdiri di sana sambil menundukkan kepalanya.
Basah.
Pakaian menempel di tubuhnya. Rambutnya meneteskan air. Wajahnya sedikit pucat.
Di sampingnya—
anak buah yang tadi menjaganya.
Sunyi.
Beberapa detik. Namun aura di ruangan itu berubah.
Menjadi… berbahaya.
Saga berdiri. Perlahan. Tatapannya tajam. mengintimidasi.
“Kenapa dia seperti itu?” suaranya rendah.
Dingin.
Anak buah itu menelan ludah.
“Maaf, Tuan. Tadi—”
DOR!
Suara tembakan memotong kalimatnya.
Sangat Cepat.
Tanpa peringatan. Tubuh pria itu langsung jatuh.
Diam.
Tak bergerak. Darah mengalir.
Sunyi.
Liora membeku.Matanya membesar. Tubuhnya tidak bisa bergerak.
Baru saja…
di depannya…
Lagi-lagi seseorang kehilangan nyawanya.
Dan itu—
karena dirinya.
“Kenapa…?” bisiknya. Suaranya gemetar.
Lalu—
emosinya meledak.
“ITU BUKAN SALAH DIA!!” teriaknya.
Matanya penuh air mata. Ia menatap Saga.
Marah.
Sakit.
“AKU YANG JATUH!! DIA GAK SALAH APA-APA!!”
Tangannya mengepal. Tubuhnya masih gemetar hebat.
Namun Saga tetap diam. Tatapannya tidak berubah.
Seolah semua itu… wajar.
“Dia gagal menjaga,” jawabnya singkat.
Dingin. Tanpa penyesalan.
Deg.
Hati Liora terasa diremas.
“Kamu… gila…” bisiknya pelan.
Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini—
bukan karena takut. Tapi karena marah. Karena tidak terima. Saga mendekat.
Langkahnya tenang. Berhenti tepat di depan Liora.
Tangannya terangkat—
menyentuh dagu gadis itu. Mengangkatnya.
Memaksa menatap.
“Jangan membantah. Aku tidak menyukainya,” ucapnya pelan.
Namun penuh tekanan.
Liora menepis tangannya. “Jangan sentuh aku!”
Namun suaranya melemah di akhir.
Saga tidak marah. Ia hanya menatap.
Lalu—
“Ganti baju.”
Perintah. Seolah tidak terjadi apa-apa.
***
Di lantai—
tubuh pria itu masih tergeletak.
Diam.
Menjadi pengingat, bahwa di dunia Saga…
satu kesalahan kecil… bisa dibayar dengan nyawa.
Dan Liora—
harus melihatnya sendiri.
***
Liora masih berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya kaku. Matanya terpaku ke lantai. Bayangan tadi… masih jelas di kepalanya.
Suara tembakan itu.
Tubuh yang jatuh. Semuanya terasa terlalu nyata. Ia bahkan tidak sadar kalau dirinya masih basah kuyup.
Air menetes dari rambutnya. Membentuk genangan kecil di lantai.
Saga masih memperhatikannya dari depan.
Diam.
Namun tatapannya tajam.
Menilai.
Beberapa detik berlalu, dan Liora tidak bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Saga mendekat.
Tanpa banyak bicara—
ia langsung mengangkat tubuh Liora.
“Ah—!”
Liora tersentak. Refleks memegang bahunya.
Namun tidak melawan. Seolah terlalu lelah untuk itu.
Saga mendudukkannya di atas meja kerjanya.
Dingin.
Permukaan meja terasa kontras dengan tubuhnya yang gemetar.
“Duduk diam,” ucapnya rendah.
Liora menunduk. Tangannya mencengkeram ujung bajunya.
Masih tidak berani menatap.
Saga berbalik. Membuka lemari di belakangnya. Mengambil sebuah kemeja putih bersih.
Langkahnya kembali mendekat.
Dan saat ia berdiri tepat di depan Liora—
gadis itu langsung tersadar. Matanya membesar.
“Ja-jangan…” bisiknya.
Tubuhnya mundur sedikit. Namun terhalang meja. Saga tidak berhenti.
Tangannya mulai bergerak—
mencoba mengganti pakaian Liora yang basah.
“Lepas,” ucapnya singkat.
Liora langsung menggeleng cepat. “Enggak! Aku bisa sendiri!”
Tangannya menahan bajunya. Wajahnya memerah.
Campur antara takut… dan malu.
Saga menatapnya.
Diam. Namun tekanannya terasa.
“Sekarang,” ucapnya lagi.
Lebih rendah.
Lebih tegas. Liora menggigit bibirnya.
“Aku bilang aku bisa sendiri…” suaranya melemah.
Namun tetap menolak. Saga terdiam beberapa detik.
Lalu—
“Kalau tidak,” ia berhenti sejenak, “aku yang akan melakukannya.”
Deg.
Kalimat itu membuat napas Liora tercekat.
Ia tahu—
itu bukan ancaman kosong. Tangannya semakin erat memegang bajunya.
“Jangan…” bisiknya.
Namun Saga tetap mendekat.
Dan itu, cukup membuat Liora panik.
Dengan cepat—
ia turun dari meja. Hampir terpeleset.
Namun saga kembali menarik dan mendudukan nya kembali.
Lalu—
“Liora.”
Saga memanggil.
" A‐aku bisa sendiri.."
Hampir memohon. Namun Saga tidak bergerak.
Tidak mundur. Tatapannya tetap sama.
Menekan.
Memaksa.
Hening.
Detik terasa lama. Dan akhirnya—
pertahanan Liora runtuh.
Perlahan…
tangannya melepas genggaman di meja.
Bahu gadis itu turun.
Lemah.
“I-iya.…” bisiknya hampir tak terdengar.
Menyerah.
Bukan karena mau. Tapi karena… tidak punya pilihan.
Saga mendekat. Tangannya mulai mengganti pakaian Liora.
Gerakannya tidak tergesa.
Namun tegas. Tanpa ragu.
Sementara Liora—
menunduk. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya kaku. Ia tidak berani bergerak. Tidak berani melawan lagi.
Hanya diam.
Membiarkan semuanya terjadi. Ruangan itu kembali sunyi.
Namun kali ini—
bukan karena tenang. Melainkan karena…
Liora mulai kehilangan sedikit demi sedikit kendali atas dirinya.
***
Beberapa saat kemudian—
Saga selesai. Ia mundur satu langkah.
Menatap Liora yang kini sudah berganti pakaian.
Rapi.
Namun wajahnya…
kosong. Saga mengamati.
Beberapa detik.
Lalu tanpa berkata apa-apa.
" Akh.."
Ia mengangkat liora kepangkuannya dan duduk kursinya.
Seolah semua itu hal biasa.
Sementara Liora.
Diam.
Tangannya mengepal kecil.
Dan untuk pertama kalinya—
ia sadar. Melawan hanya membuat semuanya lebih menyakitkan.
Namun menyerah…perlahan menghancurkan dirinya.
“Kenapa… Kamu selalu memaksa?..” bisiknya lirih.
Saga hanya diam.
Namun Tubuhnya perlahan semakin mendekat.
" Karna aku menyukainya "
Itu bukan jawaban yang liora harapkan.
Dingin.
Namun itu tidak seberapa dibandingkan perasaan di dalam dadanya.
Takut.
Marah.
Dan entah ia merasa mulai aneh dengan perasaannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........................