Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Putri Terasing
Lorong-lorong sempit di bawah naungan tembok Kadipaten yang lembap terasa seperti labirin tanpa akhir. Subosito berjalan dalam diam, mengikuti langkah wanita misterius yang bergerak seringan kucing di kegelapan malam.
Udara di lorong ini berbau tanah tua dan lumut, sebuah kontras yang tajam dengan aroma kemenyan dan melati yang tercium dari arah taman-taman mewah para bangsawan di atas sana.
Setiap kali mereka melewati pos penjagaan, wanita itu seolah tahu kapan para prajurit akan menampakkan wajah atau mengganti giliran jaga. Wanita itu menuntun Subosito masuk melalui pintu kecil yang tersembunyi di balik akar pohon beringin raksasa, yang ternyata terhubung langsung dengan sebuah paviliun terasing di bagian paling sunyi dari kompleks istana.
Paviliun itu tampak tidak terawat di bagian luarnya, begitu melangkah ke dalam, Subosito terkejut. Ruangan itu dipenuhi rak-rak kayu yang memuat ratusan kitab kuno dari daun lontar.
Wangi kayu cendana yang menenangkan, meredam gejolak api yang sempat bergetar di dalam nadinya saat kejadian di gerbang kota tadi.
“Kita sudah sampai. Kau bisa melepas penutup kepalamu, Tuan dari Gunung Lawu,” ucap wanita itu sambil berbalik badan.
Wanita itu melepas kain sutra yang menutupi wajahnya. Di bawah cahaya lilin yang temaram, Subosito melihat keindahan yang membawa duka. Wajahnya anggun dengan garis-garis rahang yang tegas, sayangnya, matanya yang jernih menyiratkan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
“Namaku Dyah Ayuwangi,” ucap wanita itu menunduk dengan sangat sopan, sebuah gestur yang membuat Subosito merasa canggung. "Aku adalah putri dari penguasa yang kini sedang kau injak tanahnya. Namun di sini, aku hanyalah seorang tawanan di rumahku sendiri!"
Subosito tersentak kaget, secepat mungkin bertekuk lutut untuk memberi hormat kepada wanita itu.
“Maafkan saya Raden Ayu, saya tidak tahu kalau Raden Ayu adalah putri sang Adipati!” sahut Subosito menundukkan kepalanya.
“Bangunlah! Aku tidak pantas mendapatkan kehormatan ini. Nanti akan aku ceritakan!”
Subosito mengingat sejenak, mencoba memahami kenyataan bahwa dirinya sedang berhadapan dengan putri tunggal Sang Adipati.
"Mengapa seorang putri harus mengendap-endap di lorong gelap hanya untuk menemui pengembara sepertiku?"
Putri Dyah mendekat, wanita itu tidak menatap wajah Subosito, melainkan menatap ke arah punggung pemuda itu, seolah matanya mampu menembus lapisan kain kumalnya.
"Karena kau bukan sekadar pengembara. Aku melihatnya di gerbang tadi. Saat kau menyentuh petugas itu, aura yang terpancar bukan lagi merah membara yang merusak, melainkan emas yang murni. Itu adalah tanda dari manunggalnya manusia dengan Garuda Paksi."
Subosito tersentak. Selama ini, semua orang menyebut kutukan. Hanya Resi Bhaskara yang menyebut warisan. Dan kini, sang Putri menyebutnya dengan nada penuh harapan.
“Ayahku, Sang Adipati, sedang dalam kesulitan,” lanjut Dyah Ayuwangi dengan suara bergetar. "Namun, sakitnya bukan berasal dari raga yang menua. Ayahku berada di bawah pengaruh Ilmu Karang Petak , sebuah sihir hitam yang mengikat sukmanya. Penasihat licik istana, Patih Mangkubumi, telah menyuntikkan racun mistis itu melalui perantara keris pusaka yang kini selalu berada di samping tempat tidur Ayah!”
Dyah melangkah menuju sebuah meja kayu besar dan membuka sebuah gulungan serat kayu yang sudah sangat tua. "Ada ramalan kuno yang disimpan oleh mendiang ibuku, seorang keturunan kesatria pelindung yang kini garis keturunannya dianggap punah. Ramalan itu mengatakan bahwa saat tanah Jawa mulai kehilangan cahayanya dan dikuasai oleh bayang-bayang dari dalam, akan datang seorang pemuda yang membawa 'Api Matahari' dari puncak tertinggi Lawu. Dialah sang penyelamat yang akan mengembalikan takhta yang busuk!"
Subosito membuka gulungan itu. Di sana terdapat lukisan seorang kesatria dengan sayap emas di punggungnya, dikelilingi oleh cahaya yang memudarkan kegelapan.
Lambang yang terukir di lukisan itu sama persis dengan apa yang ada di cincin perak dalam sakunya.
“Patih Mangkubumi tahu tentang ramalan ini,” Dyah Ayuwangi menatap mata Subosito dengan tajam. "Itulah yang menyebabkan patih menyebarkan sayembara 'Setan Api' ke seluruh pelosok negeri. Patih bukannya takut pada setan dalam dirimu, tapi takut pada kebenaran yang kau bawa. Dia ingin menghancurkanmu sebelum kau sempat mencapai gerbang istana. Dan hari ini, secara terang-terangan kau malah menunjukkan kekuatanmu di depan para mata-matanya!”
“Sungguh, aku tak tahu semua ini Raden Ayu. Sungguh membuat kepala ini sakit!”
Subosito mengepalkan tangannya, mulai memahami gambaran besar yang selama ini tersembunyi. Tentang pelariannya selama ini, tentang kebencian warga desa, hingga tentang pengepungan di puncak Lawu. Semuanya adalah bagian dari rencana besar Mangkubumi untuk menghapus garis keturunan pelindung istana.
“Apa yang Raden Ayu inginkan dari saya?” tanya Subosito.
"Selamatkan Ayahku. Gunakan api emasmu untuk membakar ikatan sihir hitam yang menjerat sukmanya," jawab Dyah dengan nada memohon. "Malam lusa Kadipaten akan mengadakan sebuah perayaan besar untuk merayakan 'kesembuhan semu’ Sang Adipati yang dipaksakan oleh Mangkubumi. Itu adalah saat di mana seluruh bangsawan berkumpul. Mangkubumi akan mengumumkan suksesi kekuasaan karena kondisi Adipati yang dianggap tidak lagi mampu memimpin!"
Subosito menarik napas panjang. "Saya hanya seorang diri. Masuk ke jantung istana, itu berarti bunuh diri!"
“Kau tidak sendiri,” Dyah Ayuwangi memberikan sebuah belati kecil dengan gagang kayu cendana. "Ada kelompok ksatria tua yang masih setia pada ayahku, namun mereka terbungkam oleh ketakutan. Jika mereka melihat cahaya Garuda Paksi yang murni, mereka akan bangkit. Aku akan ikut masuk sebagai salah satu rombongan pengembara yang diundang untuk menjadi pelayan dalam kerumunan itu!"
Subosito menatap belati itu, lalu menatap sang Putri. Dirinya teringat pada Sekar di desanya, pada Resi Bhaskara, dan pada ayahnya yang tidak pernah dia kenal.
Selama delapan belas tahun Subosito hidup dalam kehinaan, dianggap sampah dan pembawa sial. Kini, takdir menuntutnya untuk menjadi tiang penyangga bagi sebuah negeri yang sedang runtuh.
"Api ini, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menggunakannya untuk membunuh lagi," ucap Subosito lirih.
“Maka gunakanlah untuk menghidupkan,” jawab Dyah Ayuwangi lembut. "Api emasmu adalah satu-satunya obat bagi kegelapan ini. Tapi berhati-hatilah, Subosito. Patih Mangkubumi bukan hanya licik, dia memiliki pasukan rahasia yang menguasai racun-racun mematikan dari tanah seberang. Jika kau terjebak di tengah perjamuan itu, sudah pasti tak ada jalan keluar!"
“Tenang saja, Raden Ayu. Saya akan berusaha!”
Malam itu, di dalam paviliun terasing yang penuh dengan ilmu pengetahuan kuno, Subosito dan Putri Dyah Ayuwangi menyusun strategi. Mereka berbicara hingga lilin-lilin kecil yang hampir habis, merencanakan setiap langkah menuju perjamuan yang akan menentukan nasib Kadipaten.
Subosito merasakan sebuah ikatan persaudaraan yang aneh mulai tumbuh antara dirinya dan sang Putri. Keduanya adalah orang yang terasing, yang satu oleh kekuatan yang ditakuti, dan yang satunya bagai kedudukan yang diruntuhkan paksa.
Saat fajar mulai mengintip dari balik celah jendela paviliun, Subosito bersiap untuk pergi ke penginapan rahasia yang telah disiapkan Dyah. Namun, sebelum dia pergi, sang Putri memegang lengannya.
"Subosito, satu hal lagi. Cincin yang kau bawa, itu milik Senopati Arga Sangkara. Dia adalah paman kandungku, sekaligus kesatria terbaik yang pernah dimiliki Kadipaten ini sebelum dia difitnah sebagai pengkhianat dan menghilang. Kau adalah darahnya. Kau kembali ke rumah, Kesatria!"
“Apa!” Subosito terperanjat membelalakkan matanya. “Jadi, kita berdua. Raden Ayu dan saya adalah!”
Perkataan Subosito terhenti dan disahut oleh Putri Dyah. “Ya Subosito, kita berdua adalah saudara satu kakek buyut!”
Kata-kata itu menghantam batin Subosito lebih keras dari serangan Suro Joyo. Subosito yang tak pernah memiliki rumah, kini dia menyadari bahwa dirinya sedang berjuang untuk mencapai tanah kelahirannya sendiri.
Subosito berjalan kembali ke distrik pasar saat kota mulai terbangun. Di setiap sudut, pemuda itu melihat persiapan istana yang mewah sedang dilakukan.
Bunga-bunga digantung, karpet-karpet digelar, dan aroma masakan mulai memenuhi udara. Namun, di balik kemeriahan itu, Subosito melihat bayangan para pembunuh bayaran Mangkubumi yang berlalu-lalang dengan mata yang tajam, mencari sosok pembawa api.
Subosito tahu, perjamuan malam nanti bukan hanya sekedar pesta. Itu adalah medan perang yang penuh jebakan. Di balik cawan anggur emas dan tarian yang indah, maut telah menunggu dengan sabar.
Langkah Subosito mantap, dia tidak lagi merasa seperti buronan. Dia merasa seperti seorang pembersih yang siap menyapu debu-debu pengkhianatan dari lantai istana.
Di punggungnya, tato emas Garuda Paksi berdenyut pelan, memberikan kehangatan yang stabil, seolah ikut bersiap untuk pertempuran terbesar dalam sejarah hidupnya.
Gerbang istana akhirnya terbuka bagi sang pengembara Lawu. Namun, undangan yang diterimanya adalah undangan maut yang tersembunyi di balik menuju keramahtamahan palsu.
Apakah Subosito akan menghadiri jamuan itu? Dan Kenapa Ayuwangi begitu percaya kepada ramalan tentang Api Lawu?
Ikuti kelanjutannya pada cerita berikutnya.