"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."
Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.
Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.
Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.
Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.
Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KOMPULSI PENGULANGAN DAN PENJARA SANG LIYAN
[04:47 AM] GRAND ATRIUM HOTEL
Tubuh Hakim Agung Surya Wibowo tergeletak kaku di atas lantai kayu panggung yang mengilap. Mata pria itu melotot kosong, menatap ke arah langit-langit ballroom yang dihiasi lampu kristal mewah, namun yang ia lihat di detik-detik terakhir eksistensinya hanyalah api neraka dari alam bawah sadarnya sendiri.
Di sekeliling Dr. Saraswati, dunia telah berubah menjadi lautan kekacauan. Ratusan sosialita, politisi busuk, dan miliarder kota berteriak histeris, saling dorong menuju pintu keluar. Gaun-gaun sutra robek, gelas-gelas sampanye pecah terinjak, dan topeng kemunafikan kelas atas runtuh seketika saat dihadapkan pada teror kematian yang absolut.
Namun, bagi Saraswati, suara jeritan itu terasa hampa, teredam oleh detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Kata-kata terakhir sang hakim—Pria yang berdiri di balik pintu kayu... dua puluh tahun lalu...—terus bergema di dalam tengkoraknya, menghancurkan fondasi rasionalitas yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, ponsel di saku mantelnya kembali bergetar. Sebuah getaran presisi yang terasa seperti detak jarum jam kematian.
Dengan tangan yang masih gemetar dan berlumuran keringat dingin, ia menarik ponsel itu. Layar aplikasi enkripsi itu menyala terang, mengalahkan kilatan cahaya kamera dari para tamu yang mulai merekam kejadian tragis tersebut.
[Aplikasi Obrolan: Enkripsi Ujung-ke-Ujung Aktif]
[04:48 AM] PENGIRIM TIDAK DIKENAL: Bagaimana rasanya, Saras? Menatap langsung ke dalam mata masa lalumu?
Saraswati menggertakkan giginya. Ia mengetik dengan cepat, mengabaikan fakta bahwa ujung jarinya masih gemetar.
[04:48 AM] DR. SARASWATI: Siapa kau sebenarnya?! Jika kau punya masalah denganku, hadapi aku secara langsung! Berhenti menggunakan orang lain sebagai pion dalam permainan psikopatmu!
Tiga titik animasi typing muncul. Sang Pembebas tampak menikmati setiap detik kepanikan detektif itu.
[04:49 AM] PENGIRIM TIDAK DIKENAL: Psikopat? Anda kembali berlindung di balik diagnosis klinis yang dangkal. Mari kita bicara tentang psikologi yang sesungguhnya. Apakah Anda ingat konsep kompulsi pengulangan dari Sigmund Freud? Freud menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawah sadar untuk secara kompulsif mengulangi peristiwa trauma dari masa lalunya. Seseorang yang tidak mampu mengingat atau membicarakan trauma masa kecilnya akan terus mereka ulang trauma tersebut di masa kini, menjebak diri mereka dalam situasi yang menyakitkan tanpa mereka sadari.
Saraswati menahan napas. Pembunuh ini sedang membedah jiwanya hidup-hidup. Fenomena kompulsi pengulangan, atau trauma reenactment, adalah sebuah mekanisme di mana korban trauma tanpa sadar mereka ulang rasa sakit awal mereka—sebuah usaha sia-sia dari Ego untuk akhirnya bisa menguasai teror yang dulu membuat mereka tak berdaya.
Apakah selama ini Saraswati menjadi detektif bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan karena kompulsi pengulangan? Apakah ia terus-menerus memburu pembunuh karena ia secara tidak sadar sedang memburu monster yang mendobrak pintu lemarinya dua puluh tahun yang lalu?
[04:51 AM] PENGIRIM TIDAK DIKENAL: Logika Aristoteles Anda yang memuja hukum sebab-akibat tidak akan bisa menyelamatkan Anda di sini. Anda tidak bisa mendeduksi sebuah bayangan. Anda mencari jawaban di atas kertas, sementara saya beroperasi di alam roh. Seorang sufi agung, Ibnu Arabi, pernah berkata melalui murid-muridnya: 'Juallah kecerdikanmu dan belilah kebingungan, karena kecerdikan hanyalah opini, sedangkan kebingungan adalah visi.'
Pesan itu menampar nalar Saraswati. Sang Pembebas menuntutnya untuk masuk ke dalam kondisi Hayra—sebuah kebingungan eksistensial dan spiritual yang mendalam. Dalam tradisi teologi negatif Ibnu Arabi, ketika akal manusia mencapai batas rasionalitasnya dan hancur berkeping-keping, di situlah manusia baru bisa melihat visi kebenaran yang sesungguhnya. Pembunuh ini sedang berusaha menghancurkan instrumen deduksi logis milik Saraswati, memaksanya untuk 'tenggelam dalam lautan kebingungan' agar ia bisa memahami motif yang melampaui keadilan konvensional.
[04:52 AM] DR. SARASWATI: Aku tidak akan bermain dalam labirin ilusimu. Kau membunuh seorang manusia malam ini. Kau akan diadili oleh hukum material, bukan oleh puisimu.
[04:53 AM] PENGIRIM TIDAK DIKENAL: Manusia? Yang mati di depan Anda bukanlah manusia. Dia adalah produk dari sistem yang menindas. Dia adalah cangkang kosong kapitalisme. Keadilan material Anda sudah lama membusuk, Saraswati. Bawa mayat ini ke laboratorium Anda. Temukan racunku. Gunakan mikroskop Anda. Tapi ketahuilah, mikroskop tidak bisa melihat dosa.
Layar itu menjadi gelap. Percakapan terputus sepihak.
"Dokter Saraswati!"
Sebuah suara bariton yang kasar memecah fokusnya. Inspektur Bramantyo menerobos kerumunan bersama selusin petugas unit taktis bersenjata laras panjang. Jas hujan sang Inspektur basah kuyup, wajahnya memerah oleh kombinasi kemarahan dan rasa malu karena peringatan Saraswati satu jam yang lalu ternyata benar-benar terbukti.
Bramantyo menatap mayat Hakim Wibowo, lalu menatap layar raksasa di belakang panggung yang masih memutar bukti-bukti korupsi dan kejahatan seksual sang Hakim.
"Tutup layar itu! Singkirkan warga sipil dari ruangan ini! Amankan perimeter!" teriak Bramantyo memberi komando buta. Ia kemudian berjalan menghampiri Saraswati dengan langkah mengancam. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Dokter? Anda tahu dia akan diserang, dan Anda malah membiarkannya mati di tengah ratusan saksi mata?!"
Saraswati berdiri tegak, menyembunyikan tangannya yang bergetar ke dalam saku mantel. "Saya sudah mencoba menghentikannya, Inspektur. Korban diracun menggunakan neurotoksin psikoaktif halusinogen, sama seperti kasus Adrian Kusuma."
"Omong kosong!" bentak Bramantyo, urat lehernya menonjol. "Ini bukan pembunuhan berantai dengan neuro-apa-pun itu. Ini adalah aksi terorisme politik murni! Lihat apa yang ditayangkan di layar itu! Ini adalah revolusi kaum pekerja!"
Bramantyo mulai meracau dengan analisisnya yang dangkal. "Karl Marx sudah memprediksi hal ini. Di bawah sistem kapitalis, para pekerja teralienasi dari produk yang mereka ciptakan, teralienasi dari aktivitas produksi mereka, bahkan teralienasi dari sesama manusia." Inspektur itu menunjuk ke arah mayat Wibowo. "Kusuma menggusur rumah mereka, Hakim Wibowo yang melegalkan penggusurannya. Ini hanyalah balas dendam kelas bawah yang marah karena kemanusiaan mereka dirampas oleh para borjuis bajingan ini. Kasus ini akan saya serahkan ke unit anti-teror. Anda, sebagai psikolog perempuan, tidak perlu ikut campur lagi dengan urusan politik tingkat tinggi."
Kata-kata Bramantyo mengiris udara dingin di antara mereka. Di hadapan ratusan pasang mata, sang Inspektur sedang mencoba menundukkan Saraswati, mereduksi posisinya dari seorang konsultan ahli menjadi sekadar 'psikolog perempuan' yang dianggap terlalu rapuh untuk menangani eskalasi terorisme.
Di sinilah filosofi Simone de Beauvoir bermanifestasi dengan kejam di dunia nyata. Beauvoir dalam The Second Sex menegaskan bahwa dalam masyarakat patriarki, laki-laki memposisikan diri mereka sebagai subjek yang esensial, netral, dan rasional, sementara perempuan selalu dikonstruksikan sebagai Yang Liyan (The Other)—subjek yang inferior dan subordinat. Bramantyo secara tidak sadar sedang mempraktikkan dominasi eksistensial ini, mencoba membuat Saraswati menjadi objek pasif dari keputusannya.
Saraswati menolak dikerdilkan. Eksistensialisme menuntut kebebasan radikal untuk mendefinisikan diri sendiri, dan menolak peran Liyan adalah langkah pertama menuju kebebasan absolut.
Saraswati melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan sang Inspektur. Tatapannya setajam pisau bedah forensik, mengunci mata pria yang jauh lebih tinggi dan besar darinya itu.
"Dengarkan saya baik-baik, Inspektur," suara Saraswati terdengar pelan, namun mengandung otoritas yang membuat beberapa petugas taktis di dekat mereka menoleh. "Jika ini hanyalah revolusi Marxis yang sederhana, pelaku tidak akan menggunakan racun halusinogenik kompleks yang tidak bisa dilacak oleh laboratorium standar. Seorang revolusioner kelas pekerja akan menggunakan bom molotov atau peluru penembak jitu. Mereka menginginkan simbol kejatuhan yang terlihat oleh mata."
Saraswati menunjuk ke arah dada Wibowo yang terkoyak oleh kuku sang hakim sendiri. "Pembunuh ini menggunakan dosa personal korban sebagai senjata. Dia tidak sedang menghancurkan kelas sosial; dia sedang menghancurkan Ego korban dari dalam. Dia menganggap dirinya sebagai Übermensch, dewa baru yang melampaui moralitas konvensional. Jika Anda menyerahkan ini ke unit anti-teror yang hanya mencari sel-sel radikal di pabrik-pabrik kumuh, Anda akan menemukan jalan buntu, dan besok malam, akan ada elit lain yang mati merobek wajahnya sendiri."
Bramantyo terdiam. Argumen silogistik yang disusun Saraswati terlalu rapat, terlalu logis, dan tak bisa dibantah oleh ego maskulin sang Inspektur.
"Saya yang memimpin investigasi profil psikologis ini, Bramantyo," desis Saraswati, menegaskan dominasinya sebagai subjek intelektual yang mandiri. "Saya akan kembali ke kepolisian untuk memeriksa residu dari gelas korban. Pastikan tim Anda tidak mengontaminasi TKP ini seperti segerombolan amatir."
Tanpa menunggu persetujuan, Saraswati berbalik dan berjalan membelah kerumunan polisi yang secara naluriah membuka jalan untuknya.
[06:15 AM] MARKAS BESAR KEPOLISIAN METROPOLITAN, RUANG FORENSIK BAWAH TANAH
Hujan badai akhirnya mereda, menyisakan langit pagi metropolis yang kelabu dan muram. Di dalam laboratorium bawah tanah yang diterangi lampu neon putih steril, Dr. Saraswati duduk sendirian. Secangkir kopi hitam yang sudah dingin menemaninya menatap papan kaca transparan yang dipenuhi oleh foto-foto TKP, diagram alur, dan catatan-catatan tulisan tangannya.
Dua korban. Adrian Kusuma dan Hakim Agung Surya Wibowo.
Secara objektif, kematian mereka terlihat seperti pembalasan dendam kaum proletar. Seperti yang dipetakan oleh Karl Marx, para pekerja ini telah direduksi menjadi komoditas, diasingkan (alienated) dari potensi kreatif mereka sendiri akibat keserakahan elit korporat dan hukum yang korup. Sang Pembebas mengeksploitasi kemarahan kelas ini, menjadikannya sebagai tirai panggung untuk motif yang jauh lebih gelap dan personal.
Saraswati menyentuh foto ruang tamunya sendiri yang dikirim oleh Sang Pembebas.
Pria yang berdiri di balik pintu kayu... dua puluh tahun lalu... dia bilang, dia sangat merindukanmu, Saras...
Pesan terakhir Wibowo tidak mungkin merupakan sebuah kebetulan. Halusinogen itu meruntuhkan pertahanan Superego Wibowo, membiarkan Sang Pembebas yang mungkin telah menanamkan sugesti pasca-hipnotis (post-hypnotic suggestion) sebelum Wibowo naik ke atas panggung, untuk menyampaikan pesan tersebut.
Pembunuh ini meretas ruang privatnya, memanipulasi waktu dengan konsep Barzakh, menyerang rasionalitasnya, dan kini ia mengeksploitasi trauma represi Freud-nya secara terang-terangan. Ini adalah sebuah dialektika yang dirancang khusus untuknya. Pertarungan antara dua jiwa di mana ego salah satu dari mereka harus mati.
Saraswati memijat pelipisnya yang berdenyut keras. Aristoteles tidak bisa membantunya di sini. Silogisme tidak berlaku ketika premis utamanya adalah hantu dari masa lalu. Ia harus mulai memikirkan langkah Sang Pembebas dari sudut pandang Nietzschean. Sang Pembebas ingin menghancurkan tatanan moral palsu. Ia membenci institusi yang terlihat agung di luar namun busuk di dalam. Korporasi, Hukum... apa pilar kemunafikan selanjutnya?
Tiba-tiba, layar komputernya berkedip. Jaringan intranet kepolisian yang seharusnya sangat aman tiba-tiba mengalami lag.
Saraswati segera menarik keyboard mendekat.
[06:30 AM] APLIKASI PESAN POP-UP MUNCUL DI LAYAR MONITOR:
SISTEM OVERRIDE AKTIF. KONEKSI: BARZAKH PROTOCOL.
Saraswati mengutuk pelan. Sang Pembebas kembali meretas sistem pusat. Ia segera mengetik balasan di jendela terminal tersebut.
[06:31 AM] DR. SARASWATI: Kau tidak bisa bersembunyi terus di balik kode binari. Setiap kali kau meretas, kau meninggalkan jejak IP. Aku akan menemukanmu.
[06:31 AM] SANG PEMBEBAS: Carilah bayangan di tengah kegelapan, Saras. Anda masih bersikeras menggunakan kecerdikan Anda, padahal saya sudah menawarkan anugerah kebingungan. Kusuma merepresentasikan keserakahan korporat. Wibowo merepresentasikan pelacuran keadilan. Mereka adalah institusi yang gagal. Tapi ada satu lagi institusi manusia yang paling hipokrit, yang paling diagungkan, namun paling sering menelan korban dalam kebisuan.
Saraswati mengerutkan dahi. Institusi apa yang sedang dibicarakan oleh pembunuh gila ini? Agama? Pendidikan?
[06:33 AM] SANG PEMBEBAS: Nietzsche pernah menulis sebuah kebenaran pahit: 'Pernikahan sebagai sebuah percakapan yang panjang. Ketika menikah, Anda harus bertanya pada diri sendiri: apakah Anda percaya akan menikmati berbicara dengan wanita ini hingga usia tua? Segala sesuatu yang lain dalam pernikahan adalah fana, namun sebagian besar waktu yang dihabiskan bersama akan didedikasikan untuk percakapan.'
Saraswati membeku. Kutipan filosofis itu menghantam sebuah ruang kosong yang ngilu di dadanya. Percakapan yang panjang. Pernikahan.
[06:34 AM] DR. SARASWATI: Apa hubungannya ini denganmu? Jangan berteka-teki!
[06:34 AM] SANG PEMBEBAS: Pernikahan modern adalah bentuk alienasi yang paling menyedihkan. Dua manusia berpura-pura saling memiliki, padahal mereka hanya menjalankan transaksi sosial. Dan ketika percakapan itu mati, yang tersisa hanyalah sangkar penindasan. Sebuah sangkar di mana sang Liyan diinjak-injak oleh ego sang Suami yang merasa sebagai subjek absolut. Anda tahu betul tentang pernikahan yang hancur, bukan, Saras? Tentang percakapan yang berhenti sebelum ia benar-benar dimulai.
Saraswati mencengkeram tepi mejanya. Sang Pembebas secara brutal menyinggung kehidupan pribadinya lagi—pernikahannya yang gagal, mantan suaminya yang meninggalkannya karena tidak sanggup hidup dengan seorang wanita yang memiliki trauma psikologis dan kecerdasan yang mengintimidasi ego maskulinnya.
[06:36 AM] SANG PEMBEBAS: Target ketigaku bukan seorang kapitalis atau hakim. Target ketigaku adalah seorang pahlawan keluarga yang dicintai jutaan penonton televisi. Seorang suami teladan di mata publik, namun monster sadis di balik pintu kamarnya sendiri. Dalam dua jam, percakapan panjangnya dengan istrinya akan berakhir untuk selamanya. Dan kali ini, sangkar itu akan menjadi peti matinya.
Di layar monitor Saraswati, sebuah angka hitung mundur raksasa berwarna merah kembali muncul.
01:59:59 01:59:58 01:59:57
Bersamaan dengan munculnya hitung mundur tersebut, sebuah gambar blueprint denah bangunan terunduh secara otomatis ke desktop komputer Saraswati. Itu adalah denah sistem ventilasi udara dari sebuah kompleks studio stasiun televisi swasta terbesar di negara ini.
Sang Pembebas tidak lagi menargetkan kemunafikan di sektor publik; ia masuk ke dalam kemunafikan ranah domestik, menghancurkan ilusi patriarki yang membingkai pernikahan sebagai institusi suci. Dan kali ini, ia menantang Saraswati untuk menyelamatkan nyawa seorang tiran, demi menyelamatkan nyawa seorang wanita tak berdosa yang terjebak bersamanya.
Saraswati menyambar pistolnya dari atas meja dan berlari keluar dari ruang bawah tanah itu. Permainan ini berkembang menjadi sebuah labirin kegilaan yang tak berujung, dan ia tahu, semakin dalam ia masuk, semakin dekat ia dengan monster di balik pintu kayu dua puluh tahun lalu itu.
Waktu terus berdetak.