Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
Gista melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan pelan-pelan. Suasana rumahnya saat itu sepi dan gelap, menciptakan kesan sunyi yang menegangkan. Tapi tidak lama kemudian, lampu menyala, menampilkan Arabella yang sedang duduk di sofa ruang tamu, dengan tatapan yang membuat Gista merasa tidak nyaman.
"Dari mana? Kenapa masih pulang?"
"Gista habis—"
"Ngejalang, iya?"
Gista menggeleng cepat, menangkal apa yang di katakan mamanya. "Enggak ma, Gista habis cari motor yang hilang."
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di wajah Gista meninggalkan bekas kemerahan di wajahnya.
"Berani-beraninya kau bohongi saya!"
"Gista gak bohong ma, beneran Gista cari motor."
Ctas!
Cambuk kesayangan Arabella kembali mendarat pada punggung Gista membuat tubuhnya terasa remuk.
"Ambil belanjaan yang ada di dalam mobil, setelah itu temui saya di gudang."
"I—iya ma." dengan rasa sakit yang masih menjalar di tubuhnya, Gista pergi mengambil belanjaan mamanya dan membawanya ke dapur.
Huft..
"Semoga ini bukan hari terakhirku, banyak hal yang mau aku rasain di dunia ini." gungam Gista sembari melangkah masuk ke dalam gudang, di mana sang mama tlah menunggu.
"Ma ..."
"Berjongkok."
Gista menurut, tak ada bantahan dari gadis itu. Matanya memejam, ia tau apa yang akan mamanya lakukan padanya.
Ctas!
Ctas!
Tanpa belas kasihan wanita paru baya itu mencambuk Gista, tangan Gista meremas ujung pakaiannya saat kembali merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
'Ya tuhan apa kesalahan yang tlah ku perbuat di masalalu? Kenapa mama selalu menyakitiku, aku juga ingin di sayang seperti dia menyayangi saudari kembarku.'
Bruk
Gista jatuh tersungkur di lantai, namun hukuman untuknya tak berhenti begitu saja. Arabella menendang tubuh Gista yang meringkuk kesakitan di lantai, tanpa belas kasihan ia meninggalkan Gista sendiri di dalam gudang yang gelap.
"B-buka ma.." lirih Gista, selain takut pada guntur dan petir ia juga takut pada kegelapan.
Dengan sisa-sisa tenaga Gista merogo benda pipinya, menyalahkan senter di handphone-nya namun penerang itu hanya ada beberapa detik dan setelahnya handphone Gista mati dan sumber cahaya itu tentunya juga ikut mati.
Jederrr!
"Aghkk!" Gista memeluk tubuhnya sendiri, air matanya mengalir deras di pipinya.
"Adara tolong ..." lirih Gista sebelum kesadarannya benar-benar menghilang
•
Pagi-pagi sekali Adara langsung ke kamar Gista, ia pikiri saudari kembarnya itu sudah pulang namun ternyata salah. Kamar masih kosong, tak ada Gista di sana.
"Gista belum balik? Sebenarnya lo kemana si sta." gungam Adara, ia kembali meninggalkan kamar saudari kembarnya
"Sayang, ayo sini kita sarapan. Setelah itu mama langsung antar kamu ke sekolah." ucap Arabella saat melihat kedatangan putrinya ke ruang makan
"Gista belum pulang, ma?"
"Gak tau, memangnya gak ada di dalam kamarnya?"
Adara menggeleng. "Gista kemana ya, Adara khawatir dia kenapa-kenapa ma."
"Sudah dara, kayak gak tau aja dia kayak gimana. Paling lagi main sama laki-laki hidung belang, anak itu emang gak bener bisanya bikin malu dan masalah aja kerjaannya."
"Gista gak kayak gitu ma, Gista gadis baik-baik."
"Mana ada anak baik-baik suka keluar malem-malem dara,"
"Tapikan—"
"Dara, mama gak suka kamu nge-banta terus. Mau mama kirim kamu ke asrama biar jauh dari anak sialan itu sekalian."
Bibir Adara terkatup rapat, ia tak bisa membantah ucapan mamanya lagi.
"Pagi Adara!" sapa Irsyad serta Gibran saat gadis itu tiba di kelas
"Jangan teriak-teriak bisa gak sih?!"
"Yaelah neng sensi amat, lagi pms ya?"
"Kayaknya sih iya, tumben banget mukanya kayak kanebo kering." timpal Gibran
Adara mendelik, menatap kedua laki-laki dengan tajam.
"Kalian mau pergi atau gue pukul pakai sepatu gue hah?"
"Kabur!" Gibran serta Irsyad berlari saat Adara mengangkat sepatuhnya.
"Akhirnya lo dateng juga dar," ucap Pipit
"Emang kenapa kalo gue dateng?"
"Gue mau kasih tau sama lo kalo ada pengumunan kalo campingnya di percepat jadi minggu depan."
"Serius?"
"Dua rius nih!"
"Aaa.. gue seneng banget akhirnya kita camping juga." Adara melompat-lompat karena kegirangan, ia sampai lupa jika tenga memikirkan Gista.
"Seneng banget kayaknya?" suara itu berhasil membuat ketiganya mengedarkan pandangan
"Raden!"
"Kesambet lo dar? Tadi marah-marah sekarang senyum-senyum kayak orang gila." bukan Raden yang berucap namun Gibran lah pelakunya
"Ck! Enak aja lu bilang gue gila, lo yang orang gila itu."
"Gue gila? Kalo gue gila gak mungkin cewek-cewek suka."
"Itu karena mata mereka mines." ucap Adara membuat semua tertawa sementara Gibra memasang wajah cemberut.
"Jadi kenapa lo loncat-loncat kayak tadi dar?" Raden mengulang pertanyaannya.
"Gini den, minggu dep—" ucapan Adara terhenti saat Gibran tiba-tiba men-selanya.
"Giliran ngomong sama Raden aja lembut, giliran sama gue kek mau dimakan nih gue."
"Iya karena ngomong sama orang nyebelin emang harus kayak gitu, kalo Raden kan enggak." ucap Adara. "Kenapa, ada masalah buat lo hu?"
"Iya gu—"
"Sudah-sudah, kalian kebiasaan deh pagi-pagi adu bacot." ucap Anita. "Cuma mau bilang campingnya jadi minggu depan aja ribet amat."
"Hah serius??" ketiga laki-laki itu tampak terkejut mendengar ucapan Anita
"Kalo gak percaya liat aja di grub, ada kok pengumumannya."
•
"Kalian pada mau makan apa? Gue pesenin, tapi gue pesenin aja bayarnya sendiri-sendiri." ucap Gibran
"Yaelah gue pikir lo yang bakalan traktir." timpal Irsyad
Gibran menyengir. "Hehe lain kali aja guys, kalian 'kan sudah pada tau kalo uang jajan gue dipotong gara-gara tawuran waktu itu."
Kening Adara mengerut saat melihat Raden seperti tenga gelisah, seperti tenga mencari seseorang. "Den, lo cari siapa sih celangak-celinguk gitu?"
"Gista gak masuk sekolah, dar?"
"Cie, seekor Raden cariin Gista jangan-jangan suka sama Gista, lo ya?" ucap Gibran yang datang dengan membawa nampan berisi makanan pesanan teman-temannya tadi
Raden memutar bola matanya malas, ia tak menghiraukan perkataan Gibran. "Dar?"
"Eh iya kenapa den?" lamunan Adara buyar kala mendapatkan tepukan di pundaknya
"Lo ngelamun ya dar? Raden tadi nanya adek lo gak sekolah?" ujar Anita
Adara menggelengkan kepalanya. "Dari semalam Gista gak pulang-pulang.." lirihnya
"APA?!" semua terkejut mendengar ucapan Adara yang mengatakan jika Gista tak pulang sejak tadi malam.
Apa lagi Raden, laki-laki itu juga di buat terkejut pasalnya tadi malam ia yang menghantar Gista walaupun tak sampai kerumah tapi sebelum pergi Raden memastikan jika gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Lo udah cari dirumah dar?"
"Udah, tapi gak ada."
'Gista kemana ya? pulang ini gue harus cari Gista, dia udah berjasa dalam hidup gue.' Raden membatin