Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Sang Predator di Ujung Tanduk
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Di balik gemerlap lampu neon yang menyilaukan dan deru mesin kendaraan yang tak henti-hentinya membelah aspal kota, Jakarta menyimpan sisi gelap yang mengerikan—sisi di mana Arga kini melangkah sebagai hantu yang membawa dendam.
Arga berdiri di bawah jembatan layang yang kumuh dan lembap, tubuhnya yang berlumuran lumpur perlahan mengering, menyisakan kulit yang tampak aneh. Ada pola urat halus yang berpendar keemasan di balik pori-porinya, sebuah tanda dari Mustika yang mulai merasuk hingga ke sumsum tulang. Ia tidak lagi merasakan lapar yang menusuk atau dingin yang menusuk kulit; ia hanya merasakan ritme detak jantung yang lambat dan mematikan. Di dalam dadanya, Mustika Macan Kencana sudah berhenti menggeram; kini ia berdetak dengan irama yang tenang namun sangat berbahaya. Seperti seekor macan yang sedang mengintai mangsa di balik semak-semak, Arga menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
“Ke mana sekarang, Inang?” suara itu terdengar lebih halus, lebih intim, namun memiliki daya hipnotis yang kuat. “Keluarga Wijaya sedang bersiap untuk perayaan besar atas keberhasilan proyek reklamasi mereka. Clarissa merasa aman di singgasananya, mengira kau sudah hancur lebur di bawah reruntuhan. Saatnya kita merobek fondasi emas mereka hingga hancur berkeping-keping.”
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap papan reklame raksasa di kejauhan yang menampilkan wajah Hendra Wijaya dengan slogan “Membangun Masa Depan Jakarta”. Wajah itu tersenyum angkuh, seolah-olah ia adalah Tuhan yang memegang kendali atas nasib ribuan orang.
"Fondasi tidak diruntuhkan dengan satu pukulan," gumam Arga dingin, suaranya parau. "Fondasi diruntuhkan dengan memotong urat nadinya. Mereka mencintai uang dan kekuasaan, bukan? Aku akan memastikan mereka kehilangan keduanya sebelum fajar menyingsing."
Ia berjalan menuju sebuah warnet yang buka 24 jam di pinggiran kawasan kumuh. Dengan kecepatan yang sulit dipercaya, ia menggunakan kemampuan "koneksi" yang ia pelajari dari sistem gedung Wijaya Holdings tadi. Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan irama yang tidak manusiawi. Dalam sekejap, ia berhasil menembus dinding api (firewall) sistem keuangan internal Wijaya Holdings.
Ia tidak mencuri uang, karena itu terlalu sederhana. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih destruktif: ia memanipulasi data pajak, mengalihkan dana operasional proyek reklamasi ke rekening amal anonim yang tidak bisa dilacak, dan yang paling krusial, ia membocorkan dokumen digital mengenai "Proyek Reklamasi Teluk" ke server media berita terbesar di negeri ini. Data itu berisi bukti mentah tentang pembuangan limbah beracun, suap kepada pejabat tinggi, dan keterlibatan keluarga Wijaya dengan sindikat Taring Hitam. Begitu tombol Enter ditekan, informasi itu akan tersebar ke ribuan perangkat dalam waktu kurang dari satu menit.
“Itu baru awal dari kehancuran mereka,” bisik Macan Kencana penuh kepuasan.
Tepat saat data itu mulai terunggah, ponsel di saku celananya yang basah—satu-satunya barang yang tersisa dari masa lalunya—bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
‘Jangan lakukan ini, Arga. Jika kau meruntuhkan Wijaya, kau tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya dirimu. Aku punya jawaban tentang masa lalumu, tentang orang tuamu... dan tentang Sari.’
Arga terpaku. Napasnya tercekat. Pesan itu datang dari Clarissa. Wanita itu tahu bahwa Arga masih hidup. Ia tahu bahwa monster yang ia buang ke lubang pembuangan tidaklah mati, melainkan bangkit dengan amarah yang berlipat ganda.
Arga menatap layar ponsel itu dengan mata yang perlahan meredup dari warna emas kembali menjadi cokelat yang lelah. Pikirannya bergejolak seperti pusaran air. Apakah ini jebakan maut? Atau benarkah Clarissa memegang kunci dari ingatan yang selama ini dicuri oleh sang Mustika?
"Jika kau bohong, aku sendiri yang akan menghancurkan menaramu sampai rata dengan tanah," gumam Arga pada udara kosong.
Ia membalas pesan itu dengan satu kata: Di mana?
Balasannya datang dalam hitungan detik: Gedung tua di Dermaga 4. Tempat di mana semuanya dimulai. Datanglah sendirian, atau Sari akan menjadi korban berikutnya.
Arga meremas ponsel itu hingga hancur berkeping-keping. Amarahnya kembali memuncak, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada dorongan emosional yang nyata—sesuatu yang lebih kuat dari sekadar haus darah. Itu adalah kerinduan yang menyakitkan.
Ia berlari menembus gang-gang sempit, melompati pagar-pagar beton, dan bergerak secepat angin menuju dermaga tempat hidupnya hancur dua minggu lalu. Di sana, di bawah remang-remang lampu mercusuar yang sudah tidak berfungsi dan dikelilingi oleh tumpukan peti kemas yang berkarat, sosok Clarissa berdiri tegak dengan gaun putih gading yang tampak sangat kontras dengan lingkungan yang kotor itu.
"Kau benar-benar tidak bisa mati, ya?" sapa Clarissa dengan senyum tipis yang penuh dengan ketenangan yang dibuat-buat.
Arga berhenti sepuluh meter di depannya. Tubuhnya menegang, otot-ototnya siap menerkam kapan saja. "Di mana Sari?"
Clarissa mengeluarkan sebuah foto dari sakunya dan melemparkannya ke tanah becek. Itu adalah foto Sari yang sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit, wajahnya tampak sangat pucat dan tidak sadarkan diri. "Dia aman untuk saat ini. Tapi dia bisa berada di tempat yang jauh lebih buruk jika kau terus mengacaukan bisnis Ayahku."
Arga melangkah mendekat, auranya menekan udara di sekitar mereka hingga terasa berat dan menyesakkan. "Katakan apa yang kau tahu tentang masa laluku. Sekarang, atau aku akan mengakhiri ini di sini."
"Kau bukan sekadar kuli panggul, Arga," Clarissa melangkah maju dengan angkuh, jemarinya yang lentik mencoba menyentuh pipi Arga, namun Arga menepisnya dengan gerakan kasar yang penuh kebencian. "Mustika itu... ia tidak memilih inang secara acak. Ia memilih keturunan dari penjaga rahasia yang pernah melayani leluhur Wijaya ratusan tahun lalu. Kau adalah bagian dari takdir yang terikat pada keluargaku, dan Sari hanyalah cara kami untuk memastikan kau tetap menjadi anjing penjaga yang patuh."
Arga merasakan dunianya berputar. Takdir? Penjaga?
“Jangan dengarkan dia, Inang! Dia hanya ingin mengikatmu kembali menjadi budak melalui kebohongan manis!” raung sang macan di dalam batinnya.
"Kau bohong," desis Arga, suaranya bergetar.
"Apakah aku bohong?" Clarissa menunjuk ke arah belakang Arga.
Arga menoleh. Di sana, dari balik bayang-bayang kontainer tua, sosok Sari muncul. Namun bukan Sari yang ia kenal. Sari berjalan dengan langkah kaku, matanya kosong menatap lurus ke depan, dan di lehernya terdapat sebuah alat kecil yang berpendar merah—sebuah alat pengendali saraf atau bom mikro.
"Dia adalah pion kita sekarang, Arga," ucap Clarissa dengan suara yang sangat dingin dan tidak berperasaan. "Sekarang, pilih. Hancurkan hidupmu demi membalas dendam, atau ikuti perintahku dan biarkan gadis itu tetap bernapas."
Arga terdiam mematung. Di dalam kepalanya, suara macan dan suara hatinya saling beradu hebat. Ini adalah titik balik terbesar dalam hidupnya. Ia bukan lagi sekadar kuli panggul atau predator yang tak punya nurani. Ia adalah seorang pria yang terpojok di antara dua pilihan yang sama-sama menghancurkan: dendam yang selama ini ia puja, atau cinta yang perlahan-lahan mulai ia ingat kembali.
Angin laut bertiup kencang, membawa aroma amis air laut dan ketegangan yang memuncak. Arga mengepalkan tinjunya hingga darah menetes dari sela-sela jarinya. Ia tahu, apa pun keputusannya malam ini, tidak ada jalan kembali.