––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(13) Sama-Sama Luka
Sepeninggal para bapak-bapak yang telah menghakimi Haikal dan sudah mendapat bukti yang cukup valid, kini Haikal dan Ailena bisa bernafas lega.
"Udah di tahan dari kapan?" tanya Ailena sembari menutup pintu seiring Haikal masuk sambil memegangi perut nya.
"Nggak tau, mungkin sejam an ada" jawab Haikal menebak asal, ia sendiri tak begitu yakin.
Ailena memperhatikan Haikal yang sudah duduk bersandar di tembok dengan sesekali terdengar ringisan lirih.
"Jangan nandain muka orang yang udah mukul, salah lo nggak langsung nunjukin buku nikah ke mereka" omel Ailena yang tau tatapan mata Haikal yang begitu cermat melihat bapak-bapak tadi seakan mengukir wajah mereka di ingatan.
Haikal berdecak. Lena tak mengetahui yang sebenarnya terjadi, tapi biarlah, rasanya kali ini ia lebih baik menahan mulut nya yang mungkin akan berakhir berdebat.
Ailena duduk di hadapan Haikal yang memejamkan mata. Membuat Haikal sadar dan membuka mata nya secara perlahan.
"Obati luka memar di wajah lo itu dulu" ucap Ailena di tangan nya sudah ada kotak P3K ukuran kecil yang di miliki nya.
"Ya kamu obatin lah istri, aku udah nggak kuat lagi karna tenaga ku habis terkuras" balas Haikal membuat Ailena berdecak sebal.
Tapi tak urung, ia tetap melakukan nya dan mengobati luka memar yang nampak biru dengan darah kering di wajah Haikal dengan telaten.
Haikal sesekali meringis karena tekanan yang Ailena berikan sedikit keras. Tapi Ailena tak peduli, karena ia tak merasakan perih nya hanya merasa reaksi Haikal yang berlebihan.
Selesai mengobati Haikal, Ailena hendak berdiri dan mengembalikan kotak obat itu ke tempat semula.
"Tunggu!" seru Haikal langsung menahan tangan Ailena untuk berdiri.
"Mana lagi yang luka?" tanya Ailena dengan nada jengah, mata nya sudah kelewat ngantuk sekarang.
"Kaki kamu" jawab Haikal membuat Ailena terdiam dan meraba kaki nya, ia sendiri lupa sempat tersandung di perjalanan tadi.
"Tau dari mana?" ketus Ailena hendak kembali berdiri, ia akan mengobati luka itu sendiri dengan air.
"Sini dulu, mau kemana sih buru-buru banget menjauh" tahan Haikal dengan nada lebih tegas, seperti nya Lena tak bisa di ajak melembut untuk sekarang.
"Kapan ini luka nya?" tanya Haikal sembari menyingsing rok Ailena yang langsung di tepis.
"Nggak sopan" ketus Ailena mencoba menghindar.
Haikal menghela nafas. "Aku itu suami kamu ya Ailena. Aku nggak buka sampai telan jang juga kok, cuma buka rok kamu sedikit" jelas Haikal dengan bahasa lugas nya.
Plak
Ailena menggeplak lengan Haikal dengan ketas, bahasa yang tak di saring dari Haikal itu membuat jantung nya berdegup kencang.
"Nggak masalah sih, mau ku telan jang in juga boleh aja, dapat pahala yang ada" monolog Haikal lagi dengan nada enteng.
Ailena melotot mendengar ucapan Haikal yang benar-benar tak bisa membuat nya berkutik lagi.
"Duduk, biar ku obatin. Kamu udah bantu obatin aku, sekarang gantian" titah Haikal sembari menarik lembut tangan Ailena agar mau kembali duduk.
Ailena berdecak dan menurut untuk duduk di depan Haikal lagi dengan muka perangat-perungut nya.
"Jangan ngedumel di dalam hati, keluarin aja" ucap Haikal sembari mengobrak-abrik kotak P3K mencari salep dan betadine.
Ailena merotasi netra mata nya dengan jengah, ia memilih untuk senyap daripada melawan--takut dosa.
Haikal mengobati luka di lutut Ailena dengan fokus, bahkan Haikal tak menyadari tatapan lekat Ailena.
Tak ada ringisan seperti yang dia lakukan tadi. Apa jangan-jangan sifat mereka tertukar ya?
"Harus nya kalau jalan lihat-lihat dulu, aku tau kamu panik karna aku di tahan di pos satpam, tapi jangan sampai lupa buat lindungi diri sendiri" omel Haikal mendapat tanggapan mencibir dari Ailena dengan lirih.
"Nyenyenye" Yup, Ailena ngeyelan.
"Aku nggak mau kamu luka, kamu barang berharga Ai sekarang dalam hidup aku.."
Deg..
Jantung Ailena seakan kembali berpacu dengan cepat sembari menatap Haikal yang menunduk.
Haikal mendongak setelah menutup luka nya dengan perban dan membereskan semua yang tadi dia hambur.
"Aku tau, aku memang tampan" cetus Haikal sembari menyugar rambut nya kebelakang membuat Ailena mengerjap.
"Narsis" cibir Ailena langsung menutup rok nya dan berdiri menghindari tatapan Haikal yang entah kenapa membuat jantung nya tak aman.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️