Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Serius dulu
Malam itu, di tengah kemeriahan Distrik Zamrud, Jian Yi dan Lu Feng tidak membiarkan A-Lang bersembunyi di balik bayang-bayang.
Dengan sedikit dorongan fisik, mereka menyeret A-Lang ke arah paviliun di mana Tan Yin'er sedang menikmati teh malam.
Lu Feng, dengan kecerdikan absurdnya, berpura-pura jatuh dan mendorong A-Lang tepat ke arah meja Yin'er, sementara Jian Yi melepaskan aura Qi penenang agar suasana tidak menjadi kaku.
Setelah beberapa percakapan canggung yang diatur oleh dua tuan muda itu, A-Lang dan Yin'er akhirnya mulai berbicara tentang teknik pernapasan dan bintang-bintang—sebuah awal yang manis sebelum badai yang sesungguhnya tiba.
Pagi harinya, suasana Arena Kota Zamrud berubah drastis. Jika kemarin adalah ajang pamer, hari ini adalah babak semifinal. Penonton berekspektasi akan ada duel satu lawan satu yang teratur.
Namun, Jian Yi memiliki rencana lain yang membuat juri dan penonton tercengang.
Di tengah arena, Jian Yi berdiri dengan tangan di pinggang. "Terlalu lama jika harus satu-satu. Biarkan Lu Feng dan A-Lang melawanku sekaligus. Jika aku kalah, mereka yang maju ke final. Jika aku menang, turnamen ini selesai di sini."
Setelah perdebatan sengit di meja juri, tantangan itu diterima.
Namun, ada satu syarat: mereka diizinkan menggunakan senjata sungguhan.
Suasana yang tadinya riuh mendadak hening mencekam. Ini bukan lagi kompetisi anak-anak; ini adalah duel hidup mati.
Lu Feng menarik sebuah pedang besar yang punggungnya bergerigi—senjata berat yang tampak mustahil diayunkan oleh bocah delapan tahun.
A-Lang menggenggam tombak perak pemberian Keluarga Tan, matanya berkilat penuh tekad.
Sementara itu, Jian Yi menghunus pedang tipis panjang yang memancarkan aura dingin keunguan.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada ejekan. Hanya ada niat membunuh yang murni.
WUSH!
Lu Feng membuka serangan dengan Tebasan Pemecah Langit.
Pedang besarnya menghantam bumi dengan kekuatan ribuan pon, menciptakan getaran yang meruntuhkan beberapa pilar penonton di dekat arena.
Debu membubung tinggi, dan di saat yang sama, A-Lang melesat dari balik debu seperti kilat, ujung tombaknya mengincar jantung Jian Yi dengan presisi yang mengerikan.
Jian Yi memiringkan tubuhnya, membiarkan tombak A-Lang melewati ketiaknya, lalu menggunakan punggung pedangnya untuk menangkis hantaman pedang besar Lu Feng yang kembali mengayun.
TRANG!
Percikan api biru dan kuning meledak. Tekanan udara dari benturan itu membuat penonton di baris terdepan terlempar ke belakang. Jian Yi tidak lagi menahan diri.
Matanya berubah menjadi emas redup—tandanya ia mulai mengakses sisa memori Grand Master.
Pertarungan berubah menjadi tarian kematian yang brutal. Lu Feng bergerak bagaikan badai yang menghancurkan segala sesuatu di jalurnya.
Setiap tebasannya menghancurkan lantai arena hingga menjadi kerikil kecil.
Di sisi lain, A-Lang bertindak sebagai algojo bayangan; gerakannya sunyi, setiap tusukannya mengincar titik saraf vital Jian Yi.
Darah mulai membasahi lantai arena. Jian Yi tidak sepenuhnya tak tersentuh; lengan bajunya robek dan goresan dalam muncul di bahunya akibat koordinasi sempurna antara Lu Feng dan A-Lang.
Jian Yi tiba-tiba berputar, pedangnya menciptakan lingkaran energi ungu yang tajam.
Sring!
Lu Feng terlempar mundur dengan luka sayatan melintang di dadanya, sementara tombak A-Lang patah menjadi dua bagian oleh tekanan Qi Jian Yi.
Namun, Lu Feng bangkit dengan tawa liar. Ia membuang pedang besarnya yang mulai retak, lalu menerjang maju menggunakan tinju kosong yang dilapisi api merah.
A-Lang menggunakan patahan tombaknya sebagai dua belati pendek, menyerang dari sudut yang mustahil.
Pertarungan jarak dekat terjadi. Suara hantaman daging dan tulang yang beradu terdengar jelas ke seluruh stadion.
Jian Yi menggunakan gagang pedangnya untuk menghantam dagu Lu Feng, lalu dalam satu gerakan halus, ia menendang dada A-Lang hingga bocah itu memuntahkan darah segar di udara.
Dua lawan satu, namun Jian Yi tampak seperti dewa perang yang tak tergoyahkan. Setiap kali mereka menyerang, Jian Yi membalas dengan dua kali lebih keras.
Lu Feng mengalami dislokasi bahu, namun ia menarik lengannya kembali ke tempatnya dengan suara Krak yang mengerikan, tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Cukup," bisik Jian Yi.
Ia menghentakkan kakinya ke tanah. Teknik Domain Kehampaan aktif seketika. Waktu seolah melambat bagi Lu Feng dan A-Lang. Jian Yi bergerak secepat cahaya.
Tuk. Tuk.
Ia mengetuk tenggorokan Lu Feng dengan ujung jari dan menempelkan ujung pedangnya tepat di antara kedua mata A-Lang.
Keheningan total menyelimuti arena. Lu Feng dan A-Lang terengah-engah, tubuh mereka penuh memar dan luka sayatan, sementara Jian Yi berdiri di tengah dengan napas yang mulai tenang kembali. Pakaian mereka semua sudah compang-camping dan bersimbah darah.
"Pemenangnya ... Jian Yi!" teriak wasit dengan suara gemetar.
Para penonton, termasuk Jian Hong, Lu Zhao, dan Tan Xing, berdiri dalam diam. Mereka tidak percaya apa yang baru saja mereka saksikan.
Itu bukan pertarungan pendekar tingkat rendah; itu adalah pembantaian teknik yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah melewati ribuan pertempuran.
Tan Yin'er menatap A-Lang yang terluka dengan tatapan khawatir sekaligus bangga, sementara keluarga Wei di sudut lain tampak pucat pasi.
Mereka menyadari satu hal: selama tiga bocah ini ada, tidak ada seorang pun di wilayah ini yang bisa tidur nyenyak jika menjadi musuh mereka.
Jian Yi menyarungkan pedangnya, mengulurkan tangan pada Lu Feng dan A-Lang. "Kalian tumbuh lebih cepat dari yang kuduga. Sekarang ayo pergi, aku lapar."
Lu Feng meringis menahan sakit di bahunya. "Sialan ... kau benar-benar tidak memberi ampun pada kawan sendiri."
A-Lang menyeka darah di bibirnya, menatap Jian Yi dengan rasa hormat yang semakin dalam. "Terima kasih atas pelajarannya, Tuan Muda."
Maka berakhirnya semifinal yang paling berdarah dalam sejarah Kota Zamrud, meninggalkan kisah luar biasa yang akan dibicarakan selama beberapa generasi ke depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁