Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Di balik bilik toilet.
Sepanjang jam pertama, Aira merasa waktu berjalan merambat seperti siput. Ia menatap Pak Reza, guru sejarah di depannya, dengan tatapan yang menyiratkan rasa bosan. Penjelasan panjang lebar guru pria itu bukan lagi materi pelajaran, melainkan lagu pengantar tidur yang paling ampuh. Aira mendengus, menghela napas kasar berkali-kali, lalu sengaja menguap lebar-lebar hingga rahangnya terasa nyeri, sampai akhirnya Pak Reza menyadari keanehannya.
"Aira, kamu mengantuk?" tanya pria itu dengan tatapan tajam di balik kacamatanya.
Aira tersentak, namun sedetik kemudian ia memasang ekspresi nelangsa yang luar biasa dramatis. "Sepertinya aku kurang enak badan, Pak. Sakit perut!" ujarnya dengan tangan yang langsung memegangi perut, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menguap lebar sedetik yang lalu.
Pak Reza mengernyitkan dahi, sementara teman-teman sekelasnya harus menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan tawa yang hampir meledak.
"Apa masih bisa tahan? Sebentar lagi kelas selesai," ujar guru itu mencoba berkompromi.
Aira meringis dramatis sambil memegang perutnya lebih erat. "Sepertinya... sepertinya tidak bisa, Pak. Ah, sakit sekali... Apa ini sudah mau ajalku ya? Anya, tolong buatkan surat wasiat. Sepertinya aku sudah mau perg—"
"Ah, ya sudah! Keluar sana, pergi ke toilet!" seru Pak Reza akhirnya, menyerah menghadapi drama sang murid.
Detik itu juga, raut wajah Aira berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum lebar yang sedari tadi ia tahan akhirnya terukir jelas. Tidak ada lagi tanda-tanda sakit perut, ia berdiri dengan langkah ringan dan ceria, melewati meja teman-temannya dengan penuh kemenangan.
Pak Reza hanya bisa menggelengkan kepala, menghela napas panjang sebelum kembali memaparkan materi, sementara Aira sudah menghilang di balik pintu kelas, bebas dari jeratan sejarah yang membosankan.
Aira melangkah cepat menyusuri koridor. Tujuannya jelas, dia ingin memastikan kebenaran ucapan Denada mengenai Leonel yang membawa titipannya kemarin. Begitu sampai di koridor dekat toilet perempuan, Aira mulai memeriksa tempat sampah satu per satu. Beberapa sudah kosong, namun saat mencapai tong sampah ketiga, matanya menangkap keberadaan kantong plastik hitam yang terselip di sana.
Rasa penasaran mendorongnya untuk memeriksa tanpa rasa jijik. Saat isi kantong itu tersingkap, Aira tertegun. Di dalamnya benar-benar terdapat satu bungkus pembalut, minuman pereda nyeri, dan sebuah tumbler stainless. Seketika, perasaan Aira bergejolak. Ada rasa bersalah yang menusuk karena telah memaki pria itu habis-habisan pagi tadi. Namun, rasa itu hanya bertahan sesaat; bayangan berita hubungan Leonel dan Cleo kembali menghujam pikirannya, mendinginkan sisa rasa hangat yang sempat muncul.
Setelah memastikan temuannya, Aira yang merasa jenuh memutuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah guna menjernihkan pikirannya yang berkecamuk. Namun, baru saja dia hendak melangkah, suara isak tangis dari dalam toilet menghentikan langkahnya.
"Suara siapa itu?" gumamnya pelan sambil mendekat ke arah pintu toilet.
Aira mengecek satu per satu bilik toilet yang terbuka, namun tidak ada siapa pun di sana. Suasana mendadak hening, membuat bulu kuduknya meremang dan sempat terlintas pikiran bahwa toilet itu berhantu. Dia baru saja hendak berbalik pergi, tetapi suara itu terdengar kembali, kali ini lebih menyerupai jeritan yang tertahan.
Aira menatap sebuah pintu bilik yang tertutup rapat, yang ditempeli kertas putih bertuliskan Toilet Rusak.
"Apa dari dalam? Tapi bukannya ini rusak?" herannya. Dia menatap pintu itu lebih lama dengan perasaan waswas. Perlahan, tangannya terulur untuk memutar handle pintu yang dia kira akan terkunci rapat, namun ternyata pintu itu bisa terbuka dengan cukup mudah.
*
*
*
"Hap... huh..."
Di balik pintu bilik toilet yang tertulis 'rusak' itu, seorang siswi sedang bertaruh dengan nyawanya. Tangisan memilukannya sama sekali tidak membuat tiga gadis di sana berhenti. Cleo, Marissa, dan Clara tengah melampiaskan kekuasaan mereka tanpa ampun.
Byurr!!
Rambut panjang Yura yang tergerai kini basah kuyup. Clara mencengkeram kuat tengkuk gadis itu, memaksa kepalanya masuk ke dalam bak air. Setelah beberapa detik, ia menarik kepala Yura ke atas, memberi kesempatan untuk menghirup udara, sebelum kemudian menenggelamkannya kembali dengan gerakan kasar. Hal itu dia lakukan berulang-ulang.
"Katakan kalau kamu tidak akan membocorkan pada siapa pun bahwa aku yang mengambil foto itu dan mengunggahnya ke akun base!" ujar Clara dengan seringai sinis.
Yura, admin akun base sekolah itu, sudah tampak pucat pasi. Bibirnya gemetar hebat, hidung serta matanya memerah karena terus dipaksa bergelut dengan air bak.
Cleo mendekat, menarik rambut Yura dengan kasar untuk membalikkan wajahnya. Ia mencengkeram dagu gadis itu hingga Yura terpaksa mendongak dengan isak tangis yang tertahan.
"Aku mau kamu mengaku ke Leonel bahwa semua itu adalah perbuatan kamu. Pastikan nama aku tidak pernah disebut, paham!" ujar Cleo dingin.
"I... iya, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya, Cleo... aku... aku akan mengaku pada Leonel kalau itu semua perbuatan aku. Tolong... tolong lepaskan aku," rintih Yura di sela tangisnya.
Di saat itulah, dari sudut matanya yang perih, Yura melihat Aira berdiri tak jauh dari sana. Gadis itu sedang memegang ponsel, merekam seluruh adegan kekerasan yang terjadi. Aira menatap Yura tajam, lalu menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah isyarat tegas agar Yura tetap diam dan tidak membuka mulut.
Cleo tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Bagus. Seharusnya memang begitu. Aku tidak mau Leonel membenciku. Kalau sampai itu terjadi... video ini akan tersebar ke seluruh murid SMA Manggala!"
Cleo mengangkat ponselnya, memamerkan rekaman yang membuat wajah Yura seketika memucat pasi. Sontak, gadis itu menarik diri, lalu berlutut di hadapan Cleo dengan tangan tertangkup di depan dada.
"Jangan... tolong jangan lakukan itu. Tolong hapus videonya, Cleo," rintih Yura dengan isak tangis yang pilu.
"Tidak semudah itu dihapus," kekeh Cleo seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Oh, jadi begitu dramanya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...