"Legend of kultivator" Bangkitnya tujuh penguasa langit.
"Satu dendam menyatukan mereka.Tujuh kekuatan akan mengguncang semesta".
Dunia kultivator sedang diambang perubahan besar.Pejabat korup yang dulu menghancurkan keluarga Lin mungkin merasa aman diatas singgasananya,namun mereka tidak menyadari bahwa badai sedang datang ke arah mereka.Bukan cuma satu,melainkan tujuh sosok legendaris yang dipersatukan takdir dan persahabatan.
Dipimpin oleh dua saudara sepupu yang berwajah identik,faksi baru ini muncul untuk menghakimi ketidakadilan :
• Jian Feng : Sang reinkarnasi seorang Kaisar dengan Darah Naga Dan Tinju Naga yang mampu menghancurkan langit.
•Ling Chen : Pemilik tubuh surgawi sang maestro pedang yang membelah kegelapan dengan cahaya suci.
Dibelakang mereka berdiri Lima sekutu yang tak kalah mengerikan :
• Zi Yan (Sang penawar maut)
• Xue Li & Mei'er (Duo Kegelapan)
• Shen Long & Qing Long (Naga hitam & Naga Air)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Kuil Tua
"Kita tidak punya waktu lagi!" Lin Lian menyambar jubahnya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Firasatku mengatakan ajal sedang mengintai kita jika tetap diam di sini."
Mei Jian dan Mei Ling tidak membantah. Mereka bisa melihat urat-urat kemarahan dan kewaspadaan yang menonjol di leher Lin Lian. Dengan gerakan yang terlatih, mereka melesat menembus kegelapan, berpindah dari bayangan pohon ke balik pilar bangunan tua yang roboh.
Tepat saat mereka bersembunyi di dalam reruntuhan kuil yang disepakati, seekor merpati hitam mendarat dengan napas tersengal. Lin Lian menarik secarik kertas kecil dari kakinya. Matanya menyipit saat membaca tulisan yang terburu-buru itu: 'Macan telah mencium jejakmu. Majukan rencana sekarang, atau kalian akan menjadi bangkai di pagi hari.'
"Apa katanya, Kakak?" tanya Mei Ling, jemarinya gemetar saat menggenggam belati peraknya.
"Kita sudah terkepung," jawab Lin Lian singkat. Ia menatap Mei Jian. "Siapkan pedangmu, Pendekar Tinggi. Malam ini, kita akan melihat apakah latihan kita selama ini cukup untuk menahan badai."
Mereka berangkat ke lokasi pertemuan rahasia dengan menyamar sebagai pengawal rendahan. Namun, saat mereka tiba, suasana sudah berubah mencekam. Sang pejabat korup duduk di atas kursi kebesarannya, dikelilingi oleh para Algojo Bayangan—pasukan elit yang terkenal tidak memiliki rasa takut.
"Keadilan mungkin datang terlambat, tapi malam ini, ia berdiri tepat di hadapanmu!" seru Lin Lian, ia melepaskan jubah penyamarannya, memperlihatkan pedang hitam yang memancarkan hawa dingin.
Sang pejabat tertawa parau, sebuah suara yang mengingatkan Lin Lian pada hari kematian orang tuanya. "Keadilan hanya milik mereka yang berkuasa, anak kecil. Serang mereka!"
SRAKK!
Puluhan Algojo Bayangan menerjang. Lin Lian bergerak seperti pusaran angin hitam. Sembilan bayangan pedangnya menari, membelah udara dan menebas baju zirah lawan dengan presisi yang mengerikan. Di sisinya, Mei Jian bertarung dengan teknik yang lebih elegan namun mematikan, setiap ayunan pedangnya menciptakan gelombang tenaga dalam yang menghempaskan lawan.
Tiba-tiba, seorang pria misterius bertopeng besi muncul dari langit-langit, mendarat dengan dentuman yang menggetarkan lantai batu. "Aku datang untuk menagih janji," ucapnya dingin sambil mencabut pedang besar dari punggungnya. Dengan satu tebasan, tiga pengawal langsung terlempar keluar.
Pertarungan menjadi semakin kacau. Bau karat darah mulai memenuhi udara. Sang pejabat korup, yang menyadari pasukannya mulai tumbang, menarik sebuah pedang tua yang berkarat namun memancarkan cahaya merah darah—sebuah Pusaka Terkutuk.
"Mundur!" teriak pria misterius itu kepada Lin Lian. "Biar aku yang menghadapi pedang terkutuk itu!"
Pedang merah darah itu beradu dengan pedang pria misterius, menciptakan percikan api yang membakar tirai-tirai di ruangan itu. Lin Lian, meski ingin membantu, terpaksa fokus melindungi Mei Ling dari kepungan sisa-sisa pasukan.
Dalam keputusasaannya, sang pejabat menghancurkan sebuah guci berisi Bubuk Racun Pembuta. Asap pekat berwarna ungu mendadak menelan seluruh ruangan, menusuk mata dan paru-paru.
"Lin Lian! Aku tidak bisa melihat!" teriak Mei Ling di tengah kepulan asap.
Lin Lian menggunakan tenaga dalamnya untuk menghalau asap, namun saat pandangannya mulai jernih, kursi kebesaran itu sudah kosong. Sang pejabat telah melarikan diri melalui lorong rahasia di balik singgasananya.
"Dia kabur!" Lin Lian hendak mengejar, namun pria misterius itu menahan bahunya.
"Jangan bodoh, di lorong itu penuh jebakan maut," ucap pria misterius itu, napasnya tetap tenang meski baru saja bertarung hebat. "Biar aku yang mengejarnya lewat jalur atas. Kalian tetap di sini. Pastikan Mei Ling tidak terluka, karena dialah satu-satunya kunci untuk membuka gerbang istana nanti."
Lin Lian mengepalkan tinjunya ke dinding hingga batu itu retak. Sekali lagi, mangsanya lepas. Namun, ia tahu ini belum berakhir.
Lanjjjjooootttt