NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 Alya Ketakutan

Kamis pagi dimulai dengan suasana yang berbeda dari biasanya.

Alya terbangun lebih awal, jam empat pagi, dengan keringat dingin membasahi dahinya. Ia baru saja bermimpi buruk mimpi di mana Reyhan pergi lagi, meninggalkan ia dan Arka sendirian seperti enam tahun lalu. Mimpi itu terasa sangat nyata. Terlalu nyata.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap Arka yang masih tertidur pulas di sampingnya. Tangannya gemetar, napasnya pendek-pendek, dadanya sesak.

Ini cuma mimpi. Cuma mimpi.

Tapi ketakutan itu tak mau hilang. Ketakutan bahwa semua kebahagiaan ini hanya sementara. Ketakutan bahwa suatu saat Reyhan akan sadar ia tak benar-benar mencintai Alya, hanya menjalankan tanggung jawab. Dan ketika beban itu terasa terlalu berat, ia akan pergi.

Lagi.

Alya turun ke dapur dengan langkah gontai, menyalakan lampu dengan tangan yang masih gemetar. Ia membuat secangkir teh hangat, berharap itu bisa menenangkan hatinya yang kacau. Tapi tak berhasil.

Ia duduk di meja makan dalam kegelapan hanya cahaya lampu dapur yang menerangi menatap kosong ke cangkir tehnya.

“Alya?”

Suara itu membuat Alya terlonjak. Ia menoleh dan menemukan Reyhan berdiri di ambang pintu, mengenakan kaus tidur hitam dan celana training, rambut acak-acakan, wajah masih sembap.

“Rey… kenapa bangun?” tanya Alya sambil berusaha tersenyum, tapi senyumnya tak sampai ke mata.

Reyhan berjalan mendekat, duduk di kursi sebelahnya. “Aku dengar kamu turun. Kamu nggak bisa tidur?”

Alya mengangguk pelan. “Mimpi buruk.”

“Mimpi apa?”

Alya terdiam. Ia tak ingin bercerita tak ingin terdengar lemah, tak ingin Reyhan tahu betapa rapuhnya ia sebenarnya.

Tapi Reyhan mengulurkan tangan, memegang tangan Alya yang dingin dengan lembut. “Cerita sama aku. Please.”

Alya menatap tangan mereka yang bertaut hangat, erat, menenangkan. Lalu dengan suara bergetar, ia berkata, “Aku… mimpi kamu pergi lagi. Ninggalin aku dan Arka. Dan kali ini… aku nggak bisa bangkit lagi.”

Hening.

Reyhan merasakan dadanya seperti diremas. Ia tak tahu mimpi itu akan sangat menakutkan Alya.

“Alya…”

“Aku tahu ini konyol,” potong Alya cepat, suaranya mulai bergetar. “Aku tahu kamu udah bilang kamu nggak akan pergi. Tapi… aku takut, Rey. Aku takut suatu saat kamu sadar… ini semua terlalu berat. Tanggung jawab yang terlalu besar. Dan kamu… pergi lagi.”

Air matanya jatuh, tak bisa ia tahan lagi.

Reyhan langsung bangkit dari kursinya, berjongkok di depan Alya, memegang kedua tangannya dengan erat.

“Alya, lihat aku,” perintahnya lembut tapi tegas.

Alya mengangkat wajahnya mata merah, pipi basah oleh air mata.

“Aku nggak akan pergi,” kata Reyhan dengan nada sangat serius. “Aku tahu kamu trauma. Aku tahu aku yang bikin kamu kayak gini. Dan aku… sangat menyesal. Tapi Alya, dengerin aku baik-baik aku bukan lagi Reyhan yang enam tahun lalu. Aku udah berubah. Aku udah belajar… apa artinya mencintai seseorang.”

“Tapi bagaimana aku bisa yakin”

“Karena aku nggak bisa hidup tanpa kalian lagi,” potong Reyhan, suaranya bergetar penuh emosi. “Sebelum ketemu kalian lagi, hidupku… kosong. Aku kerja, aku sukses, aku punya uang, tapi aku nggak bahagia. Aku kesepian. Tapi sekarang… sekarang aku punya alasan bangun pagi. Aku punya alasan pulang cepat. Aku punya alasan… hidup.”

Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Rey…”

“Kamu dan Arka adalah alasan hidup aku, Alya. Kalian adalah keluarga aku. Dan aku nggak akan ninggalin keluarga aku. Nggak akan. Selamanya.”

Air mata Alya mengalir deras. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan tangan menangis untuk semua ketakutan yang akhirnya didengar, untuk semua luka yang perlahan sembuh.

Reyhan menariknya ke dalam pelukan erat, hangat, menenangkan.

“Nangis aja kalau mau nangis,” bisiknya sambil mengusap punggung Alya dengan lembut. “Keluarin semua ketakutan kamu. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku di sini. Aku akan selalu di sini.”

Alya menangis di pelukan Reyhan tangisan yang sudah lama ia pendam, tangisan untuk semua rasa sakit masa lalu, tangisan untuk semua malam-malam yang ia lalui sendirian.

Dan Reyhan ia hanya memeluknya, membiarkan Alya meluapkan semua emosinya, menjadi tempat berlindung yang selama ini tak pernah ia berikan.

Mereka berdua tak tahu berapa lama mereka seperti itu mungkin sepuluh menit, mungkin dua puluh. Tapi ketika Alya akhirnya tenang, ketika tangisannya mereda menjadi isak kecil, Reyhan melepaskan pelukan dan menatap wajah Alya dengan lembut.

“Lebih baik?” tanyanya sambil mengusap sisa air mata di pipi Alya dengan ibu jarinya.

Alya mengangguk pelan. “Maaf… aku lemah.”

“Kamu nggak lemah,” bantah Reyhan tegas. “Kamu adalah wanita terkuat yang aku kenal. Kamu bertahan sendirian selama enam tahun, besarin Arka jadi anak yang luar biasa, dan tetap bisa tersenyum setiap hari. Itu bukan lemah, Alya. Itu luar biasa kuat.”

Alya tersenyum tipis senyum pertama pagi itu. “Terima kasih.”

“Jangan bilang terima kasih. Aku cuma bilang yang sebenarnya.” Reyhan tersenyum, lalu bangkit dan mengulurkan tangan. “Ayo. Kita bikin sarapan bareng.”

Alya menatap tangan itu tangan yang selalu ada setiap kali ia membutuhkan.

Ia meraihnya, membiarkan Reyhan menariknya berdiri.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ketakutannya mulai mereda.

Pukul enam pagi

Mereka memasak bersama. Reyhan memotong sayuran dengan canggung, Alya menggoreng telur sambil sesekali tertawa melihat Reyhan yang terlalu serius memotong tomat.

“Rey, itu tomatnya jangan terlalu kecil. Nanti jadi bubur,” tegur Alya sambil tersenyum.

“Aku kan perfeksionis. Harus rapi,” jawab Reyhan sambil tetap fokus pada pisau di tangannya.

“Tomat nggak perlu rapi, Rey. Ini buat dimakan, bukan dipajang.”

Reyhan berhenti, lalu menatap Alya dengan tatapan serius. “Tapi aku mau yang terbaik buat kamu dan Arka.”

Hati Alya mencelos mendengar kata-kata itu.

Ia berjalan mendekat, berdiri di samping Reyhan, lalu mengambil alih pisau dengan lembut. “Oke, aku ajarin cara motong yang benar.”

Reyhan tersenyum, lalu berdiri di belakang Alya sangat dekat. Tangannya memegang tangan Alya yang memegang pisau.

“Kayak gini?” bisiknya di telinga Alya suara yang membuat bulu kuduk Alya berdiri.

“I-iya… kayak gitu,” jawab Alya dengan suara sedikit bergetar.

Mereka memotong tomat bersama gerakan yang intim, jarak yang nyaris tak ada, kehangatan tubuh masing-masing terasa sangat nyata.

Alya merasakan jantungnya berdegup kencang terlalu kencang untuk aktivitas sepele seperti memotong tomat.

“Alya,” bisik Reyhan tiba-tiba.

“Ya?”

“Aku… suka banget kayak gini.”

“Kayak gimana?”

“Kayak gini. Bareng kamu. Masak bareng. Ngobrol bareng. Hidup… bareng.”

Alya merasakan pipinya memanas. “Aku… juga suka.”

Reyhan tersenyum senyum yang Alya rasakan di telinganya karena jarak mereka yang sangat dekat.

Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kecil dari tangga.

Mereka berdua langsung menjauh cepat, canggung seperti anak remaja yang ketahuan berpacaran.

Arka muncul dengan wajah mengantuk, mata setengah terpejam. “Pagi… kenapa kalian masak jam segini?”

“Pagi, Nak. Ayah sama Mama lagi siapin sarapan spesial buat kamu,” jawab Reyhan sambil berusaha terdengar normal meski wajahnya sedikit merah.

Arka menguap lebar, lalu duduk di kursi meja makan. “Wah… aku suka sarapan spesial.”

Alya tertawa melihat tingkah Reyhan yang sedikit gugup sesuatu yang jarang terjadi.

Mungkin… mungkin aku nggak perlu takut lagi, pikirnya sambil tersenyum.

Pukul delapan pagi

Setelah sarapan, Reyhan bersiap berangkat kerja seperti biasa jas abu-abu gelap, dasi biru navy, sepatu pantofel mengkilap.

Tapi sebelum keluar, ia berhenti di depan Alya yang sedang mencuci piring.

“Alya.”

Alya menoleh. “Ya?”

Reyhan melangkah sangat dekat, lalu mengusap pipi Alya dengan lembut.

“Kalau kamu mimpi buruk lagi, langsung telepon aku. Nggak peduli jam berapa. Aku akan angkat.”

Alya merasakan dadanya hangat. “Oke.”

“Janji?”

“Janji.”

Reyhan tersenyum, lalu tanpa peringatan ia membungkuk dan mencium dahi Alya dengan lembut.

Alya membeku jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Reyhan melepaskan ciuman itu, lalu berbisik dengan senyum nakal, “Aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik.”

Lalu ia pergi, meninggalkan Alya yang masih terdiam dengan wajah merah padam.

Arka yang menyaksikan dari ruang keluarga tertawa keras. “Mama, mukanya merah!”

“A-arka! Fokus baca buku kamu!” seru Alya sambil menyembunyikan wajahnya dengan tangan.

Arka tertawa lebih keras tawa yang jarang sekali keluar dari mulutnya.

Dan Alya meski wajahnya merah dan jantungnya masih berdebar kencang ia tersenyum.

Tersenyum karena untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia merasa… dicintai.

Benar-benar dicintai.

Siang hari Alya bertemu dengan sahabat lamanya, Dina satu-satunya orang yang tahu semua kisah masa lalunya. Mereka bertemu di kafe kecil dekat rumah, memesan kopi dan kue sederhana.

“Jadi… gimana kabar rumah tanggamu?” tanya Dina sambil menyeruput kopinya.

Alya tersenyum senyum yang membuat Dina langsung tahu ada yang berbeda.

“Baik. Sangat baik.”

“Sejak kapan kamu senyum kayak gitu? Kayak anak remaja yang lagi jatuh cinta.”

Alya tertawa. “Aku… emang lagi jatuh cinta.”

Dina hampir menjatuhkan cangkir kopinya. “HAH?! Sama suami kontrak kamu?!”

“Dia bukan suami kontrak lagi, Din. Dia… suami beneran sekarang.”

“Tunggu, tunggu. Cerita dari awal. Aku bingung.”

Alya menarik napas panjang, lalu menceritakan semuanya bagaimana Reyhan mulai berubah, bagaimana ia menjadi ayah yang baik untuk Arka, bagaimana ia mengatakan ia punya perasaan pada Alya.

Dina mendengarkan dengan seksama, matanya melebar di beberapa bagian cerita.

“Gila… ini kayak drama Korea,” gumamnya setelah Alya selesai bercerita.

“Aku tahu. Bahkan aku sendiri masih nggak percaya.”

“Terus… kamu sekarang gimana? Kamu yakin sama dia?”

Alya terdiam lama. “Aku… masih takut, Din. Takut dia pergi lagi. Tapi… aku juga pengen percaya. Aku pengen percaya dia beneran berubah.”

Dina meraih tangan Alya dengan lembut. “Lya, aku kenal kamu dari SMA. Kamu itu orang yang paling kuat yang aku tahu. Tapi kamu juga… manusia. Kamu boleh takut. Tapi jangan biarkan ketakutan itu menghalangi kamu buat bahagia.”

“Tapi bagaimana kalau”

“Nggak ada jaminan, Lya,” potong Dina lembut. “Nggak ada yang bisa jamin Reyhan nggak akan menyakitimu lagi. Tapi… dari cerita kamu, aku lihat dia berusaha. Dia benar-benar berusaha. Dan itu… itu langka, Lya. Jarang ada cowok yang mau berusaha sebesar itu.”

Alya mengangguk perlahan. “Aku tahu.”

“Jadi keputusannya di kamu. Kamu mau kasih dia kesempatan? Atau kamu mau terus hidup dalam ketakutan?”

Alya menatap cangkir kopinya cairan hitam pekat yang perlahan mendingin.

Lalu ia tersenyum tipis. “Aku… mau kasih dia kesempatan. Aku mau… coba percaya lagi.”

Dina tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Dan kalau dia berani sakit-sakitin kamu lagi, aku yang hajar dia!”

Alya tertawa tawa yang lepas dan tulus.

Dan untuk pertama kalinya sejak enam tahun, ia merasa beban di bahunya sedikit lebih ringan.

Malam hari

Pukul tujuh malam, Reyhan pulang dengan satu buket bunga mawar merah di tangan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Alya yang sedang menemani Arka belajar di ruang keluarga langsung terdiam melihat bunga itu.

“Ini… buat aku?” tanyanya dengan wajah terkejut.

“Iya. Aku lewat toko bunga tadi, terus… aku ingat kamu. Jadi aku beli.” Reyhan menyerahkan bunga itu dengan canggung seperti remaja yang baru pertama kali memberi bunga pada gebetannya.

Alya menerima bunga itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih… ini cantik.”

“Nggak secantik kamu.”

Hening.

Arka menatap mereka berdua dengan senyum lebar. “Ayah… romantis ya?”

Reyhan melirik Arka, lalu tersenyum. “Ayah lagi belajar jadi romantis. Gimana? Bagus nggak?”

“Bagus! Mama suka kok. Lihat, mukanya merah!”

“ARKA!” seru Alya dengan wajah merah padam.

Reyhan tertawa tawa tulus yang membuat suasana rumah penuh kehangatan.

Dan malam itu, Alya menaruh bunga mawar itu di vas kristal di meja makan bunga pertama yang ia terima dari suaminya.

Bunga yang menandakan awal baru.

Awal dari cinta yang terlambat, tapi akhirnya tumbuh.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!