Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari
Iago, Yuki, dan Edward tiba di Taman Sylvan. Meski hanya dipagari besi tempa rendah yang sudah berkarat—cat hijaunya yang dulu cerah sekarang mengelupas dalam serpihan kecil, menunjukkan logam cokelat kusam di bawahnya—tempat itu terasa seperti oasis yang tak terduga di tengah kota. Sebuah kantung udara segar yang lepas dari kesibukan dan bau Distrik Permukiman yang memadat.
Pohon-pohon Ek Tundra yang berusia berabad-abad menjulang tinggi, kanopi lebat dan rindang mereka menciptakan ruangan teduh abadi di bawahnya. Cahaya matahari sore yang jingga menyaring melalui celah-celah daun berbentuk hati, membentuk pola-pola emas cair yang menari-nari di tanah lapang yang dipenuhi kerikil halus dan rumput pendek.
Yuki dan Iago duduk di bangku batu yang dingin di tepi Kolam Bunga Lili Merah. Batu itu menyerap dingin dari tanah, terasa menusuk melalui kain celana, kasar dengan lapisan lumut hijau lembut di sudut-sudutnya yang selalu lembap.
Saat Iago mengeluarkan sobekan kertas yang kusut dan lembap dari sakunya dalam, pandangannya secara tak sengaja tertumbuk pada patung perunggu hijau yang berdiri di tengah kolam: Dewi Hutan Kuno, dengan ekspresi wajah datar dan kosong, tangan terbentang lebar, seolah memeluk sesuatu yang sudah lama hilang atau menyambut sesuatu yang belum datang. Air kolam yang kehijauan beriak pelan, memantulkan langit yang mulai berubah warna dari biru ke oranye lembut.
Seorang penyihir hebat bisa melakukan apa saja?
Iago mengulang kata-kata itu dalam benaknya, lidahnya secara mental mencoba meraba setiap suku kata.
"Lihat ini, Kak Iago!" Edward berlari mendekat, wajahnya bersinar, kedua tangannya yang kecil mengangkat seekor kelinci cokelat kecil yang gemetar. Wajahnya bersinar cerah, penuh kebanggaan. “Lucu, kan? Aku hampir tidak menangkapnya!”
Yuki terkekeh pelan. Ia melirik wajah Iago yang muram dan terfokus pada kertas itu sebelum menoleh pada Edward dengan senyum penuh kasih. Iago sendiri menunduk, menatap tanah di antara sepatunya.
"Iya, kelincinya sangat lucu," kata Yuki, berhenti sejenak untuk mengamati binatang kecil itu. Matanya kemudian kembali pada Iago. “Benar kan, Iago?”
"Ah, iya. Sangat lucu," jawab Iago, mengangkat kepala dengan cepat, memaksakan senyum kecil.
Iago dan Edward bertukar senyum, sebuah momen ringan. Yuki hanya mengamati, matanya yang hijau menyipit sedikit, menangkap ketegangan halus di bahu Iago—cara ia duduk terlalu kaku, cara jarinya yang pucat meremas kertas itu terlalu erat hingga ujungnya memutih.
Edward, tak terbendung, kembali berlari ke padang rumput yang luas, bergabung dengan anak-anak lain yang sedang bermain kejar-kejaran, teriakan mereka penuh sukacita. Suara tawa mereka yang riang dan jernih berbaur dengan kicau burung gereja di dahan. Tapi di bangku batu yang dingin itu, keheningan yang berat kembali jatuh menutupi Iago dan Yuki.
"Hei, Iago..." Yuki memecah kesunyian.
"Ya?" Iago menatapnya.
Bibir Yuki melengkung perlahan, membentuk senyuman yang hangat namun penuh pertimbangan. “Mungkin aku tidak seharusnya ikut campur. Tapi... kalau kau dalam masalah apapun, besar atau kecil, ketahuilah bahwa aku akan di sini untukmu. Edward juga.”
"Aku tahu," jawab Iago, senyumnya kali ini lebih tulus, meski masih terasa rapuh dan mudah pecah. “Dan aku menghargainya, Yuki. Lebih dari yang kau tahu.”
Iago mengalihkan pandangannya dari Yuki, matanya menyusuri bentuk-bentuk bayangan panjang yang ditarik oleh pohon-pohon di tanah. “Hei, Yuki.”
“Ya?”
“Pernahkah kau merasa... ragu? Seperti setiap langkah yang kau ambil mungkin salah.”
“... Pernah. Semua orang pasti pernah merasakannya. Terutama saat menghadapi sesuatu yang besar.”
“Kau benar.”
Yuki terdiam sejenak, mengamati profil Iago yang tegang—rahang yang mengeras, mata yang tidak fokus menatap sesuatu di kejauhan yang hanya ia sendiri yang lihat. “Apa yang membuatmu ragu sekarang, Iago?”
Hening lagi, lebih dalam. Tangan Iago di sampingnya mengepal tanpa sadar, bergetar halus hampir tak terlihat. Lalu ia memberi tawa pendek, kosong, tanpa sukacita. “Haha, tidak ada. Hanya rasa penasaran saja. Lupakan.”
Tiba-tiba, tanpa pemberitahuan, Yuki meraih tangan Iago yang terkepal itu. Kedua tangannya yang hangat dan halus membungkus kepalan Iago dengan lembut. “Tidak apa-apa, Iago. Kau bisa cerita padaku. Aku mungkin tidak mengerti semuanya, tapi aku bisa mendengarkan.”
Iago terkejut, tubuhnya sedikit menyentak. Gemetar di tangannya berhenti sejenak. Jantungnya berdetak lebih kencang di dalam sangkar tulang rusuknya, mengetuk-ngetuk dari dalam. Kehangatan dari tangan Yuki merembes masuk melalui kulitnya yang dingin. "Iya," bisiknya, suaranya serak, hampir tak terdengar. “Terima kasih, Yuki.”
Yuki melepaskan genggamannya perlahan, tapi tatapannya yang hijau dan dalam tetap tertambat pada Iago, seolah memberinya ruang sekaligus menahannya.
"Kertas ini," kata Iago akhirnya, setelah menarik napas dalam, membuka genggamannya dan menunjukkan lipatan kertas yang sekarang lembap oleh keringat telapaknya. “Aku... aku yakin ini dari Sang Bayangan. Pencuri legenda itu.”
"Oh, tentang pencuri yang mencuri barang-barangmu?" tanya Yuki, condong ke depan, rambut merahnya jatuh seperti tirai di samping wajahnya.
Yuki membungkuk sedikit lebih dekat, matanya yang tajam membaca tulisan yang hampir pudar di kertas itu. Setelah membacanya, alis tipisnya terangkat dan bibirnya yang merah muda terbuka sedikit. “Penyihir? Maksudnya apa ini? Ancaman? Kode?”
“Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, aku butuh bantuanmu, Yuki.”
“Membantu apa tepatnya? Apa yang bisa kulakukan?”
“Mencari kebenaran. Mencari siapa yang mengirim pesan samar ini, dan apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku.”
“Tapi bagaimana caranya? Kota ini besar. Sang Bayangan saja seperti hantu.”
"Pertama," kata Iago, mengerutkan kening dalam konsentrasi, ujung jarinya mengetuk-ngetuk tulisan di kertas, “kita harus menemukan pria tua misterius itu, yang orang-orang lihat. Dia adalah kuncinya. Dia mungkin yang meninggalkan pesan ini, atau setidaknya membawanya.”
...****************...
Sore mulai beranjak senja, menyeret mantel ungu dan jingga di langit. Langit berubah dari biru cerah menjadi oranye lembut, lalu ungu tua. Di sudut lain kota, jauh dari kedamaian taman, Eldric Malrik berdiri tegak dan besar di balik jubah abu-abu polos dan kasar. Di belakangnya, Eliana dan sekitar delapan anggota Organisasi IV lainnya bergerak dalam formasi longgar namun teratur, menyatu dengan sempurna ke dalam bayangan-bayangan panjang yang ditarik oleh bangunan-bangunan tinggi.
Mereka tidak masuk melalui Gerbang Utama yang dijaga ketat. Eldric memilih rute lama yang hanya dikenal para penyelundup dan pengkhianat: sebuah celah tersembunyi di tembok timur kota, tertutup semak belukar liar dan tanaman merambat, yang langsung membawa mereka ke jantung Distrik Permukiman yang sibuk.
Udara di sini hangat dan beraroma—rempah-rempah menggantung, keringat pekerja, dan asap kayu bakar—jauh dari kesegaran gunung yang tajam, bersih, dan dingin yang mereka tinggalkan.
"Ingat," bisik Eldric, suaranya rendah namun memotong jelas, “kita bukan pemburu yang mencolok. Kita adalah bayangan yang bergerak. Jangan menarik perhatian Penjaga Kerajaan yang berkeliaran. Fokus kita hanya satu: Master Iago. Temukan, amankan, bawa pulang.”
Eliana, di sampingnya, mengangguk halus, matanya yang merah sudah memindai kerumunan. Ia bergerak dengan lincah dan senyap, tubuhnya yang ramping menyusup di antara orang-orang, matanya yang tajam memindai setiap sudut gang sempit, setiap wajah yang lewat, mencari sesuatu yang familiar.
"Eliana," Eldric berbisik tanpa menoleh, pandangannya tetap lurus ke depan. “Kau periksa area losmen tua, cari sisa-sisa jejak Master, apapun yang bisa memberi petunjuk. Sisanya, ikut aku ke Distrik Pusat.”
“Baik. Aku akan mengirim sinyal jika ada sesuatu.”
Mereka berpisah di sebuah persimpangan kecil yang ramai. Eldric memimpin kelompoknya yang lebih besar menuju keramaian dan lampu-lampu, sementara Eliana menyendiri, menyusup lebih dalam ke labirin Distrik Permukiman yang berliku.
Ia menggunakan keterampilan parkour-nya, melompat dari atap satu rumah kayu ke atap lainnya.
Sepatu bot kulitnya yang empuk hampir tidak berbunyi di atas genteng tanah liat. Bau kotoran kuda, sup yang mendidih, dan kehidupan sehari-hari yang keras memenuhi hidungnya, sebuah dunia yang sangat berbeda dari kesunyian gunung.
Ia berhenti di atap sebuah rumah dua lantai yang persis berseberangan dengan Taman Sylvan. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat seluruh hamparan taman, kerumunan kecil di padang rumput, dan jalan setapak kerikil yang berkelok.
Mata merahnya menyipit, memfokuskan, saat akhirnya menangkap sosok yang ia cari—lebih pucat, lebih kurus, lebih rentan dari yang ia ingat—duduk di bangku batu di tepi kolam, dikelilingi bukan oleh bayangan dan rahasia, tetapi oleh seorang gadis berambut merah dan seorang anak kecil dengan tawa riang.
Master…
Ia hampir tak percaya bisa menemukannya secepat itu.
Eliana menarik napas tajam. Ia mengamati adegan itu dengan hati yang berdebar: lelaki yang ia cintai dan ia buru, yang otaknya menciptakan organisasi yang menggetarkan kerajaan, sedang duduk dalam lingkaran cahaya sore yang damai. Ia melihat cara gadis itu menyentuh tangannya dengan lembut, cara anak kecil itu tertawa bebas di sampingnya, memegang tangan mereka.
Kau berada di tempat yang salah, Master, pikirnya.
Ia menurunkan pandangannya ke pergelangan tangannya sendiri yang masih memar dan bengkak—bekas cengkeraman Otto tadi pagi, warna ungu jelek di kulit pucatnya. Sebuah keraguan singkat menyelinap ke dalam hatinya. Apakah ini yang Master-nya inginkan? Pelarian?
Tapi ia cepat mengusirnya.
Tangannya dengan refleks terlatih meraih gagang belati hitam obsidiannya yang dingin, bersiap untuk turun, untuk mengklaim.
Tapi saat ia hendak melompat, tubuhnya membeku. Ia merasakan kehadiran lain di belakangnya, di atap yang sama. Bukan Eldric, bukan anggota regu, bukan Penjaga Kerajaan. Ada sesuatu yang lain.
Ia berbalik dengan cepat, belati sudah setengah terhunus. Hanya ada atap genteng kosong, cerobong asap bata, dan bayangan panjang dari menara gereja di kejauhan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi nalurinya berteriak bahwa ada yang sedang mengawasi.
Saat melihat ke bawah, Iago, Yuki, dan Edward mulai berdiri dari bangku, bersiap untuk pulang. Eliana akhirnya mengabaikan peringatan itu. Misi lebih penting.
Ia melompat turun dari atap dengan senyap lalu mendarat dengan lutut ditekuk dalam, menyerap benturan dengan otot-otot lalu mendekati Taman Sylvan melalui jalan setapak kerikil yang tersembunyi di balik semak, memastikan ia akan menjadi yang pertama sampai di jalur pulang mereka.
"Enak tidak rotinya tadi, Edward?" tanya Iago sambil berjalan.
"Enak banget! Roti Madu Tundra paling enak se-Citywon!" sahut Edward riang, melompat-lompat kecil di samping mereka, sepatunya menepuk kerikil.
Iago dan Yuki saling bertukar senyum kecil. Mereka berjalan beriringan, tangan-tangan masih terhubung—Edward yang kecil di tengah, menjembatani dunia mereka yang berbeda. Tapi tiba-tiba, sebelum mereka mencapai gerbang taman besi, sebuah bayangan tinggi dan ramping menghalangi jalan mereka di bawah lengkungan pohon willow.
“Master...”
Senyum di wajah Iago menghilang seketika, terhapus seperti tulisan di atas pasir oleh ombak.
Darah seakan mengalir deras dari wajahnya—dingin, cepat, meninggalkan kulitnya pucat. Matanya membelalak, mengenali sosok itu, mengenali mata merah yang membara dalam bayangan. “Kau... Eliana.”
Yuki dan Edward berhenti mendadak, bingung oleh ketegangan yang tiba-tiba mengisi udara. Edward menggenggam tangan Iago lebih erat, jari-jari kecilnya mencengkeram, matanya yang biru lebar penuh pertanyaan dan ketakutan yang mulai tumbuh.
"Kak Iago?" suara Edward kecil, khawatir.
Iago menatap Edward sebentar, lalu memaksakan senyuman yang goyah dan tidak meyakinkan. “Iya, Edward? Ada apa?”
"Siapa dia, Iago?" tanya Yuki, suaranya tenang tapi waspada, tubuhnya sedikit bergerak maju, secara instingtif melindungi Edward. “Kenapa dia bersenjata? Dan... dia memanggilmu 'Master'?”
Alis Eliana yang hitam berkerut dalam, membentuk alur dalam di dahinya yang halus. Ia melangkah mendekat, kedua belati hitam obsidiannya masih tergenggam longgar di tangannya. “Siapa aku? Tidak, tidak… Pertanyaan yang lebih tepat, siapa kau? Dan apa hakmu berdiri di sana, menggenggam tangan Master seolah kau mengenalnya?”
"Ah, maaf. Apa aku menyinggungmu?" Yuki membalas, meski suaranya sedikit gemetar, ia menjaga sikapnya.
"Tentu saja!" sengit Eliana, suaranya naik. “Sampah sepertimu tidak berhak berada di sisi Master! Tidak berhak menyentuhnya! Pergi sekarang!”
"Maksudmu apa? Hanya kau yang berhak berada di sisinya? Hanya kau yang bisa mendekatinya?" balas Yuki.
"Iya! Akulah yang paling dekat dengannya! Akulah yang telah melayaninya, yang memahami visinya! Akulah yang pantas!" Suaranya hampir menjerit sekarang.
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”
"Jangan pura-pura bodoh! Kau hanya ingin memanfaatkannya untuk sesuatu—cinta, perlindungan, atau apa pun itu! Kau adalah parasit!" Napas Eliana tersengal, dadanya naik turun cepat di balik jubah. Matanya kemudian jatuh pada tiga tangan yang masih saling terkait. “Apa ini, Master? Ini bukan Anda. Anda bukan Master Iago yang dulu.”
Iago terdiam, mulutnya terbuka sedikit tapi tak ada kata yang keluar. Ia menunduk, menatap kerikil di bawah kaki mereka. Lalu, dengan suara yang lebih tegas dan keras dari yang ia kira bisa ia keluarkan, ia berkata, “Ini... bukan urusanmu, Eliana. Pergilah.”
Mata Eliana membelalak, seolah ditampar. Napasnya tercekat.
Genggamannya pada belati mengeras tiba-tiba, hingga buku-buku jarinya yang ramping memutih—tulang dan urat terlihat jelas di bawah kulit yang pucat. Tanpa peringatan, dalam ledakan kemarahan dan keputusasaan, ia melesat maju, mengarahkan ujung belati kanannya langsung ke leher Yuki.
Yuki membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya yang hijau membelalak, menatap Iago meminta tolong, ketakutan murni terpancar. Edward ingin bergerak, ingin membantu, tapi Iago menariknya lebih dekat dengan kuat, melindunginya dengan tubuhnya sendiri—tubuh kecil Edward tersembunyi sepenuhnya di belakang kaki dan tubuh Iago.
"Kita tidak punya waktu untuk permainan ini, Master," desis Eliana, suaranya bergetar di antara amarah yang mendidih. “Kita harus kembali sekarang. Dunia menunggu.”
"Bagaimana kalau aku menolak?" tantang Iago, meski suaranya sendiri gemetar.
"Kalau begitu..." Eliana mengeraskan rahangnya, otot-otot di lehernya menegang seperti kawat. “Kau harus diingatkan. Diingatkan pada kehidupan lamamu. Yang keras, yang tanpa ampun, yang membentukmu.”
Belati di tangan kanannya bergerak cepat, mengayun dalam busur pendek dan mematikan ke arah leher Yuki—kilatan hitam yang berkilat sesaat di cahaya senja yang keemasan.
Sreeet…
Sebuah suara tajam memotong udara. Bukan suara belati menembus kulit, tapi suara logam menembus daging dan mengenai sesuatu yang keras. Sebuah pisau lempar kecil, bermata dua, menyambar dari balik pepohonan di samping, mengenai pergelangan tangan Eliana tepat sebelum bilah belatinya menyentuh kulit Yuki.
Garis merah tipis segera muncul di pergelangan Eliana. Rasa sakit yang tajam dan membakar, lalu hangat saat darah mulai menetes ke kerikil abu-abu di bawah. Eliana mendesis kesakitan, menarik tangannya kembali seolah tersetrum.
“Arghh... Siapa itu?!”
Dari balik pepohonan ek yang lebat, sosok bertopeng kelinci melangkah keluar dengan tenang. Otto. Topengnya yang putih porselen hampir bersinar pucat di cahaya senja yang semakin merah, kontras tajam dengan pakaian hitamnya yang menyerap semua cahaya.
"Kau benar-benar menyebalkan, Eliana," ucap Otto, suaranya datar.
"Kau! Kenapa kau selalu ikut campur?!" teriak Eliana, memegang pergelangan tangannya yang berdarah, wajahnya menyeringat kesakitan dan kemarahan.
"Kau lupa misi kita di sini?" tanya Otto, mendekat dengan langkah tenang. “Kau lupa bahwa membunuh gadis tak bersalah di taman umum akan menarik perhatian seluruh kota? Atau kau sudah begitu buta oleh kecemburuan?”
Yuki dan Edward masih terpaku di tempat mereka, lega karena nyawa terselamatkan tapi masih diliputi ketakutan yang dalam—napas mereka pendek, cepat, dan tidak teratur.
“Bajingan! Tanganku... hampir putus!”
"Jangan lebay," Otto berjalan mendekati pisaunya yang sekarang menancap di batang pohon ek tua. “Aku sudah memprediksi arahnya. Itu hanya luka dangkal, bukan luka serius.”
Dengan gerakan halus dan tepat, ia mencabut pisau itu lalu membersihkan ujungnya yang berdarah dengan sapuan jari yang cepat. Ia kemudian menoleh ke Yuki, yang masih terpaku. Ia memberikan anggukan kecil. “Mohon maaf, nona. Untuk ketakutan dan kekacauan ini. Gadis ini memang agak... bermasalah.”
"I-iya... Tak apa-apa," ucap Yuki sambil mengangguk pelan.
"Bermasalah kau bilang?!" teriak Eliana dari belakang, suaranya hampir memecah telinga. “Dia punya rencana jahat terhadap Master! Dia memanipulasinya! Bunuh dia sekarang sebelum dia meracuni pikirannya lebih jauh!”
Otto mengabaikan teriakan Eliana sepenuhnya. Ia berbalik dan menghadap Iago, yang masih berdiri melindungi Edward, wajahnya pucat dan bingung. Dengan gerakan yang tiba-tiba, penuh gravitasi, dan penuh hormat, ia berlutut satu kaki di atas kerikil, satu tangan menempel di dada, yang lain lurus di belakang punggung.
Kepala Iago berdenyut keras, rasa sakit yang familiar.
Rasa sakit yang tiba-tiba dan menyilaukan, seperti pecahan kaca berputar di dalam tengkoraknya, menghantamnya lagi—tajam, membelah, memecah pikirannya yang sudah rapuh. Ia meraih kepalanya dengan kedua tangan, tubuhnya membungkuk, wajahnya berkerut kesakitan.
“Arrghhh...”
"Iago?" Yuki berusaha mendekat lagi, suaranya penuh kepanikan yang terdengar jelas. “Iago, apa yang terjadi?”
"Kak Iago? Kenapa, Kak?" tangis Edward kecil, matanya berkaca-kaca, tangan kecilnya menarik-narik lengan Iago.
"Sakit... Kepalaku... Sakit sekali..." Iago mendesis di antara gigi yang gemeretak. “Sial…”
Otto tetap tak bergerak, tetap berlutut di atas kerikil yang tajam.
"Sudah terlalu lama, Master." Ia sedikit menundukkan kepala yang bertopeng. “Perkenalkan, namaku Otto Valen.”