Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tamu Tak Diundang dan Bayangan Senja
Suasana hangat dan aroma kayu cendana menyambut Damian begitu ia melangkah masuk ke dalam mansion keluarga Nicholas. Namun, langkah kakinya melambat saat indra pendengarannya menangkap suara tawa yang asing dari arah ruang tamu utama.
Damian berjalan mendekat, dan pemandangan di depannya langsung membuatnya mengangkat sebelah alis. Di sana, ibunya—Victoria Nicholas—sedang duduk santai di sofa beludru, tampak sangat akrab berbincang dengan seorang gadis yang belum pernah Damian lihat sebelumnya.
Gadis itu tampil sangat modis dengan gaun sutra berwarna krem dan perhiasan yang berkilau di bawah lampu kristal. Namun, yang paling mencolok di mata Damian adalah sebuah tahi lalat kecil tepat di atas bibirnya, yang memberikan kesan angkuh sekaligus menggoda saat ia berbicara.
"Ah, Damian! Kamu sudah pulang, Sayang?" Victoria berdiri dengan senyum lebar, matanya berbinar penuh maksud. "Kenalkan, ini Clarissa, putri dari keluarga haryanto. Kalian dulu pernah bertemu waktu kecil, tapi mungkin sudah lupa."
Gadis bernama Clarissa itu berdiri, merapikan gaunnya, dan menatap Damian dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman dan rasa ingin memiliki. "Hai, Damian. Lama tidak bertemu," ucapnya dengan nada suara yang sengaja dibuat manis.
Damian hanya menatapnya datar. Pikirannya mendadak melayang kembali ke kedai bubur ayam tadi sore. Kontrasnya begitu terasa. Clarissa begitu penuh dengan atribut kemewahan yang dipaksakan, sangat berbeda dengan Selene yang tampil apa adanya di bawah langit jingga.
"Ada urusan apa?" tanya Damian singkat, nyaris tanpa emosi.
"Damian, jaga sopan santunmu," tegur Victoria lembut namun tajam. "Keluarga Clarissa baru saja kembali dari London, dan Ibu pikir akan sangat menyenangkan jika kalian bisa menghabiskan waktu bersama."
Damian tak memberikan ruang untuk negosiasi. Tatapannya yang tajam terkunci pada Clarissa sejenak sebelum beralih ke ibunya dengan dingin.
"Aku tidak punya waktu untuk sandiwara perjodohan ini, Bu. Dan aku tidak tertarik," ucap Damian dengan suara berat yang berwibawa, namun penuh penekanan.
Tanpa menunggu jawaban, Damian memutar tubuhnya. Ia mengabaikan panggilan melengking ibunya yang mulai berubah menjadi teriakan marah yang bergema di seantero ruangan mewah itu. Suara hentakan kakinya di tangga kayu jati seolah menjadi genderang perang atas otoritas Victoria.
BRAKK!
Damian menutup pintu kamar pintunya dengan keras. Ia menyandarkan punggungnya di balik daun pintu, napasnya memburu. Amarah menyulut di dadanya, membuat tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasanya sangat sulit untuk meredam emosi yang bergejolak; ia muak dijadikan pion dalam catur bisnis keluarganya.
Ia berjalan menuju jendela besar di kamarnya, melepas kancing kemeja teratasnya agar bisa bernapas lebih lega. Di luar sana, lampu-lampu kota mulai menyala, namun pikiran Damian justru melayang menjauh dari kemewahan kamarnya.
Bayangan senyum manis gadis di kedai bubur tadi kembali muncul—seperti oase di tengah padang pasir. Hanya dengan mengingat wajah Selene di bawah langit jingga, amarah Damian yang tadinya meluap-luap perlahan mulai mendingin.
"Gadis itu..." gumam Damian lirih. "Dia satu-satunya hal yang terasa nyata hari ini."
Langkah kaki Damian terhenti saat ia baru saja hendak mengganti pakaian. Dari balik jendela kamarnya, ia menangkap gerakan aneh di antara rimbunnya tanaman di taman samping. Ada berkas cahaya kecil—seperti sinar senter—yang bergerak-gerak gelisah.
Siapa yang berani masuk ke propertinya malam-malam begini?
Tanpa pikir panjang, Damian merapikan kembali kancing kemejanya dengan gerakan cepat dan tegas. Ia turun melewati tangga dengan langkah lebar. Saat melewati ruang tengah, suaranya ibunya kembali terdengar, mencoba memulai interogasi baru.
"Damian! Kamu mau ke mana lagi? Ibu belum selesai bicara soal—"
Damian mengabaikannya sepenuhnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Clarissa masih duduk manis di sana, menyesap teh seolah-olah dia adalah pemilik rumah itu. Rahang Damian mengeras. Baginya, perilaku ini sangat tidak beretika. Seorang gadis dari keluarga terpandang seharusnya tahu batas; bertamu hingga selarut ini ke rumah pria yang bahkan tidak menunjukkan minat sama sekali adalah bentuk kelancangan.
Rasa kesalnya pada Clarissa bercampur dengan rasa penasaran pada cahaya di taman. Ia melangkah keluar menuju pintu samping yang langsung menghadap ke area taman yang gelap.
Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun Damian tak peduli. Ia berjalan mendekati sumber cahaya itu dengan langkah yang sengaja disamarkan. Di pikirannya hanya ada satu hal: jika itu adalah penyusup, mereka telah memilih rumah yang salah. Namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa aneh yang mendorongnya untuk memeriksa, seolah ada magnet yang menariknya ke sana.
Begitu ia mencapai balik pohon besar, Damian berhenti. Matanya menyipit, mencoba menembus kegelapan dan cahaya senter yang bergoyang itu.
"Siapa di sana?" suara Damian menggelegar, dingin dan mengintimidasi.