Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby blues ( pertama Ngurus bayi)
Malam itu Aku mau pulang bukan karna tak betah dirumah Abi, Aku mengalami baby blues rasanya melihat wajah Rasyid mau nangis karena merasakan berdenyutnya ketika menyusui soalnya tidak bisa tertahankan payudara lecet bagian nimplenya.
Rasyid di gendong Hamdan, Aku terus menangis sesegukan walau sang suami sudah menenangkanku sebentar.
"Hati-hati dijalan nakk, gapapa kalo ga bisa nginep dulu."
ujar Bunda Syana.
"Sabar Ri. namanya seorang ibu pasti ada capeknya ngurus bayi oke?"
Aku mengangguk ucapan Fattah.
"Yaudah yuk sayang tunggu apalagi? mau pulang jam berapa?"
Aku menoleh.
"Ayu."
Saatnya berpamitan menyalami Abi dan Bunda lalu berlari dan memasuki mobil dengan berlari kecil karena tak tertahankan.
Saat mobil berjalan hanya bisa menangis melihat Abi dan Bunda melambai tangan dari kejauhan.
Di perjalanan Aku terus menangis sementara Rasyid masih lelap, Aku menangis sesegukan entah apa yang ku hadapi terlalu berat.
rasanya seperti ingin bebas menjadi remaja lagi.
"Sayang? udah dong sedihnya kasian Rasyid kamu cuekin dari sore hmm?"
"Kamu yang gendong dulu masih perih nih, kenapa dia ngisapnya sekasar itu sih Mas!" ringisku.
"Namanya lidah bayi masih halus sayang jadi wajar nimple kamu bergesekan sama lidah Rasyid. Gini aja, Aku beliin salep di apotik kamu gendong dulu kita cari apotik ya?"
"Yaudah sini Anaknya."
Hamdan menyerahkan Rasyid lalu ku gendong dia.
Air mataku turun deras, dan menyadari Rasyid demam saat aku mencium keningnya.
"Mas Hamdan!? Anak kita sakit kah?"
Hamdan menoleh dan memegang kening sang Bayi.
"Kita kerumah sakit."
Aku terus memandang Rasyid merasa kasian.
****
Kemudi di stir Hamdan berbelok ke kanan.
"Jangan nangis Sayang, stres kamu jangan di tumpahin ke Rasyid ya? dia menyadari aura kamu terlaku kacau hari ini."
"Aku ga bisa Mas!" jeritku masih terus menangis karena syok.
Hamdan menggeleng-geleng pelan.
Tak sadar di ujung sana terlihat apotik dan kita turun di sana.
"Sini Aku yang gendong?"
"Ga mau biar aku aja." lirihku.
"Yaudah kamu jangan nangis usap air mata kamu, pastiin kamu bahagia menggendongnya bukan merasa terpaksa paham?"
"Kok terpaksa mas? Aku kan yang lahirin dia." jawabku.
"Dengerin kata suami kamu. jangan menjawab aku dulu."
Aku merasa Hamdan cukup menakutkan hari ini dan ga biasanya tegas perkataannya juga melemparkan wajah datar nya.
Aku menenangkan Rasyid dan menelpon Bunda tapi tak di angkat lalu menelpon mama saja.
"Mam? maaf Aku ganggu huwaa."
"Ada apa? kenapa kamu sayang?" kata mama dari suara ponsel.
"Mam Rasyid panas, tiba-tiba banget."
lirihku.
"Kamu dimana? Kalo kamu udah dirumah kabarin ya? Mama kesana nginep sampe Rasyid sembuh. Hamdan bilang kamu baby blues,"
"Iya mam aku kabarin lagi nanti," jawabku.
telpon terputus.
Lalu Hamdan memasuki mobil setelah membeli Obat salep dan paracetamol sirup untuk si Bayi.
"Nih obatnya."
Aku mengambilnya.
"Aku jalan lagi ya? kita harus cepet sampe rumah kasian Rasyid ter ombang ambing aura kamu."
Aku menoleh karna merasa bersalah, tapi setelah Suamiku bicara begitu Aku semakin bersalah.
sesampainya dirumah.
Aku berjalan cepat karena merasa patah hati yang suamiku katakan membuatku marah.
Hamdan menatapku heran lalu memasuki mobilnya dan mematikan mesin.
****
Dikamar, Aku menaruh bayi di atas kasur ranjang dan merebahkan diriku di sebelah putraku yang demam.
Rasanya kacau sekali diantara marah sama Hamdan karna perkataannya juga atau kesalahanku karna stres karna ulah Bayi.
Bunyii knop pintu dibuka Aku tahu Suamiku masuk ke kamar dan aku berpura-pura tidak ada siapapun yang masuk.
Aku sedang marah sekaligus patah hati.
TBC.
lanjut?
semangat tor