Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Ujian Lain di Luar Lembah
Pagi hari selanjutnya setelah kejadian itu, Yuda terbangun dengan napas yang tidak beraturan.
Dadanya terasa berat, seolah sesuatu masih menempel di dalam rongga tubuhnya.
Ia kemudian bangkit dan duduk.
Tanah batu di bawahnya terasa dingin, dan sebuah denyut halus seketika muncul setiap kali ia menarik napas terlalu dalam.
Di sampingnya terlihat pula tubuh kucing kecil buntal yang lucu, namun karena taringnya lebih panjang dari kucing pada umumnya, malah membuatnya sedikit aneh,
Tara kini juga terduduk disamping Yuda, ia sudah bangun sedari.
Kucing putih itu tidak duduk di bahu Yuda seperti biasanya.
Ia duduk sedikit menjauh, sedangkan ekornya melingkar rapi, mata biru yang kadang berubah menjadi merah itu menatap Yuda dengan kewaspadaan yang tidak ia sembunyikan.
“Hei bocah, kau merasakannya, kan?” tanya Tara tanpa basa-basi.
Mendengar itu, Yuda pun mengangguk pelan.
“Ada yang tertinggal di dalam tubuhku, ini terasa tidak menyakitkan, tapi mengganggu pikiranku setiap saat.” jawab Yuda dengan menunduk menatap tubuhnya sendiri.
“Itulah yang di namakan sisa energi, dan itu akan selalu mencari celah kosong pada tubuhmu.” ucap Tara menjelaskan.
Entah dari mana pengetahuan kucing buntal itu, namun setiap perkataanmu itu selalu membantu.
Latihan hari ini di mulai lagi, namun tidak dimulai dengan teriakan Guruh seperti biasanya.
Ia hanya terlihat berdiri di tengah lapangan, dengan kedua tangan di belakang punggung, menunggu para rekrutan berkumpul.
Saat ini terasa berbeda, tidak ada tekanan aura darinya, bahkan tidak ada perintah yang tegas seperti biasanya juga.
Namun malah ketenangan itulah yang membuat suasana terasa aneh.
“Beberapa dari kalian telah mulai merasakan perubahan, dan perubahan itu akan selalu menuntut harga.” ucapnya untuk membuka pembicaraan.
Sedangkan tatapannya terlihat menyapu menatap wajah-wajah yang tersisa di hadapannya.
Wajah-wajah itu beberapa terlihat pucat, dan beberapa juga terlihat ada kemarahan, itu terlihat jelas di setiap mata mereka.
Di barisan itu, Sagara berdiri dengan kaku, dan sorot matanya sesekali melirik ke arah Yuda, bukan dengan kebencian, namun ia memiliki sebuah keraguan yang entah harus di jelaskan bagaimana.
“Mulai hari ini kalian akan diuji kembali, ini seperti sebuah ujian gangguan, dan ini bukan sebuah ujian sendiri-sendiri," lanjutnya dengan mengetukkan tongkat ke tanah.
Ujian kali ini terlihat sederhana dalam perintah Guruh, namun sangat rumit dalam pelaksanaannya.
Mereka berlima diminta untuk segera menyebar ke lembah luar.
Ujian kali ini adalah ujian untuk hidup berdampingan selama tiga hari.
Tanpa adanya pengawasan langsung, dan tanpa sebuah perlindungan dari Guruh juga.
“Jika terjadi sebuah konflik, maka kalian harus selesaikan sendiri.” ucapnya kembali untuk mengingatkan.
Sebuah kalimat yang keluar itu mengandung makna yang jelas.
Tidak ada yang akan menghentikan mereka jika terjadi sebuah konflik dan kekerasan, mereka berlima harus bisa menyelesaikan permasalahan itu sendiri, entah dengan debat ataupun pertarungan, dan Guruh tidak akan ikut campur.
Pelatihan itu di lakukan untuk menguji siapa yang pikirannya paling cerdas dalam mengambil sebuah langkah dan tindakan.
Ini adalah hal penting di dunia seni beladiri, karena di dunia luar yang kejam nanti, itu akan sangat berarti dan akan mampu menentukan nasib mereka.
Hari pertama pun dimulai dan langsung berjalan dengan tegang.
Mereka berlima membagi wilayah secara diam-diam.
Tidak ada sebuah kesepakatan yang terucap, hanya menggunakan jarak dan tatapan setiap orang.
Kini terlihat Yuda memilih area dekat aliran air kecil beraama Tara, dan kucing buntal itu pun segera memeriksa sekeliling untuk memastikan tidak ada perangkap atau tanda bahaya lainnya.
“Bocah, sepertinya kau menjadi pusat perhatian mereka," kata Tara pelan sembari melihat ke tempat Sagara dan yang lainnya.
“Biarkanlah Tara, yang penting aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Yuda santai.
“Dasar bocah dungu, justru karena itu, kau harus tahu bahwa setiap hal yang besar jarang dimulai dengan tindakan besar.” ucap Tara mengingatkan dengan kesal.
Yuda pun hanya mengangguk dan mengingat setiap perkataan Tara.
Menjelang sore, konflik pertama pun akhirnya terjadi, tapi bukan dengan Yuda.
Ada dua rekrutan lain tiba-tiba saja bertengkar soal wilayah dan sumber air.
Suara benturan pun seketika terdengar jelas dan diikuti sebuah teriakan, sayangnya kejadian itu tidak ada yang membantu sama sekali, semua orang mengingat perkataan Guruh, mereka harus bisa menyelesaikannya sendiri-sendiri.
Sedangkan untuk Yuda saat ini telah mendengar semuanya, namun dia hanya diam dan tidak bergerak.
Akan tetapi ada hal lain yang ia rasakan, denyut pernapasaan di dadanya perlahan menguat.
Tak terasa malam pun turun dengan tiba-tiba.
Terlihat ada Api unggun kecil menyala di beberapa titik di luar lembah.
Saat ini Yuda hanya duduk diam, mencoba menenangkan napasnya, namun setiap kali ia memejamkan mata, ingatan asing seketika muncul.
Ingatan itu bukan sebuah kenangan yang utuh, serta ada potongan dari rasa takut dan kehampaan yang tidak berasal dari hidupnya sendiri.
Ia pun langsung membuka matanya kembali dan merasakan udara di sekitarnya yang bergetar tipis.
Tara disampingnya yang mengamatinya dari tadi langsung berdiri.
“Bocah, berhentilah, jika kau melakukan itu, sama saja ku menarik energi itu lagi.” ucap Tara dengan serius.
“Hei kucing jelek, aku pun juga tidak sengaja, aku hanya ingin menenangkan diri, tapi setiap kali memejamkan mata, tiba-tiba saja muncul ingatan-ingatan yang itu bukanlah milikku." balas Yuda cepat lemas.
“Ya karena itulah aku mencoba menghentikanmu, dasar bodoh." ucap Tara dengan kesal.
Menurutnya pemuda di depannya ini memang sangat bodoh, tapi kadang juga membuatnya tertawa.
Di sisi lain lembah, ada bayangan seseorang mengawasi mereka.
Dari tubuh dan pakaiannya, ia adalah Sagara.
Dirinya melihat perubahan kecil yang tidak disadari orang lain.
Ada sebuah gerakan batu di sekitar Yuda, api unggun di dekatnya juga menyala tidak stabil, sedangkan hewan-hewan kecil yang di sekitarnya juga mulai menjauh tanpa suara.
Ketakutannya seketika muncul.
Namun bersamaan dengan itu juga, kini muncul sebuah pilihan lain.
Ia berpikir, jika Yuda dibiarkan tumbuh dan berkembang, maka semua orang di tempat ini akan celaka, sedangkan jika Yuda disingkirkan sekarang, mungkin segalanya akan baik-baik saja.
Menurutnya, menyingkirkan Yuda adalah sebuah alasan untuk bertahan hidup, namun yang tidak ia sadari adalah tanpa sosok Yuda nanti mereka semua tidak bisa bertahan.
Sagara hanya menggenggam tangannya dengan erat.
Hari kedua tiba dengan membawa hujan.
Hujan di lembah itu turun tanpa membawa angin, namun cukup deras.
Tanah disana menjadi licin, dan bau lembap memenuhi udara sekitar mereka.
Saat ini, Yuda terlihat berdiri di bawah hujan, membiarkannya membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.
Disaat itu juga, denyut dalam tubuhnya itu kembali muncul.
Kali ini berbeda dari sebelumnya, denyut kali ini terasa lebih jelas dan lebih dekat.
Ia merasakan sesuatu di dalam dirinya mulai bergerak.
“Jangan biarkan itu keluar dari tubuhmu, jangan untuk sekarang.” ucap Tara tiba-tiba untuk mengingatkan Yuda.
Mendengar itu, Yuda hanya mengepalkan tangannya dan mencoba menahannya sebisa mungkin.
“Hei kucing jelek, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menutupnya.” keluh Yuda dengan tubuh yang semakin menegang.
“Bagaimanapun juga, kau haru menutupnya sekarang, kau harus mempelajarinya” jawab Tara dengan mudah.
Sedangkan Yuda yang mendengar setiap jawaban dari kucing buntal itu, yang ada hanya merasa semakin kesal.
"Siall... Dasar kucing brengsek, bisanya hanya berkata saja." gerutu Yuda dalam hati.
Menjelang malam, Sagara akhirnya mulai bergerak.
Ia terlihat berjalan datang sendirian.
Di tubuhnya tidak membawa senjata sama sekali, namun dari tatapan matanya, ia seperti memiliki niat tersembunyi.
“Hei Yuda, sepertinya kita harus bicara,” katanya setelah sampai di hadapan Yuda.
Yuda yang tiba-tiba mendengar ada suara muncul di belakangnya, langsung menoleh.
Akhirnya tatapan mereka berdua pun bertemu.
Entah tatapan itu mengisyaratkan apa, namun jarak di antara keduanya membuat udara sekitar seketika menjadi terasa berat.
......................