NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

“Kliniknya hampir rampung. Sudah ada tanda-tanda resign dari karyawan yang lain?” tanya Garra usai menyeruput Americano-nya.

Sesaat Saputri menghela napas pelan.

“Kalo masalah mereka resign mungkin masih enak, ya. Masalahnya nyari penanggung jawab buat gantikan saya yang agak…”

“Apa?” tanya Garra dengan kening berkerut.

“Sulit, Pak. Sulit banget,” celoteh Firdha.

“Tapi, kalo aku beli klin…”

Sontak seluruh pasang mata tertuju pada Jeni dan Echa yang langsung menyemburkan Latte mereka. Hanya senyum yang mereka lontarkan tatkala posisi duduk mereka yang memang sengaja menjauh karena diantara mereka, Jeni, Echa dan Firdha yang sudah tidak bekerja di klinik lagi. Sesaat keempatnya tampak menghela napas pelan dan Joo Heon serta Min Gyu hanya tersenyum geli.

“Coba Dokter tanya Bos yang sekarang, berapa duit kalo beli karyawannya aja?”

“Mak, di jual!”

Mendengar celoteh Echa, sesaat Garra yang sempat menunduk hanya tersenyum penuh arti dan melirik sinis.

“Cha, dia, tuh, suka kamu atau gak? Kok kaya jahat banget,” bisik Jeni.

“Suka apaan. Ya, gak, lah. Ngawur.”

“Gak, lho. Dia perhatian bang…”

“Tidak, Zeniii,” ujar Echa kesal.

Sejenak hanya terdengar suara telepon dalam sambungan ponsel Saputri yang aktif dalam mode loudspeaker.

“Halo, kenapa, Sa?”

Seluruh mata pun tertuju pada perbincangan ‘menarik’ yang akan dilakukan melalui ponsel itu.

“Mmm…gak. Ini ada orang nemuin saya di klinik. Kata Beliau mau ngomong sama Dokter. Lewat telepon ini juga gak apa-apa, Dok.”

“Oh! Iya, siapa?”

“Halo, Dokter Rena, saya Sagarra Rinoto Tan. Gini, Dok. Saya ini, kan, mau nyari pekerja buat perusahaan saya, ya. Jadi, saya tertarik banget sama beberapa pekerja Dokter di klinik. Boleh gak saya bayar berapapun yang penting saya dapet orangnya?”

“Oh! Iya, salam kenal, ya, Pak Sagarra. Jadi, gini, ngomong-ngomong dari perusahaan apa, ya? Apakah kesehatan juga? Maksudnya ini saya jadi jual orang, dong, ya, kalo saya iyakan? Terus, dapat informasi kami dari mana?”

“Mmm…gini Dokter…”

Menunggu perbincangan yang rumit dalam keheningan dan hati yang was-was. Cukup lama sampai Min Gyu beranjak dari duduknya dan menyerahkan selembar catatan pada Saputri lalu menarik kursi duduk di sisi Garra yang masih berbincang.

“Apaan?” bisik Jeni.

“Gak tau,” sahut Echa.

“Catatan nama yang mau di’beli’,” sahut Joo Heon berbisik di belakang mereka.

Sesaat dia tersenyum manis penuh arti pada mereka yang sempat menoleh padanya. Dan bibir mereka pun membentuk huruf O sebelum kembali fokus pada Garra yang masih berceloteh.

“Jadi, untuk Dokter Saputri Miesha, Apoteker Dewinta Terra, Asisten Apoteker Anggun Sienna, Kasir Laisha Nell, Kasir Rifa Samantha, Bidan Fara Iris…eh.”

Sesaat Garra menatap bingung pada Firdha yang hanya mengangguk pelan dan mengisyaratkan untuk melanjutkan dulu.

“Iya, ada apa, Pak?”

“Oh! Gak, saya lanjut, ya, Dok. Terakhir tadi Bidan Fara Iris, Perawat Trinia Merinda, Perawat Ali Jasver, Dokter Fitra Ananta, Dokter Hardi Kalpin, Dokter Kharisma Wijaya, Dokter Echa Maeve, Perawat Siska Miesha…ha? Eh?”

Lagi, kening Garra berkerut dan menatap lekat Saputri yang juga bereaksi sama seperti Firdha.

“Halo, ada apa, Pak?”

“Ha? Oh! Gak apa-apa, Dok. Tadi sampai Siska Miesha. Terus, Dokter Orvina Sudrajat. Total 14 orang yang mau saya ambil. Saya langsung tawar tiga milyar, setuju, Dok?”

“Mmm, maaf, Dokter Saputri apa mendampingi selama kita bebincang tadi?”

Sesaat Garra tersenyum sinis menatap orang-orang di sekelilingnya.

“Gak, Dok. Dokter Saputri tadi keluar setelah teleponnya disambungkan ke saya.”

“Oh! Kalo gitu, sesuai nama yang Bapak sebutkan sama nominalnya deal aja. Nanti, saya kabarin nomor rekeningnya lewat Dokter Saputri, nanti juga saya kabarin Dokter Saputri kalo dia sama nama-nama yang disebut tadi bakal dipindah tugaskan.”

“WHAT THE HELL!” umpat Saputri tanpa suara.

Hampir ricuh namun, Garra mengisyaratkan lewat jari telunjuk di atas bibirnya agar para wanita di sekitarnya lebih tenang.

“Kalo gitu nanti surat terima resminya saya sampaikan lewat Dokter Saputri, ya, Dok.”

“Gak usah, Pak. Tanda terima sama surat tanda terima resminya langsung kirim ke whatssup saya aja.”

“Oh, iya, Dok. Kalo gitu deal, ya, Dok. Saya tutup teleponnya. Terima kasih.”

Sambungan terputus dan seolah terjadi kekacauan, kelimanya pun meluapkan amarah mereka.

“Astagaaa, kerja keras aku ngebentuk klinik. Buang duit nutupin kurang-kurang sama ikut nanam saham bantu dia, ternyata cuma dianggap sampah. Enak kali dia buang aku,” omel Saputri.

“Ngamok, Sa. Ngamok. Waktumu terbuang percuma untuk orang gila dunia,” sambar Echa.

“Tuhaaan…Kak, aku ditagih-tagih utang obat tiap bulan. Enak betul hidupnya,” sanggah Dewinta.

“Rendah betul kita dibikinnya,” ujar Jeni.

“Memang gitu konsepnya, Kak. Astagaaa, begini mau cepet aku kerja di klinik baru. Mau kuinjak-injak rasanya,” omel Firdha.

Sesaat Garra hanya fokus bersama Min Gyu dan Joo Heon, bergelut dalam data di laptop Min Gyu serta tablet Joo Heon. Sampai…

“Udah di TF,” ujar Garra.

Kelimanya pun langsung menatap Garra yang tersenyum riang.

“Kok, bisa? Kan, katanya nanti dia kasi tau nomor rekeningnya lewat Saputri?” omel Echa.

“Kan, ada Min Gyu. Dia bisa ngelacak apapun. Sudah aku hubungin juga orangnya. Dia iya, iya aja. Jadi, kalian punyaku sekarang.”

Terlihat jelas ekspresi kepuasan yang Garra tunjukkan saat itu. Dan tak lama, ponsel Saputri berbunyi tanda pesan masuk, keempatnya pun langsung mengerubuni Saputri.

“Baca,” ujar Firdha.

Dari : Klinik Dokter Rena

dr. Saputri Miesha

dr. Fitra Ananta

dr. Hardi Kalpin

dr. Kharisma Wijaya

dr. Echa Maeve

dr. Orvina Sudrajat

Apoteker Dewinta Terra

Asisten Apoteker Anggun Sienna

Perawat Siska Miesha

Perawat Trinia Merinda

Perawat Ali Jasver

Kasir Laisha Nell

Kasir Rifa Samantha

Bidan Fara Iris

Nama-nama yg sy sebutkan di atas termsk kamu, Sa, sdh dialih tugaskan ke perusahaan Byul Health milik Bapak Sagarra.

Nanti masing-masing bakal dihubungin beliau, ya.

Tolong sampaikan ke temen-temen yg lain, ya, Sa.

Detik itu, Saputri tampak hancur, dia menatap lekat Garra yang masih tersenyum dan mengangguk maklum atas sikapnya.

Dan...kenyataannya uang lebih berharga dibanding pengorbanan serta nyawa manusia. Karena pada dasarnya, manusia bahkan bisa lebih buruk dari setan yang hanya menggoda...

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!