"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantin
[SEKOLAH]
Dua Minggu Kemudian...
Raline keluar dari kelas di jam istirahat. Langkahnya pelan menyusuri lorong sekolah menuju kantin.
Perutnya sudah keroncongan karena sejak pagi ia tidak sarapan. Mual yang ia rasakan setiap pagi kini jadi sering mengganggunya. Membuatnya tidak nafsu makan, dan memutuskan untuk pergi sekolah tanpa sarapan.
Sesampainya di kantin, Raline duduk di sebuah bangku setelah memesan semangkuk mie instan kuah dengan milkshake strawberry.
Sambil menunggu pesanannya jadi, Raline membuka ponselnya, memeriksa pesan dari Pak Umar yang setiap hari selalu hadir menemani sejak ia tinggal bersama Kaisar. Pak Umar seolah berusaha selalu ada untuknya, meski jarak memisahkan mereka.
Hal itu membuat Raline bahagia. Setidaknya sang ayah tidak benar-benar membuangnya setelah semua kekacauan yang ia lakukan di rumah.
[Neng, jangan lupa makan ya. Kalau kamu gak nafsu makan dan mau makan masakan Ibu, kasih tahu Bapak saja. Nanti Bapak akan minta Ibu masakin buat kamu, dan akan Bapak antarkan ke rumahmu.]
Raline tersenyum membaca pesan dari sang ayah, yang begitu peduli dan begitu perhatian terhadap dirinya.
Ia segera mengetik balasan, tak mau membiarkan ayahnya terlalu lama menunggu.
[Iya, Pak. Makasih banyak. Ini aku lagi di kantin kok, udah pesen makanan juga.]
Raline menekan tombol "kirim" setelahnya. Kemudian meletakkan ponselnya di atas meja karena pesanannya sudah tiba.
Di hadapannya, kini tersaji semangkuk mie instan dengan aroma kuah yang gurih semerbak, mengetuk indera penciumannya. Juga segelas milkshake favoritnya, yang selalu menjadi minuman terenak di kantin sekolah.
Raline memegang sendok. Menyendok sedikit kuah mie dan meniupinya sebentar agar tak terlalu panas.
"Slurrrp!"
Kuah mie yang gurih ia seruput.
Begitu mengenai lidahnya, ia langsung tersenyum puas. Kuah mie instan rupanya berhasil membangkitkan nafsu makannya yang sempat hilang. Rasa gurih dan hangat dari kuah itu seolah menenangkan perutnya yang sejak pagi terus bergejolak. Raline kembali menyuap mienya dengan lahap, mengabaikan rasa mual yang biasanya datang menyerang.
Namun, baru saja ia hendak menyeruput milkshake strawberry-nya, sebuah bayangan tinggi berhenti tepat di depan mejanya. Raline mendongak, dan melihat Faiz berdiri di hadapannya dengan membawa semangkuk mie instan dan jus jeruk di tangannya.
Ia tersenyum manis pada Raline, seperti biasa.
"Hei, Lin," sapanya 'sok akrab'. "Gue boleh duduk di sini?"
Raline tidak menjawab. Ia menurunkan pandangannya ke mangkuk dan lanjut menikmati mie nya tampa mempedulikan Faiz.
"Bangku yang lain penuh," ucap Faiz beralasan. Padahal jelas sekali, masih ada beberapa bangku yanng kosong.
"Jadi, apa boleh gue duduk di sini?" tanyanya lagi.
Raline akhirnya mengangguk, tanpa memberikan jawaban apapun.
Faiz tersenyum senang dan langsung meletakkan mangkuk mie dan jusnya di atas meja. Ia kemudian duduk di seberang Raline, membuat keduanya saling berhadap-hadapan.
Raline tetap menikmati makanannya. Meski ada Faiz duduk di hadapannya, ia tidak peduli sama sekali pada pemuda itu. Seolah-olah kehadirannya bukan sesuatu yang penting.
"Oh, iya. Kenapa waktu itu lo jarang masuk sekolah?" Faiz mulai bertanya-tanya, supaya bisa mengobrol dengan gadis yang jadi 'Crush' nya itu.
Raline lagi-lagi tidak menjawab. Hanya fokus pada makanannya. Membuat Faiz garuk-garuk kepala tak gatal, merasa canggung sekaligus malu sendiri.
"Eh, bulan depan kan ada Turnamen Invitasi Voli Pelajar antar SMA, lo denger nggak?" tanya Faiz berusaha mencairkan suasana. "Katanya sekolah kita jadi tuan rumah tahun ini. Lo bakal ikut tanding, kan?"
Raline akhirnya menghentikan aktivitas makannya sejenak. Ia menatap Faiz datar, namun ada kilat kepercayaan diri yang tersisa di matanya jika menyangkut voli.
"Gue tetep harus ikut," jawab Raline singkat. "Lagian, sampai sekarang belum ada yang bisa gantiin posisi gue di tim inti. Gue juga gak mau sia-siain kesempatan."
Faiz terkekeh, tampak kagum. "Nah, itu dia Raline yang gue kenal! Sombongnya elegan. Tapi emang kenyataan sih. Tim voli putri bakal pincang kalo nggak ada lo."
"Berlebihan lo. Yang jelas kalo gak kompak tim mana pun gak bakal berhasil," timpal Raline.
Faiz terkekeh lagi. Lalu ia mulai menikmati mie nya dengan perasaan senang, sebab Raline sudah mulai mau berbicara dengannya.
Bersamaan dengan itu, Kaisar datang bersama dengan Nana. Dua remaja yang selalu jadi pasangan idaman di sekolah itu duduk tak jauh dari Raline dan Faiz.
Begitu sadar Kaisar duduk tak jauh darinya, Raline sempat menoleh, melihat pada pemuda itu yang tampak mesra dengan Nana dalam posisi duduk berhadap-hadapan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Nana dengan nada manja pada Kaisar.
"Aku mau mie ayam aja. Kamu?"
"Sama aja deh," jawab Nana. "Soalnya, udah lama pengen makan mie ayam."
"Ngapain harus ditahan-tahan kalo mau?"
"Kan aku lagi diet. Biar tetep langsing. Hehehe..."
Kaisar geleng-geleng kepala. Kemudian tangannya terulur, mencubit gemas pipi Nana. Membuat tersenyum ceria.
Kaisar segera memesan apa yang ingin mereka makan. Tapi tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok yang kini hidup bersamanya. Ia pun menoleh. Tapi Raline cepat-cepat memalingkan muka menghadap Faiz yang duduk di hadapannya.
Gadis itu tersenyum pada Faiz untuk menghilangkan rasa gugup karena tatapan Kaisar padanya. Tapi justru itu membuat Faiz bingung sendiri karena mendadak gadis yang selalu cuek padanya itu tersenyum tanpa alasan.
Raline kembali menikmati makanannya. Berpura-pura tidak sadar Kaisar menatap padanya. Ia bahkan mencoba untuk mengobrol dengan Faiz, jelas saja itu disambut dengan senang hati oleh si pemuda 'bucin'.
Kedekatan Raline dan Faiz menimbulkan tanda tanya besar bagi Kaisar. Ia mulai berpikir, apakah Raline dan Faiz memiliki hubungan sekarang?
Tatapan matanya terus tertuju pada Raline, sehingga ia tak sadar bahwa Nana kini sedang menatapnya bergantian dengan menatap Raline.
"Sayang?" panggil Nana.
Kaisar tersentak kecil dan beralih menatap Nana. Ia terlihat gugup dan berusaha tersenyum. "I-iya, Sayang?"
"Kamu kenapa?" tanya Nana dengan tatapan heran. "Dari tadi kayaknya kamu liatin Raline terus deh. Ada apa?"
Kaisar berdehem, berusaha menetralkan raut wajahnya yang sempat menegang. Ia meraih botol air mineral di meja, membuka dengan cepat dan meminumnya sedikit untuk membuang rasa canggung.
"Enggak ada apa-apa," jawab Kaisar singkat, mencoba memberikan senyum setenang mungkin. "Cuma heran aja, tumben banget Raline mau duduk sama Faiz. Biasanya kan dia suka menghindar."
Nana mengangguk pelan, meski matanya masih memicing selidik. "Iya sih, mereka kelihatan akrab banget. Tapi menurut aku meremas cocok, kok."
Kaisar tidak menyahut. Ia pura-pura sibuk merapikan letak sendok dan garpunya, namun telinganya justru menajam, berusaha menangkap percakapan di meja sebelah.
Di sana, Raline tertawa keci menanggapi lelucon garing yang baru saja dilontarkan Faiz. Ia tahu Kaisar sedang memperhatikannya. Dan entah mengapa, ada rasa panas di dadanya akibat melihat kemesraan Kaisar dan Nana. Membuatnya ingin membalas dengan cara yang sama, padahal ia tahu dirinya tidak seharusnya merasa seperti itu.
"Oh iya, Kai," ucap Nana.
Kaisar menatap gadis itu, menunggu kalimat selanjutnya.
"Masalah kamu sama Raline udah selesai, kan?" tanyanya.
Kaisar mengerutkan kening. Tidak mengerti maksud dari pertanyaan Nana barusan.
"Maksudnya?"
"Iya, masalah kamu sama Raline," jawab Nana.
"Masalah..." Kaisar mengulang kalimat sembari mencoba mengingat masalah lain dengan Raline selain kehamilan gadis itu, yang bahkan tak diketahui siapapun.
"Itu loh, masalah kamu sama dia..." potong Nana cepat. "soal kesalahpahaman yang pernah kamu ceritain ke aku. Katanya dia pernah salah paham gara-gara motornya keserempet atau apalah itu... Yang mobilnya itu dikira mobil kamu."
Kaisar terdiam sejenak, otaknya berputar cepat mencari memori tentang kebohongan kecil yang pernah ia karang untuk menutupi interaksi anehnya dengan Raline beberapa waktu lalu.
"Oh, itu... iya, udah selesai kok," jawab Kaisar akhirnya, suaranya sedikit dipaksakan santai. "Dia udah tahu kalo itu bukan mobil aku. Makanya sekarang kita udah nggak ada urusan lagi."
Nana manggut-manggut, namun matanya tetap melirik ke arah meja sebelah. "Syukurlah kalo gitu. Soalnya tadi kamu liatin dia tajam banget, aku pikir kalian masih berkonflik."
"Nggak kok, usah selesai."
Nana melirik Raline dan Faiz yang saat ini tengah mengobrol. Memperhatikan interaksi mereka.
"Kalo liat Raline sekarang, kayaknya dia lagi happy banget ya sama Faiz," ucapnya.
Kaisar hanya mendehem pelan. Dadanya terasa sesak melihat bagaimana Raline kali ini bisa tertawa lepas dengan sahabatnya sendiri. Ada rasa posesif yang mendadak muncul, rasa tidak rela yang seharusnya tidak ia miliki karena status mereka hanyalah 'sementara'.
Sementara itu di mejanya, Raline sebenarnya sedang berjuang mati-matian. Aroma mie instan yang tadi terasa sangat menggoda, kini mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memicu rasa mual hebat di pangkal tenggorokannya.
Wajahnya yang tadi merona karena tawa buatan, perlahan memucat.
"Lin? Lo oke?" tanya Faiz, menyadari perubahan drastis pada ekspresi Raline. "Muka lo kok tiba-tiba pucat gitu?"
Raline tidak menjawab. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk dengan hebat. Rasa mual yang sedari tadi ia tahan mendadak naik ke kerongkongan, jauh lebih kuat dari biasanya.
"Ugh..." Raline spontan menutup mulutnya rapat-rapat dengan satu tangan. Matanya terpejam kuat, berusaha menahan gejolak yang nyaris tumpah.
"Eh, Lin? Lo kenapa?" Faiz langsung berdiri dari kursinya, wajahnya tampak panik. Ia melangkah mendekat, hendak menyentuh bahu Raline. "Lo sakit? Muka lo pucat banget!"
Raline segera memberikan isyarat tangan agar Faiz tidak mendekat. Ia tidak boleh terlihat aneh di sini, di tengah kantin yang ramai. Dengan sisa tenaga, ia meraih gelas milkshake strawberry-nya dan meminumnya cepat.
Raline menarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan. Berulang kali ia melakukan itu sampai rasa bergejolak di perutnya sedikit mereda.
"Gue gapapa," ucap Raline dengan suara agak serak, berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap tenang. "Cuma... tersedak kuah mie yang pedas tadi. Nggak usah lebay."
Faiz masih menatapnya dengan sangsi, tangannya masih menggantung di udara. "Beneran? Tapi lo kayak mau muntah gitu tadi. Ke UKS aja yuk, gue temenin."
"Nggak perlu, Iz. Gue bilang gapapa ya gapapa," tegas Raline, sorot matanya kembali tajam untuk mengusir rasa curiga pemuda itu.
Faiz cukup kaget karena Raline tiba-tiba berubah lagi. Namun, ia berpikir mungkin Raline sedang datang bulan sehingga membuat moodnya berubah-ubah dengan cepat.
Di mejanya, Kaisar terus menatap Raline yang terlihat jelas menahan diri agar tidak muntah. Tubuhnya terasa ingin bergerak menghampiri dan membawanya pergi. Tetapi situasi tidak memungkinkan.
Raline mencengkeram pinggiran meja kantin dengan buku jari yang memutih. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung muncul di pelipisnya.
"Gue ke toilet bentar," pamit Raline singkat.
Tanpa menunggu jawaban Faiz, ia berdiri dengan gerakan kaku, berusaha menjaga keseimbangan agar tidak limbung di depan puluhan pasang mata.
Langkah Raline yang terburu-buru tak luput dari pandangan Kaisar. Pemuda itu meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang cukup keras di atas piring, membuat Nana berjengit kaget.
"Kai? Kamu mau ke mana?" tanya Nana saat melihat kekasihnya itu tiba-tiba berdiri.
"E-eh, aku lupa naruh buku tugas di loker. Takut ilang dipinjem anak-anak," bohong Kaisar lancar, meski jantungnya berdegup kencang karena cemas. "Bentar ya, Na. Kamu makan duluan aja."
Tanpa menunggu persetujuan Nana, Kaisar melangkah lebar meninggalkan kantin. Ia tidak menuju loker, melainkan berbelok ke arah koridor menuju toilet belakang yang biasanya sepi di jam istirahat.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya