Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 13 - Pertikaian di Jalan
Camila terdiam sesaat, seolah tak percaya Ashilla berani membalasnya.
“Ka-kau…!” Dadanya naik turun karena marah. “Berani-beraninya kamu bicara seperti itu padaku?!”
Ashilla menatapnya datar. “Aku hanya mengatakan fakta. Berteriak tidak akan membuat mobil ini tiba-tiba bisa jalan.”
“Kamu—!”
Camila mengangkat tangan, seakan ingin menampar.
Namun sebelum telapak itu sempat turun, pintu mobil di sisi pengemudi tiba-tiba terbuka.
“Mohon tenang, Nona,” kata sopir gugup. “Saya sedang mencoba menghubungi bengkel darurat.”
Camila menarik tangannya kembali dengan kesal, lalu menoleh tajam pada Ashilla.
“Kamu puas sekarang? Gara-gara kamu, aku bakal terlambat!”
Ashilla tersenyum tipis, tanpa kehangatan. “Seingatku, yang memaksa ikut ke konser bukan aku.”
Ucapan itu seperti menyiram bensin ke api.
Wajah Camila memucat karena marah. “Kamu pikir karena akan menikah dengan Ken, kamu sudah bisa bersikap sok tinggi?”
Ashilla menatap keluar jendela. “Aku tidak pernah ingin menikah dengannya.”
Kalimat itu membuat Camila tertegun.
“Apa katamu?”
Ashilla menoleh perlahan. Tatapannya tenang, tapi dingin. “Aku juga tidak pernah ingin ikut ke konser ini. Jadi berhentilah menyalahkanku untuk semua hal buruk yang terjadi.”
Untuk sesaat, mobil dipenuhi keheningan aneh.
Camila tertawa kecil, penuh ejekan. “Berhenti berpura-pura. Kalau tidak mau, kenapa kamu tidak menolak? Bukankah kamu paling pandai berpura-pura polos di depan orang dewasa?”
Ashilla tidak menjawab.
Karena memang benar—menolak tidak pernah menjadi pilihan baginya.
Sopir kembali membuka pintu. “Nona, saya sudah memanggil bantuan, tapi butuh waktu sekitar dua puluh menit.”
“Dua puluh menit?!” Camila hampir menjerit. “Konsernya mulai setengah jam lagi!”
Matanya berkilat, lalu tiba-tiba menatap Ashilla dengan senyum yang tidak baik.
“Kita turun.”
“Apa?” Ashilla mengerutkan dahi.
“Kita cari taksi. Aku tidak mau menunggu di sini.” Camila sudah membuka pintu. “Atau kamu mau ketinggalan dan membuat ibuku marah?”
Ashilla tahu, jika ia tidak ikut, maka semua kesalahan akan jatuh padanya.
Ia pun turun dari mobil tanpa berkata apa-apa.
Mereka berjalan ke tepi jalan besar untuk mencari taksi. Namun entah karena jam ramai atau lokasi yang kurang strategis, tak satu pun taksi berhenti.
Camila semakin gelisah.
“Ini benar-benar hari sial!” gerutunya.
“Ini semua salahmu.”
Ashilla menghela napas pelan. “Sekarang kamu juga mau menyalahkanku padahal ibu yang memohon melakukan ini??”
Camila mendekat selangkah. “Kalau bukan karena kamu akan menikahi Ken, aku pasti akan di manja!”
Tatapan Ashilla mengeras.
“Benarkah?” tanyanya pelan. “Bukankah kamu harusnya bersyukur karna tidak di jual ke keluarga Adam?”
“Kamu—!”
Camila mendorong bahu Ashilla dengan keras.
Ashilla terhuyung ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan.
Di saat yang sama, suara klakson keras terdengar dari samping.
“Sssttt—!”
Sebuah mobil melaju cepat di jalur dekat trotoar.
Ashilla refleks menarik tangan Camila ke arahnya.
Tubuh mereka berdua terjatuh ke trotoar, sementara mobil itu melintas hanya beberapa sentimeter dari kaki Camila.
Semua terjadi terlalu cepat.
Camila terdiam, wajahnya pucat pasi.
Beberapa detik kemudian, ia baru menyadari—
Jika bukan karena Ashilla, mungkin yang terlempar ke jalan barusan adalah dirinya.
Namun bukannya berterima kasih, Camila justru mendorong Ashilla lagi.
“Jangan sentuh aku!”
Ashilla terjatuh, telapak tangannya tergores aspal.
Rasa perih menjalar, tapi yang lebih sakit adalah ekspresi Camila—seolah kejadian barusan tidak berarti apa-apa.
“Kalau aku mati pun, itu bukan urusanmu,” kata Camila dingin. “Jangan sok jadi pahlawan.”
Ashilla bangkit perlahan. Wajahnya kini benar-benar tanpa emosi.
“Baik,” katanya singkat. “Mulai sekarang, hidup atau matimu memang bukan urusanku lagi.”
Saat itu, sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari mereka.
Pintu terbuka.
Seorang pria turun—tinggi, rapi, dengan ekspresi dingin yang langsung menarik perhatian.
Tatapan Ashilla membeku.
Itu… Ken.
Dan jelas, ia melihat seluruh kejadian barusan..