Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 — Jiang Yun
Setelah berhasil menjauh dari kerumunan warga desa, Xinyi kembali ke kamarnya seorang diri. Pintu kayu tertutup pelan di belakangnya.
Ia melangkah menuju ranjang, lalu duduk perlahan di tepinya, seolah tubuhnya ikut melepaskan kelelahan yang tertahan sejak tadi.
"Xun'er bilang dia ada urusan lain, lalu aku sendirian sekarang."
Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu. Tidak ada suara langkah, tidak ada bisikan angin, bahkan lampu kristal di sudut kamar memancarkan cahaya tanpa dengung. Kesunyian itu terasa asing baginya.
Sejak tiba di dunia ini, Xinyi hampir selalu dikelilingi orang lain. Karena itu, berada sendirian seperti ini menghadirkan rasa sepi yang halus namun nyata.
"Aku sedikit penasaran dengan benda ini..."
Pandangan Xinyi jatuh pada sebuah kubus kristal mengkilap yang terletak di telapak tangannya. Permukaannya bening namun di dalamnya berdenyut cahaya samar, seakan menyimpan sesuatu yang hidup. Energi yang dipancarkannya terasa jelas, namun maknanya sama sekali tak bisa ia pahami.
Kubus itu menimbulkan firasat buruk di dalam hatinya. Ada perasaan tak nyaman yang samar, seperti peringatan yang belum berbentuk.
Meski begitu, tangannya enggan melepaskannya, seolah benda itu telah terikat pada keberadaannya.
Xinyi akhirnya meletakkan kubus kristal itu di sampingnya. Jari-jarinya yang putih menyentuh dagunya dengan gerakan ringan, matanya menatap kosong ke depan sambil tenggelam dalam pikiran.
"Menjadi pemimpin berarti akan sulit bagiku nantinya, harus memikirkan cara untuk mengawasi desa ini agar hal-hal yang tak diinginkan tidak terjadi."
Ia menarik napas perlahan, lalu mengangkat tangan kanannya ke udara. Telapak tangannya menghadap ke depan, jarinya sedikit terbuka.
Mantra sihir mulai mengalir keluar dari mulutnya, setiap kata terucap dengan jelas dan penuh kehendak.
"Penciptaan kekuatan, pemanggilan yang kuinginkan. Aku menginginkan diriku, sebagai penggantiku. Darah dan jiwa menjadi kontrak, Bayangan dan raga menjadi satu takdir. Wahai hukum dunia dan lingkaran eksistensi, Bukakan celah antara aku dan aku. Hadirkan wujud yang lahir dari kehendakku!"
Udara di dalam kamar bergetar.
Perlahan, sebuah lingkaran sihir terbentuk di lantai tepat di depan Xinyi. Garis-garisnya terukir rapi dan simetris, bercahaya putih bersih seperti cahaya bulan yang dipadatkan. Simbol-simbol kuno berputar mengelilinginya, berkilau dengan ritme teratur, membuat ruang di sekitarnya berdenyut halus.
Cahaya dari lingkaran itu semakin kuat, menyilaukan mata. Angin kecil berputar di atasnya, mengangkat debu tipis dan partikel Mana yang berkilauan seperti serpihan bintang.
"Sihir Pemanggilan: Mirror Soul—Doppel Manifestation."
Dari pusat lingkaran, sesuatu mulai muncul.
Pertama, sepasang kaki terbentuk perlahan, seakan dicetak langsung dari cahaya murni. Garis betisnya memadat, struktur tulang dan otot tercipta dalam siluet bercahaya. Cahaya itu merambat naik, membentuk paha dengan detail yang semakin jelas dan nyata.
Tak lama kemudian, pinggang dan perut terwujud, diikuti dada yang naik turun perlahan saat keberadaannya mulai stabil. Cahaya berdenyut sekali lagi, lalu sepasang lengan terbentuk dari bahu hingga ke ujung jari. Jari-jarinya bergerak sedikit, seperti sedang belajar merasakan dunia.
Akhirnya, kepala terbentuk.
Rambut muncul seperti helai cahaya yang berubah menjadi wujud nyata, jatuh lembut mengikuti garis leher. Wajah tercetak perlahan dari cahaya putih yang memudar, berganti warna alami.
Saat bentuk itu sepenuhnya sempurna, kilau lingkaran sihir meredup, meninggalkan sosok yang kini berdiri utuh di hadapan Xinyi.
Udara di sekitar terasa berat, dipenuhi sisa energi pemanggilan yang masih bergetar pelan, seakan enggan sepenuhnya menghilang.
Klon di hadapan Xinyi memiliki wajah dan tubuh yang sama persis dengannya. Hampir tidak ada perbedaan yang bisa dikenali. Rambut hitam legam, mata gelap yang jernih, wajah cantik bagai bidadari, serta kulit seputih susu yang memantulkan cahaya lampu kamar.
"Sial, sungguh memalukan melihat diri sendiri tanpa pakaian."
Xinyi segera berdiri dan berjalan menuju lemari. Ia membuka pintunya perlahan, lalu mengambil sehelai pakaian dari dalam. Dengan langkah cepat ia kembali menghampiri klonnya yang masih berdiri kaku tanpa busana.
Dengan sedikit kesulitan, ia membantu memakaikan pakaian itu pada klonnya. Gerakannya canggung, sesekali ia mengalihkan pandangan, seolah merasa aneh menyentuh tubuh yang begitu mirip dengan miliknya sendiri.
"Fyuhh." Xinyi mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. "Untung saja tidak ada siapa-siapa. Kalau tidak, akan sangat memalukan nantinya. Melihat klon-ku tanpa pakaian, sama saja dengan melihatku sendiri."
Setelah itu, Xinyi berjalan mengelilingi klonnya perlahan. Matanya memperhatikan setiap detail, dari wajah hingga postur tubuhnya, memastikan tidak ada kejanggalan.
"Kalau dilihat-lihat lagi... bukankah aku sangat cantik."
Ia refleks menggaruk kepalanya sendiri, menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Rasa malu muncul di wajahnya, meski tidak ada seorang pun yang menjadi saksi.
"Ehem."
Xinyi menyatukan kedua tangannya di depan klon itu. Sikapnya tenang namun penuh kendali, seolah apa yang akan terjadi selanjutnya sudah ia pastikan sejak awal.
"Terbangunlah."
Lingkaran sihir kembali muncul, kali ini membentuk pola di sekeliling tubuh klon itu. Cahaya putihnya berdenyut perlahan, meresap ke dalam tubuh sang klon.
Reaksi segera terlihat. Jari-jarinya bergetar halus, seperti merasakan sensasi pertama dari keberadaan. Bulu matanya bergerak pelan, naik turun dengan ritme napas yang mulai stabil.
Lalu matanya terbuka.
"Aku terbangun."
Suara itu lembut, sama persis dengan suara Xinyi, namun terdengar lebih polos, seakan belum tercemar oleh pengalaman apa pun.
Xinyi mengayunkan tangannya ke udara dengan gerakan ringan. Seketika, seluruh lingkaran sihir yang tersisa memudar dan lenyap tanpa jejak, meninggalkan ruangan kembali hening.
Klon itu mulai menggerakkan tubuhnya perlahan. Ia mengangkat tangan, menekuk jari, lalu menggerakkan bahunya.
Gerakannya canggung di awal, seolah sedang menyesuaikan diri dengan raga barunya. Namun setelah beberapa saat, ia berhenti, menyadari bahwa tidak ada rasa asing atau kerusakan sedikit pun.
"Tubuhmu sempurna, aku tidak melakukan kegagalan," ucap Xinyi.
Ia menaruh jarinya di dagu, menatap klon itu dengan ekspresi menilai.
"Hei, mulai sekarang kau akan membantuku. Kau mengerti?"
Klon itu menoleh ke arahnya. Tatapannya jernih dan lurus, tanpa keraguan sedikit pun. "Mengerti. Nona yang menciptakanku, maka aku akan menuruti kemauanmu."
Xinyi sedikit terkejut. Ia tidak menyangka kepatuhan itu datang begitu saja, tanpa perlawanan atau pertanyaan. Dalam hati, ia sempat berpikir kalau proses ini akan lebih rumit.
"Baiklah, namamu sekarang adalah... eum." Xinyi berbalik memunggungi klonnya. "Nama..."
Klon itu menatap punggung Xinyi dengan wajah polos, jelas tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan penciptanya.
"Ah! Aku tau!" Xinyi berbalik dengan wajah sedikit cerah.
"Iya?"
"Namamu sekarang adalah Jiang Yun."
"Jiang Yun? Namaku..."
"Ya, Jiang Yun. Rasanya itu cocok untukmu."
Klon itu terdiam sesaat, lalu tersenyum lembut. Senyumannya terlihat alami dan jujur, membuat Xinyi tanpa sadar terpaku menatapnya.
"Aku suka itu."
Xinyi masih terdiam beberapa detik. Dalam benaknya, ia baru menyadari sesuatu yang aneh sekaligus menggelitik. "Wajahku secantik itu ketika tersenyum? Pantas saja Xun'er bertingkah aneh saat melihatku," pikirnya.
Ia segera menepis pikiran itu dan kembali fokus pada Jiang Yun.
"Xiao Yun, kita berdua adalah satu. Jadi kau juga memiliki apa yang kumiliki. Kau seharusnya mengerti cara menggunakan sihir, kan?"
Jiang Yun mengangguk tanpa ragu. "Mengerti."
Ia mengangkat tangannya ke depan dada. Telapak tangannya terbuka, posisinya stabil.
"Sihir Penciptaan Api: Flame."
Lingkaran sihir kecil muncul di atas telapak tangannya. Dari pusatnya, setitik api kecil menyala. Api itu perlahan membesar, membentuk nyala yang stabil dan terkendali. Jiang Yun menghentikannya tepat saat ukurannya terasa pas, tanpa percikan atau fluktuasi energi yang berlebihan.
Xinyi memperhatikannya dengan saksama.
"Pengendalian yang bagus, aku tidak menyangka akan sebaik itu."
"Ini semua kuambil dari pengetahuan Nona, tentu saja tidak akan membuat kesalahan."
Hasilnya sempurna. Xinyi merasa sangat puas. Beban di dalam dadanya sedikit berkurang.
Ia melangkah mundur, lalu duduk di ranjangnya yang empuk. Tanpa ragu, ia merebahkan tubuhnya dengan santai.
"Fyuhh. Cukup melelahkan melakukan ini."
Jiang Yun tidak tinggal diam. Ia mendekat dan duduk di sisi Xinyi yang tengah berbaring, sikapnya tenang dan penuh perhatian.
"Nona tinggal beri perintah untuk kedepannya, aku pasti akan melakukan apapun yang Nona suruh."
"Xiao Yun."
"Iya, Nona?"
"Berhenti memanggilku begitu."
Xinyi mengubah posisinya. Ia bergeser, lalu berbaring di atas paha Jiang Yun yang masih duduk tegak. Sentuhan itu terasa hangat dan lembut, jauh lebih nyaman daripada bantal mana pun.
Ia menatap Jiang Yun dari bawah.
"Sebut namaku saja. Xinyi."
"Tapi..."
"Ini perintah."
"Xi... Xinyi."
Xinyi tersenyum puas.
"Itu bagus, meski rasanya aneh ketika melihat diriku memanggilku, hahaha."
Perlahan, ia memejamkan mata. Tubuhnya rileks, napasnya menjadi teratur, menikmati kehangatan dan rasa aman dari keberadaan Jiang Yun.
Tanpa ia sadari, Xinyi tertidur.
Sementara itu, Jiang Yun masih terjaga. Dengan gerakan lembut, ia mengusap rambut Xinyi yang terurai, matanya menatap wajah yang tertidur dengan ekspresi tenang, seolah sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga.
apa ada sejarah dengan nama itu?