Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kepanikan Xavier
"Tuan... Apa Anda tidak akan turun melihat Nona seperti itu?" Tanya Mark sambil menatap Xavier dan tengah meremas map yang ditangannya, saat melihat dan mendengarkan semua yang dikatakan Bintang, dan kondisinya saat ini.
Xavier tiba-tiba merasa satu perasaan kuat yang menyuruh dirinya untuk mendekap dan menenangkan Bintang, ada rasa panas saat melihat Axel yang memeluk tubuh mungil itu.
Hatinya ikut berdenyut nyeri mendengar apa yang dialami oleh Bintang setelah saat berada di keluarga Miller.
"Beraninya mereka!" Geram Xavier sambil melemparkan berkas itu hingga berserakan dilantai.
Ya, saat ini Xavier sengaja mendatangi real estate miliknya yang akan didatangi oleh Bintang dan Axel, dan Xavier melihat semuanya dari awal mereka datang hingga saat ini melalui CCTV.
Atas perintah dari Xavier juga lantai itu sekarang dikosongkan, bahkan jalan dan lift yang akan digunakan oleh mereka berdua juga sengaja dikosongkan agar Bintang tidak bertemu banyak orang dan lebih parahnya lagi berdesak-desakan.
Xavier mengatakan Dia takut jika tubuh kurus bintang akan patah jika berhimpitan dengan orang banyak.
"Biarkan saja, aku yakin jika Axel bisa mengatai itu sendiri." Ucapnya sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah dan kembali meneguk air minum yang tersedia dimeja kerjanya.
"Beri tahu Nenek, jika aku sendiri yang akan menjadi guru les Bintang sesuai dengan permintaan Papa." Ucapnya lagi sambil memutar kursi yang didudukinya menghadap Kedinding dan membelakangi Mark yang tampak tersenyum tertahan melihat sikap Tuan mudanya itu yang tampak berbeda dari biasanya.
Dari awal melihat penampilan Bintang, entah sudah beberapa kali mengisi air minum itu, dan entah sudah beberapa kali juga Xavier mengendurkan dasi yang ada dilehernya itu, sampai dasi itu benar-benar terlepas dan saat ini telah berada diatas meja.
Bahkan Xavier yang terkenal karena ketenangannya itu hari ini benar-benar berubah karena sudah entah berapa kali Mark mendengar umpatan yang keluar dari mulut Xavier, sungguh sesuatu yang tidak pernah dilakukan nya dan langka itu semua diluar kebiasaannya.
"Tuan yakin? Tidak ingin menemui Nona Bintang, lihat tuan muda Axel masih mendekapnya, dan sepertinya akan menggendongnya." Ucap Mark sambil melirik Xavier yang tampak menegang.
"Akhh... Brengsekkk!" Ucap Xavier sambil berdiri dan dengan cepat menyambar dasi dan jas yang tersampir di kursinya.
Mark hanya tertawa tertawa pelan melihat Xavier yang memerah dan terlihat panik.
"Akh... Dasar keras kepala Singa tua... Akhirnya ada juga yang bisa mengusik ketenangan mu dan menaklukkan perjaka tua itu." Gumam Mark dengan pelan sambil tersenyum lebar.
"Heiii Kak!!! Apa yang kau lakukan!" Teriak Axel saat melihat Xavier yang merebut tubuh Bintang dengan gerakan yang cepat, Bintang sudah berada dalam dekapannya.
"Kak...! Hei! Kak! Mau Kakak bawa kemana Adik Perempuanku?! Hei kak! Aku sendiri juga bisa membawanya!" Ucap Axel yang semaki. berteriak.
Saat melihat Xavier mendirikan kembali tubuh Bintang lalu mengikatkan jasnya di pinggang Bintang dengan posisi yang terbalik,
lalu menggendongnya dengan bridal style, dengan hanya menggunakan satu tangan saja. Xavier pergi tanpa menjawab pertanyaan Axel ataupun menoleh lagi setelah melemparkan satu kartu pada Axel lalu memberikan isyarat pada Mark.
"Tuan muda, mari berbelanja saja, bukannya Tuan ingin membelikan Nona Bintang peralatan sekolah yang baru, mari saya temani." Ucap Mark menghentikan Axel yang akan menyusul Bintang.
"Nona pasti akan sangat senang jika ketika Dia sadar, sudah ada peralatan sekolah baru didalam kamarnya," Bujuk Mark.
"Benarkah?" Tanya Axel sambil menopang dagunya dan tampak berfikir sejenak.
"Benar, coba saja Anda bayangkan..." Ucap Mark lagi sambil tersenyum.
"Kau benar... Akh senangnya menjadi kakak kesayangan adik Bintang..." Ucap Axel sambil berjalan dan sesekali melompat-lompat senang.
"Akhh... Aku rasa aku harus mengucapkan selamat tinggal pada hari-hari tenang ku, aku rasa hari esok akan semakin ribut, apa lagi jika si kembar itu pulang... Sedangkan si sapi tua itu sangat gengsi dan keras kepala, sepertinya aku harus minta naik gaji agar sepadan," Gerutu Mark lelah,
sambil melihat Axel yang tampak sangat antusias membelikan peralatan sekolah untuk Bintang.
Mark masih bisa didengarnya suara Axel yang bersenandung lirih dan sesekali bersiul-siul, Mark merasa kedepannya persaingan itu akan bertambah panas walau dalam porsi yang berbeda.
*
*
*
"Panggil Dokter Bara!!! Suruh Dia datang ke kamarku!!!" Teriak Xavier yang terlihat berjalan cepat dengan Bintang dalam gendongannya, dan menghilang dibalik pintu lift yang tertutup.
"Apa yang telah terjadi, Tuan?" Tanya Mike sang kepala pelayan sekaligus Kakek dari Dokter Bara, Dokter pribadi keluarga Alexander yang juga sahabat Xavier.
"Bintang pingsan," Sahut Xavier singkat.
"OOO." Ucap Mike sambil mengikuti Xavier dari belakang.
"Kama sekali! Apa Dia sudah bosan bekerja dikeluarga Alexander!" Kesal Xavier yang tidak berhenti menatap pintu yang masih tertutup rapat.
"Saya sudah menyuruh Bik Ana untuk menghubungi Bara, anda tunggu saja mungkin 5 menit lagi sudah datang," Ucap Mike tenang sambil memperhatikan Xavier yang tampak gelisah dan panik.
"Mungkin sedang macet, Anda sabar sebentar," Lanjut Mike menenangkan sambil tersenyum hangat menatap Xavier yang masih tampak tidak tenang.
Tampak Kenzo yang duduk disamping ranjang itu sambil terus menggenggam tangan bintang dan sesekali menggosok tangan mungil itu yang tampak dingin dan ikut memucat.
'Akhirnya ada juga gadis yang di pedulikan oleh Tuan muda Xavier, dan gadis ini terlihat baik dan lembut sepertinya memang pantas untuk Tuan muda Xavier.' Ucap Mike dalam hatinya dan diam-diam tersenyum melihat kepanikan Xavier dan jas yang masih terikat di pinggang Bintang.
'Akhhh... Kalau Nyonya besar tahu, Dia pasti akan lebih senang lagi, dan pekerjaan ku juga pasti akan bertambah, tapi, senang rasanya melihat Tuan Xavier memperhatikan Nona Bintang, kasihan gadis ini, sepanjang hidupnya pasti sudah sangat menderita,' Lanjutnya lagi sambil melihat iba pada Bintang yang terlihat semakin memucat.
Brakkk!!!