Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mount Merbabu
Perjalanan menuju puncak Merbabu dimulai bukan di jalan setapak berbatu, melainkan di Stasiun Gambir saat fajar menyingsing. Jakarta masih diselimuti kabut polusi ketika Tia dan Idris berdiri di peron dengan backpack berkapasitas 60 liter yang terisi penuh.
Tia mengenakan jaket windbreaker tipis, sementara Idris sibuk memeriksa kembali daftar perlengkapan di ponselnya.
"Semua aman, Tia? Sepatu gunung sudah masuk? Jaket down?" tanya Idris memastikan.
Tia menepuk tasnya yang membumbung. "Aman, Kapten. Brownies 'Crumbs & Clouds' edisi energi tinggi juga sudah aku vakum di paling atas. Kita benar-benar melakukan ini ya?"
Idris tersenyum, lalu menggenggam tangan Tia sebentar. "Kita lakukan ini. Kali ini kita tidak terbang, tapi kita memanjat."
"Baiklah aku yakin kita bisa sampai puncak, apalagi ada kamu bersamaku Idris" ucap Tia.
"Tentu kamu akan aman bersamaku" jawab Idris.
Mereka menempuh perjalanan darat yang panjang. Dari Jakarta menggunakan kereta api menuju Stasiun Balapan Solo, kemudian dilanjutkan dengan mobil jemputan yang telah dipesan Idris menuju Desa Selo, Boyolali. Semakin mendekati Selo, udara yang tadinya panas mulai berganti menjadi hawa sejuk yang menusuk tulang. Kaca mobil mulai berembun, memperlihatkan siluet gagah Gunung Merapi di satu sisi dan lereng hijau Merbabu di sisi lainnya.
Sesampainya di Basecamp Selo, mereka disambut oleh Mas Danu, pemandu gunung bersertifikat yang sudah dihubungi Idris sejak di Jakarta. Mas Danu adalah pria paruh baya dengan kulit yang ditempa matahari, namun memiliki sorot mata yang hangat dan menenangkan.
"Selamat datang, Mbak Tia, Mas Idris," sapa Mas Danu sambil menyalami mereka.
"Bagaimana fisiknya? Siap untuk jalur Selo?"
"Siap, Mas Danu. Sesuai janji saya ke orang tua Tia, kami serahkan keselamatan kami pada arahan Mas Danu," ujar Idris serius.
Mas Danu langsung melakukan tugasnya: pemeriksaan barang. Ia membongkar tas mereka satu per satu. "Peralatan tidur bagus, baju ganti ada, raincoat wajib. Ini brownies apa Mbak? Baunya enak sekali," tanya Mas Danu sambil menunjuk kotak vakum Tia.
"Itu bekal khusus, Mas. Energi buat sampai sabana," jawab Tia bangga.
"Oh untuk sesuatu yang penting ya Oke lah kalau begitu"
Tia menjelaskan apa yang akan dilakukan dengan Brownies tersebut. Akhirnya Mas Danu mengerti dan tidak bertanya lagi karena sudah pahan semuanya.
...----------------...
Pendakian dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Langkah pertama terasa ringan, namun jalur Selo segera menunjukkan karakternya. Mereka melewati hutan pinus yang asri dengan jalur tanah yang stabil namun mulai menanjak tajam.
"Atur napas, Mbak Tia. Jangan terburu-buru. Di gunung, yang menang bukan yang tercepat, tapi yang paling bisa mengatur ritme jantungnya," instruksi Mas Danu yang berjalan paling depan sebagai pembuka jalur.
Tia mengangguk, mencoba menyelaraskan langkah kakinya dengan tarikan napasnya. Di belakangnya, Idris selalu menjaga jarak tak lebih dari dua meter. Setiap kali Tia tampak sedikit goyah karena beban tas, Idris dengan sigap menahan pundak tas Tia agar seimbang.
"Minum sedikit-sedikit, jangan tunggu haus," Idris mengingatkan sambil menyodorkan selang water bladder dari tas Tia.
"Terimakasih ya Mas Idris" Tia tersenyum dan meminum airnya.Idris yang dipanggil mas merasa jantungnya berdetak lebih cepat bahkan telinganya sedikit memerah. Itu terlihat di kedua mata Tia dan dia hanya tersenyum dan melanjutkan kembali.
Setelah mendaki selama hampir empat jam, mereka tiba di Pos 3 (Watu Tulis). Di sini, pepohonan mulai jarang, dan pemandangan Gunung Merapi yang berdiri megah di belakang mereka mulai terlihat jelas tanpa penghalang.
Tia terduduk di atas batu besar, peluh membasahi dahinya. "Mas Idris... kakiku mulai terasa panas. Tapi Merapi itu... cantik banget ya?"
Idris duduk di sampingnya, membuka sebotol minuman elektrolit. "Cantik, tapi Merbabu lebih cantik lagi kalau kita sampai Sabana. Mas Danu, berapa lama lagi sampai tempat camp?"
Mas Danu yang sedang menyiapkan kompor lapangan untuk membuat teh hangat menoleh. "Dari sini ke Pos 4 (Sabana 1) itu tanjakan paling 'berhadiah', Mas. Namanya Tanjakan Setan. Tapi tenang saja, pelan-pelan pasti sampai sebelum matahari terbenam."
Tia menarik napas dalam. "Tanjakan Setan? Namanya serem banget, Mas."
"Namanya saja, Mbak. Sebenarnya itu ujian buat hati kita. Kalau hatinya tenang, kakinya ikut tenang," balas Mas Danu bijak.
Perjalanan menuju Sabana 1 benar-benar menguras tenaga. Jalur yang sangat miring membuat Tia harus berkali-kali menggunakan tangannya untuk memegang akar atau bebatuan. Idris selalu berada di belakangnya, memberikan dorongan fisik dan mental.
"Dikit lagi, Tia. Liat ke atas, puncaknya sudah kelihatan!" seru Idris.
Saat mereka akhirnya sampai di hamparan rumput luas Sabana 1, Tia jatuh terduduk—bukan karena lelah, tapi karena takjub.
Hamparan rumput hijau yang bergoyang ditiup angin, bunga edelweiss yang mulai terlihat, dan awan-awan putih yang terasa sejajar dengan mata mereka.
Mas Danu mulai mendirikan tenda dengan cekatan. "Istirahat di sini, Mas, Mbak. Saya siapkan makan malam. Malam ini bintangnya akan banyak."
Sore itu, saat Mas Danu sibuk di area masak yang agak jauh untuk memberi privasi, Idris dan Tia duduk di depan tenda sambil berselimutkan sleeping bag.
Mereka membuka kotak brownies "Crumbs & Clouds" yang mereka bawa dari Jakarta.
"Tahu nggak, Mas?" Tia menyandarkan kepalanya di bahu Idris sambil menatap matahari yang mulai tenggelam. "Pas aku di Tanjakan Setan tadi, aku hampir mau nangis. Rasanya berat banget. Tapi aku ingat pas aku paralayang kemarin. Pas aku takut, aku cuma perlu percaya sama anginnya. Di sini, aku cuma perlu percaya sama kakiku sendiri... dan percaya kalau kamu nggak akan biarin aku jatuh."
Idris menggenggam tangan Tia erat. "Aku nggak akan pernah biarin kamu jatuh, Tia. Baik di Gunung, di dapur, di toko atau dimanapun itu. Kita satu tim."
"Terimakasih Mas untuk semuanya" Tia menggenggam balik tangan Idris yang menggenggam tangan miliknya.
Mas Danu yang melihat mereka berdua tersenyum. Hal ini sudah biasa Mas Danu lihat ketika pasangan berada di gunung. Saling menguatkan, saling memberi bahu, dan menggenggam tangan.
...----------------...
Malam di Merbabu sangat dingin, suhu turun hingga 8 derajat Celsius. Mas Danu membawakan mereka sup hangat dan nasi panas ke tenda. Setelah makan, Mas Danu pamit untuk beristirahat di tendanya sendiri.
"Mas Danu beneran profesional ya," bisik Tia.
"Papa pasti tenang kalau tahu kita dijaga orang seperti dia."
"Iya, aku nggak mau ambil risiko, Tia. Aku mau perjalanan ini jadi kenangan indah, bukan beban," jawab Idris.
Mereka menatap langit. Karena tidak ada polusi cahaya, jutaan bintang terlihat sangat jelas, membentuk galaksi Bimasakti yang memukau.
"Mas," panggil Tia pelan. "Setelah kita turun dari sini, aku mau bikin menu baru. Brownies dengan warna gradasi hijau matcha dan cokelat gelap, namanya 'Merbabu Peak'. Aku mau orang yang makan itu ngerasa kedamaian yang aku rasain sekarang."
Idris tersenyum, menoleh ke arah Tia yang wajahnya hanya diterangi lampu kepala (headlamp). "Ide bagus. Dan aku mau kita terus seperti ini. Mendaki gunung-gunung lain, atau mungkin sekadar mendaki hidup bareng-bareng. Kamu siap?"
Tia menatap Idris dalam-dalam. "Aku siap. Selama pemandunya kamu, aku nggak takut tersesat." goda Tia.
Idris tertawa "Haha kamu bisa aja sih gemes banget jadinya aku" kedua pipi Tia dihimpit oleh tangan besar Idris.
Mulut Tia mengerucut sebal "Ih jangan di jepit gini, nanti tambah tembem".
"Gak sayang maafin mas ya. Jangan ngambek" Idris mencolek pipi Tia setelah Tia menghadap berbalik dari arahnya.
"Iya iya aku cuma bercanda tadi haha" tawa Tia yang tenang dengan suara kecilnya itu membuat Idris ikut tertawa dengan suara kecil juga karena tidak baik tertawa dengan keras.
Mas Danu bersuara dari tenda sebelah. "Tidur yang nyenyak Mas, Mbak. Jam tiga pagi kita summit attack ke Puncak Kenteng Songo. Jangan lupa pakai jaket paling tebal."
"Baik mas btw terimakasih ya mas!" Tia mengatakannya dengan tulus lalu dijawab oleh Danu "Of course selamat malam kalian berdua".
"Selamat malam Mas Danu". Mereka dengan kompak menjawab bersamaan.
Tia dan Idris masuk ke dalam tenda, menutup ritsleting sleeping bag mereka. Di tengah kesunyian gunung yang agung, Tia merasa sangat kecil namun sangat berarti. Perjalanan dari Jakarta ke basecamp, hingga ke sabana ini, telah mengajarkannya bahwa setiap langkah sulit adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah pemandangan yang luar biasa.
Besok pagi, mereka akan mencapai puncak. Namun bagi Tia, puncak yang sesungguhnya sudah ia capai hari ini: sebuah ketenangan batin dan kehadiran Idris yang selalu menjadi penopang di setiap tanjakan hidupnya.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada