Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Menikahlah Dengan Pandji.
"Ibu siapanya bu Melitha," tanya Nurul, dokter kandungan yang baru saja selesai dengan tugasnya, berjalan menuju meja kerjanya, usai memeriksa kandungan Melitha.
"Saya, mertua Melitha, Dok. Suaminya adalah putra pertama saya," sahut bu Harun tanpa ragu.
Melitha spontan menoleh pada bibinya yang sedang duduk di depan meja dokter, tangannya menutup pakaian bagian bawahnya, begitu asisten dokter selesai membersihkan gel yang dibalur pada perut bagian bawahnya saat dokter Nurul memeriksa kandungannya tadi.
"Kalau boleh tahu, kemana putra ibu sampai tidak bisa menemani isterinya memeriksakan kandungannya?" menatap datar dan dingin pada ibu mertua pasien di depannya.
Seringkali ia jumpai suami pasien abai, membiarkan isteri seorang diri datang menemui dokter, menganggap remeh dan sepele.
"Putra saya seorang anggota TNI, sering tidak ada di tempat karena tugasnya, Dok. Jadi, sayalah yang menemani menantu saya," jelas bu Harun tenang dan sopan, wajah datar dan dingin yang ditunjukan sang dokter langsung berubah, lebih bersahabat.
Pengalaman bu Harun puluhan tahun silam, ketika seorang diri menemui dokter kandungan, didamprat dokter karena disangka hamil tanpa suami.
Tak merasa tersinggung, apalagi marah ketika itu, bu Harun menganggap itu adalah bentuk keprihatinan seorang dokter kandungan atas maraknya kehamilan di luar nikah, bukan saat ini saja, jauh sebelum dirinya lahir pun ada, demikian yang pernah ia dengar dari para orang tua sebelumnya.
"Untuk janin di dalam kandungan bu Melitha sehat, seperti yang kita saksikan bersama tadi," dokter Nurul masih menatap bu Harun, lalu beralih pada Melitha yang duduk di sebelah wanita paruh baya yang mengaku ibu mertuanya itu.
"Kenapa saya menanyakan suaminya... karena kondisi bu Melitha sekarang ini membutuhkan perhatian khusus dari suaminya, Bu," dokter Nurul kembali beralih pada bu Harun.
"Berat badan bu Melitha tidak ideal untuk seorang ibu mengandung, hanya empat puluh dua kilo. Normalnya saja, seorang gadis dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter adalah empat puluh delapan sampai lima puluh lima kilo gram," imbuhnya, mengatakan hasil timbangan Melitha petang itu.
"Selama kehamilan, kekurangan berat badan bisa meningkatkan risiko gangguan perkembangan pada fungsi otak dan pertumbuhan janin, meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil, menyebabkan keguguran, dan lainnya. Mohon ditingkatkan nutrisi menantunya ya, Bu. Saya kasihan melihatnya," dokter Nurul menatap prihatin pada wajah lemas dan tak bercahaya Melitha.
"Iya, Dok... Saya pasti mengusahakannya," bu Harun menyanggupi. Sebelum menemui dokter, ia sudah menduga akan mendapat penjelasan dan masukan seperti yang telah disampaikan sang dokter.
"Saya akan buatkan resep vitamin sebentar," tangan dokter Nurul menulis cepat.
"Nanti silahkan ambil di apotik," menyerahkan kertas yang telah ditulisnya pada bu Harun.
"Untuk mengatasi rasa mualmu, coba makan camilan ringan seperti biskuit dan hirup aroma mint atau lemon. Juga harus lebih sering makan walau dalam porsi kecil ya, bu Melitha" dokter Nurul tersenyum lembut menyampaikan nasihatnya pada calon ibu muda yang belum berpengalaman itu.
"Iya, Dok..." sahut Melitha kaku. Pengalaman pertamanya berkonsultasi membuatnya cukup merasa canggung.
"Dan jangan lupa minum banyak air putih, air kelapa, atau teh jahe hangat untuk mencegah dehidrasi. Banyak istirahat, karena ibu hamil gampang sekali lelah."
"Iya, Dok," sahut Melitha, masih terdengar kaku.
"Apa ada yang mau ditanyakan lagi?" dokter Nurul memandang bu Harun setelah melihat gelengan kepala dari Melitha.
"Cukup, Dok. Terima kasih atas segala saran dan masukannya," bu Harun berdiri, menyalami dokter kandungan itu, diikuti oleh Melitha setelahnya.
"Sama-sama, tetap jaga kesehatan juga kandunganmu dengan baik ya, bu Melitha," pesan dokter itu lagi bersungguh-sungguh.
"Iya, Dok. Terima kasih, saya akan nelakukannya," Melitha tersenyum lalu menyusul bu Harun yang keluar mendahuluinya.
"Nenek, kita pulang?" tanya Adri setelah melihat bu Harun selesai mengambil vitamin dan beberapa kotak susu ibu mengandung di apotik.
"Kamu capek, Sayang?" bu Harun tertawa kecil melihat pria kecil berusia tujuh tahun itu terlihat mengantuk setelah menunggu antrian yang cukup lama sejak sore tadi hingga di apotik ini.
Adri mengangguk jujur.
"Kita ke restoran yang ada di depan sana dulu," Adri dan Melitha sama-sama melihat ke arah yang ditunjukan oleh bu Harun. "kita makan dulu sebelum pulang."
"Bukannya tadi kita sudah makan, Nenek?" heran Adri, kembali menatap neneknya.
"Anggap tadi adalah makan siang kalian yang telat, sekarang makan malam. Disana ada es krim enak lho, kamu boleh makan sepuasnya dan boleh membawanya pulang buat Naomi."
Mendengar es krim disebut, Adri langsung mengangguk setuju, apa lagi bisa membawakan pulang buat adik kesayangannya.
...***...
"Melitha, ini untuk kamu dari Pandji. Beli apa saja kebutuhanmu menggunakan kartu ini."
Melitha menatap lama benda pipih yang disodorkan oleh bibinya itu padanya, rasa sungkannya begitu mendominasi.
"Bibi, aku tidak bisa menikah dengan mas Pandji, maaf..." pelannya.
"Kenapa?" bu Harun mendesah pelan.
"Aku mengerti... mengapa Bibi mengatakan mas Pandji tadi suamiku, untuk melindungi agar aku tidak dimarahi oleh dokter bila tahu aku--, ya begitulah..." suara Melitha terdengar sedikit bergetar, membuang muka ke arah Adri di depannya yang tengah asik menikmati es krimnya, tak tahu menahu masalah orang dewasa yang rumit.
"Aku berterima kasih atas perhatian lebih dari Bibi dan mas Pandji. Tapi aku tak bisa abai kalau mas Pandji punya tunangan dan kami ini juga masih sepupu," lirih Melitha lagi.
Bu Harun terenyuh mendengarnya, tangannya berpegangan pada tepi meja, berusaha kuat, merasakan kepalanya tiba-tiba pening dan serasa berputar. Penyakit lambungnya akhir-akhir ini memang sering kambuh, karena kelelahan berfikir.
Kemalangan yang menimpa Melitha akibat ulah anak bungsunya, tentu saja membuatnya terpukul, dirinya sebagai orang tua merasa tak becus mendidik anak dan melindungi keponakannya yang yatim piatu itu.
"Sayang," bu Harun mengusap lembut bahu Melitha setelah rasa peningnya sudah sedikit mereda. "Bibi minta maaf, perbuatan Celo membuat hidupmu semakin sulit."
"Nenek kenapa nangis?" bingung Adri.
Bu Harun cepat mengusap air matanya. "Nenek sedang ngajarin akting drama ke Bibi kamu. Lanjut saja makan es krimnya, ini makan punya Nenek juga," menyodorkan cup es krimnya ke hadapan Adri.
"Buat Adri?" bocah itu menatap bu Harun, berharap tak salah dengar.
"Iya, buat Adri, makanlah..." bu Harun tersenyum lebar.
"Horeeeeee! Terima kasih, Nenek!" girang Adri, matanya penuh binar, lalu melahap es krim pemberian sang nenek, padahal es krim miliknya masih bersisa beberapa suap lagi.
Melitha mengusap rambut Adri, ikut bahagia melihat keponakannya itu girang seperti itu.
"Terima kasih, Bibi.... sudah mentraktir kami hari ini...." tersenyum pada bibinya.
"Sama-sama, Sayang...." bu Harun tersenyum haru, teringat kehidupan pas-pasan keponakannya itu.
"Tolong, jangan tolak Pandji, Melitha. Dia serius mau menikahimu," ucapnya lagi, menyambung topik pembicaraan mereka sebelumnya.
"Bibi tidak mau kamu menikah dengan orang lain. Bibi takut kamu diperlakukan tidak baik bila mereka tahu masa lalumu, Sayang."
Melitha menunduk, matanya memandang dua kaki kecil Adri yang menjuntai di bawah meja, tak sampai lantai. Hatinya remuk bila mengingat kejadian itu, merasa dunianya suram di masa depan.
"Pandji dan Elok... mereka sudah putus."
Melitha cepat mengangkat wajah, sirat wajahnya penuh tanya saat bertemu pandang dengan bibinya, berita itu cukup mengejutkannya.
"Ga-gara-gara Meli?" cemas Melitha, teringat ucapan kakak iparnya waktu itu.
Bu Harun menggeleng. "Bukan, Sayang. Tidak ada hubungannya denganmu."
"Elok punya calon suami dokter, dan Ayah Elok tak mau punya menantu seorang prajurit seperti Pandji." Giliran Melitha yang menggeleng, sulit peraya bila hubungan kakak sepupunya dengan dokter cantik yang terbilang lama itu bisa berakhir begitu saja.
"Melitha... kamu tidak mau Pandji bertanggung jawab atasmu menggantikan Celo... apa karena dia hanya seorang prajurit biasa?" lanjut bu Harun penuh tekanan, pandangannya mengunci, membuat Melitha gelagapan mencari jawaban.
Bersambung✍️