NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: RAHASIA DI BALIK KERAK NASI

BAB 13: RAHASIA DI BALIK KERAK NASI

Arga tidak pulang. Pesan singkat itu terlalu nyata untuk diabaikan. Ia memarkir motornya di sebuah SPBU tua yang sudah tutup, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Duri hitam di telapak tangannya, tepat di bawah angka 7, terasa berdenyut mengikuti detak jantungnya. Setiap denyutan membawa rasa perih seperti disayat silet.

Ia teringat kata-kata pria di gudang: "Jangan pulang... Ibumu yang sekarang sudah lapar."

Arga mengambil koin emasnya. Ia mencoba melihat telapak tangannya sendiri melalui lubang koin itu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat duri hitam itu bukanlah benda mati, melainkan sejenis parasit gaib yang akarnya mulai menjalar menuju pembuluh darah di pergelangan tangannya.

"Ini bukan hadiah... ini racun," bisik Arga.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Bukan pesan teks, melainkan panggilan video dari "Ibu". Arga ragu, tapi rasa penasarannya lebih besar. Ia menekan tombol terima.

Layar ponselnya menampilkan suasana dapur rumahnya yang remang-remang. Kamera tampak diletakkan di atas meja makan. Di sana, ibunya sedang membelakangi kamera, berdiri di depan kompor. Suara gesekan sodet pada wajan terdengar nyaring di tengah malam yang sepi.

"Arga... kenapa belum pulang, Nak?" suara ibunya terdengar lembut, tapi ada nada yang menyeret di setiap katanya.

"Arga ada urusan, Bu. Ibu tidur saja," jawab Arga berusaha tegar.

"Ibu sedang masak nasi goreng kesukaanmu. Tapi bahannya habis... Ibu lapar sekali, Arga. Sangat lapar..."

Ibu Arga berbalik perlahan. Melalui layar ponsel yang retak, Arga melihat pemandangan yang mengerikan. Ibunya tidak sedang memasak nasi. Di dalam wajan itu, terdapat tumpukan kain kafan dan rambut panjang yang hangus terbakar. Wajah ibunya tampak pucat pasi, dan saat ia membuka mulut, bukan gigi manusia yang terlihat, melainkan barisan taring kecil yang tajam dengan cairan hitam menetes dari sudut bibirnya.

"Buka pintunya, Arga... Ibu tahu kamu di depan..."

DEG!

Bagaimana mungkin? Arga sedang berada di SPBU yang jaraknya 5 kilometer dari rumah. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan di kaca helm yang ia letakkan di atas tangki motor.

Tok... Tok... Tok...

Arga menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di permukaan kaca helmnya, terdapat bekas telapak tangan kecil berlumpur.

Ia sadar, makhluk itu bisa melacaknya melalui koneksi apa pun—termasuk ponsel. Arga segera mematikan ponselnya dan mencabut baterainya. Ia harus menemukan cara untuk mencabut duri di tangannya sebelum mencapai jantung.

Ia teringat satu tempat di catatan ayahnya: Gudang Sektor 0 - Tempat Sampah Nyawa.

Tanpa mempedulikan rasa sakit, ia memacu motornya kembali ke arah gudang, namun bukan ke pintu depan, melainkan ke area belakang yang dipenuhi rongsokan peti mati tua. Di sana, ia bertemu dengan sosok kecil bungkuk yang sedang menyortir label pengiriman. Itu adalah Si Pengumpul, entitas yang bertugas membuang paket-paket yang gagal.

"Tolong saya," ucap Arga sambil menunjukkan telapak tangannya.

Si Pengumpul menatap tangan Arga, lalu tertawa melengking. "Angka 7 dan duri pelacak? Kau sudah dicicipi oleh 'Ibu Semu', ya? Dia bukan ibumu, kurir kecil. Dia adalah penjaga yang diciptakan gudang untuk memastikan kurirnya tidak melarikan diri."

"Bagaimana cara mencabutnya?" bentak Arga.

"Hanya ada satu cara," Si Pengumpul menunjuk ke arah tumpukan peti mati yang paling besar. "Masuklah ke dalam peti tanpa nama itu. Mati sejenak. Jika kau bisa bangun sebelum fajar, duri itu akan mengira inangnya sudah busuk dan akan lepas sendiri. Tapi jika kau tidak bangun..."

"Aku akan menjadi bagian dari sampah ini selamanya," potong Arga.

Arga melihat angka di speedometer motornya yang masih menghitung mundur. Tersisa 18 jam.

Tanpa pilihan lain, Arga melompat ke dalam peti mati kayu yang pengap itu. Saat tutupnya tertutup rapat, kegelapan total menyergapnya. Di dalam sana, ia mulai mendengar suara-suara dari masa lalunya. Suara ayahnya yang asli, suara tangisannya saat bayi, dan suara seorang pria yang membisikkan angka-angka.

"Dua puluh delapan... dua puluh sembilan... tiga puluh... waktunya pulang, Arga."

Tiba-tiba, peti itu terasa panas. Duri di tangannya bereaksi hebat, seolah-olah sedang dipaksa keluar. Arga merasa paru-parunya mulai terisi air hitam. Ia tercekik di dalam peti mati itu.

Di ambang kesadarannya, ia melihat sebuah visi: Ayahnya sedang berdiri di depan pintu gudang yang besar, memegang kunci berbentuk angka 30, dan di sampingnya berdiri Arga kecil yang memegang paket pertama.

Arga tersadar akan satu hal: Tugasnya bukan mengantar paket, tapi mengumpulkan bagian tubuhnya sendiri yang hilang di setiap pengiriman.

Apakah Arga akan berhasil "bangun" dari kematian sementaranya, ataukah "Ibu Semu" akan menemukannya lebih dulu di dalam peti itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!