Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.8. I Will Keep You Safe
Enam bulan berlalu lagi dengan cepat, Theo sudah berumur tujuh dan benar-benar menyatu dengan tubuhnya. Dan selama enam bulan ini dia berhasil memahami apa yang harus di lakukan untuk menjadi lebih kuat dengan tubuh ini.
Theo menemukan kesimpulan, bahwa tubuh ini juga harus membangun pondasi sebelum benar-benar naik ke tingkat selanjutnya. Mana yang bisa mengalir ke suluruh tubuh seperti darahnya, dan itu bisa meledak kalau tubuhnya terlalu rapuh, dan dia bisa memutuskan kapan harus naik tingkat.
Seperti saat ini, bebrapa hari lalu Lily sudah memberi tahu bahwa tubuhnya sudah siap untuk naik tingkat. Tapi Theo ingin menundanya karena merasa tubuhnya belum optimal dan masih ingin memastikan.
Jadi dia memilih terus berlatih dengan Edric seperti biasa, dari pagi sampai siang. Dan saat sore dia akan ke perpusatakaan untuk mencari informasi dan pengetahuan dari buku, seperti saat ini.
Theo mengambil buku tentang ilmu pembuatan senjata, dia tida membukanya hanya memegangnya dengan kedua tangan dan menatapnya. Buku itu menghilang perlahan dan muncul lagi dengat cepat.
[TING]
[Ilmu pembuatan senjata kelas berat sudah di dapatkan dan sistem akan mempelajarinya]
“Waah, aku sudah melakukan ini selama tiga bulan. Tapi aku benar-benar belum terbiasa melihatnya,” ucap Theo, lalu mengembalikan buku itu ke tempatnya.
‘Hei, Lily sebenarnya kau ingin menyuruhku untuk apa?’ ucap Theo, berbicara dalam pikirannya.
‘Aku sudah melakukan ini selama tiga bulan, tapi ini semua hanya buang-buang waktu. Aku bisa membuat semua itu melalui ingatanku dulu,’ sambunya, sambil tetap mecari buku yang berguna.
[TING]
“Itu memang benar bahwa tuan bisa membuat itu semua, tapi yang membutuhkanya adalah saya.”
‘Apa maksudnya?’ tanya Theo.
[TING]
“Saat anda sudah mencapai ranah Elite, saya bisa membuat berbagai pil, ramuan dan senjata untuk anda. Jadi sekarang anda bisa fokus untuk menjadi kuat saja.”
Theo terdiam sebentar. Merasa ada yang aneh.
‘Benarkah? Itu hal yang selalu aku inginkan dari dulu’ ucap Theo dengan senyum di wajahnya. Tapi perasaan aneh itu terus mengusiknya.
Theo terus mengulang kegiatannya sampai malam hari.
.
Theo berjalan ke lantai dua perpustakaan.
Karena selama tiga bulan dia hanya menghabiskan waktu di lantai satu, hari ini dia ingin melihat buku tentang sejarah dan taktik perang yang ada di dunia ini.
Saat memasuki lantai dua, dia bisa melihat buku di sana lebih sedikit dari pada di lantai satu. Lalu dia mulai melangkah memasuki lorong rak dan buku.
Saat masih berjalan sebentar, Theo melihat ada bocah yang sedang duduk di lantai bersandar rak sedang membaca buku. Theo tersenyum dan mendekatinya.
“Bukankah kakak akan berangkat besok?” tanya Theo. Eirene menoleh lalu tersenyum.
“Apa adikku sekarang sangat suka dengan tempat ini,” ucap Eirene.
Theo hanya tersenyum lalu dia duduk di lantai berhadapan dengan Eirene.
“Apa yang kakak baca?” tanya Theo.
“Bukan apa-apa, hanya soal sejarah taktik perang dari kekaisaran Ashvale,” jawab Eirene, menunjukan bukunya.
“Apa kakak memang suka dengan hal semacam itu?” tanya Theo lagi, dia bingung karena bacaan itu tidak sesuai dengan usia Eirene.
Eirene tidak langsung menjawab, dia seperti berpikir.
“Mungkin... aku hanya suka membaca dari pada apa hal yang aku baca,” jawab Eirene.
Theo tertawa kecil mendengar itu.
“Lalu apa yang kamu lakukan di sini Theo?” tanya Eirene.
“Ah, aku hanya ingin sedikit tahu tentang beberapa hal,” jawab Theo sambil menggaruk kepala dan tersenyum kikuk.
“Bukankah kamu sudah terus ke sini selama tiga bulan terakhir,” ucap Eirene.
Theo kaget karena Eirene tahu akan hal itu.
“Bagaimana kakak tahu tentang itu?” tanya Theo penasaran.
“Aku selalu berada di sini,” jawab Eirene singkat.
Mendengar itu, Theo seperti mendengar sesuatu yang familiar.
“Lalu bagaimana saat di Akademi? Apa kakak juga akan menghabiskan waktu di perpustakaan seperti ini?” tanya Theo.
“Emmm... Entahlah aku tidak bisa tahu kalau belum sampai di sana,” jawab Eirene.
“Apa kakak memang ingin pergi?” tanya Theo lagi.
Senyum Eirene hilang saat mendengar itu.
“Sebagai anak kecil seperti kita, kita hanya bisa menuruti apa yang di suruh ayah dan ibu, kan?” jawab Eirene.
“Tapi... bohong kalau aku tidak takut saat membayangkan akan berada di tempat yang asing,” ucap Eirene, dia menatap Theo dan mencoba tersenyum.
Melihat itu Theo hanya bisa terdiam, perasaan familiar kembali muncul.
“Bagaimana denganmu Theo, apa yang ingin kamu lakukan? Ayah bilang tidak akan mengirimmu ke dalam Akademi,” tanya Eirene tiba-tiba.
Theo berpikir sebentar.
“Aku juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya, mungkin aku akan tiduran dan menikmati pelayanan di sini selamanya” jawab Theo bercanda, tertawa kecil agar suasans tidak menjadi berat. Eirene tertawa melihat tingkah dari Theo.
Setelah puas tertawa dan bercanda Eirene bangkit dari duduknya.
“Baiklah... kau bisa melakukan apapun yang kamu mau Theo, tapi kau harus tetap menjadi adikku yang manis,” ucap Eirene lalu mengelus rambut Theo dengan kasar.
“Aku akan pergi dulu, kakakmu ini harus menyiapkan kepergiannya,” ucap Eirene melangkah pergi.
Theo yang melihat punggung kecil Eirene langsung teringat dengan ucapan dari Lily.
“Hei, kak” panggil Theo.
Eirene membalikkan badannya, dan menatap Theo.
“Aku akan menjagamu,” ucap Theo singkat.
Eirene tersnyum lebar saat mendengar itu.
Dan itu adalah malam perpisahan dua saudara yang membawa angin takdir.
.
.
.
Satu minggu berlalu dengan cepat sejak malam itu, di kamarnya Theo sedang memfokuskan diri, bersiap untuk kenaikan tingkatnya.
Tak ada kesusahan yang berarti.
Tubuh dan Mana yang sudah di tahan Theo sudah cukup untuk mendobrak dinding untuk mencapai tingkat Disciple.
Setelah beberapa saat, lonjakan energi keluar dari tubuh Theo.
Theo membuka mata perlahan, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu bangkit dan berjalan ke arah balkon yang ada di ruangannya.
Theo memandang langit luas.
“Hei Lily, menurutmu apa yang harus aku lakukan saat ini,?”
[TING]
“Menjadi lebih kuat.”
Theo mendengus pelan mendengar itu.
Lalu ada suara ramai mengalihkan pandangannya.
Terlihat banyak prajurit kekaisaran sedang berbaris. Mereka semua tampak gagah dengan baju dan perlengkapan prajurit yang di pakainya.
Di belakang mereka, ada sekelompok orang yang berbeda. Tak ada baju atau perlengkapan seperti prajurit.
“Prajurit bayaran?” gumam Theo.
Theo tersenyum dengan lebar.
“Sepertinya akan menyenangkan.”
.