Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
" Ah.. Sial! " Brian membanting berkas di depannya dengan raut wajah terlihat sangat kesal.
Perubahan sikap yang di tunjukan Inara di pagi ini benar - benar membuatnya tak bisa fokus.
Terutama pada saat rapat penting yang ia lakukan di pagi ini berlangsung.
Semuanya terlihat kacau. Dengan pikiran Brian yang malah selalu tertuju pada Inara.
Ada apa dengan gadis itu?
Kenapa dia bersikap acuh seperti itu?
Bayangan raut wajah dingin yang di tunjukan Inara seolah selalu membayangi Brian.
Dan jujur saja. Ini baru kali pertama ia melamun di saat rapat penting seperti ini.
Padahal selama ini Brian di kenal dengan ketegasan serta kecermatannya dalam bekerja.
Tapi sekarang..
Entahlah..
Hampir semua orang yang ada di perusahaan itu pun saat ini sedang menjadikan Brian sebagai topik utama karena keanehan sikap yang di tunjukan oleh pria itu.
Brian menekan tombol yang ada di dekatnya. Dan berucap. " Bawakan aku kopi."
" Kopi? Tapi tuan. Ini sudah kali kelima anda meminta kopi pada saya, tuan." ucap Daniel kepada Brian dari seberang intercom sana.
Baru juga jam segini. Atasannya itu malah sudah meminum lima cangkir kopi.
Ada apa sebenarnya dengan pria itu?
Kening Daniel berkerut dalam. Seolah sedang berpikir. Alasan apa yang bisa membuat tuannya yang biasanya bersikap bagai seorang pria sempurna, malah jadi bersikap aneh seperti ini.
" Buatkan saja. Sepertinya aku butuh banyak kopi di pagi ini."
Panggilan itu terputus. Dengan helaan nafas panjang nan berat Brian keluarkan dari dalam mulut.
Sampai benda pipih yang ada di atas meja berbunyi.
kedua mata Brian yang sempat terpejam pun perlahan terbuka. Dan sempat melirik ke arah layar ponsel yang menyala itu.
Tertera nama Anita di sana.
Alih - alih langsung mengangkat. Brian hanya meliriknya sekilas. Kemudian malah menutup matanya lagi.
Seolah - olah panggilan itu tak begitu penting untuknya.
Sampai panggilan itu berhenti berdering sendiri. Berganti dengan nada pesan masuk ke ponsel Brian.
Brian yang terlihat sedang malas pun akhirnya memilih untuk membuka kedua matanya kembali. Dan mengambil benda pipih berwarna hitam miliknya itu.
Layar ponsel ia usap. Dan membaca isi pesan yang di kirimkan oleh Anita.
Sebuah foto cincin terlihat di sana. Dengan isi pesan. Cincin ini cantik. Apakah aku boleh membeli cincin ini?
Jari Brian mengetik beberapa kalimat singkat dan terkirim.
" Belilah."
Begitulah kira - kira satu kalimat yang Brian kirimkan untuk Anita.
Sampai sebuah pesan balasan kembali masuk begitu cepat.
" Tapi harganya sangat mahal. Apakah tidak apa - apa jika aku membeli ini? " tanya Anita lagi. Dengan menunjukan harga yang tertera pada etalase cincin itu.
540 juta dollar hanya untuk satu cincin.
Harga yang sangat terlihat mahal memang untuk seukuran satu cincin berukuran kecil.
Namun karena tak ingin membuat hati Anita kecewa. Apalagi saat ini wanita itu sedang mengandung benih cinta darinya.
Membuat Brian tak tega menolak keinginan calon ibu dari anaknya itu.
Selain itu, jumlah uang 540 juta dollar tak begitu berarti bagi Brian. Mengingat betapa banyaknya harta kekayaan yang selama ini pria itu miliki.
" Belilah Anita. Belilah apa yang kamu mau. Jangan sampai anak yang ada di dalam kandunganmu menjadi anak yang suka mengeluarkan air liur ketika lahir nanti."
Mata Anita langsung berbinar cerah.
Sudah ia duga sebelumnya. Brian pasti akan mengabulkan apa pun yang ia inginkan.
Mengingat jika dulu ia selalu di manjakan oleh pria itu. Apalagi sekarang, saat ia hamil anak Brian.
Maka makin menjadilah pria itu memanjakannya.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra