NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diselamatkan Hazel

“Berikan gadis itu!” perintah Pak Vincent dengan nada marah. Kepalanya terasa berdenyut hebat, sisa pukulan yang baru saja ia terima membuat emosinya makin tak terkendali.

“Kalau saya tidak mau, Anda mau apa?” jawab Hazel tegas. Tangannya masih merangkul Maira yang tak sadarkan diri, tubuh gadis itu bersandar lemah di dadanya.

“Saya tidak ingin membuat permasalahan dengan Anda!” Pak Vincent mendekat setapak, suaranya ditekan.

“Jadi lebih baik Anda serahkan gadis itu baik-baik!”

Hazel tidak bergeming. Pandangannya tetap dingin, seolah ancaman itu sama sekali tak berarti. Ia melirik ke arah dua karyawannya yang berdiri tak jauh dari sana.

“Adi, Rafi, tolong bawa perempuan ini ke ruangan saya,” perintah Hazel tanpa menoleh lagi.

Pak Vincent semakin kesal. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras menahan amarah.

“Saya berhak atas perempuan itu!” bentaknya.

“Saya sudah membayar untuk dirinya!”

Hazel menyunggingkan senyum tipis, lebih mirip ejekan.

“Sepertinya dia menolak. Makanya dia kabur dari Anda, bukan?”

“Kamu tidak tahu siapa saya, hah?” Pak Vincent meninggikan suaranya.

“Saya Vincent Roberto!” lanjutnya penuh ancaman.

“Jadi kamu tahu sendiri akibatnya kalau cari gara-gara dengan saya!”

Hazel tetap tenang. Tidak ada sedikit pun rasa gentar di wajahnya.

“Saya tidak peduli Anda Vincent Roberto atau siapa pun,” ucapnya datar.

“Yang jelas, Anda sudah membuat keributan di tempat saya. Dan untuk itu, Anda layak diusir.”

Hazel melangkah mendekat, menatap Pak Vincent lurus-lurus.

“Dan saya rasa Anda juga harus tahu siapa saya,” sambungnya.

“Saya Hazel Dinata. Ingat nama itu.”

“Apa?” Pak Vincent terdiam. Wajahnya seketika berubah pucat.

“Ka… kamu Hazel Dinata?”

Nyalinya langsung menciut. Tanpa berkata apa pun lagi, Pak Vincent menunduk singkat lalu berbalik pergi begitu saja.

Sementara itu, Hazel berjalan menuju ruangannya bersama Maira yang dibawa oleh Adi dan Rafi. Ia sempat memberi isyarat singkat kepada karyawannya yang lain.

“Pastikan orang itu keluar dari hotel ini. Jangan biarkan dia kembali.”

Perintah itu langsung dijalankan, meninggalkan lorong hotel yang kembali sunyi, seolah keributan barusan tak pernah terjadi.

_

_

Maira membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sedikit berat, namun bukan itu yang membuatnya terkejut. Ia mendapati dirinya berbaring di atas sebuah sofa empuk yang jelas bukan miliknya. Dengan gerakan hati-hati, Maira mencoba duduk. Pandangannya menyapu seisi ruangan kerja yang luas dan rapi, penuh dengan nuansa maskulin yang terasa asing baginya.

“Kamu sudah bangun?” suara Hazel terdengar lembut dari arah pintu ruangan. Dia kemudian masuk dan melangkah mendekat, lalu meletakkan segelas teh hangat di atas meja kecil di depan Maira.

Maira mengangguk pelan. “Hmm…”

“Minum dulu. Biar agak tenang,” ucap Hazel singkat, lalu mengambil sesuatu dari lemari kecil di sudut ruangan.

“Pakailah.” Hazel menyerahkan sebuah kemeja padanya.

“Aku memang biasa menyimpan baju ganti di kantor.”

Maira menerima kemeja itu dengan tangan sedikit gemetar. Tanpa banyak bicara, ia segera mengenakannya dan menutupi tubuhnya. Gaun yang ia pakai sekarang memang terasa terlalu terbuka dan membuatnya tidak nyaman.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

Ia menatap Hazel, sorot matanya dipenuhi rasa syukur yang tulus.

“Terima kasih, Pak Hazel. Anda sudah menyelamatkan saya tadi.”

Hazel hanya mengangguk kecil. “Sama-sama.”

Maira terdiam sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Dia…”

“Dia sudah kami usir dari hotel ini,” potong Hazel tenang, seolah sudah memahami apa yang ingin ditanyakan Maira.

“Kamu sudah aman. Tidak akan ada yang mengganggumu lagi malam ini.”

Hazel tidak bertanya lebih jauh. Ia memilih diam, karena ia tahu tidak semua luka perlu dikorek dengan pertanyaan.

“Oh…” Maira menghela napas lega, meski dadanya masih terasa sesak mengingat yang terjadi tadi.

“Kalau begitu, saya pamit dulu.”

Ia mulai berdiri, namun langkahnya sedikit goyah.

“Biar saya antar,” tawar Hazel spontan.

Maira menoleh cepat.

“Tidak usah, Pak. Saya takut merepotkan Anda.”

“Sudah hampir tengah malam. Akan susah cari kendaraan umum,” jawab Hazel apa adanya.

“Saya bisa pesan ojek,” Maira mencoba menolak dengan sopan.

“Saya juga mau pulang kok,” Hazel tersenyum tipis.

“Sekalian saja.”

Maira terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah.”

Mereka berjalan keluar dari ruangan kerja itu bersama. Saat melewati lobi hotel, beberapa karyawan yang masih bertugas sempat melirik ke arah mereka. Maira menunduk, merasa tidak nyaman. Sementara Hazel tetap berjalan santai, seolah tidak peduli dengan tatapan-tatapan itu.

“Anda tidak takut digosipkan karyawan Anda?” tanya Maira pelan.

“Apalagi saya seorang wanita malam…dan Anda sudah punya istri.”

Hazel menoleh sekilas, lalu menjawab tanpa beban, “Saya tidak terlalu peduli dengan ucapan yang belum tentu benar.”

Hazel membukakan pintu mobil untuk Maira.

“Naiklah!”

Maira masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Tak lama kemudian Hazel sudah duduk di kursinya sendiri dan menyalakan mesin mobil.

“Kamu mau diantar ke mana?” tanya Hazel sambil melajukan mobil keluar dari area hotel.

“Ke klub malam,” jawab Maira singkat.

“Tempat saya bekerja.”

Hazel meliriknya sekilas.

“Kamu masih akan bekerja setelah kejadian tadi?”

“Tidak,” Maira menggeleng.

“Saya tinggal di sana. Ada kamar khusus untuk para wanita yang bekerja di sana.”

“Ooh…” Hazel mengangguk pelan. Ada nada penyesalan di suaranya karena sempat bertanya terlalu jauh.

Sepanjang perjalanan, Hazel sesekali melirik Maira. Wanita itu tampak termenung, menatap kosong ke arah jalanan yang diterangi lampu kota. Wajahnya terlihat lelah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Ada rasa iba yang perlahan tumbuh di hati Hazel.

Sementara itu, Maira tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia masih tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Hazel tidak datang menolongnya malam ini. Mungkin hidupnya akan benar-benar hancur. Sesuatu yang selama ini ia jaga mati-matian hampir saja direnggut secara paksa.

Namun yang paling menyakitkan baginya adalah kenyataan tentang mamanya. Wanita yang seharusnya melindunginya justru dengan mudah menjual dirinya kepada Vincent Roberto. Peristiwa itu mengingatkannya pada masa lalu, saat ia masih remaja. Saat ia juga “dijual” kepada Mami Rose, atau lebih tepatnya kepada mamanya Roy, untuk dijadikan wanita malam.

Beruntungnya, Mami Rose tidak sekejam bayangannya. Wanita itu masih memiliki hati. Ia tidak pernah memaksa Maira melayani tamu. Bahkan ia menyetujui satu permintaan Maira, untuk tetap menjaga kesuciannya meski hidup di dunia yang kotor.

Bertahun-tahun berlalu. Maira berpikir semua itu sudah berlalu.Namun ternyata tidak.Kini, mamanya kembali berulah. Kembali menjual dirinya, seolah Maira tak lebih dari sekadar barang dagangan.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!