NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Di Gerbang Hijau Bab 13: Benih Inovasi Di Balik Mendung

Sore itu, suasana di halaman rumah Valaria diselimuti ketenangan yang syahdu. Suara jangkrik mulai bersahutan, menyambut pergantian hari. Cahaya matahari yang kian meredup menyelinap di antara celah genteng, menciptakan garis-garis emas yang menyinari partikel debu yang menari di udara.

Valaria duduk santai di balai-balai kayu yang permukaannya sudah halus dimakan usia. Di sampingnya, Raka, adiknya, duduk menunduk. Bibirnya mengerucut, tanda otaknya sedang bekerja keras memecahkan teka-teki.

"Baiklah, kita sudah selesai dengan penjumlahan. Kamu sudah pintar menghitung ayam dan kambing," kata Valaria lembut namun tegas. Ia menyingkirkan lidi-lidi yang tadi digunakan sebagai alat bantu hitung. "Sekarang, kita beralih ke ilmu yang paling penting: membaca."

Raka mendongak. Matanya yang bulat memancarkan rasa ingin tahu yang murni. "Membaca itu seperti apa, Kak?"

Valaria tersenyum tipis. Ia mengambil selembar daun lontar kering yang telah dibersihkan. Di atas permukaan daun itu, Valaria telah menggoreskan guratan-guratan sederhana menggunakan arang halus. Bentuk-bentuk itu bukan sekadar garis acak, melainkan fondasi dari segala pengetahuan.

"Membaca itu seperti menemukan kunci untuk membuka kotak harta karun. Tapi sebelum mendapatkan hartanya, kita harus mengenali bentuk kuncinya dulu," jelas Valaria sembari menunjuk huruf pertama. "Ini namanya huruf A. Bunyinya seperti kalau kamu sedang terkejut: 'Aaa!'"

Raka menirukannya dengan suara cempreng yang menggemaskan. Gelak tawa kecil pecah dari bibir Valaria.

"Bagus. Hafalkan sedikit demi sedikit, jangan dipaksakan. Ini adalah bekalmu untuk masa depan, Raka."

Sembari Valaria membimbing adiknya, di teras depan, Ayah dan Ibu tampak tenggelam dalam kesibukan. Di atas tikar pandan, di bawah temaram lampu minyak yang berkedip ditiup angin sore, mereka sedang melakukan pembukuan. Setiap keping koin logam dan lembaran uang dihitung dengan penuh kecermatan.

"Pendapatan minggu ini lumayan, Istriku. Jajanan singkongmu laku keras," ujar Arjun, sang Ayah, sembari menghela napas lega. Ia menyeka peluh di dahi dengan ujung lengan bajunya. "Ini total yang kita dapatkan. Menurutmu, apakah kita akan melanjutkan dagangan jajanan singkong ini?"

Ibu memandangi Valaria dan Raka sejenak. Ada gurat syukur sekaligus kelelahan yang nyata di wajahnya. Sebelum Ibu sempat menjawab, Valaria yang sedari tadi mencuri dengar, segera mendekat.

"Ayah, Ibu, jika boleh aku memberi saran, sebaiknya kita berhenti memproduksi jajanan singkong yang lama," tukas Valaria tenang.

Wajah Ibu seketika berubah cemas. "Kenapa, Nak? Apa jualanmu ada yang komplain? Tidak laku?"

"Bukan tidak laku, Bu," jawab Valaria cepat guna menenangkan hati ibunya. "Tetapi kita harus berpikir lebih jauh. Saat ini, hampir semua orang di desa membuat olahan singkong yang serupa. Kita terjebak dalam persaingan yang melelahkan, padahal proses pembuatannya memakan waktu seharian. Aku ingin kita mencoba membuat tepung singkong."

Ayah mengerutkan kening, tampak sangsi. "Tepung? Untuk apa? Kita kan punya beras."

"Benar, Ayah. Tapi lihatlah, beras belum memasuki masa panen raya dan harganya terus melambung. Jika kita bisa memproduksi tepung singkong yang halus dan berkualitas, kita bisa menciptakan pasar baru. Kita bisa membuat kue kering, bubur, atau bahan pengental masakan. Kita tidak boleh hanya mengikuti arus pasar; kita harus menciptakan pasar kita sendiri," jelas Valaria dengan mata yang berbinar penuh ambisi.

Ibu terdiam, menatap putrinya dalam-dalam. Ia melihat kilatan kecerdasan yang luar biasa semangat yang jauh melampaui usia gadis seusianya. Keputusan ini berisiko, namun secara logika sangat masuk akal.

"Baiklah, Nak," kata Arjun akhirnya dengan nada mantap. "Ayah percaya padamu. Kita akan mencoba cara baru ini."

Malam pun jatuh memeluk desa. Mereka berkumpul di meja makan sederhana. Piring-piring gerabah berisi nasi jagung dan lauk pauk tersaji di sana. Namun, malam ini ada yang berbeda. Ibu menyajikan dedaunan hijau segar sebagai pendamping sambal.

Raka mengambil sehelai daun pohpohan, mencocolnya ke sambal tempe yang pedas-manis, lalu mengunyahnya dengan hati-hati. Wajahnya seketika cerah.

"Wah! Enak! Ini daun apa, Kak?" tanya Raka dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.

Valaria tersenyum puas. "Itu namanya pohpohan. Aku menemukannya di dekat aliran sungai dekat sawah tadi siang. Karena terlihat segar, aku coba bawa pulang."

Melihat antusiasme Raka, Ayah pun penasaran. Ia mengambil sehelai pucuk pakis muda yang tampak renyah. Kriuk! Suara renyah itu memecah keheningan malam.

"Hmm! Kamu benar, Valar! Pakis muda ini luar biasa renyah. Berpadu sempurna dengan pedasnya sambal tempe," puji Ayah sembari mengangguk-angguk puas.

Hati sang Ibu, buncah oleh kebahagiaan. Baginya, keberhasilan kecil di meja makan adalah pelipur lara terbaik setelah seharian bekerja keras. Makan malam itu pun berlangsung hangat, penuh tawa, dan rasa syukur.

Keesokan paginya, udara persawahan terasa lembap dan sejuk. Aroma tanah basah dan sisa embun menyeruakan kesegaran. Valaria dan Ayah sudah berada di ladang sejak subuh, menyiapkan lahan untuk penanaman bibit.

Saat Valaria sedang membungkuk mencabut gulma, sebuah suara sinis memecah konsentrasinya.

"Valaria!"

Laksmin, tetangga mereka yang terkenal gemar mencampuri urusan orang, berjalan menyusuri pematang dengan langkah angkuh. Wajahnya yang tampak berminyak menunjukkan rasa penasaran yang tidak sehat.

"Aku mencarimu di pasar, tapi katanya tidak jualan hari ini. Jadi aku ke sini," ujar Laksmin tanpa basa-basi. "Kenapa kamu tidak membantu ibumu berjualan lagi? Apa kamu sudah bosan, atau memang jualan kalian sudah tidak laku lagi?"

Valaria menegakkan tubuhnya, mengusap sisa lumpur di tangannya. Ia merasakan darahnya sedikit mendidih mendengar nada tuduhan itu. Namun, ia teringat pesan ayahnya untuk tetap berkepala dingin. Ia hanya diam, memilih untuk tidak memberi panggung pada drama yang diinginkan Laksmin.

Ayah yang menyadari situasi segera menimpali dengan suara tenang namun berwibawa. "Kami sedang menyiapkan lahan, Laksmin. Kepala desa memberi jatah bibit padi untuk setiap warga. Kami harus menyelesaikannya sebelum musim hujan benar-benar tiba."

Laksmin mendengus, tampak kecewa karena tidak mendapatkan jawaban dramatis atau kemarahan dari Valaria. Dengan gerutuan tidak jelas, wanita itu akhirnya melenggang pergi.

Setelah urusan ladang selesai, Valaria merasa perlu menjernihkan pikiran. Ia berpamitan pada ayahnya untuk mencari bahan percobaan tepung singkong di tepi hutan yang berbatasan dengan bukit.

Hutan itu selalu terasa damai, namun sore ini ada yang berbeda. Saat ia mulai menanjak, bulu kuduknya meremang. Ia merasakan sebuah kehadiran sepasang mata yang mengikutinya dari balik kerimbunan pohon.

Valaria tidak panik. Ia adalah gadis yang cerdik. Ia tetap berjalan tenang, berakting seolah-olah ia hanyalah gadis polos yang sedang menikmati alam. Setibanya di sebuah mata air jernih, ia berjongkok dan mencelupkan tangannya ke air yang dingin menusuk tulang.

Ia memercikkan air ke wajahnya, menutup mata, dan membiarkan angin hutan membelai kulitnya. Ia ingin menunjukkan kepada pengintainya bahwa ia tidak menyadari keberadaan mereka. Pohon-pohon raksasa dengan lumut hijau tua menjadi saksi bisu sandiwara Valaria.

Namun, ketenangan itu terusik oleh alam. Langit yang semula biru pucat mendadak berubah menjadi abu-abu keunguan yang pekat. Mendung tebal menggantung, pertanda badai akan segera datang.

Saat ia bergegas hendak turun, sebuah teriakan parau terdengar dari kaki bukit.

"Valaria! Valaria! Cepat turun, Nak! Kita harus pulang sebelum hujan badai!" teriak Arjun dengan nada penuh kekhawatiran.

Valaria segera berlari menuruni lereng. Rasa dingin akibat air sungai yang menempel di kulitnya kini berganti dengan gigilan cemas. Ia tahu, misteri tentang siapa yang mengikutinya harus disimpan untuk hari lain. Saat ini, keselamatannya dan rencana besar untuk masa depan keluarganya adalah yang utama. Di tengah rintik hujan pertama yang mulai jatuh, Valaria berlari membawa harapan baru dalam dekapannya.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!