"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisik-bisik Orang Dewasa
"Kak, kita jajannya di mana?” Alisya menatap lembaran lima ribuan yang dipegangnya.
“Tempat Bude Ratih saja, ya, Dek. Beli mi kocok pedas?” tawar Rara.
Adiknya mengangguk, matanya berbinar.
Sejak liburan, ayah memang lebih sering memberi mereka uang jajan. Namun entah kenapa, kali ini Alisya tidak langsung melangkah pergi. Ia memandangi uang di tangannya lebih lama dari biasanya.
“Kak,” suaranya merendah.
“Kok sekarang tiap hari Ayah diantarkan kopi sama wanita itu?”
Alisya menoleh ke arah kakaknya yang tetap diam.
“Hubungan orang dewasa itu rumit, ya?” lanjutnya polos.
"Waktu malam itu, dia datang, Ayah begitu marah sama aku." Alisya menjeda ucapannya.
"Wanita itu juga marah-marah. Sekarang Ayah malah berteman?" gumam Alisya berlanjut. Rara hanya mendengar ocehan adiknya tanpa menjawab.
Pikiran Rara melayang pada sosok ibu. Sudah setahun perempuan itu pergi tanpa kabar.
Apakah ibu masih merindukan mereka?
Tak terasa mereka sampai di warung jajanan, tapi bukan warung jajan makanan ringan. Melainkan warung jajanan tradisional—miso, sosis goreng, dan aneka gorengan.
"Eh, berdua beradik?" ucap ibu penjaga warung.
"Bentar lagi kalian punya ibu baru, loh," ucapnya sumringah.
Rara tersentak. Kata-kata itu menancap di kepalanya, membuat dadanya mendadak sesak.
Mereka memperbincangkan ayahnya, Rara hanya mendengar sekilas.
"Ini minya Dek," ucap ibu warung. Menyodorkan dua bungkus mi ke mereka.
Rara menyodorkan lembaran lima ribuan ke ibu itu.
"Sisanya mau beli es nggak dek?" tawar ibu itu ramah.
Rara memandang adiknya. Lalu mengangguk setuju.
Selesai es dibuat, mereka menentengnya pulang. Namun baru beberapa langkah dari tempat ibu warung, anak nakal itu berpapasan dengan mereka. Ia menoleh Rara dengan tatapan sinis. Di atas bibirnya ada tahi lalat.
"Eh Lea, akur-akur ya, besok mau jadi saudara, loh." Ibu-ibu di warung menegur anak perempuan tersebut. Ia tak menyahut, pergi begitu saja meninggalkan Rara dan adiknya.
"Kenapa ya, Kak, dia selalu jahat sama kita?" ujar Alisya setelah anak perempuan itu pergi.
"Dia kan anaknya ibu-ibu yang mengantar kopi tiap pagi itu," Rara membuang napas panjang.
"Apa jangan-jangan ibunya cuma kelihatan baik ya, Dek?" ucap Rara lagi. Alisya menggeleng tak paham.
"Kak, Ayah mau nikah ya? terus ibu bagaimana?" Rara membisu. Pertanyaan Alisya membuat ia tercekat, ia menelan air ludah.
Sampai sekarang ibu tak juga ada kabar. Ayah juga tidak pernah membahas ibu. Tiba-tiba saja mendengar kalau mereka mau punya ibu baru. Rara mempercepat langkahnya. Alisya setengah berlari mengejarnya.
"Kak Rara, kenapa jalannya cepat banget?" ucap Alisya ngos-ngosan. Rara tetap diam. Ia makin memacu langkahnya.
Alisya terus mengejar kakaknya. Angin sepoi-sepoi mengibaskan rambut panjangnya. Embung penuh dengan anak-anak berenang bebas, Rara sama sekali tak peduli.
Ketika hampir sampai dari rumah, langkahnya dihentikan oleh ayahnya.
"Kenapa Ra?" tegur ayahnya. Rara menunduk lalu menggeleng.
"Nggak ada, Yah." ucapnya singkat.
"Kenapa adik mengejarmu begitu?"
"Kalian bertengkar?"
"Nggak kok, Yah. Tapi kata ibu-ibu di sana kami mau punya ibu baru!" jawab Alisya polos.
Ayah terdiam, bagai disambar petir. Rahangnya mengeras, giginya berderak tertahan. Pertanyaan Alisya benar-benar membuatnya tak berkutik.
Ia terdiam cukup lama.
"Sudah sekarang cepat habiskan jajahannya, setelah itu mandi!" lelaki itu pergi begitu saja. Rara dan Alisya saling menatap.
"Rara! Alisya! Mandi yuk?"
Suara Arini memecah kebisuan mereka. Arini melambaikan tangan dari arah embung.
"Mandi yuk!!" teriaknya dari kejauhan.
"Mandi yuk, Kak!" Alisya merengek.
"Jangan berenang lagi, nanti digigit lintah, Kakak nggak mau bantu!" tegasnya keras.
"Iya Kak, Alisya janji. Mandinya pakai gayung aja." balasnya memelas.
Rara berjalan ke dalam rumah mengambil handuk dan sabun. Sekilas Rara melihat ayahnya termenung di pintu dapur, menyulut api rokok.
Lelaki itu tampak penuh beban, wajahnya gelisah, sorot matanya tajam dan kosong.
Rara berlalu tidak berani menyapanya.
Ia berjalan menyusul Arini. Dari seberang embung terdengar suara ribut monyet-monyet nakal, mereka saling berkejaran. Di embung suara anak-anak juga bergema, mereka berenang dengan riang gembira. Dari tengah embung, ibu-ibu yang menggosok pakaian kotor juga terdengar saling bersahutan.
Matahari perlahan turun ke peraduan, pertanda petang menjelang. Kali ini Rara tak lagi seperti biasanya—wajah cerianya memudar, digantikan perasaan yang belum mampu ia mengerti.