NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Setelah kesadarannya kembali

Raina memutuskan pulang menjelang dini hari setelah mendengar kabar bahwa Julian sudah sadar, meski masih sangat lemah. Setelah hampir seminggu penuh mondar-mandir dari warung, kosan, dan rumah sakit, kabar itu memberi ruang kecil untuk bernapas. Ia pulang sebentar untuk mandi, makan, dan tidur tanpa alarm.

Namun pagi itu rumah sakit terasa berbeda bagi Raina. Lebih tenang, lebih asing, dan entah kenapa… lebih mencekam. Semalam ia pulang dengan sedikit kelegaan setelah melihat Julian sadar, walau masih sangat lemah. Tapi begitu ia kembali pagi ini, rasa lega itu runtuh seketika. Tempat tidur di ruang ICU itu kosong. Sepi. Hanya selimut terlipat rapi dan aroma antiseptik yang sama sekali tidak menjelaskan apa pun.

Panik langsung merayap di dadanya.

Ia hampir berlari ketika menemukan perawat yang mengenalinya.

“Maaf… pasien yang semalam ada di ICU… dia ke mana?”

Perawat itu menatapnya dengan tenang, lalu menunjuk ke arah lorong lain.

“Pasiennya sudah dipindahkan mbak Ke VVIP Suite. Kondisinya membaik, jadi pemulihan lebih aman dilakukan di ruangan yang tenang. Ada pihak internal rumah sakit yang mengurus administrasinya.”

"Mari saya antar"

Raina mengangguk walau pikirannya berkabut.

"Semudah itu?emang bisa kayak gitu ya?" Beragam pemikiran berputar di kepala Raina atas kebingungannya.

Ia tidak mengurus apa pun.

Ia tidak punya uang untuk ruangan seperti itu.

Ia bahkan bukan keluarga Julian.

Dengan langkah yang ragu, ia menyusuri lorong hingga tiba di depan pintu bertuliskan VVIP Suite.

Perawat menepuk bahunya lembut.

“Pasiennya sudah bisa merespon walau masih sangat lemah. Silakan,”

Raina hanya mengangguk.

Ia mengetuk pelan, hampir tidak terdengar, lalu masuk.

Julian terbaring dengan mata setengah terbuka. Pucat, lelah, tapi sadar. Nafasnya teratur. Kabel infus masih terpasang, namun monitor menunjukkan angka-angka yang lebih stabil.

Tatapannya bergerak pelan… lalu berhenti pada sosok Raina.

Raina menunduk sedikit. Suaranya keluar pelan, serak oleh rasa canggung yang mengebu.

“Selamat pagi….”

Ia memaksakan senyum kaku. “Saya tadi ke ICU… kaget karena pasien sudah dipindahkan.”Ucap Raina canggung pada sang dokter.

Dokter tersenyum "tidak apa-apa Bu, sebenarnya kami minta maaf karena tidak langsung mengabari tentang pemindahan pasien ke ruangan ini. Apa perawat di sana sudah menjelaskan tentang administrasinya?"

Raina mengangguk “Keadaannya gimana, Dok"?"

Julian hanya diam mengamati interaksi wanita yang pertama ia lihat begitu ia sadar dengan sang dokter.

“Stabil. Sudah sadar penuh, tapi tubuhnya masih butuh waktu untuk pulih. Trauma benturan cukup berat, jadi kami pindahkan ke sini supaya lebih tenang.”

“Oh… baik, Dok.”

Raina mengangguk lagi—untuk kesekian kalinya hari itu.

Dokter memberi beberapa instruksi lalu pamit keluar, meninggalkan Raina dan Julian dalam keheningan yang tak nyaman.

Raina kembali menatap Julian, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Setelah kepergian dokter suasana di dalam ruangan jadi terasa semakin canggung.

Ruangan itu terlalu besar, terlalu mewah, terlalu sunyi.

Raina berdiri canggung, seolah kehadirannya tidak seharusnya berada di tempat seperti itu.

Julian terbaring dengan mata setengah terbuka, jelas masih lemah, tetapi sadar. Tatapannya langsung mengarah padanya, bingung namun fokus.

“Maaf” bisik Raina, suaranya nyaris pecah. Ia mendekat setapak, lalu berhenti lagi. “Kamu pasti masih bingung ya? .”

Julian mencoba bicara—gerakan bibir yang pelan dan terputus. Raina cepat-cepat menggeleng lembut.

“Jangan dipaksa ngomong dulu. Dokter bilang kamu harus hemat tenaga.”

Tatapan Julian mengandung seribu pertanyaan. Tentang apa yang terjadi, siapa dirinya, kenapa ia ada di sini.

Raina berusaha memahami tatapan Julian.

"Oh ya.... Kamu bisa panggil aku Raina..." Hening sesaat.

Raina memilih duduk tak jauh dari tempat tidur Julian saat ini.

" Emmm... Kamu pasti bingung kenapa bisa sampai disini dan karena apa?!!..."

"Aku akan ceritakan semuanya tapi tolong bersabar ya, lebih baik sekarang kamu istirahat dulu.aku akan ceritakan semuanya begitu kondisimu benar benar di nyatakan aman oleh dokter" Terang Raina pelan nan lembut,dia tersenyum kecil terkesan canggung.

Julian menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang seperti ucapan terima kasih yang tidak bisa terucap.

---

Beberapa ruangan dari sana, Daniel berdiri tegap di depan dokter yang menangani Julian. Wajahnya seperti topeng: datar, profesional, tapi di balik itu penuh analisis tersembunyi.

“Sejauh ini, kondisi jantung dan tekanan darahnya stabil,” jelas dokter. “Kesadarannya sudah pulih penuh, tapi tubuhnya masih sangat lemah. Trauma fisik dan kehilangan darah cukup besar.”

Daniel mengangguk pelan.

“Berapa lama sampai dia bisa bicara normal?”

“Jika tidak ada komplikasi, satu sampai dua hari.”

“Baik.”

Nada Daniel tenang, tapi sorot matanya tajam.

“Bagaimana dia sampai ke sini?”

Dokter ragu sejenak.

"Dari cerita yang beredar seorang perempuan menemukannya di sebuah jurang dangkal pinggir jalan, polisi sudah menangani kasusnya juga, tapi sepertinya belum ada perkembangan berarti, anda sebagai asisten pribadinya malah yang lebih gesit" Jawab sang dokter terkekeh kecil.

"Jadi wanita itu yang slama ini menunggui pasien?"

"Yang saya dengar begitu, menurut saya dia gadis yang terlalu baik. Rela mengorbankan waktunya hanya untuk menolong seseorang yang dia tidak kenal hingga sampai di titik ini" Jawab sang dokter sedikit acuh tak acuh.

Daniel menyimpan informasi itu dalam diam.

Raina.

Sekarang ia tahu wajahnya, namanya, profesinya, rekam jejaknya.

Dan ia tahu satu hal: perempuan itu tidak punya motif apapun selain hanya menolong.

“Terus pantau semua akses masuk ruangannya,” perintah Daniel. “Tanpa membuat pasien dan wanita itu terganggu.”

Dokter mengangguk.

---

Ketika Daniel selesai dengan dokter, Raina masih duduk di kursi dekat tempat tidur Julian. Ia menjaga jarak sopan, tidak terlalu dekat, namun cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat pergi.

Julian, yang matanya kembali setengah terbuka, memperhatikannya. Tidak menuntut, tidak memaksa. Hanya mengamati dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Raina mengusap lini tasnya pelan, gugup oleh intensitas tatapan itu.

“Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa bicara perlahan... A.. aku akan coba mendengarkan ”Ucap Raina antara gugup dan canggung.

Julian memejamkan mata untuk menghemat tenaga, tapi sebelum itu, ada satu gerakan kecil—halus, hampir tak terlihat—yang membuat Raina terpaku.

Sebuah isyarat, tapi apa itu???

Raina mengerutkan keningnya, dia mencoba memahami ketulkan jari telunjuk Julian dengan perlahan.

Raina menarik napas dalam-dalam.

“kamu...mau aku tetap di sini?"Tanya Raina begitu memahami isyarat dari Julian.

Dan langsung di anggukin oleh Julian secara perlahan.

" Baik. Aku di sini…nggak akan kemana mana ”

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa sedikit lebih tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!