"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku hamil
Dengan ragu, Nero mengusap punggung gadis itu dengan lembut tak lupa menepuknya beberapa kali seolah memberikan ketenangan.
Ele menenggelamkan wajahnya ke dada bidang pria itu. Menghirup aroma maskulin tersebut. Wanginya tetap sama, tidak berubah. Hal ini membuat Ele flashback ke peristiwa 6 tahun lalu saat dirinya bertunangan dengan Nero.
"Kenapa aku jadi ingat ke masa itu," batin Ele, lalu mengurai pelukan, ia mendongak, menatap Nero dengan lekat.
Nero membalas tatapan gadis itu, lalu berkata, "kau sudah merasa tenang?"
Ele mengangguk pelan, "maaf karena aku terlalu melankolis." Ele menjeda ucapannya. "Jangan sampai Ava melihatnya, bisa-bisa kalian nanti bertengkar karena salah paham." Ele segera pergi setelah mengatakan kalimat tersebut.
Nero mengerutkan alis, tidak paham kenapa gadis itu berkata demikian. "Selain pemabuk ternyata dia juga sangat aneh," gumamnya seraya menatap punggung Ele yang semakin jauh dari pandangan.
Nero menghela nafas panjang, memasukkan kedua tangannya ke saku celana, mendongak menatap langit malam yang dihiasi ribuan bintang, tampak indah di pandang.
Drrtt ... Drrtt
Ponselnya kembali berdering. Nero segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?" jawab Nero, dingin dan datar.
"Tuan, aku berhasil menyusup ke dalam klan Nickolas."
"Bagus! Tetap pantau pemuda itu, dan berikan informasi sekecil apapun tentangnya! Paham!" tegas Nero.
"Paham, Tuan. Tapi, tidak biasanya Anda bersikap seperti ini?" tanya pria itu heran, karena biasanya Nero langsung mengeksekusi lawan tanpa basa-basi dan tanpa ampun. Iblis berdarah dingin itu lebih mengerikan dari pada Damon.
Senyum iblis tersungging dibibir Nero. "Kali ini aku ingin bermain cantik, karena lawan kita sangat licik dan cerdik," jawab Nero. Setelah itu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Tatapan Nero semakin dingin dan kelam. Ponsel ditangannya di genggam kuat, hingga urat-urat ditangannya menonjol.
"Dia harus mendapatkan balasan setimpal! Aku pastikan dia akan kehilangan mata dan ginjalnya! Berani-beraninya dia memanfaatkan Ele untuk balas dendam!" geramnya penuh emosi.
*
Pagi harinya.
Seperti biasa Ava datang ke rumah, menyiapkan sarapan, dan menjemput Nero. Wajah wanita berambut pirang itu tampak lesu, tidak seperti biasanya.
"Ava, kau sakit?" tanya Botak, khawatir. Ia menatap Ava yang tengah menata menu sarapan di meja makan.
Ava tersenyum saja menanggapinya.
"Jika sedang sakit kenapa tidak meminta izin pada Tuan Nero?" kata Botak lagi.
"Aku baik-baik saja, Paman, jangan khawatir," jawab Ava pada akhirnya karena pria paruh baya itu sangat mengkhawatirkannya.
Tak berselang lama Nero datang, di susul Ele.
"Sarapan sudah siap, Tuan, dan ... Ouh, maaf, aku tidak membuat sarapan untuk Nona Ele, kupikir..." ucapannya terhenti saat Ele menyela.
"Tenang Ava. Aku sedang diet, karbohidrat dan protein bisa membuatku gemuk," bohong Ele, seraya menatap seporsi roti panggang di atas meja dengan penuh minat.
Nero menoleh dengan raut datar, "tubuhmu sudah seperti benang wol tapi kau masih diet?!" cibirnya pedas, membuat Ele mencebik kesal tanpa menjawab cibiran pria itu.
Nero duduk di kursi, ia menatap Ava sejenak. "Kau sakit? Wajahmu pucat sekali."
Ava segera menangkup wajahnya, "iya, sedikit sakit.".
Ele menatap pasangan itu dengan jengah lalu berjalan ke pantry, ingin membuat susu, untuk mengganjal perutnya.
Sialan! Gara-Gara pasangan itu, ia harus berbohong dan menahan lapar! Umpat Ele dalam hati.
"Segera ke dokter. Jika kau sakit siapa yang akan menghandel pekerjaanmu?" kata Nero, seraya menyantap sarapannya.
Ava menarik nafas panjang, ia menatap Nero seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Tuan ..."
"Ya?"
"Aku ingin mengundurkan diri."
Nero seketika itu langsung meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang dengan kasar hingga menimbulkan dentingan keras.
Ele menoleh, menatap pasangan itu dengan segala rasa penasarannya. Ia menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga, siap nguping.
"Apa kau bilang? Kau ingin mengundurkan diri!?" Suara Nero terdengar lebih mengerikan dari pada suara petir yang menyambar di awan.
"Tuan, aku ... aku hamil ..."
Deg!
Bukan suara jantung Nero, melainkan suara jantung Ele yang mencelos sakit saat mendengar ucapan Ava.
Cammora tidak peduli dengan aturan Botak untuk Berta. Camorra mengajak Berta bersenang-senang. Cammora menggenggam erat tangan Berta menuju mobilnya.
Cammora membawa Berta ke salon kecantikan.
Cammora ingin pegawai salon merubah penampilan Berta menjadi cantik, sampai membuatnya pangling.
Elle senang tersenyum puas menikmati kegalauan Botak.
Cammora pria yang bisa membuat Berta bisa tersenyum. Berta merasa di hargai, di inginkan, dan di perhatikan.
Berta hatinya tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil dari Cammora.
Apalagi Cammora memberikan Berta semangat dan dukungan moril, juga memberi nasehat.
Berta tumbuh dengan rasa ketakutan, tidak percaya diri, dan terasingkan.
Kini ada pria yang mengatakan Berta berharga. Jangan pernah lagi merasa rendah diri. Berta gadis hebat dan kuat.
Berta dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih pada Cammora.
Berta tersentuh, terharu dengan apa yang dikatakan Cammora.
Cammora bertanya pada Berta - Botak yang menjawab.
Cammora tak terima pada Botak yang ikut campur urusannya dengan Berta.
Elle datang - menyelamatkan Berta dari aturan Botak yang seenaknya sendiri.
Botak kalau suka sama Berta bicara terus terang. Sok meremehkan Berta. Nyatanya cemburu Berta didekati Cammora.
Rasain Batak. Suka memarahi Berta - mana bilang bukan hanya wajah Berta yang jelek, tapi cara kerjanya juga jelek.
Lihat tuh si jelek disukai Cammora yang kaya raya. Botak tak ada apa-apanya dibanding Cammora.
Cammora memanfaatkan waktunya untuk mendekati Berta.
Bahkan kemanapun Berta pergi, Cammora mengikuti.
Berta sampai protes pada Cammora.
Berta menyebut nama sekalian nama panggilannya.
Elle dan Nero berada di kamar menatap mereka.
Nero tak terima istrinya memuji Cammora yang gentelman.
Meronalah kedua pipi Berta mendengar tamu majikannya mengatakan - berliannya Berta.
Di kasih waktu satu minggu oleh Nero.
Nero mengancam Cammora akan kehilangan kepalanya kalau melakukan hal bahaya atau melukai penghuni rumah Nero.
Elle memperbolehkan Cammora menginap - biar Botak cemburu dan sakit hati.
Elle syok mendengar penuturan Nero - Botak tidak pernah mau menikah. Mungkin Botak tidak tertarik pada wanita.
Sepertinya Botak tidak mau menikah bukan karena gay, Elle.
🥰🥰🥰🥰
biar nti pulang paman botak pangling dan lupa ngasih hukuman 🤣🤣🤣