Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Tiga Belas Daftar Kenangan
Setelah mengetahui bahwa malam ini Suratih akan pergi menuju negara Thailand untuk jangka waktu selama enam bulan, membuat Sarah bernapas lega sekaligus merasa gugup tidak karuan. Karena kepergian Suratih menjadi pertanda bahwa rencana mereka untuk mengembalikan ingatan Bagas Aryanaka akan benar-benar dimulai.
Setelah merampungkan pekerjaannya hari ini, Sarah segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri yang kemudian langsung menghubungi Rania untuk berdiskusi mengenai rancangan mereka selanjutnya.
Handuk basah terlempar begitu saja. Masih menggunakan atasan baju tanktop dan celana pendek sepaha—Sarah lekas mengambil handphone untuk menghubungi sahabat sekaligus partner in crime-nya itu. Merasa sudah tidak sabar untuk membagikan informasi terkini.
"Halo Rania!"
"Yuhuu Mbak Sarah? Tumben telfon sore-sore gini mbak? ana opo sihh? Gosip baru tah?
"Ih kamu mah pikirannya gosip aja. Ini aku tuh mau ngabarin kalo wanita ular itu udah mau pergi malam ini."
"Wah akhirnya mbak. Jadi kita bisa dong lanjut ke hidangan utama?"
"Bahasamu itu hidangan utama Ran hahaha. Iya akhirnya kita bisa lanjut ke the real planning kita nih. Tapi kok aku deg-degan ya Ran. Emang harus banget ya ngikutin tiga belas daftar kenangan itu?"
"Yo harus dong mbak. Aku udah nyiapin semuanya loh. Tinggal eksekusi aja."
"Ihh tapi aku kok ngerasa ragu ya Ran?"
"Tenang wae mbak. Aku udah rencanain sematang mungkin. Yang penting mbak Sarah fokus dan jangan sampe kejebak sendiri yo!"
"..........."
"Mbak? Halo mbak?"
"Eh, eh iya Ran. Sorry sorry. Iya kok aku pasti fokus."
"Bener loh ya mbak? Jangan sampe kayak waktu kita di ballroom acara pertunangan kemarin itu!"
"Ngak nggak Ran. Aku udah tobat lah. Eh udah dulu ya. Nanti aku kabarin lagi."
Cepat-cepat Sarah menutup telfon—tidak mau Rania semakin mencium ketakutannya. Ya, sebenarnya saat ini ia merasa takut sendiri dengan rencana yang akan segera mereka jalankan ini. Ia takut bukannya menjerat Bagas dalam permainannya, tapi malah ia akan ikut terperangkap juga.
Padahal ia sudah berjanji untuk tidak kembali. Ia hanya akan menuntut hak dari putri kesayangannya yakni Thalia. Ia tidak pernah ada niatan untuk datang dan menjalin hubungan lagi dengan pria yang telah melukai perasaannya.
Walau itu semua bisa dibilang bukan Bagas Aryanaka sendiri yang menginginkannya. Tetap saja, Sarah merasa bahwa memang ini sudah takdir dari yang kuasa. Takdir dimana mereka tidak diizinkan untuk terus bersama.
Lagipula mereka juga sudah bercerai dan Bagas pasti sudah memiliki perasaan lebih terhadap calon istrinya—Farah Putri Diharja. Jadi lebih baik ia mundur saja bukan? Ia hanya boleh maju untuk mendapatkan hak putrinya dan membalaskan dendam kepada keluarga Aryanaka.
Tidak ingin terlalu ambil pusing dan mencoba untuk mengenyahkan segala keraguan dan rasa takutnya, Sarah pun memilih untuk lanjut mengeringkan rambut basahnya menggunakan hair dryer dan kemudian lekas berganti baju sebelum nanti malam bersama pembantu yang lain akan mengantar kepergian Suratih.
"Berasa mau perang aja, harus dianter banyak orang," dengus Sarah muak membayangkan dirinya harus turut serta mengiringi keberangkatan nyonya Aryanaka yang menyebalkan itu.
Di tengah kesibukannya mengeringkan rambut, tiba-tiba terdengar ketukan dari balik pintu kamarnya. Buru-buru ia hendak mengambil pakaian di lemari. Namun, ternyata terdengar suara yang cukup dikenalnya selama seminggu ini, yakni pelayan yang berusia paling muda dirumah ini, Mentari.
Sarah memutuskan tidak perlu memakai baju lengkap terlebih dahulu. Lagi pula itu hanya Mentari saja. Segera ia pun berjalan cepat menuju pintu sambil tetap memegang hair dryer ditangannya. Rambutnya setengah kering—masih dengan tanktop tipis dan celana pendek sepaha.
"Ya, sebentar!" teriaknya sedikit keras. Tanpa berpikir panjang, ia pun memutar gagang pintu dan membukanya begitu saja.
Begitu pintu terbuka, udara di kamar mendadak terasa membeku.
Bukan hanya Mentari yang berdiri di depan sana ternyata—tapi juga ada Bagas Aryanaka, sang majikan, dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, serta ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.
Sarah membeku di tempat. Tangannya refleks mematikan hair dryer, tapi suara “klik” itu justru terdengar makin keras dalam keheningan yang menegangkan.
"M-maaf, saya kira cuma Mentari…" ucap Sarah terbata-bata, matanya membelalak.
Pria itu tidak menjawab, ia hanya menatap lekat, seolah tidak tahu harus berkata apa. Pandangannya berhenti pada wajah Sarah yang kaget, lalu turun sedikit ke arah lengan dan pundak wanita itu yang masih basah sisa mandi. Perlahan pandangannya pun menyisir lekukan tubuh yang tampak semakin jelas dan menggoda itu. Ia menelan ludah, cepat-cepat membuang pandang ke arah lain, tapi percuma—kilasan itu sudah tertanam dalam pikirannya.
Suasana makin janggal.
Sarah yang biasanya tegas dan penuh kendali kini tak tahu harus berbuat apa. Pipinya memanas. “Saya... saya ganti baju dulu, Pak,” katanya dengan suara hampir berbisik.
Mentari berdeham canggung kemudian mendorong bahu Sarah pelan untuk masuk ke kamar. "Iya, Mbak. ayo, aku bantu tutup dulu pintunya ya."
Pintu tertutup seketika. Mentari masih disana berdiri kaku dan merasa tidak enak dengan majikan mereka itu yang tampak masih dalam mode shock serta terdiam dengan raut datar tidak terbaca.
"Mentari, tolong kamu saja yang sampaikan pesan saya tadi kepada Thalia. Saya sepertinya sibuk," titah Bagas kepada Mentari yang berdiri disebelahnya.
Belum sempat menjawab, sang tuan sudah langsung pergi dari sana. Mentari hanya bisa meringis tidak enak hati.
Disisi lain, begitu pintu tertutup rapat, Sarah hanya bisa berdiri terpaku di tengah kamar. Napasnya belum juga normal, wajahnya terasa panas luar biasa.
Degup jantungnya berlari kencang, seolah baru saja lari seratus meter.
"Aduh, Sarah bodoh banget sih kamu," gumamnya pelan sambil menepuk kening sendiri.
Bayangan Bagas berdiri di depan pintu tadi terus berputar di kepala. Tatapan matanya, ekspresi terkejutnya, bahkan caranya menelan ludah pelan—semuanya masih terasa jelas.
Ia menggigit bibir, menahan rasa malu yang entah kenapa bercampur dengan sesuatu yang lain. Rasa yang dulu sempat ia kubur dalam-dalam.
Baru saja ia duduk di pinggir ranjang untuk menenangkan diri, pintu kamar terbuka sedikit. Ternyata Mentari masuk, membawa ekspresi canggung namun tampak pula ingin menjelaskan sesuatu.
"Mbak Thalia, maaf banget tadi aku gak bilang kalau Tuan Bagas ikut. Soalnya tadi beliau sekalian mau menyampaikan pesan katanya," ujar Mentari pelan.
Sarah menatapnya heran. "Pesan apa emangnya?"
"Katanya, mbak Thalia disuruh ikut nganter nyonya Suratih ke bandara malam ini. Karena kan mbak yang paling sering bantu beliau langsung. Butuh satu pelayan buat bantu bawain barang juga."
Sarah mendesah panjang. "Ya.... Oke deh. Males banget padahal huh."
Mentari terkekeh, lalu menatap sekeliling kamar Sarah. Pandangannya berhenti pada meja kecil di dekat tempat tidur—ada sebuah buku berukuran sedang dengan sampul cokelat tua yang tampak sering dibuka-tutup.
"Eh, ini apa, Mbak?" tanya Mentari sambil memungut buku itu pelan. "Kayak buku diary gitu ya?"
Belum sempat ia membuka halaman pertamanya, Sarah langsung bangkit dan menahan tangannya.
"Jangan, Mentari. Itu privasi tau."
Nada suaranya tenang, tapi cukup tegas untuk membuat Mentari buru-buru menutup buku itu kembali. "Maaf, Mbak. Aku gak bermaksud ngintip, cuma penasaran aja hehe," ucap Mentari buru-buru.
Sarah tersenyum tipis, berusaha menenangkan. "Gak apa. Cuma tolong ya, jangan dibuka. Isinya hal-hal pribadi."
Mentari mengangguk, tapi dari matanya, jelas rasa penasaran masih tersisa. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Mentari, Thalia, ayo cepetan ke dapur! Bantuin Bik Umi nyiapin makan malam!" seru suara Bik Umi dari luar kamar.
Mentari menoleh cepat, "Iya, Bik! Sebentar!” Lalu ia menatap Sarah sekali lagi. "Aku duluan ya Mbak. Mbak Thalia siap-siap dulu aja, baru nanti nyusul ke dapur."
Begitu Mentari menutup pintu dan langkahnya menjauh, kamar kembali sunyi.
Sarah berdiri diam beberapa detik, lalu perlahan mengambil buku cokelat itu dari meja. Jemarinya menyentuh permukaannya lembut, seolah sedang menyentuh kenangan yang rapuh.
Ia duduk di ujung ranjang, membuka perlahan halaman pertama. Di sana tertulis dengan tinta hitam yang sudah agak pudar:
"13 Kenangan bersama Bagas Aryanaka."
Satu per satu, matanya menelusuri daftar yang dulu ia tulis dengan tangan gemetar—daftar yang kini menjadi panduan untuk misi paling berbahaya dalam hidupnya.
Mabuk dan One Night Stand
Nasi Goreng dan Tanggung Jawab
Rumah Tersembunyi
Kue Talam
Hujan di Taman Belakang
Sakit Flu
Soto dan Mangga Muda
Sekuntum Mawar Jingga
Taman Bermain
Rooftop Hotel di Malam Hari
Perpustakaan Lawas
Satu Selimut Berdua
Kereta dan Sakit Pinggang
Sarah mengusap tulisan itu perlahan, bibirnya menekuk samar. "Tiga belas kenangan..." gumamnya lirih.
Setiap kata di daftar itu membawa kembali potongan perasaan yang dulu mati-matian ia bunuh: tawa, marah, luka, cinta, juga kehilangan.
Matanya menerawang. "Kita mulai dari yang pertama, Bagas," ucapnya pelan, suaranya bergetar halus. "Mari kita lihat apakah kamu masih bisa mengingat semuanya lagi."
Ia menutup buku itu perlahan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sarah merasa jantungnya berdetak bukan karena amarah—melainkan karena sesuatu yang bahkan ia sendiri takut untuk namai.