NovelToon NovelToon
Cintaku Bukan Kamu

Cintaku Bukan Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Lari Saat Hamil
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Arij Irma

Aira harus menelan pil pahit, ketika Andra kekasih yang selama ini dicintai dengan tulus memilih untuk mengakhiri hubungan mereka, karena terhalang restu oleh orang tua karena perbedaan keyakinan.
padahal Aira sedang mengandung anak dari kekasihnya.
apakah Aira akan mampu bertahan dengan segala ujian yang dihadapinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arij Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sudah saatnya Aira berangkat, Keluarga kecil Aulia akan mengantarkannya sampai Bandara. Dimobil Aira merasa gelisah, takut untuk pertama kalinya menaiki pesawat. Dia memandangi kendaraan dibalik jendela disepanjang perjalan untuk menghilangkan kegelisahannya.

Setibanya di Bandara.

Mereka turun satu persatu, dan menurunkan semua barang bawaannya dari bagasi. mereka memasuki area bandar.

"Paklek, sebelum check-in, kita cari makan dulu yuk?, mumpung waktunya masih panjang," Aulia berucap sambil melihat jam ditangannya.

" agar tidak kelaparan saat menunggu didalam," sambungnya lagi.

" benar sekali!, Aku juga sudah lapar, sekalian aja kita makan siang disini. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk check in," tambah suami Aulia.

Bapak Hamdan yang dipanggil pun langsung menoleh, tapi sebelum menjawab, Dia meminta persetujuan putrinya terlebih dahulu.

" bagaiman Nduk? Mau makan disini atau nanti kalau sudah Sampai tujuan?" tanyanya.

"terserah Bapak ajalah... "jawabnya.

" Loh kok terserah, ya jangan terserah lah Nduk!" lanjutnya, agar putrinya menentukan pilihannya

" ya udah kita makan disini dulu saja Pak.

" Nah! itu dia", dengan antusias Aulia menunjuk restoran yang terlihat dari dekat mereka.

Tapi seketika kecewa, waktu tahu hanya ada restoran cepat saji saja didekat mereka, "yah... Hanya ada chiken dan burger saja."

"yang deket-deket ajalah mbak gak usah jauh-jauh," ucap Aira yang tidak ingin ada drama lagi dari Aulia.

"iya, disitu juga tidak apa-apa kok, sama saja, yang penting makan," Bapak ikut menjawab.

Mereka berjalan menuju restoran itu. Memesan, dan mulai makan setelah makanan datang.

Singkat cerita. setelah selesai makan, tiba saatnya mereka untuk berpisah. Bapak Hamdan melihat jam ditangannya, sudah waktunya mereka berpisah.

"Aulia, Ikbal, Paklek pamit ya! Doakan supaya perjalannya lancar tanpa ada hambatan, terimakasih ya, seminggu ini sudah diizinkan tinggal di rumahmu. Sudah bersedia menerima dan menghibur kami, terutama Aira, pulangnya kalian hati-hati," kata bapak.

"paklek juga ya, semoga perjalannya nanti lancar Samapi tujuan," Ikbal menjawab.

"Aira nanti disana baik-baik saja ya, jaga kesehatan, jangan sungkan hubungi kami kalau ada apa-apa, atau gak betah minta jemput juga gak masalah," lanjut Ikbal sambil melihat Aira.

"iya mas," jawab Aira, dia mengangguk mendengarkan nasihat dari sepupu iparnya.

sedangkan Aulia hanya diam saja, tidak sanggup mengucapkan kata-katanya, Dia sudah menahan tangis, dia berusaha agar tidak menangis dengan keras, dia tidak mau jadi tontonan banyak orang disini.

" Tahan, tahan, tahan Aulia! jangan sampai nangis disini, malu ah! banyak orang disini, mukaku mau ditaruh mana nantinya!" Aulia membatin, sambil berusaha untuk tidak menangis, dia mengusap air matanya yang akan jatuh.

" hati-hati ya dek, jaga diri kamu disana," ucap Aulia sambil memeluk Aira, dia berusaha mengucapkan kata perpisahan dengan menahan tangisnya.

Aira mengangguk, dia memeluk erat tubuh sepupunya, dia tidak sanggup menguatkan suaranya, hanya tangisan lirih yang dapat ia keluarkan.

"hiks... Hiks... Hiks...slrup..."

"Aira, ih! Jorok kamu! kenapa ingusnya diusap-usap ke bajuku, bajuku bukan kain lapa Aira! ucap Aulia, dia kesel bajunya dibuat lap ingus. Dia bergerak-gerak, berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

Aira mendongak, dengan tubuh yang tergoncang, "hi hi hi hi maaf mbak, sengaja, biar mbak gak nangis lagi."

"ih! Gak lucu Aira," Aulia berbalik, melipat tangan didada, mengerucutkan bibirnya, agar Aira tau kalau Aulia kesal.

"Lah, siapa bilang aku lagi melucu, kan aku ini lagi meluk mbak, gimna sih mbak!" jawab Aira.

Aira mendekat ke Aulia, meraih tangan dan digoyang-goyangkan tangan aulia, berusaha membujuknya agar tidak ngambek lagi, "sudah, sudah, maaf mbak, gak usah ngambek lagi nanti cantiknya hilang loh!" bujuk Aira.

melihat sepupunya yang masih diam, Aira segera meraih tangan Aulia, mencium dengan takzim, " Aira pamit ya mbak."

Aulia langsung mengusap kepala sepupunya, diusap-usap dengan pelan dan penuh kasih sayang, " jaga diri baik-baik ya dek."

Aira hanya mengangguk, kemudian melakukan hal yang sama kepada sepupu iparnya, "Aku pamit mas."

"iya, jaga diri, jaga kesehatan dan jangan lupa ibadahnya," jawab Ikbal sambil mengusap-usap kepalanya.

Aira beralih ke keponakannya, diangkat dari stroller, dipeluk dicium berkali-kali.

"Paklek pamit ya Aulia, Ikbal hati-hati nanti dijalan," ucap bapak sambil memeluk Ikbal, dan Aulia. Mereka kemudian mencium tangan bapak secara bergantian.

Aira menyerahkan Rere kepada mamahnya, setelah itu beralih menyeret koper, berjalan perlahan, sesekali menoleh kebelakang dan melambaikan tangannya. mereka pun membalas lambaian tangganya dengan hal yang sama pula.

Aira dan Bapak Hamdan berjalan menuju pintu pemeriksaan, melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum masuk dan menunggu pesawat didalam.

Tak lama kemudian terdengar dari suara pengeras jika pesawat akan segera berangkat , "perhatian, perhatian ditunjukkan kepada penumpang dengan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan xxx tujuan Palembang, ditunggu kedatangannya segera, terimakasih."

mereka berdiri berjalan memasuki pesawat. Aira mendapatkan tempat duduk disamping jendela. Aira mendengar instruksi dari pramugari, kalau pesawat akan lepas landas dan penumpang diharapkan untuk memakai sabuk pengaman.

"cita-cita yang tak pernah tersampaikan", kata Aira dalam hati, dia terus memperhatikan pramugari, dulu Aira berkeinginan untuk menjadi pramugari, tapi ditentang oleh orang tuanya, jadi Aira terpaksa mengubur keinginannya itu dan digantikan dengan kuliah.

disaat pesawat sudah lepas landas, Aira melihat ke jendela kembali melihat jauh kebawah sana, dia berkata dalam hati, "selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan, selamat datang kebahagian."

Dia memejamkan matanya, berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya kembali, dia merasa sudah cukup, tidak ingin menangis kembali.

sedangkan bapak hanya melihat Aira, menatap sendu Aira tanpa mau berucap sepatah katapun, "semoga kebahagiaan aka datang kepadamu Nduk," ucap bapak dalam hatinya.

pesawat terbang tinggi mengudara, membawa serpihan-serpihan hati Aira, membawa luka hati yang tidak akan bisa hilang, luka hati yang akan membekas di sanubarinya, yang tidak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun.

Sedangkan Aulia beserta suami dan putrinya belum meninggalkan Bandara. Dia masih ingin menunggu sampai pesawat terbang ke atas, saat mereka melihat pesawat sudah mengudara, Meraka melambaikan-lambaikan tangannya.

Dalam hati mereka berdoa untuk Aira, "selamat tinggal adikku sayang, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan selalu."

...****************...

Ketika pesawat sudah mengudara, pada waktu yang sama pula, Ternyata ada seseorang yang merasakan kehilangan sesuatu, tapi tidak tau itu apa.

Dia saat ini merasa gelisah, tak tau kenapa dia merasa sangat sedih dan takut. Dia ketakutan, tapi tidak tau apa yang ditakutkan. Dia merasa kehilangan hal yang paling berharga.

Saat dia duduk dilantai tak sengaja dia melihat kotak terbungkus kado dibawah kasurnya, dia ingat kalau itu adalah kado yang diberikan oleh Aira sesaat sebelum Meraka berpisah.

Andra, ya dialah Andra. dia meraih kotak tersebut, membuka dan melihat isinya. Ternyata isinya adalah foto mereka berdua saat liburan di salah satu pantai dikota Jogja. foto itu dibingkai sangat cantik. Tidak hanya foto saja, tapi juga ada satu gelang, sepertinya itu gelang pasangan. Karena itu seperti yang dipakai Aira kala itu.

"deg..." Andra merasa jantungnya langsung berdetak kencang saat dia mengambil foto tersebut.

"Aira... " dia manggil aira dengan lirih.

"kenapa ini? kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat, aku kenapa?" ucap Andra, sambil memegang dadanya.

Setitik air matanya keluar dengan sendirinya. diusapnya dengan pelan, dia merasa kebingungan.

"Aira, kamu apa kabar sayang? Sedang apa kamu disana syang? Apa kamu sudah makan belum?" Andra bertanya dengan mengusap foto Aira, padahal dia tau, kalau Aira tidak akan menjawab semua pertanyaannya.

"aku rindu, aku kangen sama kamu, aku disini kesepian, apa kamu merasakan hal yang sama seperti Aku? Apa kamu disana sudah bahagia? apakah kamu merasakan sama yang aku rasakan? "

"sakit Aira... Ini sakit sekali..." ucap Andra sambil memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan rasa sakit.

"tes..." akhirnya runtuh sudah pertahanan Andra, dia luruh, dia menangis. Dia memukul lantai sambil menangis, "hiks hiks hiks Aira."

Dia memeluk bingkai foto tersebut dengan erat, seakan-akan Dia memeluk Aira.

"Aira tolong kembali! Aku tak bisa tanpamu, Aku sudah salah mengambil keputusan, kembali Aira... " lirih sekali dia, seakan-akan Aira ada didepannya.

"kau tahu Aira? Aku selalu membayangkan, kalau kita hidup bahagia bertiga dengan buah hati kita, menjadi keluarga yang utuh. kita selalu pergi bersama, bermain bersama di taman, tertawa bersama, hanya Aku Kau dan Anak kita, tapi ketika aku sadar semuanya menghilang begitu saja."

Andra terus mengeluarkan isi hatinya didepan foto Aira. Dia ingat untuk mendapatkan foto ini Aira harus memaksanya.

Andra yang lelah menangis, akhirnya tertidur dilantai dengan memeluk foto Aira. dengan itu dia merasakan kembali kehangatan dari Aira.

.

.

.

Bersambung.......

1
Chipmunks
Bikin nangis dan senyum sekaligus.
Gaara
Seru banget, gak bisa berhenti baca😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!