Tak pernah terbayangkan dalam benak Bella, bahwa dia akan menjadi pemuas seorang cassanova setelah kepergian ayahnya.
Cerita ini bermula dari sang tante yang menjualnya. Membuat dia terjerat pria yang tak memiliki komitmen itu. Pria yang selalu menatapnya dengan tajam, tetapi begitu mendamba tubuhnya. Dia, William Hognose Liem.
Akankah kisah mereka berujung bahagia? Atau justru selamanya Bella akan menjadi pemuas hasrat William saja? Ikuti kisahnya di sini, dan jangan lupa follow akun sosial media author.
Ig @nitamelia05
Fb @Nita Amelia
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kerja Sama
Bella langsung tergagap dengan pertanyaan yang diajukan oleh Leo. Sebab ia pun tak tahu sebutan apa yang pantas untuk hubungan ia dan William. Jika sebatas sandera, William tidak akan mungkin begitu baik padanya.
Apalagi semalam mereka telah menghabiskan percintaan panas. Meskipun nyatanya William yang lebih mendominasi permainan.
Belum sempat Bella menjawab, tiba-tiba pintu kembali terbuka dan menampilkan tubuh William yang memakai baju olahraga. Pria itu nampak terkejut, sebab tak tahu kalau sang sepupu sudah ada di apartemennya.
"Sejak kapan kau di sini?" cetus William to the point, membuat Leo langsung mengalihkan pandangannya. Tanpa ba bi bu pria itu menghambur ke arah William, memeluk sang sepupu dengan erat hingga dada William terhimpit dan sulit bernafas.
"Helo, Brother, akhirnya kita bertemu lagi, aku sangat merindukanmu," cerocos Leo, tetapi William justru mendorongnya hingga pelukan itu terlepas. Seperti biasa, William akan melayangkan tatapan tajam, tak peduli meski Leo adalah sepupunya.
"Tidak perlu berbasa-basi. Cari hotel saja sana, aku tidak sudi menampungmu," ketus William dengan nada serius.
"Hei, bukannya menyambutku dengan benar. Kau malah marah-marah. Kita ini sepupu, Will. Aku tidak mau jika harus tinggal di hotel, uangku bisa habis."
Di tempatnya Bella mendelik, karena ternyata orang yang ia anggap penjahat adalah sepupu William.
Astaga, aku sudah salah sangka. Bagaimana ini?
"Aku tidak peduli!"
Kemudian tatapan William beralih pada Bella yang tampak terbengong-bengong. Karena belum paham dengan situasi yang tengah dia hadapi. "Bersihkan tubuhmu, kita ke dokter sekarang!" Ujarnya pada Bella.
"Hah? Ke dokter? Untuk apa?" tanya Bella dengan kening yang berkerut. Dia tidak tahu rencana William yang akan membawanya berkonsultasi tentang alat kontrasepsi.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa kataku!"
"Hei, hei, santai, Brother!" Leo menengahi sambil mengekor pada William yang melangkah menuju dapur. "Sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian? Apakah dia kekasihmu?" Tanya Leo sambil menunjuk Bella.
"Itu bukan urusanmu, Le!" tegas William, tetapi Leo yang nyaris tak pernah serius dalam menanggapi ucapan sang sepupu. Lantas merangkul bahu Bella yang saat itu hendak masuk ke dalam kamar.
"Astaga," pekik Bella karena terkejut. Dia melirik ke samping, dan Leo sedang tersenyum padanya.
"Kalau kau bukan kekasih William, aku bisa menjadi kekasihmu," ucap Leo dengan penuh percaya diri, dan Bella hanya menimpalinya dengan tatapan tak percaya.
Benar-benar pria aneh.
Melihat itu, William menghela nafas kasar, inilah yang ia tidak suka dari Leo. Pria itu suka mengacau dan banyak bicara. "Jangan ganggu dia. Kalau kau ingin tidur gratis di tempatku!" cetus William. Yang membuat Leo langsung melepaskan Bella.
"Baiklah, baiklah," ucap Leo mengalah, tetapi tatapannya masih mengarah pada Bella, dia mengedipkan sebelah matanya membuat Bella merasa merinding. "Urusan kita belum selesai, Manis." Kekeh pria itu, lalu berjalan menuju lemari pendingin.
Di tempatnya William hanya bisa terdiam dengan raut wajah datar. Sungguh sifat yang sangat bertolak belakang dengan Leo.
***
Sementara di tempat lain.
Freya sedang menikmati hidup barunya. Dia baru saja selesai sarapan, dan sekarang ia sedang bersantai di sofanya yang empuk. Sungguh kehidupan yang sangat nyaman.
Namun, semua kenyamanan itu tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Freya menurunkan kaki dan memasang telinganya. "Aku mendengar sesuatu, apakah aku salah dengar?"
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara itu kembali mengudara, akhirnya Freya pun bergegas untuk membuka pintu. Saat benda persegi panjang itu bergeser, dia langsung terkejut bukan main. Karena Jo datang dengan menodongkan senjata api ke kepalanya.
"Jo," panggil Freya sambil mengangkat kedua tangannya. Dia berjalan mundur, bersamaan dengan Jo yang melangkah masuk.
"Ternyata anda di sini," ucap Jo dengan seringai kecil, membuat Freya ketar-ketir. Takut jikalau senjata itu langsung melubangi kepalanya.
Freya menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Jo, kita bisa bicara baik-baik. Aku mohon, jangan gegabah."
"Kenapa? Anda sudah menipu Tuan saya, dan sekarang anda harus bertanggung jawab atas semua kekacauan yang ada."
"Iya-iya, Jo. Tapi bukan seperti ini, turunkan senjatamu."
Jo menarik sudut bibirnya ke atas. "Jangan main-main dengan saya, Madam. Karena hidup anda tergantung dengan jari telunjuk saya. Sekali saya tekan, nyawa anda akan melayang."
Freya menahan nafas saat ujung pistol itu mengenai dahinya, dengan kaki yang lunglai dia pun jatuh di hadapan Jo. "Ampun, Jo, Ampun. Aku akan melakukan apa saja asal kamu tidak membunuhku. Apa saja, Jo." Ujar Freya memohon.
"Anda yakin?"
Freya menengadah, dan detik selanjutnya dia menganggukkan kepala cepat. Dia tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak, tetapi yang jelas dia berharap masih ada kesempatan untuk hidup.
Jo menekuk satu kakinya, hingga ia sejajar dengan Freya. Tatapan pria itu terlihat sangat serius, nyaris seperti tatapan milik tuannya. "Pergi sejauh mungkin dari kehidupan Nona Bella dan Tuan William. Saya pastikan anda aman."
Mata Freya terbelalak lebar, dia senang bukan kepalang karena ternyata Jo mau mendengarkannya. "Jo, kamu bersungguh-sungguh?"
"Hem, tapi kalau sampai di waktu lain anda tertangkap oleh Tuan William sendiri. Saya tidak tanggung jawab."
"Baik, Jo, baik. Aku akan pergi lebih jauh. Tapi—"
Kening Jo mengeryit.
"Kamu tahu semua kan tentang isi pesan yang aku kirim ke Tuan William. Semua ini tentang Bella," sambung Freya.
"Anda tenang saja, itu semua menjadi urusan saya."
Hari ini mereka telah bekerja sama. Jo yang memiliki rencana untuk William, dan begitu juga Freya yang memiliki rencana untuk sang keponakan.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan mengudara. Dan setelah itu, Jo keluar dari rumah Freya. Semua anak buahnya yang ada di luar sontak mengalihkan perhatian kepadanya. Mereka bingung sebab Jo tidak membawa wanita itu.
"Tuan, di mana Nyonya Freya?" tanya salah satu dari mereka.
"Dia sudah mati di dalam."
"Anda membunuhnya?"
"Dia bunuh diri dengan pistolku."
Semua orang terbelalak. Karena Jo adalah orang kepercayaan William, sontak saja semua percaya dan meninggalkan tempat itu.
***
Induk uler-uleran ada di cerita ini ya gaes😌