NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:118.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kana Marah

Aku dan Kana keluar dari ruang teater. Aku merenggangkan badanku dengan penuh niat membuat Kana tertawa.

" Enak tidur di bioskop?", tayan Kana.

" Iya enak sih. Seru filmnya?", tanyaku pada Kana.

" Iya seru... Lumayanlah", jawab Kana sambil tersenyum ringan. " Mau makan apa?", tanya Kana lagi.

" Em... kita makan All You Can Eat saja", aku mengusulkan.

" Iya boleh. Ayo ".

Kami berjalan menuju salah satu gerai All You Can Eat. Hatiku sedikit gelisah. Sebenarnya ada sesuatu yang aku sembunyikan dari Kana.

Kemarin saat ibu Sofi meminta pertolonganku, aku memberitahu ibu Sofi bahwa hari ini aku akan pergi bersama Kana. Aku penasaran dan ingin tau apa keperluan ibu Sofi kepada Kana. Aku bimbang untuk memberitahukan kepada Kana tentang itu.

Tempat makan itu tidak terlalu ramai. Aku duduk berhadapan dengan Kana. Aku cukup bimbang untuk berbicara dengan Kana tentang hal itu.

" Awan... Kamu melamun terus. Mikirin apa?", tanya Kana sambil memasukan beberapa sayuran.

" Oh... Tidak ... Tidak ada apa-apa", jawabku spontan.

Kana melihatku dengan curiga lalu kembali sibuk dengan makanannya. Beberapa saat kemudian setelah menimbang cukup lama aku memutuskan untuk bicara pada Kana.

" Kana sebenarnya memang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu", aku berkata hati-hati.

" Iya ada apa?", tanya Kana.

" Emm Kana sebenarnya kemarin...", kata-kataku terputus karena teriakan Inka yang baru datang.

" Waaaahhh teman-temanku kalian pasti menunggu lama.... Maafkan aku yaa....", Inka berjalan masuk lalu memelukku erat.

" Aduuuhh... Iya iya... Filmnya sudah kelar kok", jawabku.

Kana mendengus seperti mengejek. Inka mencibir tidak terima dengan sindiran Kana yang tanpa suara itu.

" Aku juga lapar, makan ah", kata Inka spontan sambil mengelus perutnya.

" Kamu tadi mau bilang apa?", tanya Kana padaku tidak mempedulikan Inka yang mulai rusuh.

" Hah? Apa ya? Aku lupa. Haha", aku berbohong. Keberanianku untuk bicara dengan Kana terkait ibu Sofi sudah sirna akibat kelakuan Inka.

Aku sibuk dengan makanan dan pikiranku. Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus bertanya kepada ibu Sofi tentang tujuannya bertemu dengan Kana.

Aku bingung.

***

Di hari lain akhirnya aku bertemu dengan ibu sofi di depan rumahnya. Aku benar-benar memberanikan diri untuk datang dan bertanya karena hal ini sangat menggangguku selama berhari-hari.

" Selamat siang tante", aku menegur bu Sofi yang sedang menyapu teras rumahnya.

" Eh nak Awan selamat siang. Mari masuk", ajak ibu Sofi ramah sambil meletakan sapu ijuknya.

" Iya terima kasih", aku melangkahkan kakiku memasuki teras rumah ibu Sofi.

Model rumahnya sama seperti rumah kami karena kami satu perumahan. Hanya saja, rumah ini di tata begitu estetik dan rapih. Aku sedikit terkagum dengan bunga yang disusun sedemikian rupa di terasnya. Tidak terlihat romol tapi enak di pandang.

Saat duduk di ruang tamu, aku memijat pelan jariku karena gelisah. Tapi aku harus memberanikan diri, aku tau ibu Sofi tapi aku tidak tau niatnya mendekati Kana.

" Mau minum apa nak? ", tanya ibu Sofi padaku.

" Tidak usah tante. Aku gak lama kok", aku menolak sopan.

" Gak apa-apa. Mau es teh?", tanyanya lagi.

" Gak usah tante. Aku ada perlu penting sama tante", aku gelisah.

" Iya ada apa?", ibu Sofi sepertinya bisa menangkap kegelisahanku dan mulai duduk mendengarkan.

" Begini tante. Mungkin terkesan tidak sopan, tapi aku ingin tau dan harus tau sebelum aku pertemukan tante dan Kana. Tante ada hubungan apa sama Kana sampai tante ngotot pengen ketemu teman saya?", tanyaku hati-hati.

Ibu Sofi terpaku mendengar pertanyaanku. Dia terdiam cukup lama sebelum benar-benar menjawab pertanyaanku. Aku menunggu dengan sabar dan gelisah.

" Nak Awan, sebenarnya ibu menyimpan hal ini sudah sangat lama", akhirnya ibu Sofi buka suara. Lalu ibu Sofi menceritakan semua yang berhubungan dengan Kana padaku.

Saat itulah aku memutuskan, aku akan menolong ibu Sofi untuk bertemu dengan Kana.

***

Kana menatapku lama. Dia tau aku sedang gelisah saat ini. Benar-benar tidak setenang biasanya.

" Kamu kenapa? Tiba-tiba ajak aku ke cafe sepi begini?", tanya Kana.

" Em, mau ajak kamu ketemu orang", aku berusaha jujur.

" Bertemu siapa? Kamu kenalan sama cowo?", Kana langsung pada intinya.

" Tidak. Bukan. Kana kamu suka nuduh", Aku sewot.

" Ya, kamu nya tidak jelas. Kita sudah 20 menit di sini", Kana mulai kesal.

Aku yang melihat Kana mulai tidak tenang langsung bersikap. " Kana, ada yang mau aku bicarakan sama kamu", kata ku tegas.

Melihat perubahan dalam nada suaraku, Kana langsung fokus ke kepadaku. " Ada apa?", tanya Kana.

Aku terdiam sebentar lalu mulai bicara. " Kana sebenarnya ada seseorang yang mau bertemu dengan kamu", jelasku.

" Siapa?", Kana mengerenyitkan dahinya bingung.

Aku meremas ujung jariku mulai gugup. Pikiran lain mulai datang menggangguku. Apa aku terlalu ikut campur? Bagaimana reaksi Kana nanti? Apakah dia akan senang? Atau Kana akan marah padaku.

" Kana, sebenarnya mama kamu ingin bertemu dengan kamu", aku mulai menjelaskan.

Kana membeku mendengar perkataanku. Rasanya atmosfer di sekeliling kami berubah menjadi lebih dingin dan menegangkan.

" Mama? Apa maksudmu Awan? Kamu kalau bicara yang jelas", Kana berkata dengan suara yang berat.

" Mama kamu, tante Sofi. Ingin bertemu denganmu Kana. Dia kangen banget sama kamu. Waktu kemarin di liat kamu sama aku, dia minta tolong sama aku untuk bisa ketemu dengan kamu", aku menjelaskan.

Wajah Kana berubah dan dia tiba-tiba berdiri. Tepat saat itu mama Kana muncul.

" Arkana", panggil tante sofi.

Aku langsung berbalik dan melihat ke belakangku. Mama Kana berdiri menatap Kana yang sedang bergulat dengan kemarahannya.

Aku berdiri dan mempersilahkan mama Kana untuk duduk. Tapi Kana terus berdiri dan hendak pergi. Tapi mama Kana dengan cepat berkata.

" Arkana, tolong kasih waktu mama sebentar saja. Hanya 5 menit", mama Kana memohon pada Kana.

Mendengar permohonan itu aku merasa sedih, teringat ibuku yang sudah tidak ada. Aku melihat Kana dan memberi kode sedikit dengan menganggukkan kepalaku, yang membuat Kana duduk kembali.

Aku lalu berjalan keluar cafe dan duduk di dekat pintu menunggu mereka selesai bicara. Aku berharap hasilnya akan baik untuk Kana dan mamanya.

Belum sampai 5 menit Kana sudah berjalan keluar Cafe dengan ekspresi yang tidak dapat aku artikan dan aku melihat mamanya masih duduk di dalam sambil tertunduk.

Kana melihat ke arahku dan menarikku menjauh dari pintu cafe. Matanya di penuhi kemarahan.

" Jangan pernah campuri urusanku lagi", Kana sedikit membentak.

Aku kaget dengan kemarahan itu. " Aku tau ini terlalu jauh Kana, tapi aku sedih melihat seorang ibu seperti itu", aku menjawabnya.

" Jangan jadi pahlawan Awan. Kamu tidak tau apa yang terjadi. Aku menyukaimu bukan berarti kamu mencampuri urusanku", Kana menekan suaranya.

" Baiklah. Aku minta maaf. Aku hanya mau kamu dan mama kamu berbaikan lagi Kana. Aku tau matamu saat melihat mama kamu kemarin. Kamu rindu sama dia", aku mengeluarkan fakta yang tidak bisa di bantah.

" Cukup. Jangan pernah mencampuri urusan apapun lagi", Kana membentak membuatku kaget.

" Oke fine. Aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Kamu juga jagan berusaha dekat denganku", aku marah sekali pada Kana.

Setelah mendengar perkataanku Kana masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan aku yang tiba-tiba merasa sedih karna hal ini.

Apakah aku salah?

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!