Leona harus menghadapi cobaan hidup yang berat sejak usia dini. Ketika berusia lima tahun, orangtuanya, yang merupakan sepasang perwira yang teguh, tewas dalam pembantaian mengerikan karena ikut mengusut sebuah kasus besar yang terjadi di kota X.
Ditinggalkan tanpa keluarga, Leona harus belajar bertahan dan menghadapi kehidupan yatim piatu. Meskipun begitu, kekuatan batinnya yang luar biasa membantu Leona melawan rasa kehilangan dan kesepian. Pada usia enam tahun, hidupnya berubah secara tak terduga ketika dia diadopsi oleh seorang pria kaya bernama Willson Smith.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika Leona mengetahui bahwa Willson Smith sebenarnya adalah seorang ketua mafia yang kuat dan berpengaruh di kota C. Terpapar oleh dunia gelap kejahatan, Leona harus menemukan keberanian dan keteguhan untuk menjaga integritasnya sendiri.
Sanggupkah dia menemukan pembunuh kedua orang tuanya dan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Robin Datang
Nyonya Sherly berjalan dengan cepat, sedangkan Clara berjalan dengan sangat lambat, akibat high heels yang digunakannya benar-benar membuat wanita itu susah untuk melangkah, apalagi saat ini dia menggunakan pakaian yang teramat minim, gaun berwarna pink dengan model slim yang hanya menutupi setengah bagian paha atasnya saja.
"Ck! Sial!" ucap Clara, wanita itu akhirnya mencopot high heels nya, dan berjalan dengan kaki telan*ang, wajahnya ditekuk dengan bibir yang terus menggerutu sepanjang jalan.
Hampir 30 menit, akhirnya kedua orang wanita itu sampai di sebuah kedai yang masih buka, Nyonya Sherly segera mendudukkan dirinya di atas kursi kemudian memanggil pelayan.
"Ambilkan aku air mineral." ucapnya.
Pelayan itu pun segera mengangguk kemudian bergegas mengambilkan air mineral yang dipesan oleh Nyonya Sherly, melihat pakaian kedua orang wanita itu si pelayan tentu saja mengetahui bahwa tamu yang saat ini mendatangi kedainya merupakan orang-orang kaya raya, apalagi mereka menggunakan pakaian mahal dan juga perhiasan, sudah pasti kedainya saat ini akan mendapatkan keberuntungan yang sangat banyak, jika kedua orang wanita itu bisa bertahan dan memesan banyak menu makanan.
"Apa kau tahu, dimana bengkel di sekitar sini?" tanya Nyonya Sherly saat pelayan itu menyodorkan air mineral pesanannya.
"Jika siang hari, ada bengkel tak jauh dari tempat ini, nyonya. Hanya saja saat ini hari telah larut dan bengkel itu tutup sekitar pukul 5 sore." jawab si pelayan.
Clara datang dengan kaki pincang, sepertinya wanita itu saat ini mengalami masalah dengan telapak kakinya, hingga dia terus berjinjit seolah menghindari sesuatu.
"Apa yang kau lakukan, Clara? Kenapa kau melepas sepatumu?" tanya Nyonya Sherly.
"Ya ampun tante, Lihatlah kakiku yang mulus ini! Sepertinya aku telah menginjak sesuatu yang tajam sehingga membuat kakiku benar-benar sangat perih." ucap Clara sambil menunjukkan sebelah kakinya.
Nyonya Sherly langsung melotot, ternyata benar telapak kaki bagian kiri milik Clara saat ini terluka, pantas saja jika wanita itu sejak tadi terus saja berjalan dengan sebelah kaki diangkat.
"Bawakan dua botol air mineral lagi!" ucap nyonya Sherly.
Pelayan itu segera berlari untuk mengambil air mineral yang dipesan oleh tamunya, tak lama kemudian dia pun kembali ke meja yang diduduki oleh Nyonya Sherly dan juga Clara.
"Ini air mineralnya, Nyonya." ucap pelayan itu sambil menyimpan air mineral yang dipesan di atas meja, Nyonya Sherly segera membuka tutup botol air mineral itu kemudian menggunakan airnya untuk membasuh kaki Clara yang terluka, nampak wajah wanita itu meringis, sepertinya dia benar-benar kesakitan saat ini.
"Apa kau tidak mengingat nomor ponsel salah seorang keluargamu, Clara?" tanya Nyonya Sherly.
Clara hanya menggelengkan kepalanya, dia memang tak pernah mengingat-ingat nomor ponsel siapapun, bahkan nomor ponselnya sendiri pun Clara tidak mengetahuinya. Nyonya Sherly hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan, tak lama wanita itu pun kembali mencoba untuk menghubungi Willson, dia berharap saat ini putra kesayangannya itu telah menyelesaikan rapat, sehingga bisa menjemput dirinya.
Namun setelah beberapa kali panggilan, Nyonya Sherly tak juga bisa menghubungi Willson, bahkan telepon rumah saat ini tidak tersambung saat dihubungi, mau tak mau akhirnya Nyonya Sherly pun menelpon Robin, dia berusaha untuk meminta tolong kepada orang kepercayaan Wilson itu.
📱"Hallo.." terdengar suara Robin dari ujung panggilan.
📱"Kau dimana Robin? Dengar! Aku ingin kau menjemputku saat ini juga, aku akan segera mengirimkan lokasinya padamu." ucap Nyonya Sherly sambil mematikan teleponnya secara sepihak, tak lama kemudian wanita itu pun segera mengirimkan lokasinya pada Robin.
Sejenak Robin terlihat mengerutkan dahinya, ada apa dengan Nyonya besarnya itu, sehingga terlihat sangat buru-buru? Apalagi saat ini orang yang dihubunginya bukanlah Willson, melainkan dirinya yang bukan siapa-siapa. Namun mengingat saat ini dia bekerja untuk Willson, akhirnya mau tak mau Robin pun segera bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berganti pakaian dan langsung mengambil kunci mobil.
Dia harus segera mendatangi tempat Nyonya Sherly saat ini, sebelum ada kejadian buruk yang menimpa wanita itu.
Bruum...
Brum...
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Robin pun melaju dengan sangat cepat, pemuda itu sepertinya memang sengaja mengebut agar bisa sampai di tempat Nyonya Sherly dengan segera. Apalagi saat mendengar suara wanita itu, sepertinya saat ini dia benar-benar membutuhkan bantuan.
Lima belas menit kemudian, Robin pun sampai ditempat yang dituju, betapa kagetnya dia melihat penampilan Nyonya Sherly yang berantakan, apalagi Clara yang terus saja meringis seolah tengah menahan sakit.
"Nyonya besar!" panggil Robin.
Nyonya Sherly pun segera melirik, kemudian bangkit dari kursi yang didudukinya. "Antar aku pulang ke rumah, setelah itu kau harus mengantarkan Clara ke apartemennya. Jangan lupa untuk membayar air mineral yang ku pesan pada pelayan itu, saat sampai di rumah nanti aku akan mengganti uangnya."
Nyonya Sherly segera melangkahkan kakinya kemudian membuka pintu mobil milik Robin, wanita itu segera masuk, tak lupa dia pun melambai untuk mengajak Clara ikut serta, sedangkan Robin saat ini mendatangi kasir untuk membayar 3 botol air mineral yang diambil oleh majikannya.
Kedatangan Robin tentu saja menguatkan prasangka pelayan yang melayani Nyonya Sherly tadi, ternyata tebakannya memang benar, Nyonya Sherly adalah orang kaya raya, sehingga dia dijemput oleh seorang pemuda tampan menggunakan mobil mewah.
Akhirnya Robin pun mengantarkan Nyonya Sherly menuju kediamannya, setelah itu dia pun segera mengantarkan Clara menuju apartemennya. Sesekali Robin melirik ke arah Clara dari kaca spion, sambil mengerutkan dahinya, seolah pemuda itu saat ini tengah mengingat-ingat di mana kira-kira dia pernah melihat Clara.
Namun setelah beberapa menit, akhirnya Robin pun menghembuskan nafas kasar, sepertinya dia memang melupakan pertemuan sebelumnya dengan Clara, sehingga semakin dia mencoba untuk mengingatnya Robin malah semakin lupa.
Clara segera keluar dari mobil Robin, dia bergegas masuk ke dalam apartemennya, sedangkan Robin kembali mengerutkan dahinya. Bukankah kaki wanita itu tadi terluka dan tidak bisa berjalan dengan sempurna? Namun saat ini dia terlihat baik-baik saja, bahkan meskipun kakinya menggunakan high heels, wanita itu tidak terlihat kesakitan sama sekali.
"Dasar wanita!" ucap Robin, dia menyadari bahwa saat ini bukan hanya Nyonya Sherly yang terpengaruh dan menganggap jika Clara terluka, bahkan dirinya pun sesaat tadi berpikir kasihan kepada Clara yang tengah mengalami cedera di bagian telapak kakinya.
Namun setelah melihat wanita itu bisa berjalan dengan sangat cepat, membuat Robin akhirnya segera membalikkan badan, dia harus kembali menuju rumahnya agar bisa beristirahat. Menjadi kaki tangan dari Willson Smith tidaklah mudah, bos besarnya itu acap kali menyerahkan semua pekerjaan kantor miliknya kepada Robin.
Tak...
Tak...
Tak...
Terdengar suara ketukan yang bersumber dari high heels yang digunakan oleh Clara, tak lama kemudian wanita itu pun segera keluar dari lift menuju ke apartemennya, wajahnya terlihat sangat ceria, apalagi saat ini senyuman manis terus saja tersungging dari bibirnya.
"Sayang!" panggil Clara sambil mengucek matanya beberapa kali, dia tak menyangka jika akhirnya Yudha akan mendatanginya, padahal saat mereka berbincang lewat telepon kemarin, Yuda mengatakan bahwa dirinya saat ini tengah sibuk, sehingga tidak bisa menjumpai Clara.
"Surprise." pria itu tersenyum pada Clara. Tak lama kemudian keduanya sama-sama bergerak untuk mendekat, Clara langsung saja menjatuhkan dirinya pada pelukan Yudha, dia benar-benar sangat merindukan prianya. Apalagi setelah mereka berpisah selama hampir dua bulan lamanya, karena Clara yang akan dijodohkan dengan Willson Smith.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Yudha.
"Buruk! Willson bukanlah pria yang mudah untuk didekati, aku bahkan telah menggunakan berbagai macam cara untuk bisa menundukkannya, tapi dia selalu saja memiliki cara untuk melepaskan diri dari jeratanku." jawab Clara.
Yudha tersenyum melihat tingkah Clara, kemudian segera menggandeng wanitanya untuk memasuki apartemen. Bukan karena Yuda mencintai wanita itu, dia adalah seorang pria yang telah menikah dan memiliki seorang putri berusia 3 tahun, hanya saja hubungannya bersama dengan Clara yang telah terjalin selama 5 tahun membuat dia tak bisa lepas dari wanita itu. Clara berasal dari keluarga yang kaya raya, sehingga seluruh usaha yang saat ini telah dirintis oleh Yudha hampir 90% dibiayai oleh Clara.