Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Terlepas dari usianya yang sudah dua puluh delapan tahun, Nathan merasa seperti anak muda yang tidak tahu apa-apa, ia hampir tidak bisa bernapas, jantungnya berpacu begitu cepat.
Angel bahkan lebih cantik dari pada yang ada diingatnya, tubuhnya yang ramping tergambar dengan jelas dalam bungkus kain sutra yang di kenakannya, dan Nathan berusaha untuk tidak melihat ke bawah bahu gadis itu. Nathan melangkah memasuki kamar Angel, ia tersenyum sedikit ke arah Angel.
“Apa kesenanganmu, tuan?” tanya Angel dengan suaranya yang rendah dan lembut, namun membuat Nathan terkejut hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa.
Saat Nathan memasuki kamarnya, Angel menutup pintu di belakangnya dan bersandar, Angel menunggu Nathan untuk menjawab pertanyaannya. Namun kelihatannya Nathan begitu gelisah.
Sebetulnya Nathan tidak jauh berbeda dari pria lainnya hanya, Nathan sedikit lebih tua dari kebanyakan, sedikit lebih lebar bahunya. Dia bukan anak-anak, tapi Nathan terlihat tidak nyaman, sangat tidak nyaman. Mungkin Nathan punya istri di suatu tempat dan dia merasa bersalah atau mungkin dia memiliki orang tua yang taat ke gereja, sehingga merasa takut untuk datang ke tempat pelac*r.
Waktu terus bergulir, namun Nathan masih tidak tahu harus berkata apa. Sejak pertemuan pertama kalinya dengan Angel, Nanthan tidak pernah berhenti memikirkannya, dan sekarang ia ada di sini di kamar tidurnya dia berdiri membisu.
Angel sangat cantik. Tuhan, bagaimana sekarang? Aku bahkan tidak bisa memikirkan apa yang aku rasakan saat ini.
Angel berjalan ke arahnya, setiap gerakan wanita itu menarik perhatiannya. Angel menyentuh dadanya dan mendengarnya menarik napas. Angel tersenyum pada Nathan. “Tidak perlu malu denganku, tuan. Katakan pelayanan apa yang anda inginkan?" Nathan menatapnya. "Kamu....."
"Aku milikmu sepenuhnya," ucap Angel.
Nathan menatapnya ketika Angel menyeberangi ruangan menuju wastafel. Angel nama yang pas penampilannya yang bak boneka, bermata biru dengan kulit seputih susu dan rambut yang berkilauan.
'Tuhan, beri aku kekuatan untuk melawan godaan ini,' batin Nathan.
Angel mengisi air dalam bathtub, kemudian menuang sabun cair ke dalamnya. Semua yang di lakukan Angel terlihat sangat anggun dan provokatif. “Kenapa kamu tidak datang ke sini dan aku akan memandikanmu.”
Angel bisa merasakan panas mengalir di sekujur tubuh Nathan. Nathan terbatuk dan merasa kerahnya mencekiknya. Ia tertawa pelan. "Aku berani jamin, tuan akan relaks berendam di sini."
“Tidak perlu, aku di sini bukan untuk ****.”
"Lantas untuk apa kamu ada disini? Untuk belajar Alkitab?”
"Aku datang ke sini untuk berbicara denganmu."
Angel menggertakkan giginya, ia menyembunyikan kekesalannya, dia membiarkan pandangannya melayang dengan berani. Dia bergerak dengan gelisah di balik tatapan itu, tapi kemudian ia tersenyum. "Apakah kamu yakin kamu kemari hanya untuk berbicara?"
"Saya yakin." ucap Nathan sangat yakin.
Sambil mendesah, Angel berbalik untuk mengeringkan tangannya. "Apa pun yang Anda inginkan, tuan. Akan aku turuti," Angel duduk di tempat tidur dan menyilangkan kakinya.
"Apakah kamu tinggal di kamar ini saat kamu tidak bekerja?"
"Ya." Angel memiringkan kepalanya. “Menurutmu di mana aku tinggal? Di rumah mewah?” Angel membenci pria yang bertanya dan menyelidiki.
Nathan mengamati sekelilingnya. Tidak ada foto Angel di dinding, tidak ada pernak-pernik di atas meja, tidak ada pakaian yang berserakan. Semuanya rapi dan bersih.
Lemari sederhana, meja samping, tempat tidur, kursi, lampu gantung, wastafel marmer dengan sebuah bathtub hanya itunsaja yang terdapat di kamar Angel.
Nathan mengambil kursi dari sudut, meletakkannya di depan Angel, dan duduk. Angel membuka sedikit pakaiannya dan memainkan ujung pakaiannya sembari mengayunkan kakinya dengan malas.
Enam puluh detik menjadi satu menit, kemudia tiga puluh menit, satu jam. Nathan diam memandangi Angel. 'Tuhan, aku butuh waktu lebih lama lagi untuk bersama wanita ini.' batin Nathan.
"Kau bilang ingin bicara, tuan. Jadi bicaralah.”
Nathan terlihat sedih. “Seharusnya aku tidak datang kepadamu seperti ini. aku seharusnya menemukan cara lain.”
"Cara lain?" Angel tak mengerti, karena semuanpria yang datang kepadanya dengan cara yang sama, yaitu memenangkan undian atau berani membayar mahal.
Nathan mendengarkan ucapan Joseph untuk menemui Madam dan kemudian Madam mengatakan jika Angel merupakan komoditi terbaiknya sehingga Madam menginginkan bayaran yang mahal, tidak peduli Nathan ingin tidur atau hanya sekedar bicara dengan Angel, dan Nathan membayarnya penuh.
"Berapa usiamu?" tanya Nathan sembari tersenyum sedikit.
"Aku sudah tua," jawab Angel, ia tak menyebutkan angka maupun tahunnya.
Nathan ragu dengan jawaban Angel, karena Angel sama sekali tak terlihat tua. Tuhan, bagaimana saya mendapatkannya?
"Berapa usiamu?" Angel bertanya, membalikkan pertanyaannya kembali padanya.
"Dua puluh delapan."
“Tua, karena sebagian besar yang datang kemari berusia delapan belas atau sembilan belas tahun."
“Kenapa namamu Angel? Apa karena penampilanmu atau itu nama aslimu?”
Mulut Angel sedikit menegang. Satu-satunya hal yang tidak tersentuh oleh orang lain adalah namanya, dan dia tidak pernah memberi tahu siapa pun bahkan kepada Madam.
Satu-satunya orang yang pernah memanggilnya dengan namanya adalah Mama. Dan Mama sudah meninggal. "Panggil aku apa pun yang Anda inginkan, tuan. Itu tidak masalah.”
Nathan mengamati Angel dengan seksama. "Kurasa Mara cocok untukmu," ucapnya.
“Seseorang yang kamu kenal di rumah?” tanya Angel.
"TIDAK. Mara artinya pahit.”
Angel menatapnya kemudian dia diam. Permainan apa ini? "Apakah itu apa yang Anda pikirkan tentangku?"
Nathan mengangkat satu bahu dengan malas.“Yah, kurasa Mara adalah nama yang bagus untukmu."
Angel mulai mengayunkan kakinya maju mundur lagi, menandai waktu. Sudah berapa lama dia di sini? Berapa lama lagi ia harus tahan dengan permainan ini.
Nathan melanjutkannya lagi. "Asalmu dari mana? Sepertinya kau bukan asli Indonesia."
"Di sana-sini." Angel tersenyum sedikit pada sikap diamnya yang sopan dan gerah.
“Maksudmu?"
"Ya seperti yang keliahatannya aku berdarah campuran, tapi sekarang aku berada di sini," katanya.
Kaki Angel berhenti dan dia mencondongkan tubuh ke depan. “Bagaimana denganmu, tuan? Siapa namamu? Anda berasal dari mana? Apakah Anda punya istri di suatu tempat? Apakah Anda takut melakukan apa yang sebenarnya Anda lakukan ingin?" Angel meratakan semua luapan penasarannya padanya.
Nathan sama sekali tak terkejut, ia terlihat santai. "Nathaniel Artado." jawabnya “Aku tinggal di Bogor dan aku belum menikah, tetapi aku akan segera menikah.”
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.