Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Tertampar Berulang Kali
“Mama!” Nino terperanjat dari tidurnya. Sedikit linglung ketika menemukan dirinya berada di mobil yang sedang berjalan.
“Nino, ada apa?” tanya Reza menguasai setir mobilnya.
Nino menoleh, “Om Reza? Kita di mana, Om? Mama mana?” cecar Nino panik.
Reza tampak mengulas senyum tipis, mengacak rambut Nino hingga sedikit berantakan. Nino menepis lengan lelaki itu. Mencari keberadaan ponselnya, yang entah di mana sekarang.
“Nino, tenanglah. Om cuma mau ngajak kamu ke rumah. Om punya studio mini loh. Nanti kita bisa main sepuasnya di sana! Bukankah kamu sudah janji mau nemenin om? Kata kamu janji itu hutang,” jelas Reza dengan nada tenang.
“Tapi aku belum izin mama, Om. Mama pasti mencariku! Aku juga takut mama kenapa-napa!” elak Nino dengan perasaan was-was.
Reza menoleh sekilas, ia bisa melihat kekhawatiran di wajah lelaki kecil yang sangat tampan itu. Bibirnya tersenyum tipis. Merasa malu dengan anak kecil itu, atas tanggung jawabnya.
“Nino, mamamu sudah tahu rumah Om. Jadi, nanti pasti menyusul ke sana. Kita tunggu di sana ya sekalian nanti kamu istirahat,” balas Reza berusaha meluluhkan Nino.
“Bener ya, Om! Bohong itu dosa!”
“Iya. Tidur lagi aja.”
“Enggak mau. Aku mau menghafal jalan!” sahut Nino terus menatap keluar jendela.
Mengamati setiap detail jalanan yang mereka lalui sembari mengingat-ingat di mana terakhir ia meletakkan ponselnya. Dadanya berdebar sedari tadi, entah kenapa penjelasan Reza tetap tidak bisa membuatnya tenang. Hatinya gusar mengingat sang ibu.
“Yaudah terserah kamu.” Reza mengalah.
Nino menghela napas berat berkali-kali. Kemudian bersandar sembari memejamkan mata. Bibirnya mulai terbuka, perlahan terdengar suara merdu Nino melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan fasih. Berharap, hatinya bisa segera tenang. Sesuai dengan pesan sang mama.
DEG!
Hati Reza bergetar mendengar lantunan ayat-ayat suci itu. Bahkan tanpa sadar, mulai menitikkan air mata. Bibirnya terkatup rapat, dadanya semakin berdebar kuat. Teringat hidupnya yang sangat jauh dari sang pencipta selama ini. Ia seolah tertampar berulang kali oleh putranya sendiri.
\=\=\=\=\=oooo\=\=\=\=\=
Sofia segera menegakkan tubuhnya. Ia melepas cengkeraman tangan Tama dan sedikit membuat jarak. Meski harus menahan nyeri di kakinya.
“Mas, tolong ambilkan mobilku. Nino dibawa pergi! Buruan, Mas!” Sofia segera meraih kunci mobilnya dan menyerahkannya pada Tama.
“Ke mana? Siapa yang membawanya?” seru lelaki itu menautkan alisnya.
“Udah, cepat, Mas! Sebelum semakin jauh! Nanti aku jelasin semuanya!” tambah Sofia frustasi.
Tama segera berlari ke arah parkir. Ia tidak tega melihat Sofia bersedih. Pria bernama lengkap Yoshua Pratama itu, selalu memiliki seribu cara agar dekat dengan Sofia. Salah satunya membuat acara house concer ini. Karena Tama yakin, Sofia pasti mengikuti acara-acara sosial.
Rencananya, ia ingin mengajak Sofia dan Nino jalan-jalan. Lalu melamar wanita itu. Sudah cukup lama, Tama mengaguminya. Kelembutan, kecakapan, kepintaran dan kehebatan Sofia, mampu membuatnya tergila-gila pada wanita itu. Akan tetapi, ternyata cukup sulit masuk ke kehidupan wanita itu.
Setelah berlarian dan menemukan mobil Sofia, Tama segera membawanya menghampiri Sofia yang menunggunya di tempat yang sama.
Tama keluar dan membukakan pintu untuk Sofia. “Hati-hati,” ujar Tama membantu Sofia masuk. Setelah memastikan Sofia duduk nyaman, ia berlari setengah putaran dan duduk di balik kemudi.
“Perumahan Griya Asri, No. 31A,” tutur Sofia tanpa menoleh. Tujuan utamanya saat ini adalah rumah Reza. Tempat di mana ia menjalani hari bak di penjara, tidak dihargai dan cukup banyak menorehkan luka.
“Kamu yakin?” tanya Tama mulai menjalankan mobil dengan perlahan.
Sofia mengangguk, “Heem, aku yakin,” sahutnya menatap Tama.
“Sofia, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi? Ini bisa disebut penculikan,” saran Tama yang melihat sorot kekhawatiran di wajah cantik Sofia.
“Tidak perlu, Mas.”
“Tapi, Sofia. Takutnya kejadian ini akan terus berulang kalau kita biarkan saja. Kita harus beri pelajaran biar jera!” kekeh Tama yang ikut merasa khawatir pada Nino.
“Dia tidak mungkin melukai darah dagingnya sendiri,” gumam Sofia lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Tama.
“Apa?!” pekik Tama menginjak pedal rem secara mendadak.
Bersambung~
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.