Bagaimana jadinya jika seorang pengusaha sukses dan terkaya se-ASIA yang kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan, harus pura-pura miskin demi mendapatkan cinta sejatinya.
Akankah si pria itu bisa menemukan wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 OB Tampan
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi dan Nata mulai bersiap-siap karena sebentar lagi Bobby akan segera datang menjemputnya.
Nata dan Bobby pun sampai di sebuah restoran mewah untuk bertemu dengan rekan bisnisnya yang datang dari China.
"Pelangi! Pelangi!" teriak Pak Edo.
"Siap Pak Edo."
"Kamu tolong beli alat-alat ini, soalnya di sini sudah habis," seru Pak Edo dengan menyerahkan selembar kertas kepada Pelangi.
"Siap Pak, kalau begitu saya permisi dulu."
Pelangi pun segera naik ke atas motornya dan pergi untuk membeli alat-alat yang Pak Edo perintahkan kepadanya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Pelangi pun sampai di sebuah toko khusus menyediakan spare part kendaraan.
"Bang, mau beli alat-alat ini," seru Pelangi dengan menyerahkan selembar kertas.
"Baik Mba, Mba bisa tunggu sebentar biar kami mencari dulu barang-barangnya."
"Oke."
Pelangi pun duduk di sebuah kursi yang ada di depan toko itu, Pelangi tampak kagum melihat restoran yang kebetulan berada di seberang toko itu.
"Huawaaa...restoran itu besar banget, pasti makanan di sana mahal-mahal. Kapan ya, aku dan Vio bisa masuk ke restoran seperti itu?" batin Pelangi dengan memperhatikan restoran itu.
Tapi tidak lama kemudian tatapan Pelangi tertuju ke arah lantai dua, dimana ada beberapa orang yang sedang berbincang-bincang.
"Loh, bukanya itu Pak Bobby ya yang tempo hari datang ke bengkel? ya Allah, sempurna sekali ciptaanmu ," batin Pelangi dengan senyumannya.
Pelangi senyum-senyum sendiri, hingga Pelangi tampak kaget melihat seorang pria yang duduk di samping Bobby. Pelangi menajamkan penglihatannya.
"Itu kok mirip dengan Mas Nata, ya?"
Pelangi mengucek-ngucek matanya saking tidak percayanya dia, lalu Pelangi kembali menajamkan matanya dan ternyata orang itu sudah tidak ada.
"Astaga, ternyata barusan aku hanya salah lihat saja. Lagipula mana mungkin itu Mas Nata dan dari mana Mas Nata kenal dengan Pak Bobby? Pelangi-pelangi, kamu ada-ada aja," gumam Pelangi dengan memukul kepalanya sendiri.
"Mba, ini pesanannya."
"Ah iya, Bang."
Pelangi pun segera mengambilnya dan dengan cepat menaiki motornya untuk kembali ke bengkel.
Sebenarnya Pelangi tidak salah lihat karena itu memang Nata, hanya saja disaat Pelangi sedang mengucek-ngucek matanya, Nata izin pergi ke toilet.
Nata dan Bobby pun mengakhiri pertemuannya, dan rekan bisnis Nata dari China itu pun pamit untuk pulang.
"Kamu gak ngojeg?" tanya Bobby dengan menyesap kopinya.
"Enggak, aku sudah diberhentikan," sahut Nata santai.
"Kok bisa?"
"Aku banyak keluhan dari costumer."
"Terus sekarang rencana kamu apa? apa kamu mau kembali ke kantor?"
"Iya, aku mau kembali ke kantor saja tapi tidak untuk menjadi Bos," sahut Nata.
"Terus?"
"Aku mau jadi OB di sana."
"Kamu gila ya Nat, kalau kamu jadi OB mana ada yang berani nyuruh-nyuruh kamu," seru Bobby.
"Ya terus aku mau jadi apa lagi? sekarang sudah tanggung, mana di kantor ada si Vio lagi kalau tiba-tiba dia tahu, aku pemilik perusahaan itu, bisa-bisa si Vio makin gila deketin aku."
"Terserah kamu sajalah Nat."
"Kamu informasikan kepada semua karyawan, jangan sampai ada yang keceplosan memanggilku dengan sebutan Bos atau pun Pak."
"Oke-oke."
"Ya sudah, sekarang kamu antarkan aku pulang ke rumah Mami."
Nata pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya dulu, dia ingin beristirahat sebentar.
Malam pun tiba....
Nata memutuskan untuk tidur di rumahnya malam ini.
Nata tampak melamun dan melihat langit-langit kamarnya, Nata teringat akan kejadian dulu saat mantan pacarnya lebih memilih Kakaknya Arga karena dulu dirinya masih kuliah sedangkan Kakaknya sudah menjadi seorang Pengusaha.
Dan yang lebih membuat Nata sakit hati adalah Arga dengan tidak punya perasaannya justru menerima Gisel sebagai pacarnya padahal dia tahu kalau Gisel adalah pacar Nata.
"Sekarang kamu lihat Arga, perusahaan ku lebih banyak daripada kamu dan aku menjadi pengusaha tersukses se-ASIA. Jadi, kamu tidak akan bisa lagi merendahkanku," gumam Nata.
Tiba-tiba pintu kamar Nata terbuka membuat Nata tersentak.
"Nat."
"Iya Mi."
"Ini ada kiriman dari Bobby, kenapa dia mengirim seragam OB untukmu?" tanya Mami Anita.
"Oh itu, mulai besok Nata mau bekerja sebagai OB di perusahaan Nata soalnya Nata sudah diberhentikan dari driver ojeg online."
"Hah, jadi OB? yang benar kamu Nat? masa mau jadi OB di perusahaan kamu sendiri sih? terus bagaimana kalau karyawan kamu tahu?"
"Mami, di kantor itu ada wanita yang bernama Violet. Dia adalah tetangga Nata di kontrakan, jadi kalau Nata gak pura-pura jadi orang miskin, sia-sia dong pengorbanan Nata selama ini."
"Jangan bilang, wanita bernama Violet itu gebetan kamu?" goda Mami Anita.
"Apaan sih Mami, asalkan Mami tahu, dia itu gak jauh beda sama wanita-wanita diluaran sana yang hanya menginginkan harta saja jadi, dia bukan gebetan Nata."
"Oh, kirain kamu rela pura-pura jadi OB karena ingin merebut hati wanita itu."
"Sudah ah, Nata ngantuk Mi jadi Nata mau tidur dulu."
Nata pun mulai merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut membuat Mami Anita geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk keluar dari kamar anak bujangnya itu.
***
Keesokan harinya...
Nata sudah siap dengan baju OBnya, tapi tetap saja jam tangan mahal tidak lepas dari pergelangan tangan Nata.
"Pagi Mi, Pi!"
"Pagi."
"Sekarang jadi OB?" tanya Papi Kara.
"Iya Pi, kemarin jadi ojeg online gak berhasil Nata diberhentikan karena rating Nata buruk."
"Sudah Papi duga, mana bisa seorang Nata disuruh-suruh."
Nata menyunggingkan senyumannya, setelah sarapan selesai Nata pun memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan menggunakan sepeda gunung milik Papinya.
"Pi, Nata pinjam sepedanya ya!" teriak Nata.
"Jangan sampai lecet."
"Siap."
Nata pun mulai mengayuh sepedanya itu, karena Nata rajin sekali berolahraga membuat Nata tidak merasa kelelahan justru Nata sangat senang.
Hingga beberapa saat kemudian, Nata pun sampai di kantornya dan sekuriti segera menghampiri Bosnya itu dengan raut wajah yang bingung.
"Pak Kasmin, tolong parkirkan sepeda saya dan tolong jangan panggil saya Bos atau Pak dulu di depan wanita yang waktu itu pulang bareng sama saya."
"Oh, Neng Violet, Bos."
"Kok, Pak Kasmin tahu?"
"Neng Violet mah anaknya baik dan mudah sekali berteman dengan siapa pun. Walaupun Neng Violet baru beberapa hari kerja tapi Neng Violet sudah banyak mengenal orang di sini dan Neng Violet sangat ramah orangnya sehingga banyak yang menyukai Neng Violet."
"Oh, oke. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu."
"Siap Bos."
Nata pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaannya, semua Karyawan lagi-lagi menganga melihat penampilan Bos mereka. Mereka bingung, ada apa dengan Sang Bos, sampai-sampai dia rela mau menjadi OB di perusahaannya sendiri.