Aneuly Priliana (18) sejak kecil ia hanya tinggal dengan nenek nya, namun semenjak nenek nya meninggal ia harus tinggal di panti asuhan, ia sekolah memakai uang beasiswa dan uang hasil kerja paruh waktunya untuk menyambuh hidupnya.
Setelah lulus sekolah menengah atas, ia lebih memilih bekerja sebagai baby sister keponakan sahabatnya, yang ternyata menaruh hati pada Aneuly sejak mereka bersahabat.
Selama bekerja Aneuly tergoda oleh Duda Tampan, Ayah dari ketiga anak asuhnya.
Darendra Maximillan (27) Pria tampan yang sudah mempunyai tiga anak kembar ini, Mulai jatuh cinta pada gadis yang di cintai adiknya sendiri, gadis yang juga menjadi baby sister anak nya.
Namun Daren mati - matian berusaha mengelak rasa suka pada gadis bernama Aneuly itu. Tapi Ketiga anak nya sangat dekat dengan Aneuly dari pada dengan dirinya.
"Aku seperti mempunyai 4 orang anak, mereka semua sangat manja," gerutu Aneuly kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DLM II Eps 13
Bi Nur tidak tau kenapa dirinya merasa gugup, padahal dirinya yang memergoki Daren yang sedang memeluk Aneu semalam, namun kenapa dia yang merasa bersalah.
Untuk menjawab pertanyaan Daren saja membuatnya dirinya kesusahan, "Non Aneu pergi, Tuan …" ucap Bi Nur. "Dia pergi ke sekolah bersama tuan Abian." akhirnya bi Nur bisa menjawab pertanyaan itu.
Daren menghela napas lega, dia pikir jika Aneu akan kabur setelah dirinya menyatakan perasaannya kepada Aneu. "Kenapa dia tidak bilang padaku?" jawabnya.
"Kemarin Tuan Daren sedang bekerja, tuan Abian yang meminta ijin kepada Nyonya Diana, Tuan." jawab bi Nur.
Daren mengangguk, namun dalam hati Daren sangat kesal karena dirinya meliburkan diri untuk pendekatan dengan Aneu. Namun sayang keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya.
"Apa jadwal anak-anak hari ini, Bi?" tanya Daren pada bi Nur yang sedang membantu Cryl mengoleskan lagi slei pada rotinya yang baru.
"Hari sabtu hanya mata pelajaran bahasa ingris, Tuan."jawabnya. Lalu Daren mengangguk dan bi Nur pun kembali ke belakang saat dirasa tuannya tidak ada lagi pertanyaan.
*
Sementara Aneu dan Abian baru sampai di sekolahnya mereka datang untuk mengambil berkas-berkas miliknya. "Aneu sarapan dulu yuk, kamu belum sarapan kan." ajak Abian.
"Ayo aku laper banget, semalam aku lupa makan karena ketiduran." Jawab Aneu sambil mengelus perut yang keroncongan.
Aneu dan Abian pun datang ke tempat biasa mereka jajan saat sekolah dulu, sesampainya di sana mereka di sambut oleh senyuman ibi Rima pemilik warung itu.
"Yehh udah lama kalian ga kesini Aneu, Bian …" sapa bu Rima.
"Iya bu, kita datang buat ambil ijazah. Bu minta nasi sama lauknya buat Aneu ga pake sambal yah," ucap bian pada ibu Rima yang sudah sangat akrab dengannya.
"Memang kamu ga makan Bian?" tanya nya. "Aneu kamu ga mau bakso aja? Bakso nya baru banget mateng," tawar bu Rima pada Aneu.
"Ga usah, Aneu suka sakit perut kalo makan yang lain sebelum makan nasi buk," jawab Abian yang sudah hapal betul dengan kondisi tubuh Aneu, dan Aneu hanya mengangguk-angguk.
"Bian ga bisa sarapan pagi, jadi sarapan buat Aneu aja bu, mana?" pintanya ingin cepat-cepat makan.
"Iya bentar-bentar ibu ambilin dulu," jawabnya lalu mengisi piring itu dengan lauk dan nasi. "Kalian udah kaya suami istri saja, tau kebiasaan masing-masing," jawabnya lalu memberikan piring itu pada Aneu.
Abian langsung mengulum senyum, dia sangat senang jika mereka berdua terlihat cocok di mata orang lain, sementara Aneu menertawakan pendapat bu Rima.
"Ibu ini, Bian mana mungkin nikah sama aku, dia ga cocok jadi suami Aneu bu," jawabnya jujur. "Dia cocok nya sama cewe yang tipe nya mirip Amora, cantik" tambahnya lagi membuat senyum Bian menghilang.
*
Sudah hampir 1 jam Daren mulai bosan memperhatiakan anak-anaknya belajar bersama guru les nya. Apalagi guru les yang di panggil Miss Lyna itu tampak mencuri-curi pandang pada duda tampan beranak tiga itu.
"𝑇𝑎𝑢 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑛𝑖, 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑎𝑘𝑢 𝑘𝑒𝑘𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛𝑘𝑢," ucap Daren dalam hatinya, kenyataannya tidak sesuai dengan imajinasinya. Daren ingin dia bermanja-manjaan dengan Aneu sambil bermain dengan anak-anaknya.
Tidak mungkin Daren meminta Yolanda mengirimkan berkas-berkasnya ke kediamannya, yang ada Yolanda akan menertawakannya, karena gagal lagi.
"Tuan, pelajaran sudah selesai … saya ingin berbicara sebentar mengenai anak-anak." pinta Miss Lyna pada Daren dengan nada yang sedikit manja.
"Beritahu saja nanti pada Aneu," jawab Daren tidak memalingkan wajahnya dari ponsel yang ia pegang.
"Tapi Tuan, lebih baik saya berbicara dengan orang tuanya langsung daripada dengan Baby sisternya," pinta Miss Lyna berusaha merayu. Miss Lyna dengan cepat duduk di samping Daren.
Daren langsung berdiri, "Dia bukan Baby sister, tapi Aneu calon mommy nya anak-anak!" tegas Daren menatap tajam wanita yang sedang duduk itu. "Apapun perkembangan anaku beritahu pada MOMMY nya!" ucap Daren kembali menegaskan.
"Maaf Tuan, saya mengerti maksud anda, saya akan berbicara kepada nyonya Aneu minggu berikutnya," jawab nya dengan cepat berdiri dan menunduk, "kalau begitu saya pamit," ucapnya lalu pergi.
Daren tidak memperdulikan wanita yang baru saja pergi, dia terus menatap layar ponsel berharap jika Aenu akan menghubunginya.
"Dadd, ayo kita baca dongeng," ajak Brisea tiba-tiba menarik jarinya dan mengajaknya duduk di kursi. Cryl langsung ikut duduk di samping Daren dan juga Brisea.
Sementara Axio hanya memperhatikan sambil duduk dan membaca pelajaran yang baru saja ia pelajari dengan miss Lyna.
Brisea memberikan buku dongeng kepada Daren untuk ia baca, Daren pun membuka buku itu dia bingung di sana tidak ada tulisan sama sekali, hanya ada banyak gambar yang menggambarkan aktifitas beberapa orang di dalamnya.
"Ini bukan buku dongeng, Bee," ucap Daren heran, apakah anaknya salah mengambil buku. " Ini hanya buku bergambar," jawab Daren lagi.
"Itu buku dongeng Dad, ini adalah Beni dan ini hewan kesayangan nya dia namanya Dolly," jawab Brisea sambil menunjuk gambar di dalam buku itu.
Brisea malah semakin membuat Daren bingung dengan ucapannya, "Bagaimana kamu tau? di sini kan tidak ada tulisan nama mereka," Daren mengerutkan keningnya lalu membolak balikan lembar buku itu.
"Dadd itu buku bergambar, Namun bisa menjadi sebuah dongeng jika seseorang yang melihatnya bisa menyampaikan isi dalam gambar itu menjadi sebuah dongeng," jawab Axio dengan santainya lalu menghela napas kasar, dia sudah tau jika Daddy nya tidak akan mengerti.
"Kak Aneu yang memberi nama pada tokoh cerita itu," jawabnya lagi karena Axio tau isi otak Daddy nya.
"Ternyata buku anak-anak jaman sekarang bisa membuatku berpikir keras," gumamnya sambil memijit kepalanya yang muali nyeri. "Baiklah Daddy bacakan," ucapnya.
Daren memperhatikan gambar itu sebelum mulai mengarang ceritanya, dia menghela napas lebih dulu. "Beni pergi keluar untuk mengajak Dolly jalan-jalan ke taman, lalu dia tidak sengaja bertemu orang baru yang juga membawa hewan peliharaan nya--"
"Dadd!" sanggah Brisea menghentikan cerita Daren. "Itu bukan orang baru, dia Wawan temanya Beni mereka janjian untuk main di taman." jawab Brisea yang sudah tau cerita sebelumnya dari Aneu.
"Ya mana Daddy tau, Bee!" ketus nya mulai kesal.
"Aaahh Bee ga mau Daddy yang baca, Bee mau kak Aneu yang bacain dongeng nya!! Daddy ga bisa baca dongeng," teriak Brisea membuat Daren menutup telinganya. "Daddy bacanya kaya orang yang sedang marah!" ketus Brisea lagi.
"Jangan berisik Bee!!! Daddy pusing mendengar rengekanmu!!" tegas Daren berusaha menghentikan rengekan Anaknya.
"Non … kenapa Nona Bee?" tanya Bi Nur yang berlari menghampiri pertengkaran majikanya.
"Bee pengen sama Kak Aneu, Daddy sama sekali tidak bisa baca dongeng," adunya pada asisten rumah tangganya itu.
"Jangan nangis yah, Bibi telpon tuan Abian untuk nanyain kak Aneu," ucap Bibi Nur berusaha menenangkan Brisea dan di jawab dengan anggukan. Daren pun Antusias ingin menanyakan keberadaan Aneu, dan dia juga sudah merasa tidak kuat berlama-lama dengan ketiga anak nya itu, apalagi Brisea yang membuat kepalanya nyaris pecah.
"Tanya dimana dia, biar kita yang jemput," tanya nya pada bibi Nur.
"Baik Tuan," jawabnya singkat. Lalu kebelakang untuk mengambil ponselnya dan menelpon Abian.
.
.
𝑡𝑜 𝑏𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑...