Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosen Si Paling Killer
Ellena adalah ketua tingkat di kelasnya. Ia menjadi ketua tingkat dari saat ia masuk semester dua lalu. Segala sesuatu yang berurusan dengan kegiatan kampus outdoor atau indoor, Ellena yang mengurus untuk mewakili teman satu kelasnya.
Ketua tingkat di saat kuliah itu hampir sama dengan ketua kelas di Sekolah Menengah Atas. Perbedaannya hanya di kegiatannya saja. Ketika kuliah lebih banyak kegiatan dan ruang lingkupnya lebih luas.
Dulu pada saat awal masuk kuliah semester satu, teman satu kelas Ellena yang bernama Faisal yang menjadi ketua tingkat.
Faisal di pilih karena ia orang asli tempatan di kota tempat Universitas mereka berdiri. Dan saat Faisal di pilih saat itu, mereka satu kelas belum mengenal satu dengan yang lainnya.
Namun seiring berjalannya waktu hari ke hari, minggu ke minggu hingga berubah ke semester mereka satu kelas sudah saling akrab dan mengenal satu sama lain. Bagaimana pribadi si A, bagaimana pribadi si B sudah mulai tahu.
Seperti halnya pertemanan di mana-mana, mereka ada yang berteman akrab berpasangan, ada yang bertiga, ada yang berkelompok menggikuti jenis kelamin dan sebagainya.
Tidak ada niatan Ellena untuk menjadi ketua tingkat, karena banyak sekali pertemuan atau tugas-tugas yang akan dilakukan atau diurus oleh seorang ketua tingkat. Terutama jika ada kegiatan-kegiatan. Sudah pasti ketua tingkat yang sibuk mengurus teman-teman satu kelasnya.
Menjadi ketua tingkat juga harus bisa mengambil satu kesimpulan atau keputusan dari berbagai macam ide atau pemikiran teman-teman satu kelas. Sudah pasti harus aktif mengikuti kegiatan di kampus. Tapi Ellena menerima dan menjalani tugasnya dengan happy dan bersemangat.
Faisal yang dari awal terpilih ternyata tidak mampu melaksanakan tugasnya menjadi seorang ketua di kelasnya. Ia sering tidak masuk kuliah dan suka telat datang ke kampus.
Padahal seharusnya sebagai ketua tingkat ia harus siap dan datang lebih awal ke kampus, minimal tidak terlambat dari jadwal masuk. Karena banyak yang harus dia urus, entah sebagai mahasiswa biasa pada umumnya atau sebagai seorang ketua tingkat.
Ellena menjadi ketua tingkat berawal dari masuk hari pertama semester dua lalu, dosen bernama Pak Andre masuk ke dalam kelas.
"Selamat Pagi!" kata dosen itu ketika melewati pintu kelas, sambil berjalan menuju meja dosen.
"Pagi Pak..."
"Selamat Pagi Pak..." semua mahasiswa menjawab secara bersamaan. Pagi itu mata kuliah pertama adalah "Perpajakan".
Terlihat rawut wajah mahasiswa-mahasiswi Prodi Akuntansi Kelas 2A Pagi saat itu, menunjukkan mimik wajah yang tegang dan seperti terancam.
Pak Andre adalah dosen terkiller yang ada di Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Karena berita kilernya itu sudah menyebar di mana-mana, jadi seluruh mahasiswa-mahasiswi di kelas Ellena juga sudah tahu. Makanya itu, saat Pak Andre masuk kelas, semua mental mereka down.
Prakkkkkkk !!!
Pak Andre dengan kuat menghempas buku dan beberapa tumpukan kertas yang ia bawa ke atas mejanya.
Bukan hanya itu, ia juga menarik kursi duduk dosen dan di seret dengan kuat. Lalu begitu juga dengan meja.
Ia menggeserkan meja dosen yang berat itu, dengan kuat dan di pindahkannya sangat dekat dengan barisan kursi mahasiswa paling depan. Karena kelakuannya itu, kelas Ellena menjadi ribut seperti pertengkaran rumah tangga atau seperti tulang yang lagi sibuk renovasi.
Melihat apa yang sedang dilakukan dosen killer itu, semua mahasiswa bertatapan. Ellena yang dengan spontan membisik teman laki-laki di kursi barisan belakang Ellena, untuk membantu Pak Andre mengangkat meja agar tidak di seret dan menimbulkan keributan seperti itu.
"Bantu Yos, Al! Cepat!" kata Ellena kepada kedua temannya itu.
Tapi Yosua dan Alpianto tidak menjawab, terlihat di wajah mereka seperti pucat ketakutan dan tegang. Memang suasana saat itu begitu mencekam.
"Woi cepatlah! Berat itu meja!" kata Ellena lagi.
"Ih ndak berani, Len!” jawab Yosua dengan ekspresi wajah yang meringis.
Mendengar itu, Fitri yang duduk di samping Ellena berkata kepada Ellena dengan suara kecil.
"Len, kamu aja yang bantu! Tenaga kamu kan kuat!Kamu lihat tu mata Pak Andre"
"Emmm" kata Ellena sambil melihat ke arah Yosua dan Alpianto, lalu beralih kepada Fitri.
Ellena lalu berdiri. "Pak... Perlu bantuan tidak?" tanya Ellena sambil tersenyum.
"Aaaa! Akhirnya ada juga manusia di ruangan ini" kata dosen itu menyinggung seluruh mahasiswa di kelas, karena tidak ada yang berinisiatif membantunya.
Ellena lalu melangkah ke depan dan mengangkat sudut meja sebelah kiri dan Pak Andre dari sebelah kanan.
"Oke Pak sudah" kata Ellena lagi. Suasa di kelas itu seperti membisu. Tidak ada yang berani tertawa atau mengeluarkan suara sedikit pun.
"Baik... Terimakasih Nona!" kata Pak Andre.
Ellena kembali ke kursinya dan Pak Andre berdiri di depan meja lalu menyandarkan bokongnya ke sisi tengah meja itu dan menghadap ke arah mahasiswanya.
next next