"Aku memang sanggup untuk menghapus namanya dan menggantikannya dengan nama suamiku di hatiku, tapi apa aku sanggup terus mempertahankan rumah tanggaku tanpa cinta dari suamiku? Yang selalu enggan untuk menyentuhku untuk lebih intim?" batin Suci
"Sampai kapan kamu tidak mencintaiku? Sampai kapan kamu akan terus belajar mencintaiku? Apa perlakuan manisku tidak bisa menggerakan hatimu walau pun sedikit saja Uci?" batin Arkan
"Bunda mohon nak, jadikan kakamu istri ke dua Arkan." ucap Anisa
Akan'kah rumah tangga Arkan dan Suci tetap utuh di saat Bunda dari Suci meminta Suci untuk menyutujui kakaknya menjadi istri ke dua dari suaminya?
Akan'kah Suci merelakan suaminya untuk kakanya sendiri di saat ia sudah mengandung benih dari suaminya karena menikah dengan dua wanita bersaudara kandung adalah haram? Atau Suci tetap mempertahankan rumah tangganya karena kakanya yang membatalkan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 13 Gibah
Seperti yang Suci rencanakan, ia pergi ke bandung untuk meminta surat pindah dari kampusnya. Setelah itu Suci memutuskan ke pesantren, ia mau berpamitan dengan yang lainnya. Suci turun dari mobil, ia terus saja berjalan sambil menunduk seperti bisanya, hingga ia menemukan banyak santriawati yang sedang membicarakannya.
" Aku penasaran kenapa Suci menolak Gus Ali?"
" Aku juga sama penasaran, Gus Ali sangat sempurna, tapi bisa-bisanya Suci menolaknya."
" Aku pikir dulu Suci itu suka sama Gus Ali, melihat ke dua orang tua Gus Ali sangat dekat."
" Tapi menurutku, baguslah kalau Suci menolak, kita masih bisa berjuang untuk Gus Ali, kalau tidak, nanti kita bisa sedih berjama'ah."
" Tapi aku kesel banget sama Suci, so cantik banget sampai nolak Gus Ali."
" Suci memang cantik, aku dan Suci berbeda satu tahun masuk pesantren ini, duluan aku, hanya saja Suci sangat cedas, itu kenapa bisa menjadi senior."
Suci hanya beristighfar dalam hati, tanpa mau menegur mereka, ia juga tidak di masukan ke dalam hati, karena bagi ia sudah biasa, mau melakukan kesalahan atau kebenaran, kalau orang itu tidak suka pada ia tetap saja tidak akan pernah suka, karena mereka hanya memendangnya sebelah mata. Saat mereka melihat Suci, mereka menghentikan pembicarannya, mereka langsung menunduk, sedangkan dari salah satu mereka langsung menyapa Suci, tanpa mau minta maaf setelah terpergok membicarakan Suci oleh Suci sendiri.
" Sudah datang lagi senior Suci?"
Walau pun usia Suci lebih muda dari mereka, tapi mereka tetap menghargai Suci sebagai senior mereka.
" Iya, kalau begitu saya ke asrma dulu."
Suci tersenyum di balik cadarnya, seolah-olah ia tidak mendengar apa-apa.
" Iya senior."
Suci langsung berjalan lagi sambil menggeleng pelan, melihat kelakuan mereka yang seolah-olah ia tidak mendengar ucapan mereka. Suci yang terus berjalan, masih saja mendengar pembicaran satriawati yang sedang membicarakannya.
" Kasihan iya Gus Ali, minta do'a sama para santri agar lamarannya di terima, eh tau-taunya di tolak."
" Lagian bayak dari santriwati yang masih tidak rela kalau Gus Ali melamar Suci."
" Tapi Suci itu cocok tau sama Gus Ali, mereka berdua sama-sama sempurna."
" Iya, tapi kira-kira kenapa iya Suci menolak Gus Ali? Secara mereka itu sudah seperti keluarga, pak Kiai dan Umi juga menganggap Suci sudah seperti putrinya sendiri, kadang kita-kita juga ngiri sama perlakuan Umi yang begitu hangat pada Suci."
" Benar banget, tapi kira-kira setelah menolak Gus Ali, Suci masih mondok di sini tidak iya? Secara pasti mereka berdua sama-sama canggung kalau bertemu."
" Mana kita tau lah, lagian cinta itu tidak bisa di pilih mau ke siapa."
Salah satu dari mereka, mencolek yang lain, karena melihat Suci sudah melewati mereka.
" Ih, ko Suci sudah di sana? Berarti tadi mendengar pembicaraan kita dong?"
" Ya iyalah, pasti Suci mendengarnya."
" Mulut kita malu-maluin saja."
Sementara yang lain hanya mengangguk. Suci langsung masuk ke kamar asramanya yang biasa di tempati oleh tiga orang, ia, Lia dan Karinah.
" Assalamuailikum."
Suci langsung membuka kamar itu.
" Wa'alaikumsalam, akhirnya kamu datang juga Uci, katanya kamu pulang satu minggu Uci?"
Lia dan Suci langsung berpelukan, mereka memang sudah kenal lama, dari Suci masuk ke pesantren, Lia sudah menjadi senior hingga Suci juga menjadi senior juga.
" Aku mau pamitan sama kamu Lia dan Karinah, termasuk pada Ustazah dan Umi, Abi."
Lia langsung melepaskan pelukannya karena terkejut.
" Kamu mau keluar dari pesantren ini cuma karena kamu menolak Gus Ali? Suci, cinta memang tidak bisa di paksakan, walau pun kamu menolak juga tidak apa-apa, lagian kamu di sini itu untuk belajar dan belajar, bukan yang lain-lain, terus kuliah kamu gimana? Atau kamu mau cari kost?"
Suci tersenyum sambil menggeleng pelan, melihat sahabatnya yang membrondong banyak pertanyaan. Memang di antara mereka bertiga, hanya Lia yang paling banyak bicara, tapi di antara mereka bertiga hanya Karinah yang sangat mudah marah.
" Aku tidak berpikir seperti itu Lia, sini duduk dulu."
Suci langsung duduk di atas ranjang di ikuti Lia yang duduk di sampingnya.
" Aku keluar bukan karena menolak lamaran Gus Ali, tapi aku keluar karena mau nikah 4 hari lagi."
" Ini serus?! Telingaku tidak salah dengarkar?!"
" Jangan keras-keras dong Lia, telinga aku sakit nie."
" Iya maaf, habis tidak ada hujan tidak ada angin, datang-datang langsung bilang mau nikah, apa lagi 4 hari lagi, itu mendadak banget. Kamu tidak ada sesuatu yang di sembunyiin dari aku Uci?"
" Iya ini aku sudah jujur Lia."
" Maksud aku kamu itu apa memang dari dulu sudah punya calon suami? Atau jangan-jangan kamu ketauan sedang berhalawat dengan yang bukan makhrom kamu? Tapi aku tidak percaya juga kalau kamu berhalawat dengan yang bukan makhrom kamu."
" Sembarangan banget, bukan begitu Lia, tapi memang semuanya terjadi begitu saja."
" Terjadi begitu saja bagai mana Uci? Jangan-jangan kamu."
Belum sempat Lia menyelesaikan pembicaraannya, Suci sudah memotong ucapannya.
" Aku menerima lamarannya begitu saja, tapi aku percaya dan yakin kalau dia jodohku."
" Kamu mengenal lelaki yang melamarmu?"
Suci menggeleng pelan, ia memang tidak pernah mengenal Arkan, bahkan saat Arkan menolongnya dan langsung memeluk ia saat tubuhnya sedang gemetar, ia langsung pingsan, hingga tidak tau siapa yang menolongnya saat itu.
" Uci, kamu tidak kenal, tapi kamu menerima begitu saja?"
" Apa pun yang aku lakukan, aku selalu mengaitkan dengan Allah, jadi itu yang membuat aku yakin."
" Apa lelaki itu juga seorang Gus? Atau seorang Ustazd?"
" Kak Arkan hanya seorang pembisnis."
" Arkan Wijaya? Arkan yang sering muncul di media? Pengusaha muda itu? Lalu menghilang seperti di telan bumi setelah kecelakaan?"
Suci tidak pernah menyangka kalau sahabatnya memang sudah tau tentang Arkan, sedangkan ia saja tidak pernah tau, ia hanya tau kalau nama lelaki yang menjadi calon suaminya itu Arkan Wijaya, tanpa tau yang lainnya.
" Iya, calon suami aku kak Arkan Wijaya."
" Aku pikir setelah kecelakan, lalu tidak muncul di media itu meninggal, atau jangan-jangan sekarang buruk rupa karena akibat kecelakaan?"
" Kamu itu kalau ngomong selalu sebarangan saja Lia. Oh iya, Karinah kemana? Bukannya hari ini tidak ada mata kuliah di kampus?"
" Karinah pulang, nanti sore juga datang."
" Oh, aku tidak bisa pamitan sama Karinah, karena setelah pamitan pada Ustazah dan Umi, Abi aku langsung pulang."
" Kamu tidak menginap saja? Besok baru pulang."
" Tidak bisa, nanti sore kake datang."
" Oh, iya sudah, nanti aku akan ijin pada Ustazah untuk menghadiri pernikahan kamu dan Karinah."
" Serius kamu?"
" Tentu saja."
Suci tersenyum lebar, walau pun senyuman itu terutup cadar, tapi tetap masih bisa di lihat oleh Lia.
" Aku tidak menyangka kalau kamu memilih lelaki yang bebas dari pada lelaki yang menjaga dirinya dari sentuhan."
" Kalau sudah berjodoh mau bagai mana lagi Lia? Kita tidak bisa merencanakan ingin punya suami seperti apa, semuanya hanya Allah yang tau."
" Iya benar."
ceritanya bagus kak,,,,,alurnya menarik gak membosankan,, and maafken kak aku gak komen per bab,, aku lebih suka komen setelah tamat baca ceritanya,,, yok kak lebih semangat lagi yokk😉😉😉
umpama,, bertanya, "tempat pendaftarannya dimana ya ? gitu thorr !!
bukan di mana iya ?..🙏🙏🙏