NovelToon NovelToon
My Only One

My Only One

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Perpisahan meninggalkan luka yang cukup menganga bagi Galang dan Amara. Terlebih penyebabnya hanyalah masalah perbedaan prinsip.

Tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari hubungan mereka, apalagi setelah Amara memutuskan pergi ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya.

Keduanya masih menyimpan perasaan untuk masing-masing, meski dua tahun telah berlalu. Dan tak ada di antara mereka yang mampu saling melupakan.

Namun intensnya pertemuan Galang dengan Clarra, yang merupakan rekan kerjanya membuat hubungan mereka mengalami perubahan. Apalagi ketika jarak semakin tercipta setelah Amara menutup semua akses komunikasi. Menjadikan Galang mengalami kegamangan.

Lantas siapakah yang akan menjadi pelabuhan hati Galang nantinya?
Happy reading.

Follow ig author @tiyanapratama untuk tahu info lebih tentang karya yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Mimpi Dan Realita

🌺

🌺

Galang menghentikan motor crossnya di sebuah tebing curam di selatan kota Bandung. Dia menatap hamparan alam di kejauhan yang memang selalu memanjakan mata.

Kebun teh dan hutan dengan berbagai macam pepohonan sejauh mata memandang memang selalu menjadi daya tarik sendiri baginya. Juga bagi rekan-rekan satu kominitasnya sesama penyuka otomotif, terutama motor cross.

Dan touring hari ini menjadi salah satu yang paling berkesan.

"Lu minggu depan mau ikut turnamen lagi?" Seorang teman menepuk pundaknya, membuyarkan Galang dari lamunannya.

"Kayaknya bulan-bulan ini nggak bisa." Galang meneguk air mineral yang di sodorkan oleh teman lainnya.

"Makin sibuk ya?"

"Begitulah."

"Touring ke Bromo nggak akan ikut juga?"

"Lihat nanti aja, nggak tahu jadwal kerja gue gimana nantinya." Galang menjawab.

"Mudah-mudahan lu bisa ikut deh, sepi kalau nggak ada satu orang aja."

"Hmm ...."

"Ayo lanjut? Udah sore juga. Jangan sampai kita kemalaman di jalan. Nggak lucu kalau kita camping bukan di spot yang seharusnya?"

"Iya ayok!"

Kemudian lebih dari sepuluh orang pria yang mengendarai motor cross dengan berbagai macam tipe itu pun melanjutkan perjalanan.

Melewati bukit, jalan raya, perkampungan dan pemukiman warga. Menuju ke tempat yang sudah mereka tentukan sebelumnya.

Meski peluh dan rasa lelah yang bercampur lumpur dan debu selama dalam perjalanan mereka dapatkan, juga beberapa kali insiden dan kecelakaan juga mereka alami, tapi itu semua sebanding dengan apa yang mereka dapatkan setelahnya.

Kepuasan menikmati keindahan alam dan kebersamaan itu yang tak akan mereka dapatkan di hari-hari biasa terasa layak untuk di gapai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Hey Piere?" Amara baru saja mencapai area parkir ketika dia melihat teman sekelasnya hampir saja pergi.

"Ya?"

"Apa hari ini kamu sibuk?" Amara datang mendekat.

"Sebentar lagi aku harus bekerja. Kenapa?" Pria dengan mata sebiru lautan itu menatap jam di pergelangan tangannya.

"Bekerja?" Ara membeo.

"Ya."

"Bekerja di mana?"

"Di hotel sekitar menara Eifel."

"Aku baru tahu kalau kamu juga bekerja?"

"Sudah enam bulan belakangan."

"Paruh waktu?"

"No, reguler." Piere menggelengkan kepala.

"Tapi kuliahmu?"

"Aku bekerja setelah kuliah."

"Tapi jam kuliahmu kadang tidak menentu?"

"Aku bisa menyesuaikan. Beruntungnya hotel itu memberikan kelonggaran terhadap mahasiswa seperti aku."

"Oh, ...."

"Ada yang mau kamu katakan?"

Amara terdiam sebentar.

"Mungkin kita bisa sambil makan sebentar. Aku lapar." Pemuda itu sedikit tertawa.

"Kamu masih ada waktu?"

"Aku punya sekitar satu jam lagi." Dia kembali memeriksa jam tangannya.

"Baiklah kalau begitu."

Sebuah restoran kecil di dekat sungai Seine menjadi pilihan mereka untuk sekedar berbincang dan mengisi perut pada lewat tengah hari itu.

Obrolan-obrolan ringan namun cukup serius menjadi pembahasan mereka, yang kemudian berakhir dengan sedikit diskusi.

"Jadi apa yang membuatmu bekerja, padahal kesibukanmu di kampus juga tidak bisa di sebut ringan?" Amara mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

"Ya karena aku memerlukan uang." Piere menjawab.

"Memangnya orang tuamu tidak membiayaimu ya?"

"Mereka menyokong biaya kuliah dan lain-lainnya."

"Terus kenapa masih mau bekerja?"

"Karena harus." jawab Piere setelah terdiam cukup lama.

"Kamu tahu, mayoritas dari kami setelah berusia 18 tahun sudah harus bisa mengurus diri sendiri. Keluar dari rumah orang tua dan mengatur hidup secara mandiri. Jadi soal pekerjaan ya memang keharusan. Kamu juga tahu kalau biaya hidup di Paris itu tidak murah."

"Dan untuk memiliki kehidupan yang layak itu butuh kerja keras, dan aku tidak ingin hanya mengandalkan kiriman orang tua. Aku tidak berasal dari keluarga yang memiliki harta berlimpah sehingga bisa meminta apa pun dan mendapatkannya dengan mudah. Sementara orang tuaku di sana banting tulang. Anak macam apa aku ini?" Piere tetawa pelan.

"Aku sedang memperjuangkan masa depan agar kelak tidak harus bersusah-susah mewujudkan keinginan karena kendala keuangan. Meski perjuangan itu tidak mudah. Tapi aku ini laki-laki. Nanti tanggung jawabku besar."

Amara terdiam, tiba-tiba saja dia teringat kepada Galang. Pria itu pun pasti akan berbicara seperti itu jika mereka berbicara. Namun dulu dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

"Dan bukankah itu juga yang sedang kamu perjuangkan? Tapi motif kita sepertinya berbeda. Kamu sekolah di sini intuk mengejar mimpi, sementara aku lebih dari itu."

Amara masih terdiam.

Pemuda ini ada benarnya juga, karena dirinya memang tidak berpikir tentang hal lain kecuali belajar untuk mengejar cita-cita dan mewujudkan mimpi. Juga menyalurkan hobinya yang menyukai bidang makanan dan semacamnya. Dan sekolah di Paris adalah salah satu cara untuk memperluas pengetahuannya.

Bekerja? Amara hanya menganggapnya sebagai penyaluran lain dari hobinya tersebut. Meski nantinya dia juga tetap harus bekerja. Entah di perusahaan milik orang lain atau di tempat usaha milik orang tuanya. Tapi sudah bisa di pastikan jika dirinya tidak akan sulit dalam hal itu.

"Baiklah, aku harus segera pergi. Sebentar lagi harus menggantikan shift rekanku." Piere setelah menyelesaikan makannya.

"Ya Piere, makananya aku yang bayar." Ara berucap.

"No, itu tidak pantas. Biar aku yang membayar."

"Tapi?"

"Tidak apa-apa. Aku masih punya kalau untuk makan." Pria itu memaksa.

"Baiklah Piere, lain kali aku yang traktir ya?"

Pria itu tersenyum sambil mengangguk.

"D'accord bon apres-midi (selamat siang.)" katanya, kemudian pergi.

Amara masih terdiam di sana, dan dia memikirkan kata-kata teman sekelasnya itu. Apa yang Piere katakan memang hampir seperti ucapan Galang tentang alasannya masuk ke Nikolai Grup yang secara terang-terangan tak dia setujui.

Bukan apa-apa, dia hanya tidak ingin mereka kehilangan banyak waktu seperti yang di alaminya waktu kecil hingga remaja. Ketika ayahnya begitu disibukkan dengan banyak tugas dan segala macamnya.

Bukankah berjuang bisa di lakukan di tempat lain? dengan cara yang lain pula. Bukannya dengan menjerumuskan diri ke perusahaan yang diinginkan banyak orang itu.

Kesejahteraan memang terjamin, tapi waktu? Dirinya sudah muak dengan hal-hal semacam itu. Kamu mendapatkan kehidupan yang layak, tapi dirimu sendiri terjebak di sana selamanya. Apa enaknya hidup seperti itu?

Tapi bukannya mereka sudah putus sejak dua tahun yang lalu? Dan dirinya pun bahkan sudah tak lagi mengikuti perkembangan kehidupan dari pria itu sejak beberapa minggu belakangan. Jadi kenapa harus selalu memikirkannya?

Biarkan saja dia dengan keinginan dan mimpi-mimpinya, dan segala yang dia niatkan sebelum bergabung bersama perusahaan itu. Sementara dirinya pun akan melakukan hal yang sama.

Namun Amara tertegun ketika dengan kepenasarannya dia memeriksa media sosial miliknya. Dan hal pertama yang di lakukannya adalah melihat akun milik Galang yang telah di unfollownya beberapa minggu sebelumnya. Namun dia tak dapat menemukannya.

Dan hal yang sama pun dia lakukan pada aplikasi whats app pria itu. Yang juga mengalami hal yang sama. Keduanya telah Galang blokir sehingga dia tak dapat melihat postingan apa pun yang menerangkan kegiatan pria itu dalam kesehariannya.

Dan tiba-tiba saja Amara merasa menyesal. Sesuatu seperti dengan sengaja di hilangkan dari dirinya.

🌺

🌺

🌺

Bersambung ...

Lah, gimana jadinya?🤔🤔

Ara plin plan nih. Baru gitu kan? 🤣

mana like komen hadiah sama vote nya?

1
Ruwi Yah
luar biasa
aroem
Luar biasa
Tiyanapratama
/Frown/
Titha
jjk
Ira
ok
Kanaya Havidza
Luar biasa
Nur Aini
aq lbh ngefans ke satria lope lope ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Nadia
Thor Amara kan sekolah Chef atau kulineri kok kerjanya jd housekeeping
Umi Fauzan
ini sy ngulang baca lg, kangen ama karua mak fit langen ama ara dan galang jg
Kurnia Pesona
laahhh tamat?
kok ngegantung seehhh🙃
Kurnia Pesona
teganya.....
kok digantung sih...
Nona Being
Luar biasa
Chelsea Blue
Lumayan
Chelsea Blue
Biasa
💞salsabila💞
sumpah... ngarep banget ini dilanjutkan sedikiitt.... 😭 td baca disebelah ada angkasa sama azura 😭😭
💞salsabila💞: 😟😟😟😟😟😟
total 2 replies
💞salsabila💞
🥲🥲🥲🥲🥲🥲🥲
💞salsabila💞
mak fiiiitttt.... aku masih setia lhooooo.... nunggu disiniiiiiii
Christina Handayani Panggabean
bagus kerennn
linno
kak Fit @Tiyanapratama please tambahin lah extra part nya..gak enak banget ini terakhirnya marah2..beneran berasa ganjel banget..malah buat gamon..duh nyesek banget disini sdh ditinggalkan gitu aja 😓😓
Telda Nange
Persis Dygta ngidam sampe Bandung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!