Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Flashback
Sameer melangkahkan kakinya meninggalkan kantor penuh senyuman, rasa bahagia yang membuncah dihatinya. Hari ini ia akan langsung menuju ke Bogor tempat dimana sang pujaan hatinya tinggal.
Sameer sudah tidak sabar bertemu Elena, kerinduannya sudah memuncak. Senyuman bahagia terus mengembang di bibirnya.
"Tunggu aku Ele" gumamnya mengendarai mobilnya seorang diri menuju ke arah kota Bogor.
Ia mengemudikan mobilnya penuh senyuman, senyuman yang tidak pernah luntur dari bibirnya sedari tadi. Bahkan ia tidak memperdulikan tubuhnya yang terasa lelah sehabis bekerja. Ia juga tidak peduli kalau ia belum berganti pakaian atau hanya sekadar mandi. Hatinya terlalu bahagia untuk bertemu Elena.
Sameer tiba di Bogor pukul satu dini hari, sebelum bertemu Elena ia memilih mengistirahatkan diri di salah satu vila miliknya.
Ia ingin menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum besok menjemput sang kekasih hati. Ia sungguh ingin tahu ke mana saja selama ini sang kekasih hatinya pergi.
****
Kemeja navy dengan rambut yang sudah tertata rapi membuat Sameer tampak tampan tak lupa senyuman manis yang tersungging dari bibirnya yang seksi.
Ia bersiul ria dengan jarinya yang memainkan kunci mobil. Sameer memasuki mobilnya menuju tempat tinggal Elena. Rasa tidak sabar selalu mengiringi kepergiannya, ia begitu semangat untuk bertemu Elena.
Sameer menghentikan laju mobilnya disebuah rumah bercat putih, Sameer masih berdiam diri didalam mobilnya mengamati keadaan rumah Elena.
Selang tiga puluh menit sebuah mobil berwarna merah memasuki halaman rumah itu. Turunlah seorang wanita berkulit sawo matang, rambut hitamnya yang tergerai panjang dan tubuh yang tinggi semampai bak gitar Spanyol dengan dress motif bunga selutut. Tampak anggun nan cantik khas orang Asia.
"Elena" panggil Sameer menatap Elena penuh kerinduan.
Elena terdiam membalikkan badannya menatap Sameer yang kini sudah berdiri dihadapannya. Di matanya pun menyimpan sejuta kerinduan, ia merindukan laki-laki itu yang mengisi hari-harinya dulu, yang memberikan banyak cinta dan kasih sayang untuknya. Sayangnya ia harus meninggalkan laki-laki itu tanpa alasan yang jelas.
"Sameer" balas Elena dengan mata berkaca-kaca.
"Aku merindukan mu" ucap Elena menghambur memeluk Sameer erat, melepas rindu yang selama ini ia pendam.
"Aku pun merindukan mu, kau meninggalkan ku begitu saja. Kau ke mana saja selama ini?" Sameer menangkup wajah Elena penuh kerinduan. Di kecupnya kening Elena penuh sayang.
Senyuman yang tadi merekah kini lenyap berganti dengan raut wajah sendu. Elena menundukkan wajahnya enggan menatap wajah Sameer. Ia merasa bersalah pada laki-laki itu.
"Hy kenapa wajah mu seperti itu?" Sameer mengangkat dagu Elena, memerhatikan wajah Elena saksama.
"Ayo kita masuk" Elena menggandeng tangan Sameer masuk kedalam rumahnya.
Sameer mendudukkan diri diruang tamu rumah Elena sedangkan Elena menuju ke dapur menyiapkan minuman.
"Minumlah Sam, kau pasti lelah dari Bandung langsung ke sini" Sameer meneguk teh hangat yang disajikan Elena.
"Ele aku butuh penjelasan mu, mengapa kau menghilang? Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu Ele?" Sameer menggenggam tangan Elena erat, mencoba mencari segala jawaban yang selama ini ia nantikan.
"Aku belum siap Sam kalau harus menjelaskannya pada mu saat ini, hidup ku terlalu rumit. Maafkan aku yang terlalu banyak mengecewakan mu" Elena menggelengkan kepalanya.
Ia belum siap menceritakan segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya beberapa tahun ini. Hidup yang ia jalani sungguh berat sepeninggal ia pergi dari sisi Sameer. Laki-laki yang sampai saat ini masih menempati hatinya, yang masih memiliki seluruh hatinya.
"Aku menunggu mu Ele, aku akan menunggu sampai kau siap menceritakan semuanya pada ku"
"Terima kasih Sam, kau yang terbaik" Elena mengelus kedua pipi Sameer lembut. Sameer memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Elena di kedua pipinya. Sentuhan yang selama ini ia rindukan.
***
"Selamat pagi" sapa Sameer saat melihat Elena menuruni tangga dengan wajah khas bangun tidur.
"Selamat pagi Sam, kau pagi sekali datangnya" kata Elena memeluk Sameer erat menghirup aroma tubuh Sameer yang beraroma mint. Ia selalu menyukai aroma pria itu.
"Aku membawakan mu bubur ayam" Sameer mengangkat dua bungkus bubur ayam yang sengaja ia bawa untuk Elena, karena ia tau wanita itu sangat menyukai bubur ayam untuk sarapan.
"Kau selalu tau kebiasaan ku, padahal itu sudah lama"
"Apapun aku tau tentang mu, sekarang mandilah dulu aku akan menyiapkan sarapan kita"
"Ok sayang" Elena mengecup pipi Sameer dan berlari kembali ke kamarnya yang berada dilantai dua.
Sameer tersenyum bahagia, melihat senyuman Elena. Senyuman yang membuat hatinya bergetar.
"Hari ini aku akan mengajak mu jalan-jalan, habiskan dulu sarapan mu"
"Tentu, aku tidak sabar ingin jalan-jalan dengan mu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak jalan-jalan"
"Mari kita habiskan waktu kita untuk jalan-jalan keliling kota Bogor"
"Siap bos" Elena mengangkat tangannya hormat tersenyum manis. Sameer mengacak rambut Elena dan sesekali mengecup puncak kepala wanita itu.
***
Sameer membawa Elena berkeliling kota Bogor, ia ingin menghabiskan waktunya bersama Elena untuk membayar beberapa tahun lalu yang terlewatkan.
Sameer memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama Elena. Saking bahagianya bersama Elena sampai ia melupakan sosok wanita cantik yang senantiasa menunggu kabarnya bahkan menunggu kepulangannya.
Sameer seakan melupakan sejenak sosok Humaira yang selama enam bulan ini mengisi hari-harinya. Bahkan ia tidak berniat memberikan kabar pada wanita itu yang menunggu penuh keresahan seorang diri.
"Aku sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan mu" ujar Elena duduk bersandar dibahu Sameer dengan latar pemandangan matahari terbenam dari atas tebing.
"Aku pun begitu Ele" Sameer mengeratkan genggaman tangannya
"Maafkan aku yang banyak melukai mu Sam, aku menyimpan rasa bersalah pada mu" kata Elena pandangan matanya yang menerawang jauh ke beberapa tahun silam.
"Aku selalu memaafkan mu Ele, dan kini aku ingin menagih jawabannya pada mu"
Elena menarik tangannya dari genggaman Sameer, mengangkat kepalanya dari bahu Sameer. Membenarkan posisi duduknya menjadi tegak dengan sesekali mengembuskan napas kasar.
"Kalau kau bertanya aku akan menolak lamaran mu Sam, aku tidak pantas bersanding denganmu. Kau berhak bahagia bersama orang lain"
"Tapi kenapa Ele? Apa kau sudah tidak mencintai ku lagi?"
Elena menggelengkan kepalanya pelan, sesungguhnya ia belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Sameer. Tapi kapan lagi ia mencari waktu yang tempat untuk memberi tahu Sameer tentang apa yang ia alami selama ini.
Cepat atau lambat pasti waktu itu akan tiba. Ia tidak ingin membuat Sameer menunggu lama lagi. Sudah cukup pria itu tersiksa dengan kepergiannya dulu.
"Aku selalu mencintai mu Sam, hati ini selalu mencintai mu. Tapi aku bukan wanita yang sempurna"
"Apa maksud mu?" Sameer semakin bingung.
"Aku seorang janda" kata Elena miris
Deg
Jantung Sameer seakan berhenti berdetak. Janda? Elena seorang janda?
Sameer seakan tidak percaya kalau wanita yang sangat ia cintai adalah wanita yang sudah menikah dan sekarang sudah menjadi seorang janda.
Waktu berlalu begitu cepat, membawa segala perubahan yang ada.
Yang berubah bukan hanya Elena tapi ia juga sudah berubah. Ia bukan lagi Sameer pria lajang tapi Sameer dengan seorang istri. Bahkan sekarang sang istri sedang hamil dan ia tidak tau itu.
"Dulu aku dijodohkan Ibu ku dengan seorang pria Sam, sesaat setelah kau melamarku aku menikah dengan laki-laki pilihan ibu ku. Hanya dua bulan aku menikmati manisnya rumah tangga dan sikap romantis suami ku, selanjutnya dia berubah menjadi kejam terhadap ku dan setelah 7 bulan menikah aku kabur ke Belgia karena aku tidak tahan dengan sikapnya yang kasar" katanya sendu mengingat getirnya pernikahannya dulu bersama mantan suaminya.
Ia pikir pria pilihan sang Ibu adalah pria yang tepat tapi semua itu berubah seperti neraka, pria itu selalu memukulnya dan bersikap kejam padanya. Tidak ada rasa bahagia di hatinya.
"Aku seorang janda Sam, aku tidak pantas bersanding dengan mu. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan lainnya tapi bukan dengan ku"
"Kau adalah kebahagiaan ku Ele, tidak ada kebahagiaan lain yang ku miliki selain bersama mu"
"Sam, jangan keras kepala kita sudah berbeda"
"Apa salahnya menjadi janda Ele? Aku tidak peduli sekalipun kau seorang janda. Kau tetap Elena ku, Elena yang selalu aku cintai" tutur Sameer menatap Elena penuh harap.
"Aku pun tau semua tentang mu Sam" Elena menatap Sameer tajam menusuk bola matanya
"Tau diri ku? Maksudnya apa?"
"Kau sudah menikah kan?" tanya Elena menatap Sameer semakin dalam menyelami tatapan terkejut itu.
Tubuh Sameer mendadak kaku, tegang, bibirnya terasa kelu matanya membulat sempurna. Ia tidak percaya kalau Elena tau ia sudah menikah. Tau dari mana wanitanya kalau ia sudah menikah? Apa sudah lama Elena berada di sekitarnya?
Sameer menatap Elena saksama mencari segala jawaban yang ingin ia ketahui. Semua ini terlalu penuh misteri baginya.
'Humaira'
Nama itu secara tiba-tiba masuk kedalam otaknya yang kini terus bergema dipikiran dan hatinya. Sameer menundukkan kepalanya dalam kebisuan.
***