Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.
Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.
Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.
Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hoho, Matilah Aku
******
Apakah kalian pernah merasa malu?
Malu yang membuat kalian merasa ingin menceburkan diri ke dalam rawa-rawa? Kalau pernah, kita senasib.
Pertemuanku dengan Reynand di toserba kemarin, benar-benar membuatku merasa malu. Bahkan saking malunya, aku tidak sekedar ingin menceburkan diri ke dalam rawa-rawa. Tapi seperti ingin mengakhiri hidupku sekalian.
Coba kalian bayangkan, bagaimana aku tidak seperti ingin mengakhiri hidupku, saat aku mengetahui sedang mendapat tamu bulanan di saat yang tidak tepat, yaitu di toserba yang kebetulan lumayan besar. Dan yang mengetahui aku mendapat tamu bulanan itu Reynand, pria menyebalkan yang sangat tidak ingin ku temui.
Belum lagi saat itu aku mengenakan celana berwarna coklat muda, sehingga jika Reynand tidak selalu berada di belakangku, pemandangan tak mengenakkan itu akan mengganggu mata para pengunjung toserba.
Ditambah lagi dia meminjamkan jaket miliknya untuk menutup bercak darah kotor di celanaku. Plus bonus mengantarkanku pulang sampai butik.
Yang bagian akhir itu jujur membuatku terheran-heran. Begini, maksudku aku hanya datang bulan tidak sedang sakit sampai harus dianterin. Karena aku membawa mobil sendiri. Dan kenapa juga aku mau-maunya dianterin dia, padahal aku masih mampu menyetir sendiri. Harusnya setelah berhasil keluar dari toserba dia cukup mengantarku sampai parkiran habis itu kelar. Dia bisa lanjut belanja dan aku pulang, lalu dihari kemudian aku akan mengembalikan jaketnya. Bukan malah dia membatalkan acara berbelanjanya dan mengantarkanku pulang.
Astaga.
Aku benar-benar ingin mengakhiri hidupku, saking tidak punya mukanya aku untuk menemui Reynand.
Sambil mengacak rambutku dengan frustasi, aku menatap nanar ke arah jaket milik Reynand yang sudah ku cuci, dan kini sedang berada di hadapanku.
"Gimana caranya balikinnya, ya Allah," pekikku merasa putus asa. Mau menangis tapi tidak bisa. Kan tambah kesel.
"Punya siapa emang, Mbak?"
Aku sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar suara Sandra, yang ternyata sudah berada di belakangku.
"Sejak kapan di situ?" tanyaku masih sedikit kaget.
"Barusan banget. Pas Mbak Qilla teriak 'gimana ini balikiinnya, ya Allah'."
"Ada apa?"
"Kasih laporan keuangan, Mbak," kata Sandra sambil menyerahkan berkas laporan kepadaku.
Aku mengangguk paham sambil mengucapkan terima kasih.
"Ya, nanti aku cek."
Sandra mangguk-mangguk paham. "Emang itu jaketnya siapa, Mbak?" tanyanya penuh rasa ingin tahu.
"Orang."
"Iya, tahu ma-"
"Kalau tahu ngapain nanya?" potongku dengan ketus. Kedua mataku melotot tajam ke arahnya.
Bibir Sandra langsung maju beberapa mili mendengar nada bicaraku yang ketus dan memotong kalimatnya.
"Iya, iya, yang lagi pms. Sini mingkem ae lah," gerutunya kemudian langsung turun lantai bawah.
Aku berdecak mendengar sindiran. Membuatku gemas ingin sekali mengejarnya dan menjambak rambutnya. Kalau saja aku tidak ada panggilan masuk ke ponselku, mungkin rambut Sandra sudah rontok beberapa helai. Beruntung sekali nasibmu, Nak!
Dengan sedikit enggan aku mengangkat ponselku, saat tadi sempat mengintip siapa si penelfon yang ternyata itu Monik. Menggeser tombol hijau sebelum menempelkannya di telinga kananku.
"Lina udah lahiran. Jenguk sekarang yuk!" ucapnya begitu sambungan terhubung.
Ini emak-emak kebiasaan banget deh kalau telfon nggak pernah ucap salam dulu. Langsung to the point.
"Assalamuallaikum dulu kali, Mo," protesku kesal. Maklum. Hormon wanita pms. Jadi bawaan kesel mulu.
"Iya. Wallaikumsalam. Jadi mau jenguk kapan? Sekarang aja, yuk! Mumpung Illa lagi diajak Tantenya nih."
Aku membenarkan posisi dudukku. "Harus banget sekarang?" tanyaku yang sedang malas berpergian. Jangankan berpergian nerima customer aja aku malas gara-gara si merah ini. Takut tiba-tiba nyembur si customer yang suka rewel.
"Ya, nanti. Setelah kamu jemput aku."
"Aku lagi nggak enak badan. Males nyetir."
"Pms?" tebak Monik.
Aku hanya menjawabnya dengan gumanan.
"Ya udah, kamu siap-siap. Aku ke sana."
"Naik?" tanyaku kemudian. Setahuku Monik nggak bisa naik motor, sekalipun itu motor metic. Dan ia hanya bisa mengendarai mobil.
"Ojek. Udah aku tutup," jawabnya yang langsung menutup sambungan telfon.
Aku mampu mendengkus kesal karena kebiasaan buruknya itu, baru kemudian memilih untuk bersiap-siap.
****
"Anaknya Lina lucu banget ya, imut. Bikin orang ngiri," celetukku saat aku dan Monik keluar dari lift.
Kami sudah selesai menjenguk anak Lina dan Mas Fauzan. Dan sekarang sudah sampai di lobby hendak menuju tepat parkir.
Monik tersenyum kecut sambil melirikku sekilas. "Kamu ngiri, La?"
"Iya lah. Anaknya lucu gitu, cantik, kayaknya kalem juga kayak Mas Fauzan."
"Kalau gitu bikin sendiri."
Aku menaikkan alis bingung. "Illa juga kamu bikin sendiri? Bisa?" tanyaku heran.
"Iy-, ya enggak lah. Duet dulu sama Mas Hasan, duet mulu aja belum tentu jadi gimana kalau bikin sendiri. Oke, aku ralat kalau gitu. Makanya ajakin Kenzo duet buat bikin bayi lucunya."
Aku hanya memutar kedua mataku malas. Dan secara tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya sambil menodongkan tangannya. Membuatku menaikkan alis bingung.
Minta apaan ini emak-emak? Duit buat parkir?
"Kunci mobil," decak Monik tak sabaran.
"Kan kamu yang nyetir, Mo, masa minta ke aku?"
"Kan yang punya mobil kamu. Pas kita udah sampai di kamar inapnya Lina, kan udah aku kasih ke kamu."
Aku melotot tak terima, karena memang tidak merasa dikasih kunci mobil saat sudah sampai di kamar inap Lina.
"Aku taruh di meja ta-"
"Berarti masih di kamar inap Lina," potongku cepat.
"Kemungkinan besar, iya," ujar Monik santai, membuatku langsung memberinya pelototan tajam.
"Ambil!" perintahku galak.
"Kok aku?" protes Monik tak terima. "Aku tadi udah yang ke butik kamu, terus ke sini aku yang nyetir. Nanti pulang aku juga yang harus nyetir. Dan sekarang kamu-"
"Nanti pulang aku yang nyetir. Sekarang kamu ambil kuncinya, lagian kamu yang naroh, aku nggak tahu di mana kamu narohnya," potongku tak ingin mendengar segala macam alasannya.
"Oke, deal. Aku balik dulu, kamu cari tempat duduk aja dulu, takutnya nanti lama nunggu liftnya."
Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Kemudian berjalan mencari kursi untuk kosong. Dan untungnya langsung dapat. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung duduk di kursi yang kosong. Kemudian mengeluarkan ponselku untuk mengusir bosan saat menunggu Monik.
"Antrinya masih lama, Mbak?"
Aku langsung mendongak saat mendengar suara familiar itu. Dan benar saja, aku menemukan tubuh Reynand menjulang tinggi di sampingku dengan kaos polo abu-abu dan juga jaket kulitnya sedang tersenyum manis ke padaku sebelum duduk di sampingku.
"Ambil antrian obat siapa?" tanyanya setelah duduk.
"Enggak. Aku, eh, saya nggak sedang nunggu antrian."
Aku meruntuki diriku sendiri yang mendadak gugup duduk bersebelahan dengan Reynand.
"Terus ngapain?"
"Nunggu temen ambil kunci yang ketinggalan."
Reynand mangguk-mangguk sambil ber'oh'ria. Setelah itu hening, tak ada percakapan di antara kita. Aku dengan rasa gugupku sedang Reynand dengan ponselnya.
Kok rasanya aneh ya, liat ini orang anteng gini. Nggak banyak tanya kayak biasanya. Kalau dilihat dari lingkaran hitam di bawah matanya, sepertinya dia kurang tidur. Wajahnya juga kelihatan capek banget.
Apa dia lagi sakit?
"Kamu sendiri? Lagi ambil antrian obat buat siapa? Buat kamu?" tanyaku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Wiih, kemajuan. Kamu tanya saya dulu," kekeh Reynand tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
Dan jelas membuatku sangat menyesal telah bertanya.
"Bercanda. Obatnya bukan buat saya, tapi buat Bunda saya. Calon mertua kamu," ujarnya tanpa dosa.
Kalau bukan menyangkut kesehatan Tante Linda, salah satu costumer langgananku. Aku pasti akan lebih memilih untuk membalasnya dengan kata-kata pedas.
"Tante Linda lagi sakit? Sakit apa?"
"Biasa. Orang tua. Abis acara nikahan Risha, Bunda drop, gulanya naik. Tapi sekarang udah turun kok, pelan-pelan. Kamu nggak usah khawatir."
Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk.
"Ohya, thanks buat kemarin."
"Santai. Gimana keadaan kamu sekarang? Feel better?"
Aku mengangguk.
"Ohya, jaket kamu..."
"Oh iya, jaket. Gimana ya, saya sempet kalau disuruh ngambil dalam waktu dekat. Kerjaan masih riweh soalnya. Kalau saya minta tolong kamu simpenin dulu, bisa?"
Aku mengangguk maklum. Pantas saja wajahnya kelihatan capek gitu.
"Gimana kalau saya anterin ke rumah kamu?"
"Ha?"
"Sebagai tanda terima kasih saya, sekalian jengukin Tante Linda," kataku menjelaskan.
Reynand tersenyum kemudian mengangguk. "Oke, nanti saya usahakan mampir untuk ambil jaketnya, kalau kamu cukup terganggu dengan jaket saya."
"Eh?"
"Kalau kamu mau jenguk Bunda saya, datang saja langsung ke rumah. Dan untuk ucapan terima kasih, kamu sudah mengucapkannya kemarin. Kalau kamu lupa, jadi tidak perlu berterima kasih lagi," jelasnya membuatku tertegun.
Baru kali ini aku merasa terpana dengan sikapnya.
Reynand kemudian berdiri, saat nama Ibunya dipanggil.
"Saya duluan ya, udah dipanggil. Sampai bertemu lagi," pamitnya kemudian.
Duh!
Kenapa kalau seperti itu Reynand kelihatan keren ya?
"Fix. Kalian ada something," celetuk Monik sambil memainkan kunci mobilku, yang ternyata kini sudah berdiri di belakangku.
Hoho, matilah aku!
Tbc,
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti