Zeline, Anakku! kalian tidak berhak mengambil nya! Jangan ambil Zeline ku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Stella
Sebelum pergi meninggal kan kota yang lebih dari lima tahun Stella berada, Ia menemui Azriel untuk mengucap kan salam perpisahan. Azriel merasa sangat sedih karena harus kehilangan Stella, Rani dan juga Zeline. Namun, pria itu menghargai keputusan Stella.
"Aku harap, kalian selalu bahagia dan selalu dalam lindungan Allah." Zeline yang mendekati tubuh Azriel langsung menangis di dalam pelukkan pria itu.
"Zeline benci pelpisahan, Om halus nya ikut saja dengan kami. Zeline sayang sama om, Bagi Zeline om adalah papa Zeline." Zeline yang terisak di pelukkan Azriel membuat pria itu pun tak kuasa menahan air mata nya. Azriel menghapus air mata nya dan melepas kan pelukkan mereka.
"Jagoan nya, Om! Kita akan bertemu kembali nanti, Om berjanji, setelah pekerjaan om selesai. Om akan menemui kalian semua di sana."
Zeline yang masih terisak mengerucut kan bibir nya, mata nya semakin menyipit. Jari kelingking nya mengarah tepat di hadapan Azriel.
"Benal ya? Om udah janji loh!" Azriel pun tertawa. Ia menyatu kan jari kelingking diri nya dengan jari kelingking Zeline. Azriel mengusap rambut Zeline dengan penuh gemas.
"Mali mama kita pelgi!" Zeline mendekati sang mama dengan gaya nya yang menggemas kan. Rani memeluk Azriel, Gadis itu pun menangis di pelukkan Azriel.
"Aku akan sangat merindukan mu, Kak! Berjanji lah pada ku agar kau selalu menghubungi ku!" Rani menatap bola mata Azriel. Tanpa Azriel tahu, gadis yang ada di pelukkan ini mencintai nya dengan tulus. Namun, hati dan tujuan Azriel hanya kepada Stella.
"Kakak janji, Akan selalu menghubungi mu dan Zeline. Kau jagalah kakak dan keponakan mu, ya? Jangan biar kan orang lain melukai dan menyakiti mereka. Jadi lah gadis tangguh, Dan jangan pernah tinggal kan sholat!" senyuman di pipi Rani mengembang dengan sempurna. Azriel membalas senyuman Rani dan melepas kan pelukkan mereka. Azriel menanggap Rani sebagai adik nya. Setelah, Rani melepas kan pelukkan itu. Stella berpamitan pada Azriel tanpa menyentuh pria itu. Azriel pun mengerti dan hanya bisa melepas kan wanita yang ia cinta untuk kembali ke rumah orang tua nya dengan senyuman.
"Kalian hati-hati, kabarin jika sudah sampai." Stella mengajak Rani dan Zeline untuk naik ke dalam bus. Ia tak mempunyai banyak uang untuk mereka naik pesawat. Zeline melambai kan tangan nya kepada Azriel. Pria itu pun membalas, melambai kan tangan kepada Zeline.
Azriel berdiri, terpaku melihat bus yang semakin menjauh dari hadapan nya. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Stella, Rani, dan juga Zeline.
Di dalam bus, Stella menyender kan kepala nya di kursi bus itu memandangi pemandangan luar. Ia merasa tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tua dan juga kedua adik-adik nya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, Stella selalu merindukan keluarga nya di setiap detik nya.
"Mama, Kapan kita akan kembali ke lumah om?" ,
Stella menoleh ke arah sang anak, Zeline menatap Stella dengan sangat serius. Ia mengerut kan dahi nya.
"Sayang, kita baru saja ingin pergi. Kenapa kamu menanyakan kapan akan kembali?"
"Zeline nggak suka jauh sama om lama-lama!" ketus nya. Zeline memandangi pemandangan luar dengan wajah datar. Air mata Zeline pun menetes, bagaimana pun. Azriel yang selalu bersama dengan nya. Bahkan, Azriel selalu mengajak ia bermain layak nya seorang ayah yang menjaga anak nya. Stella menggenggam tangan Zeline, meyakin kan anak nya dengan perlahan hingga Zeline pun mengerti.
Sedang kan Rani, hanya bisa termenung. Diri nya pun sama seperti Zeline, yang merasa sangat kehilangan Azriel. Namun, ia tak mau meninggal kan Stella dan Zeline. Baginya saat ini, menjaga adik dan keponakan angkat nya adalah prioritas utama nya. Apalagi, banyak sekali orang yang berbuat seenak nya pada Stella. Rani pun harus melupakan cinta nya demi sang kakak. Karena, Rani tahu. Jika cinta Azriel hanya untuk Stella.
**********
Kini, Stella sudah tiba di kota kelahiran nya. Ia mengajak adik dan anak nya untuk naik Taxi agar sampai di rumah orang tua nya dengan cepat.
"Apakah hanya ada Taxi kak di sini?" tanya Rani.
"Tidak! Angkutan umum juga banyak. Tapi, kakak tidak sabar untuk bertemu keluarga kakak di sini. Kalau menunggu angkutan umum, pasti lama. Belum lagi jika penuh dan kita nggak kebagian." ujar Stella memberikan penjelasan pada Rani.
Taxi yang mereka naiki, telah masuk ke halaman rumah Stella.
"Wah, besal sekali." ucap Zeline dengan takjub, Selama ini mereka hanya tinggal di kontrakan sepetak yang jauh dari kata layak. Rani pun tercengang melihat rumah Stella yang begitu besar.
"Rumah mu sangat indah sekali kak. Dari luar terlihat megah."
"Pasti sangat enak tinggal di sini." ucap Zeline kembali.
Ini tidak semegah rumah papa mu nak, Maafin mama yang selama ini membuat Zeline hidup menderita bersama mama ~ batin nya.
Stella mengajak Rani dan Zeline untuk turun. Ia berjalan mendekati rumah nya. Terlihat sangat sepi, hanya ada tukang kebun yang begitu asing bagi Stella.
"Permisi." ujar nya dengan lembut.
"Maaf, mau mencari siapa ya?" tanya tukang kebun tersebut.
"Kakak." teriak Tanara dari jauh, Stella menoleh ke arah sang adik berlari mendekati nya. Tanara segera memeluk Stella, ia pun menangis di pelukkan Stella.
"Kakak kemana saja. Tanara sangat rindu kakak hiks." Tanara mengerat kan pelukkan nya, seakan meluap kan segala kesedihan nya. Stella membalas pelukkan sang adik, membelai rambut nya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Ara rindu kakak, Jangan pergi lagi! Ara nggak sanggup harus jauh dari kakak." ucap nya yang semakin terisak di pelukkan Stella.
"Maafin kakak ya, Kakak pergi tanpa pamit ke kalian semua. Kakak sangat rindu dengan Ara dan Tamara. Juga pada Mama dan Papa."
"Ngapain kalian kesini!" teriak seorang wanita dari dalam rumah, orang itu tidak lain adalah Amara. Anak kedua dari orang tua Stella, adik nya.
"Amarah." Stella melepas kan pelukkan nya dengan Tanara, mendekati Amara dan ingin memeluk nya. Namun, Amara menjauh dan menepis tangan Stella. Zeline yang melihat sikap tidak baik sang Tante pun mengerut kan dahi nya. Wajah nya terlihat sangat tidak senang melihat sang mama di perlakukan dengan tidak baik.
"Ngapain lagi pulang? Udah senang belum! Apa belum puas melihat kami hancur?!" teriak Amara.
"Ma-maafin kakak."
"Maaf? Apa kata maaf mu bisa buat Mama dan Papa kembali lagi ke aku? Apa bisa maaf mu mengembalikan masa kecil ku? Bisa nggak!"
"Ma-maksud kamu apa dek? Kakak nggak ngerti." tanya Stella yang merasa bingung.
kasihan Stella