Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Tidak Peka
Hai guys update
Bertemu lagi dengan pasangan HANABI
Selamat membaca
Jangan lupa komen sebanyak-banyaknya dan jempolnya (👍)
***
Sampai di depan ruangan Hana menghembus nafasnya yang masih belum beraturan. Ia berlarian dari restoran sampai kantor apalagi ia memakai high heel membuat kakinya lecet dan perih. Semua gara-gara Bosnya yang seenaknya menyuruh ke kantor tanpa tahu dia sedang makan di mana. Ingin marah tapi tidak bisa, ingin benci tapi suka. Jadi serba salah. Ia memberanikan mengetuk pintu kayu di hadapannya.
"Permisi, Pak Bima." Hana mendongkak wajahnya pada sosok pria yang sedang duduk menyandarkan dengan ponsel di tangannya.
"Lama sekali?" sahut Bima tidak sabaran. Menatap Hana yang terlihat kacau, rambutnya sudah tidak beraturan dan kering di wajahnya begitu terlihat. Nafasnya ngos-ngosan. Bima menyerngit. Saat Hana akan angkat bicara. Bima lebih dulu bersuara. "Kamu habis lari maraton, Hana? kamu lihat tidak penampilanmu sekarang?" sambung Bima menambah suasana menjadi mencekam. .
Hana hanya diam. Ia juga merasa kalau penampilannya pasti kacau balau. Hana sedikit merapikan rambutnya dan mengelap keringat dengan telapak tangannya dan Hana tidak peduli kalau Bima merasa risih akan tingkah lakunya.
"Maafkan saya, pak. Tadi saya makan di luar kantor. Dan penampilan saya karena tadi buru-buru takut Pak Bima lama menunggu. Saya lari dari restoran ke kantor." kata Hana menjelaskan. Masa bodo kalau Hana akan disebut kekanak-kanakan toh semua juga demi Bosnya yang amat menyebalkan.
"Memangnya saya menyuruh kamu lari?"
"Tidak, pak."
"Lalu kenapa kamu lari?"
"Buru-buru, pak."
"Memangnya saya minta kamu buru-buru?"
Hana bingung beberapa detik yang lalu Bosnya bilang lama sekali. Kalau tadi Hana jangan santai Bosnya akan mengatainya apalagi?!
"Tidak pak."
"Siapa yang salah?"
"Saya pak." jawab Hana seakan terjebak akan permainan Bosnya. Hana kalah. Bosnya menang. Bos memang selalu benar.
"Jadi jangan membuat alasan kalau kamu lari karena saya Hana."
"Itu一"
"Saya tidak mau mendengarkan alasan apapun. Yang saya minta, saat saya kembali kamu sudah ada standby duduk di depan meja kamu. Saya tidak suka karyawan yang lelet." ungkap Bima memandang wajah Hana terlihat lesu dan sebenarnya Bima tidak tega. Saat bersama dengan Hana selalu ingin mengeluarkan emosi. Memang Hana tidak tahu dan tidak salah apapun yang salah karena wajah Hana.
"Maafkan saya, pak." Hana menunduk. Boleh gak sih aku nangis sekenceng-kencengnya?
Melihat perubahan wajah Hana membuat Bima menjadi sedikit terusik. Bima hanya memperingatinya bukan niat membuatnya murung seakan ingin menangis. Bima pun bangkit dari kursinya. Memberikan tisu yang ada di sisi komputernya kepada Hana.
"Lap keringat kamu!"
Hana mendongkak wajah. Melihat Bosnya menyodorkan tisu. "Terima kasih pak."
Baik juga calon pacarku. Hana mengelap wajahnya dari keringat dengan tisu dengan senyum-senyum. Merasa kalau Bosnya begitu perhatian. Tapi tidak bertahan lama
"Kamu jangan kepedean karena saya perhatian sama kamu. Saya tidak mau kalau sekretaris saya berwajah amburadul."
What the hell! Amburadul? Dia pikir wajah Hana terbuat dari bahan, serabut atau semacamnya. Apa benar wajahnya tampak kacau dan amburadul seperti yang dibilang Bosnya. Benar saja kalau Bosnya yang paling menyebalkan seantero bumi pertiwi. Baru saja Hana memuji malah menjadi. Baiklah Hana tarik kembali pujian tadi. Anggap saja tidak pernah mengatakannya.
Hana cemberut. Sedangkan Bosnya kembali duduk dan ia yakin kalau dia melihat wajahnya sekarang.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak. Kalau tidak saya―" ucapan Hana terpotong.
"Tolong kamu buatkan saya kopi sekarang!"
"Apa?"
"Kopi Hana. Kopi."
Hana termenung sejenak. Kalau Hana sudah dalam mode setan, Bosnya sudah Hana cekik atau ddiracui. Untung suka!
"Baik, pak."
Hana hendak melangkah membalik badannya, Bima cepat memanggil.
"Memangnya kamu tahu kopi yang saya mau?" tanya Bima membuat Hana bingung.
"Tidak tahu pak." Jawabnya cepat.
"Lalu kenapa kamu tidak bertanya?"
Sebenarnya siapa yang ingin kopi kok malah Hana yang harus bertanya??! Bosnya lah yang harus memberitahu. Ia merasa serba salah. ATASAN MEMANG SELALU BENAR! runtuk dalam hati terdalam.
Hana menghela nafas pendek. "Baik. Pak Bima mau kopi seperti apa?"
"No sugar!"
"Baik pak mohon ditunggu."
Gayalah segala No sugar! Bilang saja kopi pahit.
Hana melangkahkan kakinya dengan cepat takut-takut Bosnya akan berubah pikiran dalam sekejap. Setelah ia keluar dari ruangan. Hana pergi menuju pantry untuk membuat kopi yang diinginkan. Sebenarnya Hana tidak harus repot untuk membuat kopi tinggal menelpon bagian umum dan memintanya. Tapi Hana mencoba membuat sendiri. Ia bisa kalau hanya membuat kopi. Tidak harus merepotkan office boy.
Sepanjang perjalanan melewati koridor. Hana bertemu dengan karyawan yang menyapanya dengan ramah dan tamah. Mereka tahu kalau Hana adalah sekretaris Bima.
Setelah tiba di pantry kantor. Hana melihat dan mendekati seorang pria berumur tiga puluhan dengan memakai baju seragam biru putih khas office boy di kantornya.
"Permisi."
Office boy itu memandangnya. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya sopan.
"Saya ingin membuat kopi untuk Pak Bima."
"Mbak ini sekretarisnya ya?"
"Benar, pak."
"Panggil saja Mang Casmad. Karyawan di sini memanggil saya begitu, Mbak."
"Saya Hana." katanya memperkenalkan meski agak telat. Tidak apalah.
"Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan sekretaris CEO baru. Mbak sangat beruntung."
Hana tersenyum, mengangguk sebagai jawaban.
"Biar saya buatkan kopi nya, Mbak."
"Tidak usah saya saja. Mang Casmad bisa memberitahu saya dimana letak kopinya."
"Siap!"
Hana mengikuti Mang Casmad di belakang punggungnya. Diberitahu di mana letak gelas maupun tempat kopi berada. Lalu membuat kopi pahit untuk Bosnya. Hana membuatnya dengan hati.
Selesai membuat kopi Hana menuju ruangan Bosnya yang menunggu kopi pahitnya. Sampai di depan pintu Hana buka pelan-pelan. Bosnya masih sibuk berkutat dengan berkas di tangan.
"Ini, pak kopinya." Hana meletakkan di sisi meja agar tidak mengenai berkas yang berserakan di meja.
"Terima kasih." balas Bima mencium aroma kopi yang menyengat hidungnya.
"Kalau begitu saya per―" lagi-lagi ucapan Hana dipotong Bosnya. Hobi banget sih pak potong ucapan orang! Batin Hana bergejolak.
"Tunggu, kamu tidak menaruh apapun kan dalam kopi saya?"
Astagfirullah. "Maksud Pak Bima?" tanya Hana dengan raut mukanya geram. Mendengar ucapan Bosnya amat sangat keterlaluan. Apa coba maksudnya? Apa Bosnya sengaja ingin membuat Hana tidak betah? Tentu saja tidak bisa. Hana adalah wanita kuat pantang mundur. Maju terus tak gentar. Hal begini saja tidak akan membuatnya ciut dan menyerah.
"Saya hanya bertanya Hana. Jangan ditanggapi serius." sanggah Bima mencairkan suasana yang sedikit tegang. Bima yakin kalau Hana pasti geram dan kesal terhadapnya terutama sikapnya.
"Saya hanya terkejut saat mendengarnya. Saya juga tidak menganggapnya serius." jawabnya bohong dalam hati dan pikirannya terus saja berontak akan ucapan Bosnya. Hana terus saja mengumpat dalam hatinya.
"Tapi benarkan kamu tidak menaruh apapun dalam kopi saya?"
Saya menaruh pelet cinta. Biar anda jatuh cinta sama saya.
***
Satu jam menunggu waktu pulang, Hana membereskan semua berkas-berkas diatas meja. Seharian ia selalu saja kena marah Bosnya. Padahal kerjaannya selalu benar dan tidak pernah melenceng. Tapi bagi Bima segalanya harus Perfecto. Apalagi saat jam istirahat ia harus buru-buru ke kantor dengan berjalan kaki hingga kakinya lecet. Nyata saat ia sudah sampai di ruangan pria itu malah bilang hal yang membuat Hana kesal sampai ke ujung ubun-ubun. Hanya menceramahi dengan lontaran tuduhan yang tidak masuk di akal sehat. Rasanya ingin cepat -cepat pulang bertemu dengan Tyana yang akan membuat lelah hilang.
Hana membuka ponselnya karena sejak tadi tidak sempat dan tidak ada waktu memegang ponselnya. Banyak sekali chat masuk. Terutama Tyana. Melihat foto yang di kirim untuknya membuat Hana senang. Apalagi dalam gambar Tyana memperlihatkan wajah ceria dengan rambut nya yang di kepang dua. Hana membalas chat audio pada Tyana yang belum sempat di balasnya. Saat ini Hana tidak bisa menelpon karena masih jam kerja.
Maaf tante sangat sibuk tidak sempat melihat ponsel. Tapi Kamu cantik dikepang begitu. Apa kamu sudah makan?
Isi balasanya.
Tidak lama bunyi ponselnya berbunyi tanda chat audio masuk dan Tyana membalas cepat membuat Hana tertawa pelan saat mendengar suara cempreng Tyana.
Gak apa-apa tante. Kata nenek tante sibuk makanya gak balas. Tya sudah makan. Tante sendiri sudah makan?
Hana kembali tersenyum. Keponakan begitu manis dan perhatian. Rasa lelahnya saja berubah menjadi semangat efek Tyana begitu mempengaruhinya.
Belum makam. Mau dibawakan apa?
Setelah mengirim chat audio kepada Tyana. Seseorang sembari tadi melihat tingkah Hana yang fokus dengan ponselnya. Bima melihat Hana senyum-senyum tidak jelas apa yang didengarnya. Hana menegakkan wajah cantiknya. Bima. Dia berdiri di depan mejanya. Dengan menyipitkan mata dengan keingintahuannya atau kekepoan langit ketujuh yang Hana cetuskan untuk pria itu mulai sekarang.
"Kamu sembari tadi begitu serius dengan ponsel, Hana. Sampai tidak sadar kalau saya berdiri di depan kamu." celotehnya membuat Hana berdiri tegak dan menunduk.
"Maafkan saya, pak." Sesal Hana. Maaf dan maaf lah kata yang sering Hana ucapkan. Begitu gampangkah meminta maaf?
"Saya tidak suka kalau ada karyawan memainkan ponsel saat jam kerja. Kalau memang kamu ingin membalas chat kekasih kamu setidaknya jangan terlihat oleh saya." cetus Bima.
Hana bersabar. Kekasih? Hana masih jomblo. Dan calon pacarnya ada di hadapannya sekarang. Paling sebel kalau orang mengucapkan kekasih yang memang Hana tidak memilikinya. Mungkin coming soon.
"Maaf pak. Tapi saya tidak punya kekasih. Saya hanya membalas chat keponakan saya." tuturnya menjelaskan secara detail tidak ingin Bosnya salah paham meski tidak ada hubungan apapun.
"Saya tidak mau tahu kamu mau punya kekasih atau tidak. Intinya tidak boleh memakai ponsel saat jam kerja."
"Siap pak." serunya cepat kilat. Membuat Bima mengernyit.
Helaan nafas terdengar. Bima melihat jam tangan mewah di tangannya.
"Kamu ikut saya!"
"Kemana pak?" tanya Hana. Jam pulang sebentar lagi dan Bosnya menyuruhnya untuk ikut? Hana tidak salah dengar atau apalah kan?
"Jangan banyak tanya ikut saja!" tegasnya dan saat hendak melangkah Bima kembali menatap Hana. "Tas kamu sekalian bawa."
Hana mengangguk. Ia mengambil tas dan melangkah kaki mengikuti Bosnya ke dalam lift khusus yang belum pernah Hana injak. Ini pertama kalinya. Terlihat jelas kemewahan dalam lift. Hana sekilas melihat dalam cermin di belakang punggung lebar Bosnya melihat wajah dan penampilannya agar tidak terlihat membuat malu Bosnya.
Melihat sosok pria di depannya entah kenapa perasaannya begitu tenang meski kadang menyebalkan. Pertama kali ia melihat Bosnya, Hana langsung menyukainya. Padahal ia tidak gampang menyukai seseorang yang terlebih Hana yang menyukainya duluan.
Keduanya sampai di basement kantor menemukan mobil BMW M5 berwarna putih yang Hana tahu berharganya milyaran rupiah mobil asal Jerman itu membuat Hana kagum. Bukan norak tapi hanya mengagumi tidak lebih. Seseorang keluar dari mobil dan menyapa Bosnya sopan. Kemudian membuka pintu mobil. Hana bingung ia harus duduk dimana namun kebingungan teruraikan saat Bosnya menyuruhnya duduk disamping pak kusir eh maksudnya di samping supir yang Hana tahu namanya Pak Nandar. Pria paruh baya itu mempersilahkan Hana masuk kedalam dan setelah Bosnya sudah duduk manis di belakang.
Sepanjang jalan masih cukup hening kadang Hana berdeham memecahkan keheningan dalam mobil tanpa obrolan seperti kopi tanpa gula, pahit. Seperti Bosnya yang cuek bebek yang terlihat fokus tanpa menoleh. Pak Nandar terus melaju sesuai kehendaknya. Hana tahu kalau Pak Nandar sudah tahu kemana tujuannya. Sedangkan Hana? Ia masih kebingungan tidak terkira. Hana berpikir positif anggap saja mereka sedang kencan.
Kini mereka berada di depan mall terbesar se-asia yaitu G&G Grand Mall. Hana tahu mall tersebut adalah milik keluarga Winajaya dan besannya.
Mereka keluar dari mobil mengikuti Bosnya dalam diam, ia membiarkan Bosnya yang lebih dulu bicara. Kalian tahu kalau Bosnya itu sedikit nyinyir. Mereka memasuki toko perhiasan merek apa terkenal. Hana sangat penasaran.
Kedatangan keduanya disambut hangat oleh pegawai toko terutama para wanita. Mereka berdiri berjejeran rapi.
"Selamat datang Pak Bima." sapa penuh ramah dan tebar senyum manis membuat Hana ingin mual sangat terlihat di sengaja. Bima dengan sopan membalas senyuman pada mereka. Hana sangat irisin pada mereka karena selama beradaannya di samping Bosnya dia tidak pernah senyum padanya. Pria itu selalu memasang wajah cueknya Dan juaranya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin sebuah kalung yang terbaik di toko ini? Kalian bisa bantu saya?"
"Tentu saja pak mari ikut saya."
Hana sedikit penasaran dengan ucapan Bosnya. Sebuah kalung? Untuk siapa? Kekasihnya kah?
Bima mengikuti pegawai wanita begitupun Hana dengan keingintahuannya. Seorang pria membeli kalung untuk siapa lagi kalau bukan kekasih. Hana jadi teringat akan ucapan bagus yang mengatakan kalau orang berduit kebanyakan sudah mempunyai jodoh dari perjodohan keluarganya. Hatinya terasa teriris pisau. Pasti bukan dirinya saja yang patah hati tapi seluruh wanita yang ada di bumi pertiwi akan merasakannya.
Tiba di ruangan khusus. Pegawai wanita itu menjajarkan beberapa kalung di atas meja. Bima duduk di tempat yang sudah disediakan. Hana berdiri di samping.
Ia perkirakan harga kalung yang sedang berjajar itu pasti berharga ratusan sampai milyaran rupiah. Ia mendengus.
Bosnya sudah memilih beberapa pilihan menjadi dua kalung tersisa. Ternyata Bosnya mempunyai selera yang bagus.
Bima menegakkan wajah pada Hana. "Menurut kamu lebih bagus nomor satu apa nomor dua, Hana?"
Hana tersentak Bosnya meminta pendapat padanya. Ia dengan senang hati memilihnya.
"Menurut saya nomor dua, pak." jawabnya menunjuk ke nomor dua. Kalung Christie’s dimana kalung ini terdiri dari 52 berlian putih dengan total beratnya mencapai 104 karat. Bima menimbang-imbang ucapan Hana memang simple dan tidak terlalu mewah karena jenisnya seperti berlian murni.
"Uhm, kalau begitu saya pilih… nomor satu saja."
Kalau memang sudah mempunyai pilihan sendiri untuk apa Bosnya meminta pendapatnya. Buang-buang waktu dan tenaga saja, rancu dalam pikiran kesal.
"Hana kamu bisa keluar dulu."
"Baik pak."
Hana menuruti perintah Bosnya. Berjalan meninggalkan ruangan itu. Ia bisa melihat para pegawai tadi melihat ke arahnya dengan tatapan penasaran. Ia tidak peduli akan hal tersebut yang penting ia ingin cepat pulang karena ia sudah lelah dan lapar. Tidak lama Bosnya keluar dengan pegawai wanita tadi. Berjabatan dan berpamitan. Mereka keluar dari toko.
"Bapak tidak jadi beli?" tanyanya penasaran karena tidak melihat jinjingan apapun ditangan pria itu.
"Jadi." jawabnya singkat.
Kalau jadi kemana barangnya pak? Batinnya. Hana hanya mengangguk.
Melihat gelagat Hana. Bima tahu kalau wanita itu ingin tahu tentang kalung yang dibelinya. Bima menghentikan langkahnya dan di ikuti Hana dengan wajah kebingungan.
"Menurut kamu seorang wanita menyukai kalung?" tanya Bima.
"Wanita sangat menyukai aksesoris, pak. Terutama sebuah kalung dan cincin." Balas Hana tersenyum menyamarkan rasa kecewanya.
"Begitu. Baguslah mungkin dia juga akan menyukainya."
"Untuk kekasih Pak Bima?"
Bima menyerngit. "Dia lebih dari seorang kekasih, Hana. Dia wanita yang sangat aku sayangi dan cintai." katanya menjelaskan.
Hana merasa terpotek hatinya tidak karuan ada rasa sakit dalam hatinya begitu nyelekit saat pria itu menjelaskan tentang wanitanya. Ini bukan cinta kan? Hana hanya menyukainya? Tapi kenapa sakit sekali.
Suara Bosnya membuyarkan pikiran dan lamunan Hana yang kemana-mana.
"Kamu lapar tidak, Hana?" tanya Bima. Ia bukan pria yang perhatian tapi ia juga tahu kalau sekarang sudah masuk jam makan malam. Hana sudah membantunya untuk ikut dengannya.
Tolak Hana paling hanya sopan santun saja. Runtuk sisi lain dari Hana.
"Tidak pak."
"Oh. Kalau begitu kita pulang saja." Bima merasa kecewa akan jawaban Hana.
Mereka berdua melanjutkan kembali langkah mereka menuju pintu keluar mall. Menunggu mobil mereka datang.
Hana menghadap Bosnya. "Kalau begitu saya pulang, pak." katanya akan berpamitan.
"Kamu tidak mau bareng?"
Hana mengerut alisnya. "Bukannya Pak Bima bilang kalau mengantarkan seseorang bukan gaya anda?"
"Benar! Untung kamu ingatkan." ujar Bima.
"Tentu saja karena saya sekretaris yang p.e.k.a untuk anda." dan anda gak peka!
"Mau naik apa?"
"Ojol, pak."
Bima mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, hati-hati pak." kata Hana melenggang dari posisi meninggalkan Bosnya yang masih menunggu Pak Nandar datang.
Runtuk Hana pada Bosnya tidak peka akan nasibnya yang membiarkan Hana pulang sendiri. Secara dia seorang wanita. Ia mengingat ucapan Bima hanya untuk memancing kepekaan seorang Bima. Tapi benar saja pria itu tidak peduli akan dirinya. Langkahnya terhenti sejenak di trotoar menghembus nafas panjang. Keadaan jalan tidak begitu ramai sambil menunggu Ojol pesanannya.
Hana berdoa dalam hati paling dalam, SEMOGA PAK BIMA BERJODOH DENGANNYA. BIAR TAHU RASA. BIAR AKU BEBAS NGEBULLY DIA BALIK! PRIA GAK PEKA.
amin.
***
Kalian masih penasaran sama Hana? Tyana anak siapa? Clara kemana? Asal kalian tahu. Setiap narasi yang aku buat selalu aku kasih kode keras di baliknya. Ada juga beberapa part percakapan. Asal kalian PEKA aja.
Aku tahu kalian pinter.
Akan banyak rahasia dan konflik masa lalu di cerita ini 😏
So, thanks untuk dukungan kalian selama ini guys