Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twelve
Vote sebelum membaca 😘
.
.
"Nih kerjain tugas kita!"
Finn menatap beberapa buku tulis yang baru saja di lemparkan ke mejanya. Anak itu melihat empat orang laki-laki sebayanya, bukan temannya karena mereka mana mau berteman dengannya.
Setelah melihat keempat orang itu pergi, Finn menghembuskan nafasnya lelah. Sebenarnya Ia tak suka saat di suruh untuk mengerjakan tugas orang lain, tapi mau bagaimana lagi, mereka selalu memaksanya.
"Anak-anak ayo kita ke lapang."
Finn pun akhirnya mengikuti yang lain dari belakang, siang ini pelajaran untuk olahraga.
"Untuk laki-laki main bola saja ya, Ibu mau ke kantor dulu."
Dan para murid laki-laki pun bersorak riang lalu mulai membagi kelompok untuk bermain bola. Tapi lain halnya dengan Finn.
Anak tampan itu hanya duduk sendiri di bawah pohon memperhatikan teman-temannya yang sedang berolahraga. Mereka tampak senang dan ceria. Berbeda dengannya yang hanya bisa tersenyum sedih.
Selalu seperti ini, sendiri. Finn tak punya teman, mereka selalu menjauhinya. Entah karena apa, Ia pun tak tahu.
Jika pun ada yang mendekatinya, tak lain karena sedang membutuhkannya saja. Dan setelah itu maka mereka akan kembali pergi lagi.
"Finn tak olahraga?"
Suara itu membuat Finn menoleh, terlihatlah guru perempuannya.
"Tidak bu."
"Kenapa?"
"Em.."
"Apa mereka tak mengajak? Ayo kita ke lapang."
Dan Finn dengan terpaksa akhirnya mengikuti guru itu menuju lapangan.
"Anak-anak ayo ajak Finn bermain sepak bola ya."
Finn bisa melihat semua murid laki-laki itu menatapnya malas, Ia tahu mereka tak mau mengajaknya bermain.
"Ayo, Finn setim sama Mino ya."
Finn pun mengangguk lalu ikut bermain. Tapi ternyata tak seindah yang Ia bayangkan. Selama bermain sepak bola itu, teman-temannya tak pernah memberinya kesempatan untuk mendapat bola. Padahal Ia sudah ikut mengejar kesana-kemari.
Bruk!
"Aww."
Finn meringis saat dirinya tersungkur ke tanah, lututnya berdarah. Tapi semua temannya masih tetap melanjutkan permainan, seolah tak peduli padanya.
"Hei minggir sana, kau menghalangi kami bermain saja!"
Anak itu mengangkat kepalanya melihat beberapa orang yang sedang berkacak pinggang memandangnya remeh. Dengan tertatih akhirnya Finn bangkit lalu berjalan ke samping lapang.
Kenapa dirinya selalu sendiri?
Kenapa tak ada yang mau berteman dengannya?
Apa Ia punya salah?
Atau karena dirinya tak memiliki seorang.. Papah?
****
Ara mengecup pelan puncak kepala putranya lalu menggandeng anak itu keluar halaman sekolah. Selama perjalanan pulang, wanita itu merasa aneh karena melihat Finn yang diam terus, tak seperti biasanya.
"Sayang kamu sakit?"
"Gak Ma."
"Terus kenapa diam terus?"
Finn hanya menggeleng lalu kembali menatap jalanan dari kaca jendela bus.
Bukan maksud mendiami ibunya, tapi sekarang Ia sedang tak ingin banyak bicara.
"Ayo."
Kembali Ara menggandeng tangan Finn sampai ke apartemen. Wanita itu masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Setelah semua hidangan sudah tertata rapih di meja makan, Ara masuk ke kamar putranya untuk makan bersama.
"Sayang ayo makan."
Finn yang sempat melamun mengangguk lalu menuju dapur. Disana ibunya sudah menunggu, anak itu duduk di hadapan Ara.
Makan malam berjalan dengan hening, karena memang mereka tak selalu berbicara jika sedang makan.
"Mama boleh aku bertanya?"
Ara mengusap bibirnya dengan tisu, lalu mengangguk pelan. "Apa sayang?"
"Mama jangan marah ya."
"Iya memangnya kenapa?"
Finn menatap wajah wanita yang sangat di cintainya dengan pandangan sendu, sebenarnya Ia ragu tapi keraguan itu mengalahkan rasa penasaran yang sudah lama Ia pendam sendiri.
"Mama apa Finn punya.. Papah?"
Deg!
Ara mendadak kaku di tempat duduknya, akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut putranya. Ya Tuhan, apa yang harus Ia lakukan?
"Sayang.."
"Ma kenapa mereka menjauhiku, hanya karena aku tak memiliki keluarga yang utuh. Mereka selalu berkata jahat yang membuat Finn sakit hati, tak apa mereka mengatai aku asal jangan sampai mereka mengatai Mama."
"Finn sayang Mama, bersama Mama saja sudah cukup, karena itu sudah membuat Finn bahagia."
Di tempat duduknya Ara terisak, Ia ikut sakit hati merasakan apa yang di ucapkan putranya sendiri. Apa selama ini Finn menderita? Karenanya?
"Jangan menangis Mama, maaf Finn buat Mama menangis lagi." Bisik Finn sambil menggenggam kedua tangan ibunya erat di atas meja.
Jujur Finn sebenarnya ingin sekali menangis, hanya karena melihat Ibunya menangis. Ia tak suka saat wanita yang dicintainya meneteskan air mata, itu membuat hatinya sakit. Lebih sakit hati dari pada mendengar teman-temannya mengatainya 'anak haram'.
***
Arabelle mengusap kepala Finn yang terlelap di atas dadanya, wanita itu memeluk putranya erat sambil bersenandung pelan.
Tangannya terulur mengusap lelehan air mata yang masih menggenang di pipi anak itu.
Ya Finn akhirnya menangis juga, setelah sekian lama putranya itu tak menangis di hadapannya. Kenapa anaknya ini terlalu pendiam, Finn seolah membentengi diri dengannya.
Terkadang Ara selalu merasa bersalah, Ia tahu anak itu menjadi pendiam pun karena ulahnya. Finn menjadi anak pendiam saat berumur lima tahun, Ara merindukan putranya yang selalu ceria seperti dulu.
"Sayang maafkan Mama, selama ini kamu pasti sangat menderita. Kita akan bahagia, suatu saat nanti percayalah." Bisik Ara sebelum ikut terlelap di pelukan putranya.
Di lain tempat terlihat seorang pria yang sedang asik merokok di balkon kamarnya. Malam ini Ia tak bisa tidur, entah kenapa banyak sekali yang sedang Arion pikirkan.
Arion sudah meyakinkan dirinya untuk berjuang mendapatkan kembali Ara, tak lain adalah karena ingin mendapatkan putranya sendiri.
Selama ini anak kecil yang selalu bertemu dengannya, ternyata adalah putranya sendiri, darah dagingnya. Bodoh sekali Ia yang tak menyadari itu.
Finn sangat mirip dengannya, semuanya. Dari sifat yang dingin dan cuek dan jangan lupakan wajahnya yang tampan sepertinya. Percaya diri sekali Ia!
"Sial."
Arion membuang puntung rokok ke bawah. Ini sudah dini hari sebentar lagi akan pagi dan dirinya masih belum bisa tidur. Sedangkan besok harus bekerja seperti biasa.
Pria itu membawa handphone nya, mengirim pesan pada Arabelle.
To : Mantan
Besok saya tunggu di perusahaan, jangan sampai gak datang!
Besoknya Arion sudah datang lebih pagi, ya karena Ia tak tidur. Tak biasanya memang, tapi entah kenapa hari ini rasanya tak sabar ingin bertemu Arabelle.
Tapi setelah menunggu hingga jam makan siang, sialnya wanita itu tak datang juga. Akhirnya dengan tekad yang tinggi, Arion pun memutuskan untuk pergi ke apartemen Arabelle.
Awalnya Ia ragu untuk mengetuk pintu apartemen itu, tapi dari pada dirinya diam di sini terus akhirnya Arionpun mengetuk pintu itu. Setelah agak lumayan lama, pintu berwarna abu itupun terbuka. Seketika itu juga Arion langsung terdiam saat melihat siapa yang membuka pintu.
Aneh mereka memang sering bertemu, tapi setelah Arion tahu kalau Finn Putranya entah kenapa perasaannya jadi berbeda. Canggung dan gugup.
"Hai." Sapa Arion sambil tersenyum kecil. Rasanya pria itu ingin sekali memeluk Finn, berkata jika Ia sangat merindukan anak itu.
"Om?"
Seketika itu juga senyuman Arion pudar mendengarnya, pria itu tersenyum miris karena ternyata putranya sendiri belum tahu jika Ia adalah Papahnya.
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.