NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: BENTENG SELATAN

#

Pemancar sebesar kancing baju itu tergeletak di meja kasino, terbelah dua oleh obeng Axel. Jeroannya terbuka seperti serangga mati.

*Chip pabrik militer lama,* tangan Axel bergerak malas karena kurang tidur. *Nomor serinya dikikis. Aku nggak bisa bilang ini punya Silva atau bukan.*

"Rekaman terminal Marenta hilang dua puluh menit," sambung Aceng, memeluk laptopnya seperti bantal. "Persis waktu Kak Kenzo naik bus. Rapi banget, Kak. Aku sampai iri."

"Jangan iri sama orang yang nempelin alat sadap di punggung bosmu," sahut Tony dari pojok, telinga kirinya masih berbalut perban.

"I-iya, Kak."

Kenzo menatap pecahan itu lama. Orang yang memasangnya sabar dan punya akses. Orang sabar seperti itu tidak akan menunggu tiga hari. "Silva kasih waktu tiga hari. Anggap saja tinggal dua."

"Dan itu bukan satu-satunya yang menekan kita," kata Aceng. Jarinya mengetuk papan ketik dan peta pelabuhan muncul di dinding. "Alexander panik, Kak. Empat puluh satu miliar hilang, pembukuannya tersebar di lima gudang, jadi satu bocor bisa menjatuhkan semuanya. Tiga hari lalu dia perintahkan semua buku besar kedua dikumpulkan di satu tempat. Benteng Selatan, gudang induk di dermaga selatan Sarvenna. Pengawasnya adiknya sendiri, Hendra Gunawan."

"Kita yang bikin dia lari ke sana," gumam Kenzo.

"Orang yang dipukul dari lima arah memang lari ke satu benteng." Raden duduk di ujung meja dengan papan caturnya. Ia menggeser sebuah benteng putih ke pinggir papan. "Tapi benteng selalu punya pintu kecil yang terlupakan, karena pemiliknya terlalu bangga pada pintu besarnya. Kabel bawah tanah dermaga itu aku yang menggali, tiga puluh tahun lalu, waktu Jari Algozo masih menyelundupkan beras sungguhan."

Axel menatap Raden dengan sebelah alis naik. Bagi lelaki itu, tiga puluh tahun penuh rahasia sekarang cuma bahan perencanaan.

"Hendra," kata Kenzo. "Apa lagi yang kita punya tentang dia?"

Tony membuka map. "Dia yang tanda tangan serah-terima anak-anak itu. Dua puluh sembilan nama. Kita sudah ketemu sepuluh."

"Kami bisa..." Jack Lowtake mulai.

"...bukain pintunya," sambung Jeky, tanpa melirik kembaran di sebelahnya.

"Dan kalau selamat," tambah Jeky, "aku traktir sate di Pasar Lama."

"Kenapa aku yang bayar?" protes Jack.

"Karena kamu lahir lima menit lebih dulu. Kakak yang bayar."

Vito hampir tersedak permen karetnya. Untuk sesaat ruang bawah tanah itu terasa seperti dapur rumah yang ramai. Kenzo menatap wajah-wajah itu dari balik topengnya dan menyimpan pemandangan itu diam-diam, seperti orang yang menyimpan sesuatu yang takut ia lupakan.

---

Besok malamnya Vito menyamar jadi sopir truk ikan. Ia duduk di warung kopi dekat gerbang selatan, di antara kuli-kuli yang makan nasi sambil memandangi lampu-lampu dermaga.

"Mas sopir baru, ya?" Pemilik warung, Bu Marni, menuang kopi dan menurunkan suara. "Jangan parkir dekat gerbang. Sudah seminggu lampunya dimatikan tiap malam, kapal masuk tanpa lampu. Suami saya kuli di dalam, pulang-pulang bengong. Katanya dari dalam peti ada suara anak-anak nyanyi pelan-pelan."

Vito berhenti mengunyah.

"Orangnya Pak Hendra itu," lanjut Bu Marni, "sombongnya Ya Allah. Anak saya cuma lewat depan gerbang pakai sandal jepit, disuruh push-up sampai pingsan. Dibilang 'melanggar aturan wilayah kerja'. Uang keamanan gerobak naik jadi dua puluh ribu, padahal sehari aku untung lima belas."

"Nggak ada yang lapor, Bu?"

Bu Marni tertawa pendek, tanpa suara, seperti orang yang menertawakan lelucon lama yang sudah tidak lucu. "Lapor ke siapa, Mas? Polisinya yang makan di meja mereka."

Vito meletakkan uang lima puluh ribu di piring kecil dan pergi tanpa menunggu kembalian. Dalam kepalanya ada satu kalimat yang berputar, dan ia tidak tahu kenapa matanya panas.

---

Pukul sebelas lewat lima puluh, Aceng menghitung mundur di telinga semua orang. "Tiga... dua... satu."

Seluruh dermaga selatan padam.

Lampu sorot, lampu gudang, lampu kapal, semuanya mati dalam satu tarikan napas. Dari kejauhan terdengar teriakan bingung dan bunyi generator cadangan yang batuk-batuk menyala. Empat puluh detik, hitungan Axel. Cukup untuk Vito menggulingkan truk tangki solar di depan gerbang dan membuat separuh penjaga berlarian memadamkan genangan api. Cukup untuk Rocco memanjat derek tua di sisi timur dan memasang bidikan. Cukup untuk Kenzo turun ke lubang inspeksi yang digali Raden tiga puluh tahun lalu.

Jack dan Jeky menyusul, bahu mereka menggesek dinding terowongan sempit itu sampai bajunya robek.

"Bos," bisik Jeky di belakang. "Ini terowongan atau lubang tikus?"

"Jangan bilang tikus," desis Jack.

"Lubang tikus."

"Jeky!"

"Diam," kata Kenzo. Tapi sudut bibirnya naik di bawah porselen.

Terowongan itu berujung di lantai bawah Benteng Selatan, di ruang arsip bertembok beton setebal setengah meter. Kenzo mendorong tutup besinya dan naik tanpa suara. Tidak ada tembakan menyambutnya. Yang ada ruangan besar berbau mesiu dan darah baru, dan di seberangnya, di balik rak-rak besi yang separuh roboh, enam orang berpakaian hitam meringkuk menghindari senapan mesin yang menggonggong dari jembatan besi di atas.

Pintu brankas arsip sudah terbuka. Bekas potongan las masih membara di engselnya. Dan di depan brankas itu, dengan mantel abu arang yang robek dan darah mengalir dari pelipis ke dagu, Silva membalas tembakan dengan satu tangan, tenang seperti orang yang menghitung uang kembalian.

Mata cokelat gelap itu menangkap topeng putih di bayangan. Sepersekian detik wajahnya berubah, lalu rapat lagi.

*Dia di sini. Kenapa dia di sini.*

Kenzo tidak menoleh. Ia mengetuk earpiece. "Rocco. Penembak di jembatan besi. Sekarang."

*Dor.* Satu tembakan dari kejauhan dan senapan mesin itu berhenti menggonggong. Seorang lelaki jatuh dari jembatan dengan tangan masih memegang gagang senjata. Di pojok ruangan, lelaki berseragam hitam yang sudah hampir menyerah menatap tubuh itu jatuh, lalu menatap bayangan bertopeng yang melewati rak-rak tanpa menoleh sedikit pun.

"Jack."

"Siap, Bos!"

Jack menghantam dinding samping dengan palu godam sampai batanya runtuh. Di baliknya ada lorong sempit menuju terowongan yang sama dengan jalan masuk mereka. "Yang luka duluan!" teriaknya pada orang-orang Silva, kasar tapi cepat. Dua orang mengangkat rekan mereka yang berdarah. Salah satunya menatap Jack, mulut terbuka. "Terima ka..."

"Jalan! Jalan, jalan!"

Silva berdiri di ambang lubang itu terakhir. Ia menoleh ke punggung Kenzo yang sudah berjalan menjauh, ke arah tangga besi.

"Adriel."

Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi, lebih pelan, dengan nada yang tidak ia kenal dari mulutnya sendiri. "Kenzo."

Kenzo tidak berhenti. Silva menutup mulut, menatap punggung itu menghilang di tikungan, lalu menyusul orang-orangnya ke dalam gelap tanpa bicara sepatah kata pun.

---

Ruang bawah tanah kedua adalah sel.

Aceng membuka kuncinya dari jauh, satu per satu, dan klik-klik logam itu terdengar seperti denting yang terlalu lambat. Sembilan anak, enam sampai tiga belas tahun, berdesakan di balik terali dengan baju kumal dan mata yang sudah belajar tidak berharap. Anak perempuan paling kecil, rambut dikepang dua, menatap topeng putih itu tanpa berkedip.

"Om hantu, ya?"

Kenzo berlutut. Ia mengulurkan tangan, dan anak itu menyentuh ujung jarinya dengan telunjuk kecil, seperti memastikan jari itu ada.

"Bukan." Suaranya serak, ia lupa memperdalamnya. "Pulang, ya. Ikut Tante Dante. Jangan lepas tangannya."

"Rumahku udah nggak ada, Om."

Kalimat itu menusuk Kenzo lebih dalam daripada peluru mana pun. Ia diam sepersekian detik, terlalu lama. "Nanti kita cari rumah baru," katanya akhirnya. "Aku janji."

Ia berdiri, menoleh ke tangga, dan Gandara sudah di sana.

---

Jas abu-abu itu bersih tanpa noda. Tangannya kosong, senyumnya rapi, dan di belakangnya enam orang Lingkar Hitam berdiri membentuk setengah lingkaran.

"Topengmu retak satu," katanya hampir ramah. "Mari kita jadikan dua."

Kenzo tidak menjawab. Jarak dua belas langkah itu lenyap.

Telapak Gandara menghantam rusuk kanannya, dan Kenzo terlempar ke rak besi sampai paku-paku berhamburan. Ia mendarat dengan lutut redam, lalu melompat balik tanpa memberi ruang. Sikunya menyambar pelipis, ditangkis. Lututnya menyasar perut, ditepis. Dalam setengah menit mereka bertukar lebih dari dua puluh pukulan, dan sepuluh kali Kenzo merasakan tulangnya bergetar sampai ke gigi. Gandara tidak pernah tergesa. Setiap langkahnya terukur, seperti seseorang yang bermain catur dengan tubuh sendiri.

Lalu kepalan kiri Gandara menghantam pipi topeng dengan bunyi yang tajam. Retakan kedua menjalar dari garis emas lama, membelah hingga dagu.

Tapi pukulan itu juga memberi Kenzo satu detik. Pisau kecil di lengan bajunya meluncur, menyayat lengan kanan Gandara dari siku sampai pergelangan.

Darah menetes ke lantai beton.

Gandara menunduk menatap lengannya sendiri. Untuk pertama kalinya senyumnya hilang, tidak jadi marah, hanya heran. "Sudah lama sekali," katanya pelan, "tidak ada yang membuatku berdarah."

"Kalau begitu kamu lupa rasanya."

Mereka maju lagi bersamaan.

"Bos! Pergi!" Suara Jack menggelegar dari belakang, bersamaan dengan bunyi pintu besi berat yang diseret. Jack dan Jeky sudah menarik pintu baja gudang arsip untuk menutup lorong. Hanya itu yang memisahkan Kenzo dari lima orang Lingkar lain yang berlari dari sisi barat. "Anak-anak sudah di terowongan! Bawa Hendra, dia kabur lewat dermaga!"

"Kalian..."

"Kami berdua, Bos!" Jeky menyandarkan punggung ke pintu, cengirannya lebar dan berkeringat. "Dua kali lebih mahal. Pergi sana!"

Kenzo mundur selangkah. Gandara tidak mengejar. Ia hanya menatap pintu itu dan berkata datar, "Menarik. Kembar."

Kenzo berlari. Di belakangnya terdengar bunyi tembakan senapan hancurkan kunci pintu, lalu teriakan Jack, lalu sesuatu yang menghantam logam dengan bunyi *tung, tung, tung* tiga kali berurutan.

Ia tidak menoleh. Itu satu kesalahan yang akan ia sesali sampai mati.

---

Hendra Gunawan berlari di dermaga dengan tas kulit di dada dan sepatu mahal yang terpeleset di papan basah. Ia sudah hampir sampai ke perahu motor ketika sebuah tembakan dari derek memecahkan mesinnya jadi serpihan. Ia berbalik menembak membabi buta, dan Kenzo meluncur turun dari kabel derek dengan kedua kaki menghantam dadanya.

Mereka terguling di papan. Pistol Hendra terpental ke laut. Kenzo menindihnya, satu lutut di dada, satu tangan mencengkeram kerah.

"Kamu tahu siapa aku?!" Hendra memekik, wajah pucat dan basah. "Kakakku akan mengulitimu hidup-hidup!"

"Aku tahu siapa kamu." Suaranya rendah dan lambat, suara The Shadow. "Kamu yang tanda tangan serah-terima. Dua puluh sembilan anak. Kami sudah ketemu sembilan belas."

"Aku cuma... cuma kurir!" Napas Hendra tersengal, matanya melirik ke kiri-kanan mencari jalan keluar. "Kami semua kurir! Barangnya dikirim ke satu tempat, satu orang... Kakak sendiri tidak tahu siapa penerimanya, kami cuma disuruh menghitung dan mengirim. Itu perintah Tuanku..."

"Siapa Tuanku?"

Hendra tertawa gemetar. "Kalau aku sebut namanya, kamu pikir aku masih hidup sampai besok?"

Kenzo mengangkat pistol.

"Aku..." Hendra menelan ludah. "Dia tidak pernah..."

Satu tembakan, kering, terlalu biasa. Hendra jatuh dengan mata terbuka menatap langit tanpa bulan.

Kenzo berdiri lama di atas papan basah itu. Dari saku jaketnya ia mengeluarkan sehelai uang seratus ribu dan menyelipkannya ke saku kemeja Hendra. Di atas tas kulit yang masih dipeluk jari-jari dingin itu, dengan spidol putih, ia menulis:

*Harga untuk menghitung anak-anak.*

Lalu earpiece-nya berderak, dan suara Aceng, yang belum pernah selirih itu, memecah malam.

"Kak Kenzo... Kak, cepat ke terowongan. Jeky... Jeky kena."

---

Pintu baja itu berlubang tiga.

Kenzo berlutut di lorong sempit yang berbau mesiu, dan Jeky terbaring di pangkuan Jack dengan kemeja merah sampai ke pinggang. Dante menekan lukanya dengan kedua tangan, ujung jarinya sudah hitam oleh darah. Napas Jeky pendek dan basah, setiap tarikan seperti kain yang dirobek pelan.

"Bos..." Jeky tersenyum miring, ada darah di giginya. "Pintunya... aman?"

"Aman."

"Bagus." Ia memejamkan mata. "Jack... sate... jangan lupa..."

"Jeky? Jeky, buka mata. Jek!" Suara Jack pecah, dan lelaki dua meter itu mengguncang bahu saudaranya seperti anak kecil. "Kamu nggak boleh gini, kamu bilang kamu yang traktir! Kamu bilang aku yang lahir duluan jadi aku yang bayar, ya udah aku bayar, aku bayar semua sate sedunia, buka mata!"

"Bawa dia keluar," kata Dante tajam. "Sekarang. Dia butuh dokter, bukan teriakan."

---

Dermaga timur sudah hampir fajar ketika mobil-mobil mereka muncul dari terowongan. Sembilan anak diselimuti jaket Vito dan Tony. Jeky terbaring di tandu darurat, kulitnya abu-abu di bawah lampu mobil.

"Semua rumah sakit di Sarvenna milik Alexander," kata Tony muram. "Kalau kita bawa dia ke sana, mereka tinggal menutup pintu."

"Dokter kita?" Kenzo menoleh pada Dante.

"Hanya bisa bius dan jahit permukaan. Pelurunya dalam, dekat paru. Dia butuh ruang operasi dan darah, sebelum matahari terbit."

Sebuah mobil putih tanpa tanda berhenti di ujung jalan. Dari pintu belakangnya turun seorang perempuan berjas dokter dengan tas besar dan dua perawat. Lalu Silva keluar dari kursi depan. Plester putih di pelipisnya, mantel yang robek di bahu, dan wajah yang tegak seperti tidak pernah luka.

"Ada klinik gigi di Jalan Kenari," katanya tanpa pendahuluan. "Di bawahnya ruang operasi. Dokter Wening bisa melakukan tiga operasi dalam semalam. Jarak empat menit."

Kenzo tidak bicara. Rahangnya mengeras. Ia menatap Jeky, menatap Jack yang berlumur darah saudaranya sendiri, menatap Silva.

"Kamu tidak perlu berterima kasih," kata Silva datar. "Aku tahu kamu tidak akan."

"Aku memang nggak mau."

"Bagus." Ia menunjuk mobil putih dengan dagu. "Naikkan dia."

Kenzo mengangguk satu kali. Tidak ada kata, tidak ada tatapan. Hanya satu anggukan kaku seperti orang yang menyerahkan sesuatu yang paling berharga di tangannya. Jack dan Vito mengangkat tandu masuk. Dokter Wening langsung memasang infus sambil mengucapkan istilah medis dalam rapalan cepat.

Ketika Kenzo berbalik untuk menyusul, suara Silva menahannya.

"Tawaranku berubah."

Kenzo berhenti.

"Aku tidak akan menjadikanmu alatku." Ia melangkah mendekat. Cahaya fajar pertama menyentuh sisi wajahnya dan memperlihatkan lingkar gelap di bawah mata, sesuatu yang tidak pernah ia biarkan terlihat siapa pun. "Malam ini enam orangku nyaris mati di arsip itu. Seseorang membocorkan jadwal dan lokasi kami. Hanya sebelas orang yang tahu rencana itu, dan salah satunya pengkhianat. Aku butuh orang yang tidak ada di daftar siapa pun."

"Dan itu aku."

"Kamu satu-satunya orang di negara ini yang secara hukum sudah mati." Matanya tidak berkedip. "Tidak ada berkas yang bisa dibocorkan. Tidak ada keluarga yang bisa ditekan. Mata Senja bukan lembaga resmi, Kenzo. Tidak ada dalam anggaran mana pun. Ia lahir delapan belas tahun lalu, dari seorang letnan intelijen yang membaca berkas penolakan seorang perwira bernama Victor Pradana, perwira yang tidak mau membantai kampung."

Dunia di sekitar Kenzo mengecil.

"Letnan itu menyalin berkasnya, menyimpannya, dan berhenti diam. Ia mengumpulkan enam orang yang tidak sanggup lagi menutup mata. Itu awal Mata Senja. Orang itu membesarkanku, dan dua tahun lalu ia ditemukan mati di mobilnya." Suaranya turun, rata. "Kalimat tentang Pradana itu bukan untuk membeli simpatimu. Kamu berhak tahu dari mana semua ini berawal."

Kenzo masih tidak bicara. Tapi tangannya yang tergantung di sisi tubuh mengepal pelan.

"Aku menawarkan satu tempat. Agen lapangan Mata Senja. Kode: Senja Nol. Kamu tidak perlu tunduk pada siapa pun kecuali padaku, dan pada akhirnya aku hanya meminta satu hal: kamu mengerjakan apa yang sudah kamu kerjakan, dengan dokumen sah, imunitas atas operasi yang kita setujui bersama, rumah sakit yang aman, akses ke tujuh belas saksi, dan pintu ke Kementerian. Orang-orangmu tidak lagi hidup sebagai buronan."

"Dan aku jadi alat negara yang busuk."

"Mata Senja bukan negara." Sudut bibirnya naik, tipis. "Ia yang tersisa dari negara ini ketika yang lain sudah menyerah."

Jauh di belakang mereka, pintu mobil putih menutup. Jack memanggil pelan dari dalam. Kenzo memejamkan mata sedetik. Ketika membukanya, ia tidak menjawab tawaran itu. Ia hanya berkata, dengan suara yang sudah kehilangan semua lapisan topengnya:

"Selamatkan dia."

"Itu bukan terima kasih," kata Silva pelan.

"Bukan."

"Aku tahu."

Kenzo berjalan ke mobil. Di belakangnya Silva berdiri diam di cahaya fajar, dan tanpa ia sadari tangannya terangkat menyentuh garis tipis di lehernya, bekas pisau malam itu. Ia menurunkannya cepat-cepat sebelum ada yang melihat.

---

Klinik gigi itu berbau antiseptik dan cengkih. Di lorong sempit di depan ruang operasi, Jack duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding, kemejanya kaku oleh darah yang mengering. Tidak ada yang berani menyuruhnya ganti baju.

Kenzo duduk di sampingnya tanpa topeng. Axel datang tergesa pukul enam, rambut basah oleh keringat. Ia berhenti di ujung lorong, menatap pintu operasi, lalu perlahan duduk di sisi Jack yang lain.

"Kami..." Jack mulai, dengan suara serak. Ia berhenti. Menunggu. Menoleh ke kanan, ke ruang kosong tempat seseorang selalu menyambung kalimatnya. Lalu menunduk. "...Nggak ada yang nyambung."

Tidak ada yang bicara.

"Bos," Jack berkata pelan, "kalau dokternya butuh ginjal... ambil punyaku, ya. Kami kembar. Cocok pasti. Tinggal dipasang. Kayak colok charger."

"Jack..."

"Atau paru-paru. Aku punya dua. Satu aja cukup kok, aku nggak pernah olahraga." Suaranya naik, tinggi dan retak. "Dan kalau dia mati juga, aku ikut aja, jangan dikubur terpisah. Dia takut gelap, Bos. Dia bohong bilang nggak. Waktu kecil dia selalu minta lampu dinyalain, aku yang matiin diam-diam biar dia belajar berani. Aku jahat, ya? Aku jahat..."

"Kamu nggak jahat."

"Aku... aku lihat tikus tadi, Bos. Di terowongan. Gede banget. Aku nggak teriak. Kamu lihat? Aku nggak teriak sama sekali. Jeky pasti bangga, dia pasti bangun kalau denger itu, kan?" Jack tertawa pecah, air matanya menetes ke dagu tanpa ia usap. "Kalau dia bangun aku potong rambut. Dia selalu bilang rambutku jelek. Atau botak aja deh, biar sama kayak waktu bayi... Xel, kamu bisa hack surga nggak? Cek statusnya Jeky di sana. Sekalian tanya ada sate nggak."

Axel menatapnya lama. Ia mengangkat tablet, mengetik pelan, dan suara mesin itu bergema datar tapi bergetar di ujungnya.

"Aku coba."

Jack menunduk dan menangis seperti anak kecil, bahu lebarnya terguncang tanpa bunyi. Kenzo meletakkan tangannya di bahu itu. Tidak berkata apa-apa. Tidak ada kata yang pantas untuk lelaki yang baru kehilangan separuh kalimatnya.

Pintu operasi terbuka pukul tujuh lewat dua puluh. Dokter Wening melepas masker, matanya merah.

"Pelurunya sudah keluar. Dua dari tiga. Yang ketiga terlalu dekat jantung, saya tidak berani." Ia menatap Jack. "Dua puluh empat jam pertama menentukan. Dia pejuang, saya jujur. Tapi kalau dia bertahan, itu bukan dari saya."

Jack mengangguk. Hanya mengangguk, lalu menatap Kenzo dengan mata merah yang tidak mengandung tuduhan, hanya satu pertanyaan sederhana.

"Dia yang pilih tahan pintu itu, kan, Bos? Bukan kamu yang suruh."

"Bukan," kata Kenzo, dan tahu itu tidak membuat apa pun lebih ringan.

---

Di kamar mayat Rumah Sakit Gunawan Husada, lampu neon berkedip dingin di atas selembar kain putih. Alexander Gunawan berdiri di sana sendirian, tanpa pengawal, jasnya kusut, tangannya terlipat rapi di depan. Ketika ajudan menyingkap kain itu, rahangnya hanya bergerak sekali.

"Di sakunya ada ini, Tuan." Ajudan menyodorkan selembar uang seratus ribu. "Dan di tasnya tertulis..."

"Aku bisa baca." Alexander menatap huruf putih di kulit tas itu. *Harga untuk menghitung anak-anak.* Ia tidak bergerak untuk waktu yang lama. "Hendra tidak pernah menghitung apa pun. Dia cuma membawa."

Telepon hitam di sakunya bergetar. Ia mengangkat tanpa menunggu.

"Tuanku Terhormat."

"Adikmu bukan kerugian terbesarmu, Alexander." Suara itu tenang, dalam, tidak mengandung duka. "Aku sudah memindahkan Lingkar Hitam sepenuhnya ke bawah perintahmu. Satu syarat. Yang bertopeng tidak boleh mati."

Alexander mengencangkan genggaman. "Dia membunuh adik saya."

"Dan kamu akan menahan diri." Jeda panjang. "Ada seseorang yang akan membayar sangat mahal hanya untuk melihat wajah di balik topeng itu. Dan aku lebih tertarik pada apa yang ia miliki daripada pada dendam kecilmu."

Telepon itu mati. Alexander menurunkannya perlahan. Ia menatap wajah adiknya yang tertutup setengah kain, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, matanya yang tidak pernah goyah mengerjap menahan sesuatu.

---

Subuh tadi sudah berganti pagi. Di gang belakang klinik gigi, bersandar di sebuah mobil hitam dengan lampu depan yang tadi malam menyala satu kali di dermaga, Bram menatap pintu belakang yang tertutup. Ia sudah mendampingi Silva sembilan tahun. Ia tahu setiap kebiasaannya, setiap rahasianya, dan setiap sarung tangan yang ia pakai untuk menyembunyikan tangan yang tidak boleh gemetar.

Ia mengeluarkan telepon kecil. Kontaknya hanya satu huruf: **T**.

*Opsi B dibatalkan oleh Nyonya. Target menolak dua kali. Nyonya mulai terpengaruh.*

Balasan masuk dalam sepuluh detik.

*Biarkan. Dia akan menerima sendiri setelah kehilangan sesuatu lagi. Siapkan yang berikutnya.*

Jempol Bram berhenti di atas layar. Lewat jendela belakang klinik, ia melihat seorang pemuda kurus berhoodie hitam duduk di lorong sambil menggenggam tablet di pangkuan, tidak bergerak, menatap pintu operasi.

Bram mengetik dengan wajah tanpa ekspresi.

*Berikutnya: yang tidak bisa bicara.*

---

*Bersambung ke Bab 23*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!