NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Niat itu berubah.

Badai besar kembali menerjang kawasan ibu kota, menghantam dinding kaca penthouse mewah dengan deru angin yang menderu ganas dan kilatan petir menyambar silih berganti. Di dalam kamar utama yang temaram, aliran listrik mendadak terputus secara total, memadamkan seluruh lampu dan menyisakan pendar cahaya kilat biru yang sesekali menerangi ruangan luas tersebut.

Aisyah duduk bersimpuh di atas lantai kayu di sudut kamar. Di tangannya, diari bersampul kulit hitam milik mendiang ibu Ayden tergenggam erat, sementara punggungnya bersandar pada dinding dingin. Ia tidak menangis, tidak pula merasa takut pada suara guntur yang memekakkan telinga. Pikirannya melayang jauh pada setiap baris kalimat penuh kepedihan yang baru saja ia baca, meresapi betapa dalamnya luka yang diwariskan oleh masa lalu.

Langkah kaki berat terdengar mendekat di ambang pintu kamar. Sosok Ayden muncul dalam kegelapan, siluet tubuhnya tampak tegap namun gemetar oleh amarah dan keputusasaan yang bercampur aduk. Pria itu baru saja berlari dari ruang kerjanya setelah menyadari pintu brankas terbuka lebar.

"Aisyah..." panggil Ayden dengan suara parau, napasnya memburu di tengah keheningan malam yang dipecah suara badai.

Aisyah tidak bergeming. Ia perlahan mendongak, menatap bayangan suaminya di ambang pintu tanpa secercah kilat emosi di matanya. "Kau datang untuk merebut diari ini kembali, Ayden? Atau kau ingin memastikan apakah aku sudah mengetahui seluruh kebusukan rencana balasanmu?"

Ayden melangkah masuk perlahan, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Kilatan petir yang menyambar di luar jendela seketika menerangi wajah pria itu yang pucat pasi, dipenuhi oleh keringat dingin dan sisa air mata yang tak sempat ia hapus.

"Kau seharusnya tidak membuka brankas itu, Aisyah," ucap Ayden dengan nada rendah yang bergetar hebat, sarat akan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. "Bukan itu cara aku ingin kau mengenal siapa diriku sebenarnya."

"Lalu bagaimana cara yang benar, Ayden?" potong Aisyah, suaranya mengalun sangat tenang namun menusuk telak. "Apakah dengan berpura-pura menjadi malaikat penyelamat di Galeri Nasional bertahun-tahun lalu? Membawa kehangatan palsu, mengecup keningku setiap pagi, dan menikahiku hanya untuk menjadikanku tawanan di atas abu reruntuhan keluargaku sendiri?"

Ayden terhuyung mundur selangkah, seolah hantaman kata kata itu jauh lebih menyakitkan dari pada pukulan fisik apa pun. Pria itu menjatuhkan diri, bersimpuh tepat di hadapan Aisyah di atas lantai yang dingin.

"Ya... semuanya benar!" aku Ayden, suaranya pecah di ujung kalimat, membiarkan rahasia kelam itu tumpah begitu saja tanpa ada lagi yang ditutupi. "Aku merencanakan semuanya sejak hari pertama aku melihatmu! Aku ingin keluargamu merasakan neraka yang sama persis seperti yang dirasakan oleh ayah dan ibuku setelah kebangkrutan itu!"

Aisyah menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang basah. "Dan sekarang, setelah semuanya hancur... apa kau merasa puas, Ayden?"

"Tidak!" teriak Ayden frustrasi, suaranya bersaing dengan deru angin badai di luar. "Demi Tuhan, aku tidak merasa puas sama sekali! Niat awalku memang hancur lebur oleh dendam, Aisyah. Tapi seiring berjalannya waktu... di tengah tengah hari yang kita lewati bersama, niat itu berubah. Aku tidak bisa mengendalikannya lagi."

"Berubah menjadi apa?" tanya Aisyah hambar, mengangkat dagunya sedikit. "Menjadi sebuah obsesi gila untuk menguasai ragaku sementara jiwaku kau bunuh perlahan?"

"Menjadi cinta, Aisyah!" seru Ayden putus asa, tangannya terulur hendak meraih tangan istrinya. "Aku jatuh cinta padamu! Sialan, aku terperangkap dalam perangkap yang kubuat sendiri! Aku mencoba membencimu, tapi senyumanmu, caramu memandang lukisan, keberadaanmu di rumah ini... itu semua telah meruntuhkan seluruh sumpah dendamku!"

Aisyah menarik tangannya menjauh dari jangkauan Ayden dengan gerakan yang sangat dingin. Ia menatap pria di hadapannya dengan senyuman tipis penuh kepedihan. "Cinta di atas reruntuhan penderitaan bukanlah cinta, Ayden. Itu adalah bentuk hukuman terkejam yang pernah diciptakan manusia. Kau berhasil merenggut segalanya dari ayahku, kau membunuh mimpiku, dan sekarang kau meminta aku untuk mencintaimu di atas kuburan keluargaku?"

"Aku tahu aku bajingan, Aisyah!" rintih Ayden, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya yang mengeras. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan pengampunanmu. Tapi kumohon... jangan menatapku dengan mata kosong seperti itu. Hukum aku, maki aku, pukul dadaku sampai berdarah, tapi jangan biarkan aku kehilangan dirimu sepenuhnya!"

"Untuk apa aku memukulmu?" bisik Aisyah, suaranya begitu ringan namun sarat akan kehancuran mutlak. "Pukulan tidak akan bisa menghidupkan kembali ibuku yang mati karena stres, dan makian tidak akan bisa mengembalikan perusahaan ayahku. Kita berdua adalah korban dari dosa orang orang masa lalu yang saling menghancurkan, Ayden. Dan kau... kau memilih untuk meneruskan rantai kutukan itu dengan tanganku sendiri."

Ayden menggelengkan kepalanya dengan panik, merangkak maju mendekati Aisyah dan mencoba mendekap tubuh wanita yang merupakan istrinya itu erat erat ke dadanya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Aisyah. Kau adalah milikku. Di dalam suka maupun duka, di dalam kebencian maupun cinta ini, kau tetap istriku."

Di dalam dekapan erat itu, Aisyah tidak melakukan perlawanan fisik, namun tubuhnya terasa kaku bagaikan patung porselen. Ia membiarkan suaminya menangis tersedu-sedu di ceruk lehernya, merasakan basahnya air mata Ayden yang menetes di kulitnya.

"Kau boleh memeluk cangkang kosong ini sepuas hatimu, Ayden," ucap Aisyah tanpa ekspresi, menatap lurus ke arah kegelapan kamar di balik bahu suaminya. "Tapi jiwa yang dulu mencintaimu sudah mati di malam kau mengaku bahwa pernikahan kita hanyalah sebuah alat balas dendam."

Kalimat itu menjadi tikaman terakhir yang meremukkan sisa-sisa pertahanan batin Ayden. Pria itu mengeratkan pelukannya, meraung dalam sunyi di tengah badai malam yang terus mengamuk di luar jendela, menyadari bahwa kemenangan atas dendam yang ia raih dengan penuh darah ternyata adalah kuburan bagi kebahagiaannya sendiri.

"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkanku, Aisyah?" bisik Ayden parau, bibirnya bergetar di dekat telinga istrinya.

Aisyah perlahan mengangkat tangannya, bukan untuk membalas pelukan suaminya, melainkan meletakkan telapak tangannya yang dingin tepat di atas dada Ayden—merasakan degup jantung pria yang telah menghancurkan hidupnya sekaligus menjadi satu-satunya tempat ia berpulang.

"Waktu tidak bisa diputar kembali, Ayden," jawab Aisyah pelan, mengulurkan diari milik mendiang ibu mertuanya dan meletakkannya dengan tenang di pangkuan Ayden. "Simpan diari ini. Jadikan ia pengingat abadi bahwa kita adalah dua orang asing yang saling membunuh di bawah atap yang sama."

Ayden terdiam membeku, memandangi buku usang di pangkuannya sementara badai di luar perlahan mulai mereda, meninggalkan keheningan panjang yang jauh lebih menyiksa daripada sambaran petir mana pun di dunia ini.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!