NovelToon NovelToon
Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Bad Boy
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love

Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.

Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.

Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.

Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.

Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan dari Nadine Kirana

Pukul empat sore, Nadine Kirana duduk di sudut kedai kopi kecil tidak jauh dari sekolahnya.

Di hadapannya terdapat segelas teh hangat yang belum disentuh dan sebuah buku catatan bersampul cokelat. Sejak pulang sekolah tadi, ia sudah menuliskan beberapa hal yang ingin dibicarakan dengan Axel Pratama.

Bukan karena ia sudah memutuskan untuk menerima tawaran itu.

Ia hanya tidak ingin datang tanpa persiapan, lalu membiarkan dirinya terbawa oleh cara Axel berbicara.

Kemarin, ia sudah cukup memahami bahwa laki-laki itu terbiasa mengambil keputusan dengan cepat. Sementara itu, Nadine membutuhkan kepastian sebelum melibatkan dirinya dalam sesuatu yang bisa memengaruhi kehidupan pribadinya.

Ponselnya bergetar.

Axel: Gue sudah sampai. Lo di mana?

Nadine membalas singkat.

Nadine: Di dalam. Meja dekat jendela.

Tak lama kemudian, sosok tinggi dengan kemeja hitam dan tas selempang muncul di ambang pintu.

Axel menemukan Nadine dengan mudah. Ia berjalan mendekat, menarik kursi di hadapannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja.

"Lo sudah menyiapkan daftar pertanyaan?" tanyanya ketika melihat buku catatan Nadine.

"Daftar aturan."

Axel mengangkat alis.

"Aturan?"

"Iya. Bukannya kemarin kita sepakat membahas syarat yang gue inginkan?"

"Gue kira lo cuma mau membicarakan beberapa hal."

"Memang. Beberapa hal yang menurut gue penting."

Nadine membuka buku catatannya.

Axel menatap halaman yang dipenuhi tulisan tangan rapi itu. Ada sesuatu yang hampir membuatnya tersenyum, tetapi ia menahannya.

Gadis ini benar-benar menganggap tawaran tersebut sebagai urusan serius.

Bagus, pikirnya. Setidaknya mereka tidak akan membuang waktu.

"Oke," katanya. "Kita mulai dari mana?"

Nadine mengangkat wajah.1q

"Dari hal paling dasar. Hubungan ini berlangsung sembilan puluh hari. Setelah itu, kontrak selesai."

"Setuju."

"Jangan buru-buru setuju. Gue belum selesai."

Axel menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Silakan, Bu Ketua."

Nadine meliriknya tajam.

"Kalau lo mau bercanda, kita bisa lanjut besok."

"Baik. Gue serius sekarang."

"Bagus."

Nadine kembali melihat catatannya.

"Selama sembilan puluh hari, kita hanya berpura-pura menjadi pasangan di acara atau situasi yang sudah kita sepakati. Gue nggak akan tiba-tiba disuruh datang ke tempat yang nggak pernah kita bicarakan sebelumnya."

Axel mengangguk.

"Masuk akal."

"Dan kalau ada acara keluarga lo, gue harus tahu sebelumnya. Gue nggak bisa meninggalkan pekerjaan atau kegiatan sekolah begitu saja."

"Berapa lama pemberitahuannya?"

Nadine berpikir sebentar.

"Minimal sehari sebelumnya kalau memungkinkan. Kalau acaranya mendadak, kita bicarakan dulu. Gue tetap berhak menolak kalau memang nggak bisa datang."

Axel mengetukkan satu jari ke meja.

"Kalau acara keluarga gue penting?"

"Kalau penting buat lo, bukan berarti otomatis penting buat gue."

Jawaban itu membuat Axel terdiam sejenak.

Sebagian besar orang yang mengenalnya akan berusaha menyesuaikan jadwal jika ia meminta sesuatu. Namun, Nadine bahkan tidak terlihat ragu ketika menolak anggapan bahwa semua urusannya harus menjadi prioritas.

"Baik," jawabnya akhirnya. "Kita sepakati itu."

Nadine memberi tanda centang pada catatannya.

Satu aturan selesai.

Namun, masih ada beberapa hal lain yang harus dipastikan.

"Berikutnya, kehidupan pribadi."

Axel mengangguk, menunggu.

"Gue tetap punya teman. Gue tetap bisa belajar kelompok dengan siapa pun, mengurus berkas beasiswa, dan menjalani kegiatan gue seperti biasa."

"Termasuk teman laki-laki?"

Nadine mengangkat wajah perlahan.

"Memangnya kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa. Gue cuma memastikan."

"Kalau lo merasa perlu memastikan itu, berarti memang ada sesuatu yang perlu dibicarakan."

Axel mengembuskan napas pendek.

"Lo selalu menanggapi semua pertanyaan gue seperti sedang mencari kesalahan."

"Karena gue nggak mau ada aturan yang baru muncul setelah gue setuju."

Kali ini, Axel tidak langsung membalas.

Ia tahu Nadine tidak sepenuhnya salah.

Jika ia berada di posisi gadis itu, mungkin ia juga tidak akan mau terikat dalam kesepakatan yang batasannya berubah setiap kali pihak lain merasa tidak nyaman.

"Baik," katanya. "Lo tetap boleh berteman dengan siapa pun."

"Tanpa harus meminta izin?"

"Tanpa harus meminta izin."

"Tanpa harus menjelaskan setiap pesan yang gue terima?"

Axel mengernyit.

"Kenapa gue harus meminta lo menjelaskan pesan?"

Nadine menatapnya datar.

"Gue nggak tahu. Makanya gue bertanya sekarang."

Axel mengusap rahangnya.

"Oke. Gue nggak akan meminta lo melaporkan semua kegiatan atau menunjukkan isi pesan pribadi lo."

"Dan lo nggak akan menuntut gue membalas pesan lo setiap saat."

"Kalau ada hal yang perlu dibicarakan?"

"Kalau gue bisa membalas, gue akan membalas. Tapi gue nggak bisa selalu memegang ponsel. Gue bekerja, belajar, dan punya ibu yang harus gue urus."

Kali ini, Axel tidak membantah.

Ia teringat percakapan mereka sebelumnya, ketika Nadine menyebutkan bahwa waktunya sudah terbagi antara sekolah, pekerjaan, dan keluarga.

Selama ini, ia terbiasa menghubungi seseorang dan mendapatkan jawaban dalam waktu singkat. Jika tidak, ia tinggal menghubungi lagi.

Ia belum pernah benar-benar memikirkan bahwa orang lain mungkin memiliki prioritas yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Baik," ujarnya. "Gue nggak akan menuntut lo membalas seketika."

Nadine kembali menuliskan poin tersebut.

Ia mulai merasa percakapan mereka bergerak ke arah yang lebih jelas. Namun, ia belum bisa menganggap semua persoalan selesai.

Masih ada hal yang jauh lebih penting.

Uang.

Nadine menutup buku catatannya sebentar.

"Axel, soal kompensasi yang lo tawarkan."

Ekspresi laki-laki itu kembali serius.

"Kenapa?"

"Gue mau semuanya tertulis jelas. Jumlahnya, kapan dibayarkan, dan apa yang sebenarnya menjadi kewajiban gue selama kontrak berlangsung."

Axel mengangguk.

"Dokumennya bisa kita periksa lagi sebelum ditandatangani."

"Gue juga mau memastikan satu hal. Uang itu bukan alasan buat lo mengatur kehidupan gue."

"Gue sudah bilang, gue nggak berniat melakukan itu."

"Dan gue ingin ketentuan itu ada di kontrak, bukan hanya menjadi janji lisan."

Axel menatap Nadine beberapa saat.

Kali ini, ia tidak terlihat tersinggung. Ia justru menyadari bahwa Nadine tidak sedang mencoba mempersulitnya.

Gadis itu hanya ingin memastikan bahwa kesepakatan mereka tidak berubah menjadi sesuatu yang berbeda setelah ia membubuhkan tanda tangan.

"Baik," katanya. "Kita tuliskan bahwa pembayaran sesuai kesepakatan dan nggak memberi gue hak untuk mengatur kehidupan pribadi lo."

Nadine mengangguk.

"Kalau kontraknya berakhir, gue juga nggak mau ada tuntutan supaya gue tetap menjadi pacar lo hanya karena gue sudah menerima pembayaran."

"Kalau sembilan puluh hari selesai, hubungan pura-pura kita selesai."

"Dan kalau salah satu dari kita ingin mengakhiri kontrak lebih awal?"

Axel terdiam.

Pertanyaan itu belum pernah ia pikirkan secara mendalam. Dalam rencananya, ia berharap kesepakatan itu berjalan sampai akhir dan cukup meyakinkan untuk menghentikan perjodohan yang disusun ayahnya.

Namun, ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Nadine merasa tidak nyaman atau bahwa situasinya berubah.

"Kita perlu menentukan ketentuannya," jawabnya.

"Betul. Gue nggak mau ada ancaman denda atau tuntutan yang digunakan untuk memaksa salah satu pihak bertahan."

Axel mengangguk perlahan.

"Kalau salah satu merasa kesepakatan ini nggak bisa dilanjutkan, kita bicarakan dan akhiri sesuai ketentuan yang disepakati. Nggak ada yang boleh memaksa pihak lain bertahan."

Nadine memperhatikan wajahnya, mencoba memastikan apakah Axel benar-benar memahami apa yang sedang mereka bicarakan.

"Bagus. Masukkan ke dokumen final."

Axel mengeluarkan ponselnya dan membuka catatan.

"Gue akan minta dokumennya diperbarui."

Nadine hampir tersenyum, tetapi kemudian teringat satu hal lagi.

"Masih ada aturan terakhir."

Axel menurunkan ponselnya.

"Masih ada?"

"Yang ini paling penting."

"Apa?"

Nadine menatapnya lurus-lurus.

"Kontak fisik."

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Axel terlihat benar-benar terkejut.

Nadine melanjutkan sebelum laki-laki itu sempat menyela.

"Karena kita akan berpura-pura menjadi pasangan, mungkin ada situasi ketika orang lain mengharapkan kita bersikap seperti pasangan sungguhan. Tapi gue nggak mau ada sentuhan yang dilakukan tanpa persetujuan gue."

Axel tidak berkata apa-apa.

"Pegangan tangan, merangkul, atau apa pun yang mungkin dibutuhkan untuk meyakinkan orang lain. Kita bicarakan dulu. Gue harus tahu apa yang akan dilakukan, dan gue berhak menolak."

"Gue paham."

"Gue serius, Axel."

"Gue juga serius."

Nadine masih memandangnya.

Ia ingin memastikan bahwa aturan tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang bisa diabaikan hanya karena mereka sedang menjalankan peran.

Akhirnya, Axel mengangguk.

"Gue nggak akan menyentuh lo tanpa persetujuan lo. Kalau ada situasi yang mengharuskan kita terlihat dekat, kita bicarakan dulu."

Nadine mengembuskan napas pelan.

"Terima kasih."

Axel memasukkan ponselnya ke saku.

"Sudah selesai?"

Nadine memeriksa kembali catatannya.

"Untuk sekarang, iya."

"Bagus. Berarti kita bisa menandatangani kontraknya besok."

Nadine menggeleng.

"Kita bisa menandatanganinya besok kalau dokumen finalnya sudah sesuai dengan semua aturan tadi."

Axel memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Lo benar-benar nggak mau mengambil risiko sedikit pun, ya?"

"Gue sudah mengambil risiko dengan mempertimbangkan tawaran lo."

Jawaban itu membuat Axel diam.

Nadine merapikan buku catatannya, lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Gue tahu lo punya alasan sendiri untuk melakukan ini. Gue juga punya alasan kenapa gue mempertimbangkannya. Tapi kita harus ingat bahwa kesepakatan ini bukan cuma tentang kebutuhan lo."

Axel menatapnya tanpa menyela.

"Kalau kita menjalani kontrak ini, gue nggak mau suatu hari nanti kita saling menyalahkan karena ada sesuatu yang nggak pernah dibicarakan sejak awal."

Untuk beberapa saat, suara percakapan pengunjung lain memenuhi jeda di antara mereka.

Axel akhirnya mengangguk.

"Oke. Gue akan pastikan semua aturan tadi masuk ke dokumen final."

Nadine berdiri setelah memasukkan pulpen ke dalam tas.

"Kalau begitu, gue tunggu dokumennya."

Axel ikut berdiri.

"Besok gue kirim sebelum kita tanda tangan."

"Jangan lupa."

"Lo pikir gue gampang lupa?"

"Gue belum mengenal lo cukup baik untuk menjawab pertanyaan itu."

Axel mendengus pelan.

Kali ini, Nadine benar-benar tersenyum tipis sebelum berbalik menuju pintu.

Namun, ketika tangannya sudah menyentuh gagang pintu, suara Axel kembali terdengar.

"Nadine."

Ia menoleh.

"Kenapa lo tetap mempertimbangkan tawaran ini, padahal lo jelas-jelas nggak percaya sama gue?"

Pertanyaan itu membuat Nadine terdiam.

Ia bisa saja menjawab bahwa uang yang ditawarkan akan sangat membantu biaya pengobatan ibunya. Jawaban itu benar, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan keputusannya.

Nadine menarik napas pelan.

"Gue nggak harus percaya sama lo sekarang."

Axel mengernyit.

"Gue hanya perlu memastikan bahwa gue tahu apa yang gue setujui, dan gue tetap punya hak untuk menentukan pilihan gue sendiri."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Kalau lo bisa menghormati itu, kita mungkin bisa menjalani kesepakatan ini tanpa saling merugikan."

Axel tidak segera menjawab.

Selama ini, ia menganggap kontrak tersebut sebagai jalan keluar dari masalah yang dibuat ayahnya. Ia membutuhkan seseorang untuk memainkan peran, dan Nadine tampak sebagai pilihan yang tepat.

Namun, percakapan sore itu membuatnya menyadari bahwa kesepakatan ini tidak akan berjalan hanya dengan mengikuti rencana yang telah ia susun.

Nadine bukan bagian dari rencana yang bisa ia kendalikan sesuka hati.

Ia adalah seseorang yang berhak menentukan apakah ingin terlibat atau tidak.

"Oke," jawab Axel akhirnya. "Gue akan menghormati kesepakatan kita."

Nadine mengangguk, meskipun ia tahu janji itu baru akan terbukti melalui tindakan.

Malamnya, setelah menyelesaikan pekerjaannya dan memastikan ibunya sudah beristirahat, Nadine membuka kembali ponselnya.

Ada pesan baru dari Axel.

Axel: Dokumen finalnya akan gue siapkan. Kalau semuanya sesuai dengan yang kita bicarakan, besok kita tanda tangan.

Nadine membaca pesan itu, lalu membalas.

Nadine: Gue bersedia menandatangani kontraknya dengan syarat semua aturan yang kita sepakati tetap berlaku dan tertulis jelas.

Balasan Axel datang beberapa saat kemudian.

Axel: Setuju.

Nadine meletakkan ponselnya di atas meja.

Ia belum tahu bagaimana rasanya berpura-pura menjadi pacar ketua kelompok paling terkenal di sekolahnya. Ia juga belum tahu apakah keputusan ini akan benar-benar membantu keluarganya atau justru mendatangkan persoalan baru.

Namun, setidaknya satu hal sudah jelas.

Ia tidak akan memasuki kesepakatan ini tanpa suara.

Jika hubungan tersebut hanya berlangsung selama sembilan puluh hari, Nadine ingin memastikan bahwa selama waktu itu, ia tetap menjadi dirinya sendiri.

Bukan seseorang yang dibentuk oleh keinginan Axel Pratama.

Bukan pula seseorang yang merasa harus membayar bantuan dengan menyerahkan kebebasannya.

Ia memilih mempertimbangkan tawaran itu karena keadaan dan tujuannya sendiri.

Dan jika suatu hari nanti ia memutuskan untuk pergi, keputusan itu juga harus tetap menjadi miliknya.

Sementara itu, di rumah besar keluarga Pratama, Axel membaca pesan terakhir Nadine sekali lagi sebelum mematikan layar ponselnya.

Kontrak itu hampir selesai disiapkan.

Rencananya mulai berjalan.

Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa keberhasilan rencana tersebut tidak hanya bergantung pada kemampuannya meyakinkan orang lain.

Ia juga harus membuktikan bahwa dirinya mampu menghormati satu orang yang sejak awal tidak pernah berusaha menyenangkan hatinya.

Nadine Kirana.

Dan entah mengapa, tantangan itu terasa jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!