NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

POV: Amelia

Telepon berdering di tengah syuting, dan suara Bi Ningsih di seberang begitu putus asa sampai aku tahu sebelum dia selesai bicara.

"Lia, ini Nenekmu. Dia jatuh. Bicaranya melantur, lengannya lemas sebelah. Saya sudah panggil ambulans, mereka membawanya ke rumah sakit. Ayo, Nak, cepat."

Kutinggalkan semuanya. Sutradara langsung paham, hanya berkata "pergi, kami tangani di sini", dan melepasku. Aku naik mobil dan langsung berangkat, jantung di mulut, berdoa sepanjang jalan dengan tasbih Fariz yang kubawa-bawa, tanpa tahu apakah doaku benar.

Aku tiba di IGD rumah sakit daerah yang sesak. Lorong penuh, orang menunggu di brankar di koridor, seorang perawat kewalahan mencoba melayani semua orang sekaligus.

"Nenek saya, Dinawati Pramesti, baru masuk, stroke, saya perlu tahu..."

"Tenang, Bu. Sudah ditangani, sedang dievaluasi. Di sini memang begini, harus menunggu."

"Dia baik-baik saja? Dia hidup?"

"Hidup. Silakan duduk, dokter akan bicara dengan Ibu kalau sempat."

Aku duduk. Dan kualami sendiri hal yang selama ini hanya kudengar. Antrean, penantian, tempat ICU yang tak dijamin siapa pun. "Waktu adalah otak" yang diulang-ulang dokter sambil menatap layar komputer mencari tempat tidur yang tak kunjung muncul.

Nenek Dina di sana, di balik sebuah pintu, dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu, berdoa, dan meremas tasbih sampai tanganku sakit.

Kutelepon dr. Bella, tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

"Tenang, Bu Amelia. Stroke iskemik, kalau tertangani cepat, ada pengobatan, ada obat pelarut bekuan, ada jendela waktu. Tapi Ibu tidak boleh panik, bukan dalam kondisi Ibu. Duduk, tarik napas, minum air. Ibu tidak bisa menolong nenek Ibu kalau Ibu sendiri jatuh sakit."

Selagi aku bicara dengannya, ponselku berbunyi. Pesan dari Fariz. "Aku sudah tahu. Bagas menuju ke sana. Percayalah padaku sekali ini."

Setengah jam kemudian datang sebuah transportasi, satu tim, pemindahan terorganisir ke rumah sakit swasta dengan tempat ICU dan dokter saraf jaga. Aku tahu siapa yang membiayai. Dan untuk pertama kalinya aku tidak merasakannya sebagai kendali. Aku merasakannya sebagai uluran tangan. Kuterima, terbelah antara harga diri yang berkata "kamu tak boleh bergantung pada siapa pun" dan keputusasaan yang berkata "selamatkan dia dengan cara apa pun, telan harga dirimu".

Di rumah sakit baru, dokter saraf menyuntikkan obat pelarut bekuan masih dalam jendela waktu dan menyuruh melakukan kateterisasi yang membuka kembali arteri yang tersumbat. Nenek Dina melewati fase akut. Selamat. Tapi stroke itu meninggalkan bekas. Bicaranya melambat, beberapa kata hilang di tengah jalan atau keluar tertukar. Dan ingatannya jadi pasang surut, meninggalkan di pasir hal-hal dari masa yang berbeda-beda.

Ketika mereka mengizinkanku masuk, dia terbaring di ranjang, kecil, rambut putihnya berhamburan di bantal, selang tipis di hidungnya. Kupegang tangannya.

"Nek. Ini aku. Lia."

Dia menatapku, dan sesaat matanya tak mengenaliku. Lalu melembut.

"Kamu kembali," gumamnya, memandangku tanpa benar-benar mengenaliku. "Sudah Nenek bilang dia akan kembali menjemput anak itu. Sudah Nenek bilang."

"Bukan, Nek. Aku Lia. Cucumu."

Dahinya berkerut bingung, berusaha menata gelombang ingatan yang tak lagi patuh.

"Anak itu," ulangnya, dan meremas tanganku dengan kekuatan yang tak sepadan dengan tubuh rapuhnya. "Anak itu bukan dari sini. Kamu bukan anak Dina, Nak. Kamu dari jauh. Jauh sekali."

"Maksudnya dari jauh, Nek?"

Dia membuka mulut. Matanya sesaat jernih, tajam, seakan hendak menyerahkan sesuatu yang disimpannya seumur hidup, sesuatu yang terlalu berat.

"Dulu pernah..." dia mulai.

Seorang perawat masuk saat itu untuk mengukur tekanan darah, dan kalimatnya mati di udara. Begitu perawat keluar, Nenek Dina sudah kembali memandang langit-langit, jauh lagi, bergumam nama-nama orang yang tak kukenal, bicara tentang seorang bayi, tentang sebuah perjalanan.

Aku duduk di sana menggenggam tangannya, tak tahu apakah itu igauan orang sakit atau kebenaran yang dia bawa di balik kelembutannya yang biasa. Nenekku tak pernah mengarang cerita seumur hidup. Sedang sakit, dia mungkin bingung. Tapi bingung tidak mengarang rahasia dari ketiadaan.

Sebelum pergi, Bi Ningsih, yang datang membantu, duduk di sebelahku di lorong dan membawakan segelas air.

"Ibu harus makan, Lia. Dan harus berbaring." Dia menatapku dengan tatapan orang yang mengenalku bertahun-tahun. "Bu Dinawati pasti marah kalau lihat Ibu begini, pucat, hamil, belum makan, lari dari rumah sakit satu ke yang lain. Beliau akan bilang, urus kehidupan yang sedang datang, bukan hanya yang sedang pergi."

"Aku tidak bisa memilih, Bi Ning."

"Tidak ada yang bisa." Dia meremas tanganku. "Tapi nenek sudah menjalani seluruh hidupnya. Dua bayi itu belum mulai. Pikirkan itu."

Saat itulah aku merasakannya. Nyeri tajam di bawah perut, dalam, dan hangat yang tak seharusnya ada. Aku ke kamar mandi dan melihatnya. Awal pendarahan.

Kutelepon dr. Bella dengan suara gemetar.

"Datang ke IGD. Sekarang." Suaranya perintah. "Ibu terlalu memaksakan diri, terlalu stres, terlalu banyak menangis. Kalau Ibu tidak berhenti, Ibu akan kehilangan bayi-bayi itu, Bu Amelia. Saya tidak akan mengulang. Datang sekarang."

Kututup telepon dan bersandar di dinding dingin kamar mandi rumah sakit, satu tangan di perut, tangan lainnya masih hangat oleh genggaman tangan nenekku.

Di satu sisi, perempuan yang membesarkanku, perlahan pergi dengan separuh rahasia di mulutnya, rahasia yang berkaitan denganku, dengan asal-usulku, dengan "dari jauh" yang tak kupahami.

Di sisi lain, di dalam diriku, dua anak memintaku berhenti sebelum terlambat, dua jantung yang sudah nyaris hilang sekali.

Dan aku di tengah, tak tahu cara menyelamatkan keduanya sekaligus, belajar dengan cara paling pahit bahwa kadang kita tak bisa. Kita hanya bisa memilih, lalu menangisi yang tak tertolong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!